"Bangku itu milikku, kau duduk saja dibelakang." Flint menabrak bahu Elizabeth, melewatinya lalu duduk begitu saja di tempat Elizabeth, kursi itu berada di deretan kedua dari depan dan berada tepat disebelah jendela. Elizabeth hanya mematung tak percaya orang yang dikaguminya berlagak seperti itu.
"Maaf tapi itu tempatku." Elizabeth pun angkat suara tak terima apa yang dilakukan pria dihadapannya namun beberapa gadis-gadis datang menghadangnya dengan tatapan mengancam,
"Kau ya! Berani-beraninya berkata seperti itu pada Flint-sama! Kan cuma pindah dibelakang saja protes! Dasar gadis buangan! Pergi sanah!" Usir mereka, bahkan menyinggung keadaan Elizabeth yang ditinggalkan oleh ayahnya.
Ia tak menyangka bahwa mereka sejahat itu padanya, ia menatap sekitarnya namun tak ada satupun dari teman kelasnya membantu atau bahkan melerai pertengkaran tersebut, Elizabeth kemudian sesegera mungkin meninggalkan kelas dengan air mata mengalir dipipinya, ia mendatangi toilet yang kosong lalu menangis didalam sana.
"Elizabeth.."
Suara yang begitu dikenalnya membuat Elizabeth menoleh pada Law yang tiba-tiba saja berada didalam Toilet,
"L-law? Apa yang kau lakukan disini?" Tanya elizabeth sembari membersihkan air matanya.
"Aku merasa sedikit bosan di kuil setelah menyelesaikan tugasku jadi aku pikir untuk mengunjungi sekolahmu, oh? Hahaha Kau menangis?"
"Flint baru saja mengatakan hal yang tidak kusangka dan teman-teman sekelasku bahkan mengejekku hanya karena aku mencoba mengambil kembali tempatku.."
"Bukannya sudah kukatakan kalau kau tidak perlu pergi ke sekolah? Heh, sekarang lihat apa yang terjadi padamu. Ayo sekarang pulang." Ajak Law, tangannya meraih Elizabeth namun ditepis oleh gadis itu,
"Kau...bahkan menertawaiku, kau tidak ada bedanya dengan mereka." Elizabeth pun meninggalkan Law yang terkejut akan tindakan Elizabeth.
Elizabeth masih terbayang akan perilaku orang-orang yang membuat hatinya begitu sakit, berjalan meninggalkan toilet wanita langkahnya terhenti.
"Apa kau menangis didalam sana? Maaf ya soal tadi." Ucap Flint yang tengah bersandar pada dinding, Elizabeth hanya menatap pria itu dengan wajah dingin lalu melangkah kembali.
"He-hey! Aku bicara padamu! Maafkan aku, tadi aku hanya sedikit kesal makanya aku tidak sengaja melampiaskannya padamu," Flint tak ada hentinya mengejar Elizabeth ia meraih pundak gadis itu untuk menghentikannya, "kau tahu kan murid-murid disini tidak ada hentinya menatapku bahkan menghentikanku untuk berfoto, meminta tanda tang—"
"Aku tidak peduli dengan hal itu, tolong tinggalkan aku sendiri." pinta Elizabeth, wajah dinginnya tak lepas, gadis itu kembali berjalan meninggalkan Flint.
Di kelas..
Elizabeth akhirnya menduduki bangku kosong dibagian belakang dari kelas, bangku yang seharusnya ditempati oleh Flint namun ia berfikir untuk tidak mencari masalah lagi ia memilih untuk mengalah.
Pelajaran yang berlangsung diikuti dengan baik oleh Elizabeth namun wajahnya tak kunjung berubah, gadis itu adalah gadis yang murah senyum namun kejadian hari ini seakan membekukan perasaan senangnya. Law yang memperhatikan gadis itu dari kejauhan menghela nafasnya lagi, "Aku rasa akulah yang membuatnya merasa sangat sedih."
