bis kota

© tarinapple | 2020

Boku no Hero Academia © Kouhei Horikoshi

.

.

.

.

.


[ ada jejak-jejak kecil yang tercipta, yang mungkin akan meninggalkan bekas selamanya—dan bakugou katsuki menolak untuk menerimanya. ]


.

.

.

SEJAK awal ada yang salah dengan Bakugo Katsuki. Ia mendadak mendapat panggilan dari Aizawa-sensei mengenai kekuatannya yang sama sekali tidak cocok dalam penyelamatan, di mana pemuda itu benar-benar terpojok karena tidak bias menyelamatkan satu nyawa pun dalam reruntuhan. Tangannya tak dapat menggapai orang-orang di bawah, dan malah mendorong reruntuhan untuk jatuh. Akibat rasa kesal yang meletup-letup, ia pergi ke ruang ganti dan mengamati kostumnya. Berpikir untuk memperbaikinya, tetapi tidak ada solusi yang pas melintas di kepalanya.

Ia mendadak kembali ke kelas yang sudah kosong dan memikirkan latihan penyelamatan yang telah berlalu itu. Bagaimana semua orang setidaknya menggendong satu orang bersama mereka. Reruntuhan dan juga gempa bumi beruntun, para relawan yang memainkan peran mereka terlalu baik, membuat emosinya tersulut hingga berteriak keras dan membuat semua mata memandang sinis dirinya.

'Orang ini, kenapa ia masuk departemen kepahlawanan?'

'Bocah ini yang diculik oleh Liga Penjahat kemarin,'kan? Ia sungguhan terlihat seperti penjahat.'

Katsuki memikirkan semua itu hingga frustrasi menguasainya dan letup-letup api mulai bersinar di telapak tangannya, namun hanya berlangsung sejenak sebelum kembali padam. Disusul dengan helaan napas.

Ia memutuskan untuk pergi ke ruang guru, mengurus izin keluar—yang secara mengejutkan tidak terlalu sulit untuk didapat, dan pada akhirnya berdiri untuk menunggu bis datang.

Ekspresinya datar ketika seisi penumpang bis menatapnya terkejut, belum lagi sopir bis yang menganga melihatnya. Sudah seterkenal itukah? Katsuki melewati mereka dengan santai, netra merahnya meneliti setiap sudut untuk menemukan tempat kosong dan sesuatu membuat matanya melebar.

Uraraka Ochako berada di kursi paling belakang, menyingkirkan tas dari kursi dekat jendela dan menggeser dirinya seraya memangku tas. Gadis itu melambai ramah pada Katsuki.

"Pergi ke mana, Muka Bulat?"

Ochako meringis seraya tertawa kering. "Aku mau mengambil beberapa barang di rumah, izin sampai besok," Ia tersenyum penuh ke arah Katsuki yang telah mengambil posisi duduk dan menyandarkan kepalanya ke kursi. "Bakugo-kun sendiri?"

"Aa, butuh udara."

Ochako tidak tahu harus berkata apa ketika menyadari pemuda di sampingnya masih mengenakan setelan seragam lengkap minus dasi dan tasnya pula. Lagipula ini sudah pukul setengah tujuh malam.

"Lalu kau habis dari mana?"

"Hm?" Ochako mengikuti arah pandang Katsuki pada tas di pangkuannya. Jika diintip, ada beberapa tumpuk buku di sana. "Ah … ini buku yang kupinjam dari perpustakaan luar. Kau tahu aku butuh belajar …"

Katsuki tidak merespons lagi, tepatnya tidak tahu harus berkata apa. Ia tadinya ingin meluapkan kekesalannya pada Ochako, tetapi melihat situasinya—tentu saja niatnya urung. Mengapa aku harus marah padanya? Katsuki terkadang kesulitan memahami dirinya sendiri.

