"Kedengarannya menyenangkan." Balas Law menyetujui apa yang dikatakan Flint. "Setelah tahu orang sepertimu menargetkan Elizabeth, aku jadi merasa bersyukur Elizabeth menjadi seorang Dewi."

"A-apa?!"

"Kau tahu, aku sampai lupa untuk menyiapkan makan malam dan itu semua karena ulahmu." Law menciptakan cukup banyak dedaunan dan ia menggugurkannya, angin yang berhembus menghantarkannya pada Flint, "Perasaanku tidak enak..." batin Flint.

Poof!!

Tiba-tiba saja gumpalan asap putih menutupi Flint dan pria itu tak terlihat hingga..

"Pok..pok"

Terlihat seekor ayam jantan berwarna hitam berpadu dengan merah berjalan perlahan dari gumpalan asap yang hampir menghilang.

"Ayam adalah unggas terbaik untuk dikonsumsi, memiliki protein yang baik juga kalori yang cukup rendah sehingga cocok dimasak untuk wanita yang takut gemuk." Jelas Law, pria itu turun dari pagar lalu mendekati ayam tersebut, "Kudengar tadi kau ingin menjadi seorang Dewa Tanah bukan? Ahahahahah jika Elizabeth memakanmu, kau akan menjadi satu dengannya, dengan begitu kau bisa menjadi Dewa, hahahaah!!" Tawa Law hingga tak kunjung berhenti dan itu membuat Flint menggunakan waktu sebaik mungkin, perlahan-lahan mundur lalu melarikan diri darinya.

"Heheh ini sangat menyenangkan, aku tidak perlu repot-repot pergi berbelanja." Law menyadari Flint melarikan diri kedalam gedung sekolah, pria itu menciptakan api biru dikedua tangannya lalu mengikutinya.

"Pelayan? Pelayan apanya! Se-seseorang tolong hentikan rubah itu!!" Batin Flint yang tengah berlarian didalam koridor sekolah dengan dikejar oleh bola-bola api, murid-murid yang lewat pun buru-buru kabur maupun mencari tempat yang aman oleh karena bola api yang melewati mereka.

Kelas 2-1

Elizabeth's pov

Kukira guru akan masuk tapi rupanya beliau sedang sakit dan hanya memberikan beberapa soal, untunglah ini nomor terakhir dari soal itu dan setelah mengerjakannya aku akan pulang, aku tak sabar menemui Sachi, Penguin dan La—

"Oii! ada seekor ayam yang masuk ke sekolah loh!"

Huh? Ayam? Hmm mungkin saja ayam itu milik tetangga yang tersesat disini, lagipula disebelah sekolah banyak perumahan. Tapi kenapa dia sampai bersemangat begitu memberitahu kami semua? Nafasnya juga terengah-engah seperti habis lari, "kalian tahu, yang lebih menariknya lagi, ayam itu dikejar api, Bola Api!!"

Bola api?

Eh?

EEEEHHHH?!!!

Secepatnya beranjak dari kursiku, aku harus melihatnya! Ini tidak mungkin ulahnya!

"Wahh benda itu menuju kesini!" Ucap salah seorang murid dikelasku, mendekati sebuah jendela yang berada tepat disamping koridor lalu menoleh pada seekor ayam berwarna hitam, namun pandanganku akhirnya tertuju pada bola api berwarna biru terang itu.

Law!!! Benar sekali ini ulahnya! Aku harus menghentikan ini, tu-tunggu! Seseorang dari balik dinding koridor sebelah menuju kemari, ini berbahaya dia bisa terluka!

"E-elizabeth! Apa yang kau lakukan!" Cegat salah seorang murid dari kelasku, maafkan aku tapi aku harus menolongnya, melompat keluar dari kelas melalui jendela.

"Awa—

Brakk!

"O-oww.."

Oh ya ampun, apa aku mendorongnya terlalu kuat? "Apa kau baik-baik saja? Maaf, aku hanya mencoba untuk menolongmu." Segera membantu gadis yang kudorong itu untuk duduk. Sementara itu, ayam yang tadi tidak sadarkan diri karena tidak sengaja menabrak dinding dihadapannya, larinya terlalu kencang hingga lupa untuk berbelok.

