Chapter 1
I'll be Back
Kuroko no Basuke fanfiction
KnB belongs to Tadoshi Fujimaki
This fanfiction just for fun
Rate: T for romance, M for darah-darah
Pairing: KuroAka, GOMxAkashi, AllxAkashi (secara umum seperti itu, secara terpisah pairing seperti biasa)
Warning: BL, romance slash! twincest!, twinAkaKuro, Ukeshi!, Akashi-centric AU fantasy, DON'T LIKE, DON'T READ
"Anda harus bertahan hidup, dan kembali mengklaim tanah Anda."
Pagi masih berembun, dan tanah masih basah. Seperti biasa Kuroko Tetsuya akan bangun pagi dan mencari sayur dan umbi-umbian apa saja yang bisa ditemukan di sekitar untuk sarapan paginya bersama Aomine Daiki dan Kise Ryouta, teman seperjuangan yang masih nyaman tidur berpelukan tanpa tahu malu, sama sekali tidak mengerti perasaan Kuroko.
Rumah itu pada dasarnya memang di tengah hutan, jarang ditemui orang dan tidak ada apa pun yang bisa ditemui kecuali alam. Ada air, tumbuhan, dan sedikit hewan buruan. Namun memang di situ lah tempat Kuroko dan keempat orang lainnya tinggal. Mereka adalah Royal Shadows, semacam prajurit khusus kerajaan. Mereka berempat adalah elitnya dan disebut dengan Miragen, masih ada banyak lagi Royal Shadows yang terpencar di lain daerah. Miragen adalah yang terdekat dengan ibukota. Sedangkan khusus yang di permukaan dan terlihat mondar-mandir berpatroli di daerah ramai penduduk, mereka adalah Royal Knights. Pekerjaan mereka kurang lebih sama—bedanya seperti yang diduga, Royal Shadows tentu saja bergerak dalam bayangan.
Sepertinya hari yang damai itu diawali dengan sesuatu yang tidak sedamai suasananya. Begitu membuka pintu rumah kecil itu, yang menyambut penciuman Kuroko bukanlah udara sejuk dan tanah yang basah, justru bau anyir yang samar menodai aroma segar itu. Begitu matanya tertuju pada sumber bau, pupilnya langsung membuka lebar seolah-olah belum percaya pada apa yang dilihatnya.
Di bawah pohon terdekat dari depan pintu rumahnya, terduduk seorang pria paruh baya memakai seragam Royal Knights, namun yang lebih mengejutkan adalah seseorang di pangkuan pria itu. Sosok itu tertutupi jubah sebenarnya, namun hanya melihat dari jubahnya pun Kuroko tahu betul siapa dia. Jubah itu berwarna merah darah, menutupi seluruh tubuh sosok itu. Di jubah itu tergantung banyak batu permata dari ujung tudungnya hingga ke bahu. Belum lagi perhiasan yang menggantung di bagian bawah jubah dan membentuk pola-pola simbol kerajaan. Semuanya begitu dramatis dan berkilauan diterpa sinar mentari pagi, semuanya indah—andai Kuroko lupa situasinya.
Kuroko segera mendekat dan memeriksa pria Royal Knights itu, pria itu sudah mati. Dilihat dari darah yang mengucur dari kepala serta dari pinggangnya. Kemudian Kuroko beralih pada sosok yang didekap pria itu. Perlahan-lahan membuka tudungnya. Jantung Kuroko berderbar, melihat si pria yang sudah mati, Kuroko benar-benar khawatir sosok di dekapan itu juga bernasib sama. Kemudian terbukalah tudung jubah itu dan terlihatlah sosoknya. Seorang pemuda berkulit putih dengan rambut merah yang lebih terang dari jubah yang dipakainya. Sosok yang begitu cantik, baik di mata Kuroko, maupun di mata siapa pun yang melihatnya. Namun kecantikan itu sedikit pudar melihat bagaimana bibir pemuda itu membiru, juga ada luka gores yang cukup besar di pipinya. Kuroko tidak perlu memeriksa napasnya untuk tahu apakah pemuda itu masih hidup, karena kerutan di alisnya sudah menunjukkan semuanya. Kuroko memeriksa kepalanya terlebih dahulu, namun tidak ditemukan luka apa pun selain goresan di pipi itu.
