Catatan: Fanfiksi ini saya tulis untuk Fanzine Kimetsu no Yaiba (non commercial) bersama teman-teman penggemar lainya dan dikoordinir oleh Wildasarah & Faiza. Di dalam fanzine tersebut ada sebuah ilustrasi yang dibuat oleh Zeesuke23. Latar waktu di dalam cerita ini ditulis sebelum saya mengetahui informasi Kanae Kochou mati di usia 17 tahun. Ada sedikit modifikasi plot untuk bagian kedua, di mana Sanemi bisa menguasai teknik pernapasan utama lebih dulu daripada Kanae, tetapi Kanae menjadi Pillar lebih dulu daripada Sanemi. Versi English menyusul dan akan saya pisah menjadi 3 bagian.
Disclaimer: Koyoharu Gotouge adalah kreator asli Kimetsu no Yaiba
Saya hanya meminjam dan tidak mengambil keuntungan apa pun selain untuk bersenang-senang dan menambah asupan.
Peringatan: typo(s), berpotensi out of character (menyesuaikan plot), headcanon
Peringatan 2: ada tiga bagian di dalam cerita; pov "bintang", pov kanae, pov sanemi
Untuk mereka yang tengah berjuang sebelum menjadi bintang,
Untuk rekata; untuk istana berlian di atas langit,
Untuk yang terkasih.
pappilon/pappilon de lune
present,
the little star's tale
i
Katanya, bintang bisa meramal masa depan. Karena bintang yang kau lihat dari bumi adalah cahaya masa lalu.
Ada satu perempuan menunjuk ke arahku. Memberi pujian: Bintang mungil yang paling terang. Tentu saja, aku senang. Namun, berbalik dengan satu laki-laki di sebelahnya, dia hanya menengadah tanpa ekspresi yang jelas. Mungkin dia tidak melihat eksistensiku atau memang benar-benar tidak bisa melihat. Seperti kata rembulan kemarin, laki-laki itu memang tidak bisa melihat. Bukan karena terlahir buta, tetapi karena satu mala petaka, dia tidak lagi bisa melihat warna.
Jadi, seperti apa wujudku di matamu? Apakah seperti noktah putih atau bongkahan batu hitam pegam? Aku selalu penasaran. Karena di masa depan kau akan terus menjumpaiku di bukit ini.
Kami—para benda langit—sedikit banyak tahu bahasa makhluk yang ada di bumi. Mengenai nama mereka; baik nama yang hidup atau yang mati. Pun nama satu perempuan dan satu laki-laki yang menyusuri bukit di malam hari. Selalu bertemu setiap pukul satu malam. Berbagi rahasia dan menghangatkan jemari. Mengelus pucuk kepala sambil bernostalgia; cerita tentang masa lalu, memperkuat jurus, membahas mengenai: adik yang harus kita lindungi, impian menjadi seorang Hashira, rekan yang gugur, dan lain sebagainya. Kadang mereka saling berlarian, mengejar, memeluk, dan mengecup malu-malu menapaki permadani hijau dan ditemani serangga malam. Entah siapa yang memulai duluan. Namun si perempuan selalu menyebutku sebelum memulai rahasia itu, seperti: Shinazugawa-kun, tahu tidak? Bintang yang ada di sebelah sana selalu mengawasi kita, loh. Dia berkedip-kedip seolah ingin tahu. Mungkin kita harus lebih dekat saat berbicara agar dia tidak bisa mendengar.
"Kochou ..."
Kau akan membalas dengan menyebut nama perempuan berjepit kupu-kupu itu. Kemudian mengelus pipinya dengan ibu jari yang aku yakini bukanlah usapan penuh kelembutan. Ibu jari dan telapak tangannya pasti terasa kasar karena terlalu sering menggunakan pedang, gumamku. Entah kenapa setiap aku melihat mereka rasanya antara ingin tertawa atau kasihan. Penampilan mereka sangat kontras. Sepasang remaja enam belas tahun: dengan perempuan yang elok bersama laki-laki yang fisiknya penuh dengan cela. Namun dia (Kanae Kochou), tidak pernah merasa segan atau risih. Pun dia (Sanemi Shinazugawa), sebisa mungkin menjaga sikap yang baik di dekatnya.