Setelah menyandarkan gadis itu pada dinding dan membereskan buku-buku yang berserakan, aku mendekati ayam berwarna hitam dengan sedikit bulu berwarna merah ditubuhnya, aku menemukan sebuah kalung silver dengan mata kalungnya adalah sebuah salib mengantung dilehernya, ini milik Flint, jangan-jangan!

"LAW!!!!" Teriakku dan aku yakin sekali pria itu tengah menghela nafas panjang, menyadari bahwa ulahnya melebihi batas!

.

.

.

UKS

Normal pov

Elizabeth tengah menatap Law dengan penuh amarah, sedangkan Law hanya memasang wajah tak bersalahnya pada gadis itu. Mata berwarna biru lautan itu kemudian tertuju pada ayam yang kini telah tersadar, dari raut wajahnya, Elizabeth dapat mengetahui betapa ketakutannya Flint.

"Kau mengacau disekolah, apa kau sadar itu!" Marah Elizabeth pada Law, "Apa yang kau pikirkan sebenarnya!"

"Aku hanya mencoba melindungimu, Elizabeth-sama." Balas Law tetap dengan memasang wajah tak bersalahnya.

"Tapi kenapa sampai harus membuatnya menjadi Ayam?! Kalian juga tidak perlu sampai berkelahi di sekolah!"

"Orang ini bukan manusia, dia seorang Tengu gagak. Jika aku tidak bertindak, dia pasti sudah melakukan sesuatu padamu."

"Oh? Jadi dia bukan malaikat yang jatuh ke bumi??" Tanya Elizabeth, gadis itu menatap Flint dengan wajah cukup kecewa, "tapi itu tidak jadi masalah, yang jadi masalah saat ini, kau harus mengubahnya kembali, Law!"

"Tapi itu makan malam kita.." rengek Law.

"Aku tidak ingin makan manusia yang diubah jadi hewan! Cepat kembalikan dia seperti semula!" Perintah Elizabeth, tetapi sebelum Flint berubah kembali pada wujudnya, Elizabeth mendudukkan dirinya disebelah Flint lalu menatapnya cukup dekat,

"Flint-san, aku harap kau tidak lagi mencari masalah disekolah dan tidak lagi menggangguku. Aku akan menolongmu hari ini, jadi berjanjilah untuk tidak mengulanginya, ya?" Pinta Elizabeth, dan setelah itu Law mengubahnya kembali menjadi manusia.

"Ku-kupikir aku akan mati!!" Panik Flint, jantungnya berdetak sangat kencang, bahkan keringatnya masih bercucuran.

Elizabeth yang melihatnya kembali seperti semula akhirnya menarik nafas lega, ia juga cukup kagum dengan sayap besar berwarna hitam milik Flint, itu adalah kali pertamanya melihat Flint sebagai seorang Tengu, ia tidak pernah berfikir bahwa penyanyi Pop itu adalah seorang Yokai.

"Anu, Flint-san?"

"Apa?! Jangan menggangguku!" Tegur Flint, pria itu sudah cukup mendapatkan masalah hari ini, ia cukup kesal dengan pelayan dari Dewi yang ditargetkannya, namun tiba-tiba saja wajahnya yang kesal itu berubah, tangan kecil nan hangat sang Dewi itu menyentuh pipinya.

"Kau terluka.." cemas Elizabeth melihat luka pada pipi pria itu.

"I-itu bukan apa-apa! Tinggalkan aku sendiri!" Bantah Flint.

"Kau tidak boleh seperti itu! Aku akan mengobatimu, kau tidak bisa terluka seperti ini, kau adalah seorang artis dan seorang artis tidak boleh terlihat cacat sedikitpun!" Ucap Elizabeth, gadis itu segera mengambil kotak obat lalu mengobatinya,

"Aku tidak menyukaimu, tapi diluar sana masih ada gadis-gadis lainnya yang sangat menyukaimu, jadi setidaknya kau perlu memperhatikan penampilanmu." Kedua tangan Elizabeth memegang pipi Flint dan matanya yang berbinar itu menatap Flint penuh harap, pria itu hanya terdiam bisu, matanya tak kuat menatap Elizabeth hingga akhirnya ia mengalihkan pandangannya.

Sementara itu Law hanya menatap penuh kesal pada mereka, wajahnya seperti menghitam. Setelah Elizabeth mengobati Flint, Law segera menarik gadis itu menjauh dari Flint.