Masih berdebar-debar, Kuroko pun menyibak bagian jubah yang menutupi tubuh pemuda itu. Napasnya seketika tercekat melihat pemandangan di depannya. Pemuda itu seperti berpakaian dengan darahnya sendiri. Sebenarnya dia tidak memakai apa pun, tapi kain yang dibebat di hampir seluruh tubuhnya semuanya sudah berwarna merah. Mata Kuroko terasa memanas dan pandangannya mengabur karena air mata yang terbendung, tapi Kuroko tahan. Dia memerlukan bantuan dan bukan waktunya untuk panik sekarang. Kuroko kembali menutup jubah itu dan menambahkan jubahnya sendiri di atasnya. Hanya untuk berjaga-jaga jika ada orang yang lewat—meskipun hal itu jarang sekali terjadi.
Kuroko kembali memasuki rumahnya setengah berlari. Menggedor-gedor pintu tempat Aomine dan Kise tidur. Dia langsung disambut dengan Kise yang merengut. Tapi tak lama kemudian ekspresinya berubah. Kuroko menggedor-gedor pintu berarti ada sesuatu yang gawat. Bahkan belum sepatah kata pun diucap, Kise sudah kembali masuk kamar dan menarik Aomine sampai terjatuh dari tempat tidurnya.
"Kise! Apa-apaan?!"
"Gawat—ssu! Kuroko!"
"Huh?! Ada apa?! Kenapa dengan Kuroko?!"
Aomine seketika kehilangan kantuknya dan berlari keluar rumah, diikuti oleh Kise. Kuroko rupanya menunggu langsung di luar karena tahu teman-temannya akan segera menyusulnya. Dan lagi pula dia khawatir dengan sosok yang ditinggal di luar.
Aomine dan Kise berhenti tepat di samping Kuroko dan terkejut melihat apa yang ada di depannya.
"Kuroko ... dia ...?" ujar Kise sambil menutup mulutnya.
Kuroko hanya terdiam sambil mengusap air matanya.
"Dia ... Akashi Seijuurou ... sang pangeran," Aomine mengungkap faktanya, jelas.
Tanpa berpikir lebih lanjut Aomine segera mengambil tindakan. Karena dia lah yang paling tidak terlalu emosional saat ini.
"Kise, kau pergilah ke tempat Midorima, jelaskan situasinya. Dia terluka di hampir seluruh tubuhnya, kemungkinan karena serangan hewan buas," komando Aomine setelah melihat luka-luka di tubuh Akashi secara singkat. Kise langsung mengangguk patuh, mengambil kudanya dan berangkat menuju rumah Midorima Shintarou, seorang tabib di antara mereka. Rumah itu tidak terlalu jauh, namun akan membutuhkan sekitar sepuluh menit dengan kuda.
"Kuroko, kau masuk lah ke dalam, siapkan kamar tidur, kurasa kamarmu yang akan dipakai, bukan?"
Kuroko diam saja namun segera bergegas melakukan apa yang diminta Aomine. Sedangkan Aomine memeriksa sekali lagi luka Akashi supaya tidak salah langkah saat membawanya menuju ke kamar.
Aomine pun menelusupkan tangannya di antara bahu dan paha Akashi, berhati-hati agar tidak terlalu menekannya. Kemudian menggendongnya masuk ke dalam rumah.
Di dalam, tempat tidur sudah siap. Memang biasanya Kuroko orang yang rapih jadi dia hanya perlu menyiapkan sebentar saja. Aomine menempatkan Akashi sepelan mungkin, namun tetap saja suara desisan lemah terdengar dari bibirnya yang masih membiru.
"Akashi, bersabarlah, Midorima akan membantumu." Kuroko menggenggam tangan kanan Akashi sembari dia duduk di sampingnya. Sedangkan Aomine kembali keluar untuk mengurus jasad Royal Knights itu.
Kuroko tidak tahu apakah Akashi bisa mendengarnya atau tidak, tapi dia terus membisikkan kata-kata yang menenangkan, berharap bisa mengurangi rasa sakitnya. Kuroko pun mengompres pipi Akashi yang sedikit bengkak karena goresan itu, namun dia tidak bisa melakukan apa pun pada luka lain di tubuhnya.
"Maafkan aku, Akashi. Aku tidak tahu apa yang terjadi denganmu. Kumohon bertahanlah."
Kuroko memang jarang menampakkan emosinya, namun dia adalah orang paling peduli di dunia ini. Wajahnya tidak banyak berubah, tapi air matanya mengalir perlahan. Melihat orang yang dicintainya begitu kesakitan, sedang dirinya tidak bisa melakukan apa pun, itu sangat menghancurkannya. Benaknya bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi? Kemarin ketika dia keluar dari hutan dia masih tahu bahwa kerajaan masih baik-baik saja, sehingga Kuroko sangat kaget melihat saudaranya sudah sekarat begini. Melihat bagaimana Royal Knights itu mati, Kuroko juga tahu, bukan hanya Akashi saja yang diserang, melainkan ibukota juga. Royal Knight itu membuat keputusan yang tepat untuk membawa Akashi kesini. Kuroko tidak tahu lagi akan bagaimana keadaannya jika saudaranya diberikan ke tangan yang lain.