Jari-jari ramping Kanae panggilku menggelitiki telapak tanganmu yang penuh dengan kapal tanpa ragu-ragu. Refleks, Sanemi pun menggenggam kuat jemari itu. Sangat kuat. Seolah tidak bisa berkutik karena pengaruh belenggu malam dan enggan untuk melepas. Kalian saling memandang dan tidak mengindahkan apa yang ada di sekitar. Dengan cahaya samar sang rembulan, aku bisa melihat semburat tipis di kedua sisi pipi.
Jadi, kau sedekat ini dengan Kanae?
Sesekali, kau memejamkan mata. Merasakan embusan angin malam di bukit yang lengang. Pun suara serangga dan dersik ikut terdengar menemani. Menambah sedikit kewaspadaan saat kalian sedang berbagi afeksi lewat obrolan-obrolan kecil. Kemudian, berakhir dengan kemarahan Kanae saat mendapati goresan lukamu yang semakin bertambah. Dia akan memukul lengan atau mencubit perutmu. Kau berteriak kesakitan, tetapi kau merasa nyaman dan ketagihan. Barangkali, itu salah satu alasan agar diperhatikan olehnya.
Kanae terlihat peduli seperti ibu dan kebaikannya mengingatkanku dengan adik perempuanku, pikirmu. Mungkin.
Satu kelemahan yang aku punya adalah tidak bisa membaca hati dan pikiran benda hidup atau mati. Rembulan pun meringis melihatku, sambil berkata: Kau terlalu ingin tahu, kau terlalu ingin tahu.
Kemudian, rasa ingin tahuku semakin memuncak tatkala Kanae membicarakan tentang sesuatu yang lain dari biasanya. Terdengar seperti melodi melankolis. Menyayat hati dan membuai buana. Semuanya berubah menjadi sebam seketika. Namun, kau tetap menggenggam tangan Kanae. Tidak bisa melepasnya tanpa alasan. Barangkali, di sanalah tempatnya kau menyimpan sumber kekuatan untuk tetap hidup. Jadi, kau mendengarkan Kanae berbicara.
"Shinazugawa-kun, tahu tidak?" Kepalamu menoleh. "Mereka yang mati lebih dulu dari kita, akan berkumpul di langit sana, dan menjadi bintang-bintang." Kau menatap matanya dengan serius saat ia berbicara. "Kakekku yang bilang begitu dan aku percaya mereka akan dibangunkan istana yang megah dan dibebaskan dari rasa mala."
Kau terdiam beberapa saat, tetapi kedua matamu seolah ingin berbicara. Kemudian kau berkata, "Apa kau tidak takut mati? Kau bisa tinggal di tempat yang aman, menikah, dan hidup bahagia." Tepat saat kau berhenti berbicara, angin malam bertiup cukup kencang. Menerbangkan beberapa anak rambut kalian dan kau bisa melihat Kanae tersenyum kecut.
"Shinazugawa-kun ..."
Aku suka saat Kanae memanggil namamu sambil berkedip-kedip. Kemudian, dia akan menambahkan kata: ara-ara, sebagai ciri khas ketika sedang berbicara. Aku pikir, kau ingin mengecup bibirnya supaya dia tidak bertingkah seperti itu di hadapanmu. Kanae terlihat lucu, bukan? Namun kedua matamu menyiratkan ungkapan lain, seperti: Apa ada yang salah dengan ucapanku?
Dia pun tertawa hingga ada air yang hampir keluar dari sudut mata. Kedua jepitnya bergerak-gerak. Membuat dahimu berkerut. "Apakah kita bisa bahagia dengan aman dan nyaman, Shinazugawa-kun?" Kanae menyeka buliran air asin itu. "Maaf, maksudku saat ini." Ada jeda setelahnya. "Menjadi Pemburu Iblis atau tidak, kau tidak bisa menjamin aku akan selamat atau bahagia."
Terdengar bunyi helaan napas kasar, kau memperkuat genggaman, dan masih diam menyimak kelanjutan dari ucapan Kanae. "Aku ingin menjadi kuat untuk melindungi saudariku, Shinobu. Aku tidak ingin dia mendahuluiku menyusul ayah dan ibu menjadi bintang di atas sana. Aku sudah berjanji."