"Ada apa, Law?" Tanya Elizabeth yang bingung akan tingkah Law.

"Orang itu diperlakukan dengan baik bahkan diobati dan yang kuterima hanya marah dari tuanku sendiri, apa maksudnya ini!" Ucap Law tak terima perlakuan Elizabeth padanya.

"Tapi Law tidak terluka kan?"

"Aku tidak terluka karena kekuatanku, tidak seperti dia." Balas Law dengan penuh percaya diri.

"Kalau begitu Law tidak perlu kesal seperti itu, lalu kenapa datang ke sekolah?"

"Itu karena kau!!"

.

.

.

Keesokan harinya, disebuah kuil..

"Elizabeth Edelweiss, 17 tahun seorang siswi Sekolah Menengah Atas." Sebuah lukisan tergambar pada secarik kertas juga sedikit biodata dari Elizabeth tengah dibaca oleh seseorang, "Kenapa gadis manusia seperti ini bisa menjadi seorang Dewi di Kuil milik Corazon?! Dimana Corazon?!"

"Maafkan saya, Hina-sama, tapi sebetulnya Corazon-sama..." salah seorang spirit dari Dewi Hina membisikkan informasi yang didapatkannya mengenai Dewa Corazon.

"APA?! DIA PERGI DARI SANA LEBIH DARI 20 TAHUN YANG LALU?!" Marah Hina, kini pandangannya tidak lepas dari lukisan wajah Elizabeth, wanita itu begitu marah.

"Apa yang gadis ini lakukan sampai-sampai Corazon bisa memberikan posisinya?! Dan Law-kun harus melayani gadis ini?! Tidak kuizinkan ini terjadi!!" Murkanya, wanita itu dengan segera meninggalkan kediamannya.

"Elizabeth Edelweiss, aku akan mengujimu. Aku Hina, Dewi Badai akan melihat apakah kau pantas sebagai seorang Dewi menggantikan Corazonku!"

.

.

.

Kuil Corazon..

"Tujuh kali petir dari sebelah timur, sepertinya Hina sedang marah, orang itu temperamennya buruk sekali." Ucap Law sembari memotong daging sapi segar.

"Dari suaranya, kedengarannya Hina-sama menuju kemari." Panik Sachi.

"Orang itu pasti mencari Corazon. Jadi akhirnya dia tahu kalau Corazon tidak ada? Dia orang yang jauh lebih merepotkan daripada Elizabeth." Gerutu Law.

"Selamat pagi! Aah, aku hampir terlambat!" gadis yang dibicarakan pun menampakkan dirinya, ia terlihat rapih seperti biasanya namun tengah terburu-buru, hari ini dia tidak bangun lebih awal,

"Sarapan untuk pagi ini adala—"

"Aku tidak sarapan ya Law, aku harus segera pergi~!" Potong Elizabeth, gadis itu secepatnya mengenakan sepatu, kakinya akan melangkah pergi namun lagi-lagi Law menarik tangannya,

"Setidaknya bawa ini!" Kesal Law, pria itu telah membungkus kotak makan siang 2 susun untuk Elizabeth dengan kain berwarna orange dan kuning juga seperti sebelumnya, sebuah penutup kepala namun sedikit berbeda, hanya menutupi keningnya saja dengan sebuah gambar bunga dibagian depan.

"A-aku tidak punya banyak waktu lagi! Dan berhentilah memaksaku mengenakan benda-benda aneh itu lagi! Aku hanya akan pergi ke sekolah bukan pergi bertempur!!" Protes Elizabeth. Gadis itu pun akhirnya berhasil melepaskan genggaman Law pada tangannya,

"Aku hanya mencemaskanmu..."

"Eh?"

Gadis itu terkejut, ini adalah pertama kalinya ia mendengar perkataan itu langsung dari mulut pria sedingin es dihadapannya. Pipinya perlahan-lahan merona, matanya tak kunjung berkedip, ia terus menatap tak percaya pada Law.

"Karena kau sangat lemah bagaikan cacing" tambah Law. Wajah Elizabeth seketika menghitam, gadis itu kemudian pergi meninggalkannya tanpa sepatah kata pun.

"Oi! Elizabeth!!" Panggil Law namun Elizabeth tak memperdulikannya dan mempercepat langkahnya.

Crash..

Boom!