Memangnya peringkat Uraraka serendah itu, ya? Dipikir-pikir Katsuki juga tidak melihat gadis ini saat latihan siang tadi, izinnya selama itu hanya untuk mencari buku? Sekolah memperbolehkan? Ah, Katsuki lupa kalau sekolahnya terkenal akan kebebasan meskipun sudah dibobol penjahat beberapa kali.

"Bakugo-kun sendiri dari sekolah langsung ke mari?" tanyanya berbasa-basi. "apa ada urusan?" Mengingat Katsuki adalah tipe yang sangat nyaman berada di kamarnya sendiri alias suka mengisolasi diri, sangat jarang bagi Ochako melihat pemuda ini ada di sekolah sampai malam.

Katsuki membuka mulut, namun menutupnya lagi. Kelihatan memikirkan sesuatu. Ochako menggaruk kepala belakangnya yang tidak gatal, mengurangi rasa heran sekaligus gugup karena berada di sekitar pemuda yang pendek sumbunya ini. Memang dari awal Ochako merasakan kejanggalan karena orang ini tidak berteriak-teriak seperti biasa.

"Aku ingin menanyakan sesuatu."

Ochako mau tidak mau sedikit terhentak oleh sikap sopan (yang amat sangat jarang) yang ditunjukan Katsuki. Meminta izin sebelum bertanya? Halo, Ochako kepada Inti Bumi, apakah kiamat sudah dekat?

"Oi."

"A-ah, tentu saja boleh! Memangnya Bakugo-kun mau bertanya apa?"

"Tentang latihan penyelamatan kita dua hari yang lalu," Katsuki memulai hati-hati. "kau menyelamatkan berapa orang?"

"Aku?" Ochako memasang pose berpikir. "Aku tidak menghitungnya …"

Katsuki berdecih. "Tapi poinmu yang paling tinggi! Bahkan Kuso Deku berada di bawahmu."

"O-oh," Gadis itu tersenyum kikuk. "kalau Bakugo-kun bertanya berapa, aku tidak ingat. Bakugo-kun tahu bakatku,'kan? Aku meringankan massa reruntuhan dan memindahkannya, lalu membantu mereka keluar dari tempat-tempat tinggi maupu yang terperosok dengan meringankan massa tubuh mereka lalu aku bekerja sama dengan—"

"Si Kuncir Kuda itu? Kau bekerja sama dengannya? Berarti ia membuat alat dan kau membantu mereka naik, turun …" Katsuki nampak serius memikirkannya.

Ochako bersabar meskipun ucapannya dipotong. Senyumnya kini memancarkan kekesalan. "Tepat seperti yang Bakugo-kun katakan."

"Tapi kau memiliki poin paling tinggi. Si Kuncir Kuda ada di bawahmu"

"Ah, ya …" Pikiran Ochako saat ini mirip benang kusut. Ia sedari tadi memikirkan ujian tulis yang mungkin akan gagal dihadapinya, lalu memikirkan banyak kegagalan yang telah ia tuai, dan kini berhadapan dengan Bakugo Katsuki yang terlihat keheranan akan hasil latihan penyelamatan tempo lalu.

"Bakugo-kun … tidak terima akan pencapaianku?" tanya Ochako getir. Katsuki langsung menoleh, alisnya terangkat dan itu tak menghentikan sang gadis sama sekali. "Aku tahu kausangat jenius dan pandai dalam segala hal … tapi bukan berarti kau harus mengintimidasi orang yang menang dalam suatu hal di mana kau kalah."

Tajam. Katsuki merasakan dadanya bergemuruh, penuh amarah, tetapi anehnya salah satu sudut bibirnya terangkat—seolah menerima tantangan. Ochako hanya dapat merutuki diri yang terlalu ceroboh dalam pemilihan kata-kata—argh!

"Ano, maksudku—"

"Ah, kau inii!" Katsuki mengacak helai rambutnya. "Aku tidak bermaksud untuk mencela pencapaianmu atau apapun itu, sialan, aku hanya bertanya padamu. Bisa tidak dengarkan aku dulu sampai selesai?"

