520

Main Cast : Jaeyong (Jaehyun x Taeyong) NCT

Warning : BXB (Boys Love)

..

IF YOU DON'T LIKE DON'T READ. Thank You

Sorry for Typos

Happy Reading

..

Jaehyun tersenyum melihat pria di depannya yang juga sedang tersenyum manis kepada nya.

Pria mungil yang terlihat sangat cantik hari ini, dengan tuxedo putih yang membalut tubuh kecilnya. Dan jangan lupakan seikat bunga yang sedang di genggamnya. Dia adalah seorang raja untuk hari membahagiakan ini.

Pria cantik itu bernama Lee Taeyong, seorang yang menjadi alasan berlabuhnya hati Jaehyun. Seorang yang sangat di cintainya hingga saat ini, atau mungkin selamanya.

-o0-o0o-

Terlihat seorang pria dengan rambut merah mudanya sedang menulis di sebuah dinding belakang sekolah. Setelahnya dia tersenyum melihat tulisan tangannya, sambil memasukan kembali sebuah pena kedalam saku celana nya.

"01001100 01100101 01110100 00100111 01110011 00100000 01100100 01100001 01110100 01100101 00111111"

Sekali lagi dia mengoreksi sebuah baris angka yang telah dia tulis, takut-takut jika ada yang salah. Setelah merasa benar akan sebuah kalimat yang di tulisnya, pria berambut merah muda itu segera meninggalkan belakang sekolah dengan senyuman yang menghiasi wajah cantiknya.

Let's date?

Kalimat itulah yang tersirat di barisan angka yang sudah dia tulis.

Dengan derap langkah yang yakin dia berjalan menuju kembali ke kelas, guna menemui teman sebangkunya yang sekarang terlihat sedang bergurau dengan teman sekelas mereka.

"Ten." Pria berambut merah muda berteriak memanggil nama teman sebangkunya.

Yang di panggil menoleh kearah sumber suara, dan mengernyitkan keningnya. Merasa aneh dengan senyuman lebar yang di tunjukan oleh temannya itu. "Kau dari mana, Taeyong? Aku mencarimu, dan ada apa dengan senyuman menyeramkan itu?"

Pria berambut merah muda yang di kenal bernama Taeyong, tak segan untuk memukul belakang kepala Ten yang sudah mengejek senyumannya. "Sebentar lagi aku akan memiliki seorang kekasih."

Mata membulat, dan bibir terbuka, itulah ekspresi wajah yang di tunjukan oleh Ten menanggapi perkataan yang baru saja Taeyong katakan. "Wah, kau habis menyatakan perasaan mu kepada seseorang? Siapa orang itu?"

"Aku tidak tahu siapa orang itu."

Ten dibuat bingung dengan jawaban dari Taeyong. "Tidak tahu? Memangnya kau menyatakan keberapa banyak orang?"

Lagi-lagi senyum Taeyong mengembang indah, mengingat sebuah tulisan tangannya di dinding. "Aku hanya menulisnya di sebuah tempat, dan jika ku lihat besok ada balasan. Berarti dia adalah kekasih ku."

Ten semakin dibuat bingung dengan penjelasan temannya ini. "Lalu kau akan tahu siapa yang menulis balasan itu?"

Taeyong menggelengkan kepalanya. "Justru itu yang akan menjadi sebuah teka-teki yang menarik."

Ten menghembuskan nafasnya, tidak habis pikir dengan jalannya otak Taeyong. "Aku hanya bisa mendoakan mu." Ucapnya sambil menepuk bahu Taeyong prihatin.

-o0o-o0o-

Keesokan harinya Taeyong melihat tulisannya kembali, dan wajahnya murung melihat tidak terdapat sebuah jawaban dari ajakannya.

Dengan langkah gontai Taeyong berjalan di koridor menuju kelasnya. Di pertengahan jalannya, dia bertemu Ten yang sedang tersenyum kepadanya.

"Hey, ada apa dengan wajah ini?" tangan Ten mengangkat dagu Taeyong yang sedari tadi menundukan kepalanya.

"Diamlah."

"Eoh, bagaimana dengan balasannya?"

Taeyong menggeleng lemah.

Ten berdecak kesal, "Sudah ku katakan, lebih baik menyatakan langsung saja kepada orang yang sedang kau tuju. Kenapa kau menyukai sebuah teka teki yang memusingkan?"

"Aku tidak tahu siapa yang aku tuju."

Ten membuka lebar mulutnya. "Lalu dengan kau menulis seperti itu, apa maksudnya?"

"Ya memang itu satu-satunya yang terlintas di otakku. Jika ada yang membalas ajakan yang ku tuliskan, maka aku akan menjadikannya seorang kekasih."