Aku tahu, kau ingin menyela ucapannya. Akan tetapi, tenggorokanmu tiba-tiba seperti orang tercekik. Kau diam, tetapi pada satu waktu di masa depan, kau menyesalinya. Andai saja Sanemi, kau berkata: Aku akan melindungimu dan juga saudarimu saudaraku (Genya), semua, aku akan melindungi kalian. Biar aku saja yang terluka dan mati. Jangan kalian. Ini janji dan sumpahku.
Namun, kau tidak mengatakan apa-apa. Sebab kau paham, Kanae lebih keras kepala darimu. Jadi, kau hanya memperkeras genggamanmu dan membiarkan Kanae memuntahkan segalanya. Malam ini, aku mengasihanimu.
"Tapi aku yakin, akan ada satu waktu di mana semua ini akan selesai. Tidak ada iblis, tidak ada air mata, tidak ada rasa sakit, dan aku ingin orang yang aku cintai merasakan itu. Meskipun " Kanae menunduk, tapi jemarinya tidak bisa diam bergerak di genggamanmu. " aku tidak bisa merasakan hal itu. Berjumpa denganmu dan bersama Shinobu adalah sesuatu yang berarti untukku. Kalau aku tidak bisa berjuang sampai akhir, Shinazugawa-kun pasti bisa melakukannya, 'kan?"
Kedua matamu terpejam beberapa detik. Meninggalkan genggamanmu yang membuat Kanae terperangah. Wajahnya hampir menangis dan aku tidak suka melihat itu. Katakan sesuatu, Sanemi! Katakan! pekikku. Bulan yang sempat tertidur tiba-tiba terbangun karena terkejut. Kemudian, dia berkata: Apa sebentar lagi Matahari akan datang?
Kau membuka kedua matamu kembali, mengelus pucuk kepala Kanae dengan sangat lembut. Kanae hanya bisa menunduk menyembunyikan wajahnya yang kuyu. Namun, kau berbisik tepat di rongga telinganya dan aku tidak bisa mendengar itu. Terlalu pelan suaramu. Akan tetapi, aku merasa sedikit lega karena setelah itu Kanae tersenyum hingga matanya hampir menyipit. Kau diam-diam pandai menghibur rupanya. Meskipun wajahmu tidak menunjukkan segala kelebihan. Aku pikir, kau hanya laki-laki kasar yang sering merajuk.
Dua ekor burung gagak dengan warna bulu sepekat langit malam datang dan berteriak seperti bayi burung yang kelaparan. Bertengger di kedua bahu kalian sambil menguar-uar kabar. Mengantar kalian dalam perpisahan. Menjalani satu misi berbeda, tetapi memiliki tujuan yang sama. Membunuh para iblis. Membantainya hingga habis. Kalian tidak butuh dadu untuk memutuskan mana yang harus ditebas. Karena semua dadu bertuliskan kalimat yang sama di semua sisinya, yaitu: Membunuh Iblis.
Malam-malam berikutnya, kalian tidak hadir di bukit ini lagi. Sang waktu hampir tidak pernah membuat kalian saling bersua. Namun, aku selalu mengawasi. Dari kejauhan aku bisa melihat kalian sedang berjuang. Bermandikan cairan berma bercampur keringat. Mengayunkan pedang hingga tidak ada lagi kelembutan telapak tangan. Kalian berjuang, sangat berjuang. Berjuang untuk tidak saling menggapai rindu. Benar 'kan?
[i] Sumber inspirasi: Novel When the Star Falls-Andry Setiawan; film To Each His Own
ii
Shinazugawa-kun, jangan biarkan bintang-bintang itu luruh melalui kedua matamu.
Aku lupa siapa yang memulai terlebih dahulu. Mungkin aku atau mungkin saja Shinazugawa-kun. Namun, kita selalu berada di sini. Setiap malam, pukul satu, di bukit yang sama. Tempat di mana aku pertama kali melihat punggungmu yang tampak kukuh, tetapi itu tidak benar. Ada rongga di dalam. Melapuk, meski tidak membungkuk. Seperti batang pohon yang rapuh. Terlalu sakit untuk diperhatikan dengan sengaja. Karena malam itu, kau tepekur. Kemudian, aku menghancurkan keheningan itu dengan menyapamu.