Ding Dong
Suara dari bel sekolah berbunyi menandakan bahwa jam makan siang telah tiba, seluruh murid bergegas mendatangi kantin, ada pula yang membawa bekal untuk makan bersama. Elizabeth sementara itu memeriksa tasnya hingga wajahnya panik, "A-aku lupa bekalku!"
Gadis itu kemudian membaringkan kepalanya diatas meja, "Lalu aku makan apa hari ini? Uangku pun sudah habis.." sembari meraba pada saku rok seragamnya, gadis itu terkejut dan buru-buru mengeluarkan sesuatu yang dirasanya seperti lembaran uang.
"Ini! I-ini darimana?! 50.000 beri, ini banyak sekali!!" Batin Elizabeth terkejut dengan lembaran uang yang digenggamnya,
"Huh? Aneh sekali, padahal aku menaruhnya disini, 50.000 beriku hilang." Ucap Flint memegang dompetnya yang kosong, hal ini membuat para gadis-gadis yang mengerumuninya segera bertanya pada seisi kelas dan mencari uang tersebut hingga pandangan mereka tertuju pada Elizabeth yang menggenggam lembaran uang,
"Elizabeth..uang darimana itu? Banyak sekali."
"Iya, nominalnya pun 50.000 beri!"
"Kau mencurinya dari dompet Flint-sama kan!"
Tuduh gadis-gadis pemuja Flint, mereka mendatangi Elizabeth hendak merebut uang tersebut,
"Ah, aku baru ingat. Aku memberikan uangku padanya, lagipula dia melupakan bekalnya, iya kan Elizabeth-chan?" ucap Flint pria itu dengan terlihat percaya diri, sementara Elizabeth hanya merasa sangat bingung juga tertekan dengan situasi yang terjadi, "Ini salah, dia tidak pernah memberiku uang!"
Slam
Suara pintu terbuka diikuti dengan seorang pria bersurai hitam yang mengenakan Kariginu berwarna abu-abu dengan perpaduan hitam. Ia tak datang sendirian, pria itu membawa beberapa wanita-wanita yang merupakan pelayan, mereka berjalan beriringan membawa nampan-nampan kayu berisikan berbagai macam makanan.
"Maaf membuat anda menunggu, Elizabeth-sama. Untuk merayakan hari dimana anda kembali bersekolah, saya Law, menyiapkan jamuan khusus ini kepada anda."
Seluruh murid termasuk Flint juga gadis-gadis yang meledek Elizabeth sampai menganga melihat apa yang sedang terjadi. Elizabeth pun ikut terkejut, pikirnya ini terlalu berlebihan untuk makan siang saja.
Para pelayan wanita itu menempatkan makanan-makanan itu diatas sebuah permadani, mereka menuntun Elizabeth menuju tempatnya lalu mendudukannya tepat dihadapan seluruh murid kelasnya, disampingnya berdiri pria berambut hitam itu menatap seisi ruangan,
"Elizabeth-sama adalah Master kami yang sangat berharga, saya tidak akan memaafkan siapapun yang berani berkata maupun memperlakukannya dengan kasar." Law memberikan tatapan seriusnya pada seluruh murid-murid dihadapannya hingga tatapannya menuju pada Flint, "Flint-dono, uang 50.000 beri anda sepertinya terjatuh dibawah meja anda, anda sebaiknya lebih berhati-hati lagi."
Mata Flint langsung tertuju pada uang yang tergeletak dibawah mejanya, "Ini tidak mungkin! Aku yakin aku menaruhnya didalam saku Elizabeth!"
"Dan saya memohon kepada anda sekalian untuk menjaga Master kami." Tambah Law sembari bersujut dihadapan murid-murid kelas itu.
"L-law, dia sampai melakukan hal seperti ini. Dia benar-benar peduli padaku, satu-satunya orang di dunia ini yang memperdulikanku.." batin Elizabeth yang terus memperhatikan Law dan pria itu merasakannya sehingga ia menoleh pada Elizabeth dengan wajah malasnya, "Cepat makan!" bisiknya.