Akashi Seijuurou adalah saudara kembar Kuroko Tetsuya, kembar tidak identik. Tidak ada yang tahu hal itu kecuali Miragen dan keluarga inti kerajaan. Akashi Seijuurou adalah sang kakak, dan mempunyai kualitas sebagai pemimpin sejak dia bisa berjalan. Sedangkan Kuroko tidak sehebat itu, fisiknya lemah, kharismanya nyaris nol, ekspresi wajahnya tidak meyakinkan, hawa keberadaannya tipis (tentu saja ini masalah, seorang pemimpin harus jadi yang paling mencolok, bukan sebaliknya), dan yang terutama, sihirnya lemah. Kuroko dengan senang hati menjalani hidupnya sebagai orang biasa. Bersekolah, berlatih keterampilan militer, dan menjadi anggota elit Miragen—tidak, bukan seperti itu. Kalau bukan karena bantuan Akashi yang menemukan bakatnya, Kuroko tidak akan bisa menjadi anggota Miragen seperti sekarang ini.
Kuroko memang secara resmi bukan keluarga kerajaan lagi. Ayahnya lah yang memutuskan, karena kerajaan tidak bisa dijalankan dengan dua orang raja. Namun Kuroko menerimanya dengan lapang dada karena dia sangat menyayangi Akashi. Dan Kuroko juga tahu Akashi menyayanginya sehingga sering memperhatikannya dan memberikan saran untuk kemajuannya. Akashi juga tidak pernah mengeluh tentang berat beban yang ditanggungnya sebagai pangeran meskipun Kuroko tahu akan hal itu. Akashi hanya akan bersandar di pundak Kuroko saat dia lelah. Dan Kuroko dengan senang hati mendekapnya.
Namun setelah kelulusannya Kuroko terpaksa berpisah dengan Akashi. Akashi sempat menasehatinya untuk melakukan semua ini demi belajar hal-hal baru, supaya Kuroko sendiri dapat mandiri dan suatu saat bisa membantu Akashi jika Akashi dalam masalah. Dan sekarang lah waktunya untuk membantu Akashi. Namun, Kuroko merasa tidak berguna sekarang, dia hanya bisa menggenggam tangan Akashi, atau mengusap-usap rambutnya. Kuroko tidak terlalu banyak mengerti tentang penanganan luka, dia juga tidak punya sihir penyembuhan. Karena itu dia hanya bisa menunggu Midorima sampai.
"Jangan menyalahkan dirimu sendiri—nanodayo. Bukannya aku peduli, hanya saja itu menyebalkan. Kau minggir dulu sekarang," usir Midorima.
"Terimakasih sudah datang, Midorima." Kuroko membungkukkan tubuhnya memberi hormat pada Midorima. Yang dihormati justru salah tingkah hingga pipinya memerah.
"Ini sudah kewajibanku—nodayo, kau tidak perlu berlebihan," ujarnya sambil menaikkan bingkai kacamata yang sama sekali tidak melorot.
"Baik," jawab Kuroko pelan sembari minggir ke bagian kaki Akashi.
Kuroko mengamati Midorima yang menginpeksi luka-luka Akashi. Melihat dengan jelas bagaimana napas Midorima sempat tercekat, lalu ekspresinya berubah menjadi sangat serius.
"Ada beberapa luka yang cukup dalam dan itu butuh dijahit. Ada di bagian dada, pinggang dan juga paha dan kaki, untungnya itu tidak sampai melukai organ dalamnya."
Kuroko baru saja akan bersyukur dengan kalimat terakhir sebelum kenyataan menghantamnya.
"Apakah ... apakah Akashi akan bisa berjalan?"
Midorima menggeleng.
"Mungkin bisa mungkin tidak. Kalaupun bisa akan membutuhkan waktu yang sangat lama. Kau lihat, tulang kakinya hampir remuk, dan semua luka yang dalam itu berhubungan dengan aktifitas berjalan."
"Apa ... yang harus kulakukan?"
"Kuroko ..." Midorima berbalik menghadap Kuroko dengan tampang serius, "Tentu saja kita tangani lukanya lebih dahulu."
"Uh ... iya."