Tidak banyak yang kita lakukan. Hanya sebatas mengobrol basa-basi dan tujuan kita menjadi seorang Pemburu Iblis. Terkadang ada beberapa kenangan di masa lalu yang kita ungkap. Gelap dan terang kita bagi bersama. Luar biasa rasanya. Aku bisa dekat denganmu adalah sesuatu yang aku butuhkan saat itu. Karena aku kesepian dan tidak ingin Shinobu tahu, aku ketakutan setengah mati menghadapi kehidupan ini. Aku sudah berjanji melindunginya meski nyawaku sebagai taruhan. Bersama Shinazugawa-kun, aku seperti tersesat, juga terpikat. Mungkin kau memberiku kekuatan untuk bertahan.
Mereka yang berdiri di sekeliling akan berbisik tentang perbedaan kita. Kau yang pemarah dan kasar, sedangkan aku yang lembut dan berparas cantik. Mungkin. Aku tidak tahu secantik apa parasku, tetapi kau tidak seperti yang mereka pikir. Ya, kau memang sering bersikap kasar. Marah saat pertama kali aku mengelus dahimu yang terluka. Akan tetapi, tahu tidak? Shinazugawa-kun hanya tidak ingin jemariku kotor karena memegang lukanya. Kau tidak ingin merepotkan orang lain. Terutama seorang perempuan. Aku terkekeh mendengar alasan yang kauucap, tetapi aku memuji di dalam hati, betapa baiknya orang ini. Aku semakin terpikat dan ingin terikat.
Dersik, kerisik, dan jangkrik mulai terdengar seperti sebuah melodi. Kita berjalan di atas rerumputan pelan-pelan. Menyeimbangkan langkah agar bisa di sisimu. Sedari dulu, aku sangat kesusahan untuk berada di sisi yang sejajar. Aku belum bisa menguasai teknik pernapasan utama, sedangkan kau sudah bisa menggunakan bahkan menciptakan teknik yang baru. Sebentar lagi, langkahmu sebagai seorang Hashira akan segera kaugapai. Berbeda denganku yang akhirnya mati-matian belajar teknik pernapasan cabang baru. Akan tetapi, tahu tidak? Semangat yang Shinazugawa-kun bagi denganku adalah salah satu alasan aku menjadi kuat. Kau sering mengingatkanku mengenai adik dan rekan yang harus kita lindungi. Kau benar-benar baik. Aku selalu mengakui itu.
Bintang itu kembali muncul dengan cahayanya yang paling menawan di antara yang lain. Aku ingin Shinazugawa-kun melihat kecantikannya seperti berlian. Seperti malam-malam sebelumnya, kau hanya menengadah dengan ekspresi yang tidak jelas. Mungkin, pengaruh mala petaka di waktu dahulu. Kau tidak bisa melihat bintang kesayanganku.
"Shinazugawa-kun, tahu tidak? Ada dua buah bintang yang bersisian tepat di atasmu." Kau menatapku dengan dahi yang berkerut. "Di atas sana, ada dua, loh. Bahkan aku sudah memberinya nama."
Kau menengadah sekali lagi. Wajahmu seperti memahami apa yang aku katakan barusan. Aku pun tersenyum melihatnya. Di bawah sinar rembulan, samar-samar, aku bisa melihat semburat tipis di kedua pipimu. Dengan sengaja, jariku menggelitiki telapak tanganmu. Hampir seluruh bagian itu terasa kasar seperti kulit pohon. Beberapa detik kemudian, kau menggenggam jemariku. Ini adalah kebiasaan kita untuk merambatkan renjana dan berbagi kekuatan.
"Bukankah itu sama seperti kita, Shinazugawa-kun?" Ibu jarimu mengusap punggung tanganku. "Sebelah kiri itu bernama Kanae dan sebelah kanan bernama Sanemi."
"Tapi, bukankah itu hanya ada satu bintang?" Aku terkekeh dengan pertanyaanmu. Kau menyipitkan matamu untuk memastikan kembali. "Ya, aku melihat satu lagi, tapi cahayanya terlalu redup."
Mungkin Shinazugawa-kun tidak benar-benar bisa melihatnya. Kau hanya menghiburku, tetapi itu adalah salah satu sisimu yang lucu. Jadi, apakah kau setuju dengan nama kedua bintang itu? Mereka bersisian, sama seperti kita malam ini.