"Aku tidak tahu, kau yang terlalu pintar atau aku yang terlalu bodoh."

Taeyong hanya menghembuskan nafasnya, dan kembali menundukan kepalanya, dia merasa sedih.

"Tapi, aku ingin tahu apa yang kau tuliskan. Dan dimana kau menuliskannya?"

Taeyong memutar balikan tubuhnya dan menarik tangan Ten keras, membuat pria yang tidak lebih tinggi darinya itu mengikuti langkah tujuannya.

Sesampainya di tempat, Ten hanya bisa tercengang dengan bahunya yang menurun. Mengumpulkan segala kewarasannya, Ten menarik nafas panjang dan menghembuskannya, berulang kali dia mengulangnya. Setelahnya dia- "Yak! Kau pikir siapa yang akan mengerti tulisan seperti ini!" berteriak kencang tepat di depan telinga Taeyong, yang sekarang hanya bisa menutupi telinganya yang sedikit mendengung.

"Bukankah jadi lebih menarik? Jika dia membalasnya berarti dia mengerti apa yang aku tuliskan."

"Ya, terserahlah. Kau selalu mengatakan menarik, bahkan teka-teki yang memusingkan kepala saja kau anggap menarik. Sekarang kau tunggulah seseorang itu, hingga sampai kelulusan mu di sekolah ini."

"Kenapa kau mengatakan seperti itu?" wajah Taeyong kembali murung mendengar jawaban yang Ten lontarkan.

Ten menghembuskan nafasnya, dan berjalan meninggalkan Taeyong sambil bergumam, "Aku merasa menjadi orang paling bodoh semenjak berteman denganmu."

-o0o-o0o-

Ini sudah hari ke-7 dia menulis ajakannya di dinding belakang sekolah, namun belum ada tanda-tanda seseorang membalasnya. Taeyong kembali berpikir, apakah benar apa yang di katakan Ten jika seseorang tidak ada yang mengerti tentang ajakannya yang berupa kode biner?

Taeyong terlalu sibuk dengan dunianya, hingga tidak mendengarkan apa yang di katakan Ten yang sekarang sedang berbicara di sampingnya.

"Taeyong, kau mendengarkan ku?" Ten menepuk bahunya kencang, mengembalikan Taeyong ke dunia nyata.

Taeyong menghembuskan nafasnya, lalu meletakan kepalanya di meja dengan beralas lengannya yang di tekuk.

"Aku sedang membicarakan seorang anak baru di sekolah kita, kau tidak mendengarkannya?"

Taeyong menggelengkan kepalanya.

"Tadi pagi ada seorang anak baru yang mampu menggemparkan seisi sekolah karena paras nya."

Taeyong tidak menyukai bagaimana Ten yang berbicara sangat berlebihan untuk menggambarkan sesuatu.

"Kau tahu dia sangat tampan, ku kira awalnya hanya wanita-wanita itu saja yang berlebihan membicarakannya. Tetapi, setelah aku melihatnya langsung. Sungguh, dia seperti sebuah pahatan yang sangat indah. Seperti sebuah jelmaan dewa."

Taeyong menguap mendengar pembicaraan Ten mengenai anak baru pagi ini. "Kau sangat berlebihan."

"Kau akan menarik kata-katamu setelah kau melihatnya langsung."

Taeyong semakin menenggelamkan wajahnya di lipatan lengannya, tidak mendengarkan kelanjutan cerita Ten yang sedang memuja seorang anak baru.

-o0o-o0o-

Taeyong sudah melupakan soal ajakan yang dia tulis di dinding, katakan saja dia sudah putus asa dengan usahanya. Tetapi ini adalah tepat hari ke-10 dia menulis, dengan wajah terkejutnya Taeyong terus memandangi sebuah deret angka yang berada di bawah deret angka yang dia tulis.

"01011001 01100101 01110011 00101110"

Yes.

Taeyong tersenyum senang dan segera berlari menuju kelas nya, untuk memberitahukannya kepada Ten bahwa dia akan segera memiliki seorang kekasih.

Sesampainya di kelas, dia dapat melihat temannya sedang membaca sebuah novel. Tanpa sebuah sapaan lagi, Taeyong menarik tangan Ten yang hampir saja mengumpati Taeyong karena merasa terkejut.

"Hey, ada apa ini?"

"Kau harus ikut aku, kau pasti akan terkejut dengan apa yang kau lihat."

"Apa ini tentang tulisan mu di dinding?"

Taeyong tidak menjawabnya, tetapi terus menyeret Ten menuju dinding belakang sekolah.

Dan sekarang Ten dibuat tercengang dengan apa yang dia lihat. Ada sebuah deret angka lain dibawah deret angka yang temannya tuliskan 10 hari yang lalu.