Hari itu pun berubah menjadi sedikit lebih baik, walaupun Law masih selalu bersikap kasar padanya. Elizabeth bersyukur karena Law memperdulikannya.
.
.
.
.
Esok harinya...
"Aku berangkat!" Teriak Elizabeth setelah mengenakan kedua sepatunya.
"Kau melupakan sesuatu." Panggil Law lalu menunjukkan kotak bekal makan siang 4 susun juga sebuah kerudung berwarna putih dengan permukaannya membentuk telinga kucing dan sedikit dihias dengan bunga Daffodil mainan disudut telinga kiri.
Gadis itu menatap pria yang mau merepotkan dirinya menyiapkan segala hal itu, sebuah tawa kecil keluar darinya dan itu membuat wajah Law menjadi kusut, "Kau tinggal mengambilnya bukan malah tertawa seperti orang gila disana." Ucap Law.
"Baiklah, aku hanya akan mengambil satu bekal saja tidak perlu keempatnya itu terlalu banyak, kau sangat berlebihan. Dan hari ini aku tidak akan mengenakan benda konyol itu lagi." Tunjuk Elizabeth pada kerudung putih tersebut.
"Kau ingin dimakan ya?" Tanya Law namun sialnya Elizabeth tidak mendengarkannya lalu berlari meninggalkannya.
"Busnya akan segera tiba! Sampai jumpa siang nanti~!" Teriak Elizabeth dari kejauhan lalu menuruni tangga meninggalkan kuil itu.
Untungnya gadis itu selalu bangun lebih awal agar ia dapat menggunakan bus yang tak terlalu ramai, gadis itu turun tak jauh dari sekolahnya lalu melanjutkan perjalanannya dengan kaki, hari kedua bersekolah ia tidak menerima tatapan-tatapan aneh maupun tawa dari murid-murid yang berjalan bersamanya, namun yang diterimanya adalah gosip lainnya..
"Itu kan si gadis buangan, tapi sepertinya dia diadopsi oleh keluarga kaya."
"Mereka bahkan memperlakukannya seperti seorang putri, manja sekali sampai-sampai harus diantar makan siangnya"
Elizabeth hanya dapat menghela nafasnya, rasanya tiada hari tanpa ia tidak diomongkan oleh orang-orang dari sekolahnya, bahkan sekarang mereka memberikannya sebuah julukan seorang Putri Manja.
"Ah! Elizabeth!" Teriak seorang gadis yang membuat Elizabeth menoleh padanya, para gadis-gadis yang berjumlah 5 orang itu mendatanginya dengan wajah ceria dan kegirangan,
"Hey, apa Law-kun akan datang hari ini ke sekolah??"
"Maukah kau memperkenalkannya pada kami~~!" Tanya gadis-gadis itu.
"Aku membawa bekal hari ini jadi sepertinya dia tidak akan datang hehe" jawab Elizabeth dengan ceria namun tak lama setelah itu kelima gadis itu meninggalkannya bahkan raut wajah mereka sedikit kesal.
"Ternyata mereka hanya peduli pada Law, yah aku tidak heran sih, Law itu memang orang yang tampan pantas saja para gadis-gadis dikelasku tergila-gila dengannya tapi tetap saja aku berharap ada yang ingin menjadi temanku bukan karena ingin mendekati Law." Batin Elizabeth, wajahnya menampilkan sedikit kesedihan disana namun ia kembali mencoba untuk tegar mengadapi hari-hari baru kedepannya walaupun banyak yang tak menyukainya.
Vrrom!
Sebuah mobil berhenti tempat disamping Elizabeth, gadis itu menatap heran mobil mewah berwarna hitam itu, kaca dari kursi penumpang diturunkan dan wajah Flint dapat dilihatnya.
Sorak sorai mulai terdengar juga beberapa cahaya dari kamera terlihat, gadis-gadis muda mengerumuni mobil Flint, memotretnya hingga memanggilnya seperti orang gila,
"Kebetulan sekali, Elizabeth-chan~ oh? Sepertinya kau tidak lagi menggunakan penutup kepalamu ya ? Hehehe Ayo naiklah, aku akan mengantarmu~" ajak Flint.