Ochako cemberut dalam anggukannya. "Padahal kau sendiri suka memotong ucapan orang …"

"Aku dengar itu, Uraraka!"

"Oopsiee …"

Katsuki mengerutkan dahi, terlalu berkerut, saat Ochako terkekeh. Ia mengabaikannya, memilih memalukan pernyataan lain. "Saat latihan kemarin aku berada di posisi paling bawah," Rasa kesal itu kembali menghampiri Katsuki, membuatnya perlahan menggertakan gigi. "bawah, paling bawah sekali. Aku bahkan tidak tahu harus berkata apa ketika Aizawa-sensei menyebutku ini dan itu. Aku benar-benar tidak tahu bagaimana caranya menyelamatkan orang, tidak sepertimu—

Katsuki berhenti sejenak. Terlihat meyakinkan diri. Ini hanya Uraraka.

"Kau bisa melakukannya dengan mudah seolah kau sungguh terlahir untuk itu. Aku melihat sekilas orang-orang yang berlari di belakangmu, mereka jumlahnya puluhan, dan semuanya terlihat sangat puas,

Ini hanya Uraraka.

"Aku tidak percaya aku tidak bisa melakukan penyelamatan itu dengan benar. Semua orang-orang terlihat tidak mempercayaiku, mereka bahkan mengabaikan uluran tanganku. Mereka berteriak padaku. Tidak ingin aku menyelamatkan mereka,

Katsuki menunduk, tangannya meremas helaian rambut. Ini hanya Uraraka.

"Aku hanya merasa sangat putus asa karena tidak bisa melakukan tugas pahlawan."

"…"

Ochako yang sedari tadi menahan napas perlahan menghembuskannya. Netra cokelatnya terfokus pada sebelah tangan Katsuki meremas celana seragamnya—begitu emosi, tetapi ia tidak berteriak pada Ochako. Ia hanya mengeluh, meluapkan dengan frustrasi.

Bakugo-kun … meledak. Ochako merasa Bakugo Katsuki yang ini jauh lebih meledak dibanding versi biasa yang berteriak dan bertindak sesuka hati. Dan melihatnya seperti ini … Ochako tidak tahu harus merespons apa.

"Hei, Muka Bulat," Katsuki menatap serius ke arahnya. "jika kau tertawa, akan kuhabisi."

O-oke …

"Kenapa diam saja, hah?!"

"H-habisnya kau aneh sekali!" Ochako membentak, pipi bulatnya lebih merah dari biasanya. "Bakugo-kun, kenapa kau terlihat sangat putus asa dan ingin menyerah seperti ini?! Kau seharusnya lebih menggebu-gebu, dan daripada mengeluhkannya padaku, kau harus minta saran kepadaku!"

"Siapa yang mau menyerah, hah?!" Katsuki tersulut. "aku hanya merasa putus asa sebentar. Sebentar saja!"

"Sekarang tidak lagi,'kan?!"

Katsuki terhenyak. Mata merahnya fokus pada mata cokelat Ochako, mata itu seakan-akan membangunkannya. Perlahan dadanya kembali bergemuruh, kali ini berbeda dengan yang sebelumnya.

Ochako memercik sesuatu dalam dirinya.

"Hah! Aku sesungguhnya tidak ingin membicarakan ini dengan orang sepertimu!"

Gadis itu menghela napas. "Begini kau bilang kau tidak mencelaku?"

Katsuki meliriknya. "Aku serius, Uraraka, kau menakjubkan."

Ochako melebarkan matanya.

"Aku benci mengatakan ini tapi kau benar-benar menakjubkan," Katsuki berkata serius. "aku tidak akan pernah mencelamu lagi."

"Lagi? Berarti kau pernah melakukannya?!"

Katsuki serius, ia sekilas melihat alis gadis di hadapannya tertekuk, sangat terkekuk hingga wajahnya terlihat seperti orang lain. "Ah … itu sebelum aku menghadapimu di festival olahraga."