"Kau tidak menulisnya sendiri kan?"

Taeyong mengerutkan keningnya menatap Ten. "Maksudmu?"

"Hm, bisa saja kan kau menjawabnya sendiri hanya untuk memamerkannya kepadaku?"

Taeyong menatap Ten kesal dengan wajahnya yang memerah kini tangannya mengayun dan memukul belakang kepala Ten dengan kencang, yang mana membuat Ten berteriak kencang karena merasakan sakit.

"Yak! Kenapa kau memukulku!" teriaknya tidak terima.

"Kenapa kau mengatakan itu kepadaku?"

"Aku hanya mengutarakan apa yang ada di pikiranku. Apa itu salah?"

"Tapi aku tidak sebodoh itu untuk menulisnya sendiri hanya untuk pamer kepadamu."

"Ya ya ya! Aku percaya." Menghembuskan nafasnya, Ten membuang tatapannya karena masih merasa kesal dengan kelakuan Taeyong.

Diliriknya, Taeyong sedang menulis sebuah balasan lain di bawahnya. Entahlah apa yang dia tuliskan, Ten tidak mengerti dengan kode biner. Ten bukan seseorang yang menyukai hal-hal memusingkan, dalam hidupnya sebisa mungkin dia buat dengan mudah. Berbeda dengan Taeyong yang sangat menyukai sebuah teka-teki atau hal memusingkan lainnya.

Membuang segala egonya, Ten bertanya dengan bersungut-sungut. "Memangnya apa arti balasan itu?"

"Dia mengatakan, iya."

Ten membulatkan matanya, dan menatap lekat deretan angka itu. Hanya sebuah kata iya, tetapi sepanjang itu?

Dan sekarang Ten beralih menatap tulisan Taeyong di bawah balasan seseorang itu.

"01001110 01100101 01101111 00100000 01000011 01100001 01100110 01100101 00100000 01100001 01110100 00100000 7 00100000 01110000 00101110 01101101 00101110"

Ten menunjuk tulisan Taeyong sambil kepalanya menoleh kearah temannya. "Lalu apa balasanmu?"

"Neo Cafe at 7 p.m. Aku memintanya bertemu di Neo cafe nanti malam."

Ten menegakan tubuhnya menatap temannya yang berada tepat di depannya. "Kau yakin dia langsung membacanya? Bagaimana jika tidak, lalu kau menunggunya disana sendirian?"

"Tidak ada salahnya mencoba, bukan?"

"Taeyong lebih baik jangan, aku takut dia tidak membacanya dan kau akan disana sendirian."

"Aku hanya mencobanya, Ten." Taeyong menepuk bahu temannya mencoba menenangkan sambil tersenyum manis.

-o0o-o0o-

Ini sudah jam 9 malam, dan benar apa kata Ten bahwa seseorang itu tidak datang. Mungkinkah dia tidak membacanya? Atau Taeyong yang terlalu berani untuk langsung mengajaknya bertemu?

Menghembuskan nafasnya, Taeyong melangkah keluar dari cafe tersebut. Entahlah, hatinya tiba-tiba merasa penasaran siapa orang yang membalas pesannya, sehingga tanpa keraguan Taeyong langsung mengajaknya bertemu.

Taeyong mengambil ponselnya di saku, lalu menghubungi seseorang. Satu deringan pertama, sambungannya sudah di jawab.

"Ya?"

"Ten, kau sedang apa?"

"Hey, ada apa dengan nada suaramu? Bagaimana kencannya?"

Taeyong menghembuskan nafasnya, "Dia tidak datang."

"Sudah ku bilang, dia tidak akan datang karena mungkin saja dia tidak membacanya."

"Apa kau yakin ini karena dia belum membacanya? Bukan karena dia merasa aku terlalu berani untuk langsung mengajaknya bertemu?"

"Tentu saja karena dia belum membacanya, berhenti berfikir negatif. Apa aku harus menemuimu sekarang?"

"Tidak perlu, lagi pula aku akan segera pulang."

"Hm, yasudah. Istirahatlah, dan lihatlah balasannya besok pagi. Semangat Taeyongie."

Terdengar kekehan kecil Ten disebrang sana, membuat Taeyong ikut tekekeh. "Ku tutup, sampai bertemu besok."

-o0o-o0o-

Tepat setelah dia sampai di sekolah, dengan berlari kecil Taeyong pergi ke belakang sekolah, mungkin saja ada balasan dari orang tersebut.

Mengatur sedikit nafasnya, Taeyong menatap dinding di depannya, dan benar. Dia melihat sebuah balasannya.