Aku memperhatikan bagian sebelah lenganmu yang dibalut perban. Beberapa hari yang lalu, kau datang dengan luka seperti sayatan pedang baru. Dagingnya terlihat jelas di mataku. Pendarahan hampir tidak bisa dihentikan. Kau meringis beberapa kali saat kuobati. Karena Shinazugawa-kun datang tepat waktu, aku bisa dengan cepat menghentikan racun yang tersebar.
Kalau diingat-ingat, kau memujiku: Kochou, kau sangat hebat. Kau tidak kenal takut dan pandai mengobati pasien. Diam-diam, kau mengungguli dengan menjadi Hashira lebih dulu. Kemudian, kita sama-sama tersipu malu dan kikuk. Namun, kau beberapa kali menghindariku setelahnya, karena Shinobu selalu menatapmu sinis. Tanda bahwa ia tidak terlalu menyukai Shinazugawa-kun. Berulang kali aku katakan kepadamu: Shinobu hanya tidak rela Kakaknya berbagi kasih dengan orang lain. Dia takut Shinazugawa-kun melukaiku. Alih-alih kau lega mendengar perkataanku, kau justru menghindariku beberapa kali. Shinobu tidak pernah membencimu, tetapi dia hanya merasa kau merebutku.
Kau masih menatap langit dengan tenang. Dua buah bintang terang dan satu butir bulan bulat penuh dan berwarna kuning menemani kelengangan di bukit ini. Diam-diam, aku mengelus lenganmu yang sakit tempo hari. Refleks tubuhmu memang lebih sensitif daripada orang lain. Jadi, kau menatapku dengan dahi berkerut. Kedua mataku berusaha menyelami apa yang tersirat dari kedua matamu. Sebab, ada satu waktu di mana aku tidak bisa mengenalmu. Kala angin malam berembus dan menerbangkan anak-anak rambut. Tanpa ragu-ragu, Shinazugawa-kun menarik tubuhku dan memeluknya dengan erat.
"Aku ingin Shinazugawa-kun datang kepadaku saat terluka. Karena aku tidak ingin kau mati konyol karena lengah tidak mau mengobatinya."
Malam itu bukan hanya berharga, tetapi sangat berharga. Terkadang kita butuh berpelukan untuk berbagi beban atau mungkin berbagi perasaan lain. Meskipun kehidupan ini seperti meniti buih dan kita hanya bisa berkhayal tentang kebahagiaan. Aku mengelus punggungmu dengan mata terpejam. Hingga dua ekor gagak datang membawa kabar terista. Kita berpisah lagi di sini.
[ii] Sumber inspirasi: Ost (ED) Naruto-Pino to Ameri
iii
Mungkin aku adalah bintang yang sudah lama mati. Hanya cahaya masa lalu yang sampai di bentala (bumi).
Setiap pukul satu malam, aku dan Kochou akan berada di bukit ini. Saling bertukar kabar dan pikiran. Bergenggaman tangan untuk saling menguatkan. Membahas bintang-bintang yang dia namai satu per satu. Pun mengelus lukaku dengan jarinya yang lembut dan aku akan bertingkah kikuk karenanya. Namun, itu dulu. Memori-memori lama. Karena sekarang dia tidak ada di sini lagi.
Sebenarnya, dia tidak benar-benar pergi, dia hanya berpindah tempat. Seperti Masachika, kalian berdua berada di langit menungguku. Aku merindukan kalian. Ibu, juga adik-adikku. Apakah kalian sudah bertemu di istana sana?
Adalah aroma tubuhnya yang tidak akan pernah bisa aku lupakan. Kadang seperti buah nanas atau apel, kadang seperti bunga mawar atau lavendel. Membuatku tersesat, juga terpikat. Kadang aku ingin mengikatnya supaya tidak terlepas. Aku kecanduan dan tidak ingin dia masuk ke dalam pusaran. Aku ingin, tetapi semua hanya lengkara. Kochou sudah menjadi bintang. Terlalu jauh untuk bisa kutarik ke sini.