"Oh, masalah itu!" Ochako tersenyum penuh. "Aku sungguh berterima kasih karena kau melawanku dengan sungguh-sungguh. Aku bersyukur bisa kalah darimu."

"Bersyukur?" tanya Katsuki keheranan.

Ochako menggeleng prihatin. "Aku semakin yakin kalau kau tidak pernah bersyukur seumur hidupmu, ya? Begini, Bakugo-kun, saat kau dihadapkan dengan keadaan yang begitu buruk—seperti keadaanmu saat diculik, atau saat ini, pasti sangat mengesalkan karena tidak bisa membalas pada siapapun, tidak bisa menghempaskan kekesalanmu pada siapapun. Tetapi yang paling penting kau harus bersyukur!"

"Kau berputar-putar," cemooh Katsuki. "Intinya kenapa?"

Gadis itu menghela napas. "Aku bersyukur bisa kalah darimu, karenanya aku bisa berdiri di sini sekarang."

Katsuki masih tidak paham. Ia menatap Ochako dengan pandangan yang sulit diartikan.

"Aku sangaaaat kesal karena kalah dirimu! Tetapi setelahnya aku sadar karena aku terlalu sombong, mengira serangan akhirku bisa mengenaimu, aku tidak memikirkan strategi lain padahal aku tahu kau sehebat itu. Jika aku menang saat itu, aku pasti akan bertambah sombong—berpikir kalau serangan itu cukup, 'tidak apa kalau sampai di sini saja'. Aku mungkin tidak akan berusaha lagi.

"Jadi walaupun kau kalah dariku masalah latihan kemarin, tidak apa! Jika kau berhasil melakukan segalanya dengan sempurna, kepalamu akan bertambah besar kau tahu?"

"Uraraka, kau … sialan."

Gadis itu terkikik kecil. "Tapi Bakugo-kun sangat sombong! Kau harus kalah sesekali!"

"Seharusnya aku tahu kalau kau seberani itu, Muka Bulat." Jarang bukan ada yang mengejeknya habis-habisan seperti ini? Ditambah mereka duduk berdekatan dan kemungkinan Katsuki meledakkanya sangat besar.

"Memangnya wajahku terlihat seperti seorang pengecut bagimu, ya? Karena itu saat di festival olahraga kau menawarkanku untuk mundur?"

Ochako menatap lurus ke arahnya, ekspresinya gemas. Dan Katsuki bodohnya baru sadar seberapa dekat jarak wajah mereka. Katsuki rasa kalau ia maju sedikit saja, dahi mereka akan bertabrakan.

Katsuki diam-diam menggigit pipi dalamnya, seraya mendorong dahi Ochako menjauh dan berkata pelan,

"Tidak pernah sama sekali."

Ochako merasakan panas berpusat pada pipinya. Ia mengalihkan wajahnya ke luar jendela. Perlahan menggumam bodoh berkali-kali. Ochako … ini Bakugo, loh?! Dia bukan teman yang bisa kau ajak bercanda leluasa seperti Deku-kun atau Iida-kun! Sadarlah!

"Hei, Uraraka," Katsuki menginterupsi. "jadi bagaimana caranya agar orang-orang itu mau menyambut uluran tanganku?"

Ochako berhenti memegangi pipinya yang panas dan mencoba fokus pada Katsuki. "Yang pertama, senyum!"

"… seharusnya aku tahu itu."

"Kau sungguh harus tersenyum!" Ochako kini meletakkan tasnya di bawah, dan duduk menyamping menghadap Katsuki. "Pertama-tama, cobalah tersenyum."

"Itu mudah."

"…"

"…"

"Bakugo-kun …" Ochako bersuara prihatin. "Cobalah tersenyum secara alami …"

"Aku sedang berusaha, sialan!"

"Senyummu terlihat menyeramkan!" kata Ochako, berusaha tidak tertawa kala melihat ekspresi pemuda di hadapannya. "Ayolah! Bakugo-kun, kau ini tampan, jika kau tersenyum dengan benar—pasti yang tidak butuh pertolongan pun akan melompat padamu."