"Aku tidak perlu diantar, sekolah hanya berjarak beberapa meter dari sini." Jawab Elizabeth dan gadis itu bergegas pergi.
Tidak sampai disitu saja, Flint tidak menyerah. Ia mengejar Elizabeth, "Ayolah, apa kau malu? Atau kau gugup karena kepopuleranku?"
Gadis itu menghentikan kakinya, ia berbalik dengan tersenyum pada Flint membuat wajah pria itu terkejut ditambah lagi tangan Elizabeth tengah menggenggam kerah kemejanya.
"Dengar, aku tidak menyukaimu dan tinggalkan aku sendiri!" Ancam Elizabeth,
"Waahh!! Dia bersikap kasar pada Flint-sama!!"
"Lepaskan Flint-sama! Dasar gadis gila!!"
Elizabeth lupa akan penggemar Flint yang masih senantiasa berkerumun didekatnya, gadis itu segera melepaskan genggamannya lalu mengambil langkah seribu meninggalkan mereka.
.
.
.
Di sekolah...
"Sialan, dia membuatku menjaganya seharian! Aku bahkan belum menyiapkan bahan untuk makan malam!!" Gerutu Law yang tengah duduk diatas pohon tak jauh dari kelas Elizabeth yang berada dilantai 2.
"Bagaimana kalau ikan bakar saja untuk malam ini, Law-dono?" Usul Penguin sembari menuangkan sake pada cangkir sake milik Law.
"Mengurusi rumah lalu menjaga seorang gadis, apa ini pekerjaan dari seorang pelayan? Membosankan sekali." Ucap Law lalu meneguk sakenya.
Sementara itu Elizabeth yang sedang memfokuskan dirinya belajar menerima secarik kertas yang dilipat hingga lipatan kecil, seseorang dihadapannya memberikannya pada Elizabeth. Gadis itu membacanya lalu menyimpannya kedalam sakunya, hal itu tidak diawasi Law dikarenakan dirinya tertidur.
Pria itu tengah berada dalam ingatan masa lalunya dengan gambaran mengenai betapa menyenangkannya ia menjalani kehidupan lamanya dengan terus membunuh.
Satu jam berlalu..
"Law-dono! Bangunlah, Law-dono!"
"Hmm??"
"Elizabeth-sama menghilang! Sepertinya ia pergi ke suatu tempat!" Cemas Penguin.
Elizabeth's pov.
Aku menerima secarik kertas dari orang itu yang memintaku untuk menemuinya disaat istirahat, kenapa harus diatas atap sekolah? Kan bisa di kantin saja, melewati banyaknya tangga hingga pada pintu menuju atap itu segera kubuka dan aku dapat melihat pria itu, lagi.
"Ada apa memanggilku kesini, Flint-san?" Tanyaku, aku sampai menunjukkan secarik kertas yang diberikannya.
"Aku hanya penasaran denganmu. Kau gadis yang sangat berbeda, gadis-gadis lainnya setiap kali melihatku mereka langsung jatuh hati, tapi kau, kau tidak seperti itu dan kau bahkan mengatakan kalau kau tidak menyukaiku. Kenapa?"
Aku tidak mengerti, apa sebegitu pentingnya mengetahui perasaanku?? Kita bahkan baru-baru ini berbicara lagipula aku tidak lagi menyukainya sejak sikap buruknya padaku, aku menyukainya hanya karena dia seorang penyanyi yang memiliki suara merdu, penampilannya tidak begitu membuatku tertarik dan aku tak pernah sekalipun berfikir dia orang yang sangat tampan, aku mengaguminya karena karyanya namun sikapnya nol.
"Aku bahkan menolongmu dari tuduhan teman-teman sekelasmu, aku mengajakmu untuk pergi bersama ke sekolah, aku pun sudah meminta maaf, apa kau masih merasa tak puas? Jika kau ingin, aku akan menjadi keka—"
"Apa kau bodoh??" Ucapku. Dia sangat arogan, dia juga mengingatkanku pada pria rubah itu. Mengapa pria yang kutemui hampir semuanya sangat sombong seperti ini, dia bahkan dengan percaya dirinya ingin menjadi kekasihku? Tidak akan!