Kupu-kupu
Bintang
Kanae
Tiga kata itu samar-samar aku dengar sebelum dia tidur panjang. Shinobu menangis sangat kencang sambil berteriak "Nee-san". Air mata dan ingusnya turun mengotori haorimu. Gadis itu memakiku dengan suara seraknya: Kau terlambat, Shinazugawa-san! Seandainya ... seandainya saja, kau datang lebih cepat, dia pasti akan selamat. Dasar Berengsek! Iblis menjijikan! Aku tidak bisa hidup tenang sebelum membalasnya.
Aku tidak bisa berkata apa-apa. Sejak gagak-gagak itu membagi kabar "Kochou Kanae mati melawan Iblis Bulan Atas Dua", pikiranku menjadi kosong. Dia mungkin saja bukan Kochou Kanae. Bukan Kochou Kanae-ku. Mungkin saja ada dua nama orang yang sama. Kochou Kanae-ku tidak mati. Dia hanya tidur.
Pelan-pelan aku angkat telapak tangannya dan kutempelkan di pipi kiriku. Kulitnya terasa dingin dan aku sukar untuk menghangatkan. Mataku terpejam cukup lama, kemudian aku pergi begitu saja, meninggalkan Shinobu seorang diri meneriakiku dengan berbagai umpatan. Aku tidak bisa menghadapinya, lagi, dan lagi. Aku ingin sendiri. Aku ingin menepi agar bisa mengontrol amarahku. Namun, kenyataannya aku marah. Sangat marah. Malam ini, aku harus membunuh banyak iblis untuk pengorbanan Kochou.
Sebelas hari setelah upacara pemakaman, Oyakata-sama memberiku satu surat. Ia ingin aku membaca atau menyimpannya. Karena aku terlalu sibuk dan susah untuk ditemui, Oyakata-sama sengaja menunggu hingga hari ke-11 tiba. Aku tahu, surat itu pasti dari Kochou. Karena belum berminat untuk membacanya, jadi kuputuskan untuk menyimpannya sementara waktu.
Setelah satu bulan lebih berlangsung, aku mengumpulkan berjuta-juta keberanian. Dengan langkah gontai dan perasaan tertekan, aku pergi ke bukit, tempat kami sering bersua. Tidak jauh dari bukit, ada sebuah pohon besar yang jarang aku perhatikan. Aku pikir, akan lebih baik duduk di sana. Bersandar dan membaca surat Kochou.
Untuk, Shinazugawa-kun.
Aku memejamkan mata saat membaca satu baris pertama di permulaan surat ini. Beberapa kali, kubenturkan kepalaku pada batang pohon tempatku bersandar. Aku merasa tidak sanggup untuk membaca barisan berikutnya. Terlalu menyakitkan seperti dihujani jarum. Napasku hampir tertahan. Air mata siap meluncur. Kemudian, aku berpikir, dia pasti marah jika aku tidak pernah membaca suratnya. Aku tidak ingin Kochou membenciku. Maka, aku melanjutkannya.
Apa kabar? Aku harap, kau dalam keadaan baik-baik saja. Saat kau membaca surat ini, aku mungkin sudah menjadi bintang. Berpindah tempat, di atas langit sana. Aku hanya bisa kaupandangi di malam hari. Jadi, jika kau merasa lelah setelah menebas kepala para iblis, datanglah ke bukit, dan pandangi aku sebentar. Aku akan mendengar keluh-kesahmu. Mengawasimu dari istana bintang. Aku akan setia di sisimu.
Shinazugawa-kun, tahu tidak?
Aku sudah tidak merasa sakit dan beban lagi. Aku bahagia, tidak menangis. Jadi, aku ingin kau sepertiku. Hidup dengan bahagia. Berbaikan dengan adikmu, Genya. Juga bersikap loyal kepada Oyakata-sama.
Penglihatanku mengabur. Aku merasa berada di tepi pusaran. Sekuat mungkin, aku menahan diri agar tidak tumbang dengan memegang kedua sisi surat itu.
Apakah kau ingat? Malam itu, kau pernah berbisik: Kochou, aku ingin kau membuatkanku sup miso setiap hari, dan menjadi orang pertama yang aku temui ketika bangun tidur di setiap pagi.