"Hah?"

"…"

"…"

"Lupakan lelucon tadi!" Ochako menahan malu. "Kau harus coba tersenyum alami sekarang. Lakukanlah setiap pagi ketika bangun tidur. Buatlah senyummu terlihat alami. Senyum yang tadi sangat dipaksakan dan terlihat menantang. Lupakanlah untuk tersenyum seperti itu saat menolong orang! Mereka butuh ditenangkan."

"Jadi selanjutnya aku harus merayu mereka?" Katsuki mengacak rambutnya kesal. "rasanya aku tahu semua hal yang harus dilakukan."

"Tapi kau tidak bisa melakukannya dengan benar," kata Ochako tepat sasaran. "Bakugo-kun tidak terbiasa menolong orang. Itu kesimpulanku. Jadi …"

"Jadi?"

"Mulailah menolong orang-orang di sekitarmu dan buat mereka mau ditolong olehmu."

Katsuki mulai paham. Orang-orang yang menjadi relawan saat itu memang sengaja bertingkah sedemikian rupa, mungkin hanya padanya, mungkin memang ulah Aizawa-sensei—tetapi itu tidak penting. Yang terpenting adalah ia telah gagal. Dan selanjutnya tidak boleh lagi.

Katsuki sangat tahu jika dalam situasi sebenarnya sedikit ada orang yang pilih-pilih ketika ditolong, tetapi jika ia terlalu mengedepankan opininya yang satu itu—Katsuki pasti kecolongan. Siapapun tidak mau ditolong oleh orang yang tidak ramah, dan tidak menawarkan rasa aman bagi mereka.

"Begitu."

"Hm, begitu!" balas Ochako.

"Aku ingin tahu bagaimana kau merayu mereka."

Ochako baru akan menjawab tetapi bis telah berhenti bergerak. "Oh, ini halte tempatku berhenti," Gadis itu mengambil tas dan berdiri. "akan kuceritakan lain kali."

"Tunggu, Uraraka," tahan Katsuki ketika gadis itu baru dua langkah melewatinya. "barang yang ingin kauambil itu buku,'kan?"

"Eh?" Ochako menggaruk pipinya. "Benar, sih, aku mau mengambil beberapa buku yang kupelajari untuk ujian tulis masuk Yuuei dulu … dan kenapa kau tahu?"

"Itu mudah karena kau mengambil izin hanya untuk mencari buku. Jika kau ingin mengambil barang lainnya, kau bisa menelepon orang di rumahmu dan menyuruh mereka mengirimkannya. Tetapi kau tidak bisa melakukan itu karena kau tepatnya lupa judul buku yang kau pelajari."

W-wah, tepat sasaran di timing yang salah. "Benar sekali! Jadi aku harus turun sekarang."

"Aku bilang tunggu, sialan"

Selangkah maju Ochako berdiri dengan wajah resah, dan supir bis sepertinya telah memberi kode untuk segera keluar. "Ada apa lagi, Bakugo-kun?"

"Aku punya yang lebih bagus di kamarku," kata Katsuki, berusaha terdengar persuasif namun gagal. "kau tidak perlu mengambil di rumah."

"Maksudnya? Kau meminjamkan bukumu?"

"… ya. Kau bilang tentang membantu orang terdekat,'kan? Aku akan membantumu mengatasi kebodohan."

"Kau mengatakan hal seperti itu. Aku malah tidak yakin—"

"Uraraka," Katsuki menghela napas. "Sialan, kau tidak tahu, ya, kalau aku sangat sangat pintar dan saking pintarnya aku tidak belajar sebelum ujian."

"Aku semakin tidak yakin—"

"Sial, aku akan mengajarimu!"

Ochako bergeming.

Dan supir bis tidak peduli lagi, ia kembali menjalankan kendaraan.

"Uraraka, kau lupa aku ini bisa melakukan segalanya, ya?"