"Apa aku bodoh?" Balasnya bahkan wajah penuh percaya diri masih dikenakannya, dia sangat konyol.
"APA KAU MENGATAKN AKU BODOH?!!" Sadarnya, wajahnya sangat kesal.
"Dengar ya Flint-san, sikap aroganmu perlu dihilangkan, jika kau tetap seperti itu kau tidak akan memiliki teman bahkan seorang kekasih." Dia menatapku terkejut begitu, apa ini kali pertamanya dia ditegur seperti ini? Kalau iya itu bagus, "Jika tidak ada hal penting yang ingin kau bicarakan, aku harus kembali ke kelas." Tambahku lalu meninggalkannya.
Normal pov.
Ketika Elizabeth hendak mendekati pintu, aura hitam seakan menutupi atap sekolah itu namun hal tersebut tak mengusik Elizabeth dan ia terus berjalan menjauh dari Flint.
"Bukan itu yang kuinginkan.."
Beberapa helai bulu berwarna hitam berterbangan, sayap hitam yang cukup besar muncul dari balik Flint.
"Dewi Tanah, jika aku dapat memilikimu, aku akan— Apa?! Sesuatu berada dibelakangku.."
Brakk!
Flint jatuh tersungkur, seseorang menendangnya dari belakang. Bola mata hitam itu mendapati pria menjengkelkan yang pernah menggagalkan rencananya dan kini terjadi kedua kalinya.
"Kau!!!" Ucap Flint.
"Hi, monster." Balas Law dengan sebuah seringai diwajahnya.
Flint segera menjauh dari Law, suasana disekitar mereka menjadi tegang, aura hitam itu seakan semakin pekat dan udara menjadi dingin.
"Langsung mengetahui identitas asli Elizabeth, matamu tajam juga rupanya."
"Kau, pelayan kemarin bukan?"
"Oh? Apa aku perlu memperkenalkan diriku lagi?" Law menatap penuh ejek padanya, "Ini menarik, kau seorang—"
"Aku, Tengu dari Pegunungan Atago. Sudah 17 tahun sejak aku meninggalkan tempat itu, karena kau telah mengetahui siapa aku sebenarnya, kau akan mati hari ini juga!" Flint mengayunkan tangannya dan angin kencang seakan berbentuk sabit mengarah pada Law, pria itu segera melompat cukup tinggi agar menghindari serangan itu jika tidak mungkin tubuhnya telah terbagi menjadi dua.
"Itu cukup berbahaya.."
"Bagaimana, rubah? Apa kau sudah menyerah secepat ini? Kau tahu, jika aku menjadi Dewa Tanah aku tidak masalah menjadikanmu pelayanku. Kau pasti berfikir aku lebih cocok menjadi mastermu dibanding gadis itu kan?" Ucap Flint, senyumannya begitu lebar melihat Law yang tengah berdiri diatas pagar yang menutupi sekeliling atap sekolah.
"Kau ingin menjadi Dewa Tanah?" Tanya Law.
"Ya, aku hanya perlu memakan hati gadis itu bukan?" Ucap Flint menampilkan wajah meremehkannya, ia bahkan tersenyum membicarakan gadis yang baru saja ditemuinya seakan gadis itu dihari esok tak akan terlihat lagi.
"Kedengarannya menyenangkan." Balas Law menyetujui perkataan Flint.
.
.
.
.
Bersambung..
————————————————
Author's Note~
Hi hi! Maaf baru diupdate bab terbarunya, seminggu yang lalu Eriza begitu disibukan dengan acara dan dalam seminggu itu jadwal Eriza begitu padat dengan acara itu dari mempersiapkan segala keperluan acara hingga keperluan untuk Eriza sendiri huhu T-T)
Terima kasih telah sabar menunggu, sampai jumpa di bab berikutnya :D