Setelah kau mengucapkannya, aku menjadi tidak bisa berkonstrasi saat Shinobu mengajakku berbicara. Ia selalu bertanya-tanya, apa yang terjadi hingga aku menjadi seperti ini. Namun, aku merahasiakannya. Aku takut, aku hanya salah dengar. Karena jika memang itu benar, aku tidak hanya akan membuat sup miso untukmu. Aku juga akan membuat ohagi dan teh hijau untuk kita habiskan setelah selesai melakukan latihan sesama Hashira. Benar begitu 'kan, Shinazugawa-kun? Aku ingin. Sangat ingin sekali, tetapi aku tidak bisa di kehidupan ini. Mungkin di kehidupan lain, kita akan bertemu, dan mewujudkan semua itu.
Tunggu aku, Kochou. Di kehidupan yang lain, aku akan lebih dulu menemukanmu, dan bersama-sama kita pasti bahagia. Aku bersumpah.
Shinazugawa-kun, jangan biarkan bintang-bintang itu luruh melalui kedua matamu. Apa pun yang terjadi, kau sudah bekerja sangat keras. Kau adalah orang baik.
Terima kasih dan maaf.
Kochou Kanae
Maafkan aku, Kochou. Bintang-bintang itu tidak bisa kucegah untuk turun. Aku menangis, seperti saat aku membaca surat dari Masachika. Rasanya sesak dan aku hampir masuk ke dalam pusaran itu. Orang-orang terdekatku mulai pergi. Aku tidak bisa menahannya lagi. Dadu-dadu itu tidak pernah memberi kita pilihan. Aku harus menghabisi Muzan dan pengikutnya. Karena api amarah di dalam hatiku sudah terlalu penuh dan rasanya sudah bersiap untuk tumpah dari bejana. Aku akan berjuang hingga akhir, untuknya dan untuk semua yang telah gugur karenanya.
Mulai malam ini, aku meledak seperti bintang, dan berubah menjadi lubang hitam.
[iii] Sumber inspirasi: Hoshikuzu Venus-Aimer; Kumpulan Prosa Maybe Everything-Alicia Lidwina; beberapa doujin dari Twitter
iv
Kadang aku merasa kasihan dan bertanya kepada rembulan: Kenapa laki-laki ini tidak pernah bahagia? Penguasa malam itu hanya tersenyum sambil menanti matahari menggantungkan dirinya seperti buah lemon. Kemudian, aku melanjutkan pengawasanku kepada Sanemi. Dia ada di sana, berjongkok, dan meletakkan satu kincir angin kertas berwarna merah.
"Shinazugawa-san, aku tidak menyangka kau datang ke tempat ini. Aku sudah menduganya ... kincir angin itu adalah pemberianmu. Karena orang lain akan memberinya bunga, bukan?"
Kau menjawab dengan singkat, tanpa peduli orang yang berdiri di belakangmu, "Karena dia sangat berarti untukku."
"Terima kasih karena sudah mengunjungi makam Nee-san."
The End
Catatan paling akhir:
- cahaya bintang yang kita lihat dari Bumi merupakan cahaya masa lalu, bisa saja bintang itu sudah lama mati dari alam semesta sana. bagiku, kochou kanae adalah jelmaan dari "bintang" itu sendiri. sebab dia tahu masa depan karena sudah menjalani masa lalu. serta menyadari di masa depan, sanemi akan terus menjumpainya. yes, bintang kanae namanya.
- aku pernah membaca artikel cara orang Jepang melamar pasangannya dengan mengucapkan "aku ingin kau membuatkan sup miso untukku setiap pagi". silakan browsing jika penasaran. dan hal ini sengaja aku buat satu garis plot di mana kanae merasa bahagia, juga rasa penasaran "bintang" dengan bisik-bisik sanemi.
- aku membayangkan jika kanae bisa melakukan teknik pernapasan utama, mungkin air atau angin cocok untuknya. sebab itu aku memodifikasi sedikit di mana sanemi dan kanae sebelumnya sudah akrab bertemu. dan motivasinya untuk menjadi hashira, serta (sedikit) menonjolkan (di mana) meskipun seorang perempuan dan tidak menguasai teknik pernapasan utama. kanae bisa menjadi hashira lebih dulu daripada sanemi. kochou kanae berjuang hingga akhir.
- maaf banyak sekali catatan di sana-sini, aku hanya tidak ingin pembaca bingung huhuhu