"Panggil Aomine dan Kise. Kita akan butuh bantuan untuk memeganginya."
Mengabaikan kesibukan apa pun yang Aomine dan Kise lakukan, mereka berdua beserta Kuroko kembali memasuki rumah, setelah mencuci tangannya tentu saja. Midorima terlihat sudah mengeluarkan benda-benda medikal dari tasnya yang sebesar karung beras. Separuhnya berisi perban. Separuhnya lagi berisi alat-alat operasi dan obat-obatan.
"Kita harus cepat menutup lukanya, atau Yang Mulia akan mati kehabisan darah—nodayo. Kise kau pegang kedua tangannya, dan Aomine kau pegang kedua kakinya. Kuroko, duduk lah di dekat kepalanya, tahan bahunya. Aku akan menangani luka di dada dan pinggangnya lebih dahulu," jelas Midorima panjang lebar.
"Baik," ujar Kuroko.
"Kaki adalah yang paling banyak berontak, dan paling banyak lukanya. Huh ... mau bagaimana lagi," keluh Aomine yang langsung mendapat tatapan tajam dari ketiga lainnya.
Meski dia bilang akan menangani dada dan pinggangnya lebih dulu, sebenarnya Midorima sudah membebat kaki kanan Akashi dengan papan kecil supaya tidak ada pergeseran lebih jauh. Akan ngeri membayangkan apabila kakinya sampai putus.
Operasi dadakan itu pun dimulai. Midorima membuka kain yang ada di dada, darah masih merembes di sana. Dilihat dari titik-titik merembesnya darah, terlihat jelas bahwa itu adalah bekas gigitan hewan buas, bisa macan, bisa singa, atau hewan yang berkaitan dengan sihir. Beruntungnya Midorima tidak menemukan adanya tanda-tanda racun di tubuh Akashi sehingga dia bisa fokus pada lukanya saja.
Midorima mulai membersihkan luka itu, membuang daging-daging yang berpotensi membusuk dan menimbulkan infeksi. Dalam prosesnya, Akashi yang entah sadar atau tidak itu, terus berontak bahkan berteriak. Air mata mengalir deras dari kelopak matanya yang tertutup. Kuroko dan yang lainnya menguatkan diri. Karena sebenarnya selama mereka menjadi Royal Shadows mereka belum pernah menangani luka sebanyak ini. Penanganan pun berlanjut dengan membersihkan luka dengan alkohol sampai akhirnya luka tersebut dijahit dan kembali dibebat dengan perban yang baru.
Baru satu luka, mereka sudah berkeringat dan merasa sangat letih. Begitu juga Akashi yang tampak tak berdaya. Kuroko mengusap-usap dahinya lagi, membisikkan kata-kata menenangkan, sekaligus meminta agar Akashi terus berjuang bersama mereka.
"Akashi, bertahanlah, aku—kami di sisimu, kau pasti kuat," bisik Kuroko.
TBC
Author's Notes:
1. Aku mendadak ngelamun terus masuk trance gitu (kalo di knb jadi zone), dan memikirkan cerita ini dalam prosesnya. Hahahaha. Begitu kah datangnya inspirasi? Tapi kawan, jangan senang dulu, sebenarnya belum ada gambaran lengkap dari cerita ini jadi kuharap dukungannya dari kalian juga. Aku nggak bisa cepat update juga karena lagi skripsi, tapi aku sama sekali nggak berniat membuang cerita ini. Bagiku semua karya adalah master piece, pasti kujaga dengan baik. Trims!
2. Aku heran sekaligus takjub akhirnya bisa menulis ini. Cita-citaku adalah jadi penulis tapi aku selalu gagal. Bukan masalah teknis menulisnya, aku bisa menulis dengan rapi kok. Tapi dari pengembangan ide cerita dan karakter. Akhirnya malah nggak nulis sama sekali. Uhuh.
3. Arti nama:
Royal Knights: Kesatria Kerajaan
Royal Shadows: Kesatria Bayangan Kerajaan
Miragen: Miracle Generation
4. Pengetahuan author: aku sebenernya nggak terlalu paham penanganan luka, semuanya hasil baca cerita di fanfic juga. Jadi jangan jadikan ini referensi, tapi jadikan sebagai pintu pengetahuan. Misal tentang infeksi, cari lah informasi lanjut di google tentang itu, sebagai pengetahuan awal, tanya dokter kalau memang kejadian. Tapi kuharap nggak akan. Infeksi kecil bisa diatasi pakai air garam, lukanya dicuci pakai air garam. Minum anti bakteri dan obat penutup luka.
See u next chapie!