Guntur yang bergemuruh mengejutkan Elizabeth yang tengah terburu-buru menuruni tangga, "Sepertinya akan badai.."

.

.

.

Di Sekolah..

Elizabeth's pov

Entah mengapa setelah tiba dikelas, teman-teman sekelasku seperti mayat hidup, tidak semuanya tapi hanya gadis-gadis saja, aku penasaran mereka kenapa?? Tetapi setelah aku bertanya pada salah satu murid laki-laki, rupanya mereka sedang galau karena Flint tidak masuk sekolah hari ini.

Begitu rupanya pantas saja aku tidak melihatnya pagi ini, kursinya kosong. Oh iya setelah perkelahian konyol Law dan Flint kemarin, Flint mengatakan padaku untuk kembali duduk dibangku milikku yang ditempatinya, aku sempat takut akan dimarahi lagi oleh gadis-gadis pemujanya tapi rupanya dia sudah menenangkan mereka sebelumnya, itu sebagai permintaan maafnya karena melakukan hal bodoh di sekolah.

Mungkin karena hujan deras diluar, guru akan datang sedikit terlambat. Kurasa aku akan membaca bu— ta-tasku seperti ada sesuatu yang menggeliat didalamnya, hiii!!

Tadaa!

"Selamat Pagi, Elizabeth-sama!" Sambut Sachi dan Penguin padaku dari dalam tas,

"Huwaa! Kalian mengagetkanku saja! Apa yang kalian lakukan disini?? Kalian bisa dilihat yang lainnya!"

"Law-dono meminta kami untuk menjaga Elizabeth-sama." Jawab Sachi, "Law-dono tak bisa kemari karena sedang menunggu tamu di Kuil dan tenang saja Elizabeth-sama, manusia biasa tidak dapat melihat kami." Tambah Penguin.

"Syukurlah, kukira tidak hanya aku yang dapat melihat kalian, lalu kita kedatangan tamu? Law tidak memberitahuku kalau akan ada tamu yang berkunjung?"

"Law-dono sebetulnya akan memberitahukannya pada Elizabeth-sama namun anda sudah bergegas pergi."

"Begitu yaa, aku jadi merasa seperti orang jahat.." aku merasa tak enak hati padanya, aku tahu Law berusaha sebisanya untuk melayaniku sedangkan sikapku padanya kadang membuatnya kesal, saat pulang nanti aku harus minta maaf padanya!

Jam pelajaran pun dimulai, guru yang kami tunggui akhirnya datang, walaupun tengah belajar aku tiada hentinya memikirkan apa yang Law katakan padaku,

"Aku mengkhawatirkanmu.."

Raut wajahnya begitu serius saat mengatakannya...Ah tidak, tidak! Dia mengejekku pada akhirnya, dia tidak mungkin sebegitu khawatir, kami hanya sebatas pelayan dan master, tidak lebih!

Sementara itu...

Law's pov

Semua telah kulakukan di kuil hari ini, pekerjaan yang sama seperti yang kulakukan saat Corazon menempati tempat ini, sebetulnya pekerjaannya tidak sebanyak ketika aku melayani Elizabeth.

Gadis itu, dia membuatku kerepotan. Dia sangat menjengkelkan dan keras kepala, dia bahkan berani padaku, dia tidak menunjukkan rasa takut. Sejak pertama bertemu dengannya kupikir dia akan terus dihantui rasa takut, dia gadis kecil yang tingginya bahkan tidak mencapai pundakku, dia terlihat rapuh dan lemah, bisa kapan saja dimakan oleh siluman lainnya, dia bahkan pergi mencariku di Dunia Siluman, dia polos tapi berani, dia berbeda dan...menarik.

"Cih, kenapa aku jadi memikirkannya?!" Ucapku lalu berbaring pada tatami, menikmati beberapa jeruk manis, aku tersadar akan Dewi Hina yang tak lama lagi akan mengunjungi kuil ini, wanita itu sangat menyebalkan dan aku benar-benar tidak ingin menemuinya tapi ini begitu aneh, badai yang berasal darinya seperti menghilang, wanita itu ketika akan datang dengan keadaan marah pasti langit akan ikut mengamuk sepertinya, tapi badai itu tidak menuju kemari melainkan menuju sekolah Elizabeth— "Jangan-jangan?!"

"Ini berbahaya..Elizabeth!"

.

.

.

Bersambung...