Ochako menahan senyum dan rasa gemasnya saat Katsuki bergeser, memilih duduk di dekat jendela. Gadis itu duduk dan menghela napasnya, perlahan melirik Katsuki yang tengah menatapnya serius.

"Apa aku berhasil meyakinkanmu, Muka Bulat?"

"Apa maksudnya?"

"Meyakinkanmu untuk tidak turun," Katsuki membuang wajahnya ke arah lain. "Apa aku berhasil melakukannya?"

Ochako menggigit bibir bawahnya, menahan senyum. "Ng-ngomong-ngomong kita akan turun di mana?"

"Keliling saja sampai kita di antar ke halte dekat Yuuei," Katsuki kembali memandangnya. "hei, aku bertanya padamu!"

"Kau berhasil, Bakugo-kun!" Ochako tersenyum hingga kedua matanya menyipit. "Sebagai gantinya kau sungguhan ajari aku, ya!"

"Aku tidak membual masalah itu, tentu saja aku akan mengajarimu, Muka Bulat."

"Iya, iya!"

Ini akan jadi start line lainnya untuk menjadi pahlawan nomor satu. Katsuki memandang Ochako yang sibuk dengan isi tasnya. Uraraka sungguh punya sesuatu yang tidak kumiliki.

"Bakugo-kun, jadi aku mau bertanya masalah ini …"

Dan tiba-tiba saja Ochako sudah mengulurkan buku padanya, membuat Katsuki merasa kesal.

"Tidak hari ini, bodoh."

"Kau tidak menepati janji!"

"Sial… ada banyak waktu sebelum ujian—"

"Itu lah yang kalian katakana para jenius, kalian tidak pernah memahami kami yang berusaha dua kali lebih keras! Bahkan seribu kali!"

Katsuki kehabisan kata-kata. "Uraraka …"

"Apa?! Aku sungguh butuh diajari. Aku ini bisa lebih bodoh dari kambing masalah hapalan, rumus, dan Bahasa Inggris!"

"Kau jangan mengada-ngada, kambing bahkan tidak bisa bicara," Katsuki menghela napas. "Baik, kita lakukan secara adil. Kau ceritakan masalah penyelamatan itu, baru kau mengajarimu."

"Hm, sungguh mengejutkan Bakugo-kun berpikir adil, tapi kuterima!"

Gadis ini … Katsuki memaksakan senyumnya. "Jadi? Bisa lanjutkan ceritanya Uraraka-san?"

"Akan kuceritakan satu menit, lalu kau ajari aku! Begitu seterusnya!'

"Heiii! Kau membuatnya sangat sulit, sialan, ceritakan saja!"

"Kita punya waktu semalaman sebelum sampai ke Yuuei!" desak Ochako. "Bagaimana? Setuju,'kan?"

"…"

Wajahnya sangat dekat, Katsuki mendorong dahi Ochako perlahan seraya berdecih. "Ck, baiklah!"

"Oke. Jadi saat itu aku—"

Mungkin saat itu Katsuki belum sadar, kalau percikan yang dibuat oleh gadis itu berubah menjadi sesuatu yang ia hindari selama ini. Percikan yang membuat pemuda itu sangat nyaman, sangat ringan, dan membuat Bakugo Katsuki ingin berkeliling dengan bis kota bersama Uraraka Ochako, selamanya.


[ selesai ]


.

.

.

notes: maafkan segala kekurangan saya hikss, saya masih mempelajari karakter mereka—jadi maaf ya kalau ooc:( maaf jg kalau latarnya tdk saya buat detail dngn benar karena saya pun masih menjelajah fandom bnha. timeline fanfik ini sehabisnya penculikan bakugo ya;(.

saya nnton bnha dari 2017 dan baru ngeship kacchako skrng, waw telat sekali.

ini fanfik pertama saya di fandom ini, salam kenal yaaa semuaa! sekali lagi maaf atas kekurangannya dan terima kasih sudah mampir—mohon kritik dan sarannya jika berkenan;)!

salam hangat,

tari.