"01001001 00100111 01101101 00100000 01110011 01101111 01110010 01110010 01111001 00100000 01100110 01101111 01110010 00100000 01101100 01100001 01110011 01110100 00100000 01101110 01101001 01100111 01101000 01110100 00101110 00100000 01001101 01111001 00100000 01101110 01100001 01101101 01100101 00100000 01101001 01110011 00100000 01001010 01110101 01101110 01100111 00100000 01001010 01100001 01100101 01101000 01111001 01110101 01101110 00101100 00100000 01101101 01100101 01100101 01110100 00100000 01101101 01100101 00100000 01101001 01101110 00100000 01110100 01101000 01100101 00100000 01100011 01100001 01101110 01110100 01100101 01100101 01101110 00101110"

I'm sorry for last night. My name is Jung Jaehyun, meet me in the canteen.

Taeyong melebarkan senyumannya hingga memperlihatkan giginya yang tersusun rapih. Dia berlari lagi, kali ini pergi untuk menemui Ten dan menanyakan soal seseorang yang bernama Jung Jaehyun.

.

.

Ten melebarkan kelopak matanya setelah mendengar pertanyaan Taeyong. "Apa kau bilang? Jung Jaehyun?"

Taeyong menanggukan kepalanya antusias, "Dia mengatakan, kalau namanya Jung Jaehyun. Kau harus menemani ku ke kantin. Aku tidak tahu siapa yang bernama Jung Jaehyun. Tidak mungkin juga kan aku menanyakan satu-satu orang di kantin, atau aku berteriak bertanya siapa yang bernama Jung Jaehyun. Kau lah harapan ku satu-satunya Ten, karena ku rasa kau mempunyai banyak teman, dan pengetahuan mu lebih luas dari aku."

"Kau tahu siapa Jung Jaehyun itu?"

Taeyong menggeleng dengan polosnya. "Kalau aku tahu, aku tidak mungkin bertanya kepadamu kan?"

"Jung Jaehyun itu seorang anak baru, yang dulu pernah aku ceritakan kepadamu."

"Kau kan hanya menceritakan, bukan memberitahu wajahnya. Jadi, bagaimana aku kenal wajahnya?"

Ten menghembuskan nafasnya, lalu menarik tangan Taeyong menuju kantin. Mata Ten sibuk mencari Jaehyun di tengah keramaian kantin dengan para siswa lainnya. Setelah mendapatkan apa yang dicarinya, dengan kencang dia menarik tangan Taeyong menuju salah satu meja yang hanya dihuni satu orang.

Merasa ada kehadiran seseorang, Jaehyun mendongakan kepalanya dan mendapatkan dua orang siswa dengan dua ekspresi yang berbeda. Yang satu menahan nafas, dan yang satu tersenyum manis.

Ten mencoba menghembuskan nafasnya perlahan, sungguh dia masih terpesona dengan Maha Karya Tuhan di depannya ini. Sedikit membungkuk, Ten memperkenalkan dirinya. "Namaku Ten, dan ini temanku Taeyong. Dan sepertinya temanku mempunyai sebuah urusan denganmu." Dengan cepat dia mendorong tubuh Taeyong agar segera duduk di depan Jaehyun, setelahnya Ten pamit dari hadapan keduanya.

Taeyong merasa gugup, apa yang harus dia katakan lebih dulu. Dan Taeyong memutuskan untuk memperkenalkan diri. "Namaku Lee Taeyong." Mencoba menahan kegugupannya dengan memberikan senyuman terbaik kepada Jaehyun.

Jaehyun mengerutkan keningnya. "Ya, namaku Jung Jaehyun. Ada perlu apa?"

Tangan Taeyong di bawah meja langsung meremas satu sama lain. "Aku yang menulis sebuah pesan di dinding belakang sekolah, apa benar kau Jung Jaehyun yang membalasnya?"

Jaehyun terlihat terkejut dengan pengakuan Taeyong, setelahnya dia tersenyum dan menganggukan kepalanya. "Aku menemui tulisanmu disaat aku sedang berkeliling di sekolah ini, karena aku siswa pindahan."

Taeyong mencoba tersenyum, walaupun dia merasa senyumannya terkesan aneh karena gugup. "Kau mengerti kode biner?"

Jaehyun tertawa kecil melihat kegugupan Taeyong. "Kalau aku tidak mengerti, aku tidak akan membalasnya."

"Ah benar." Taeyong merutuki dirinya berkali-kali, kenapa harus menanyakan sesuatu yang terdengar konyol.

"Taeyong, kau menarik."

Taeyong tersentak karena perkataan Jaehyun yang tiba-tiba. "Ya?"

"Ku rasa kau menarik, disaat semua orang mengajak sebuah kencan dengan secara langsung, tetapi kenapa kau harus menulisnya di dinding? Dan kenapa juga harus menggunakan kode biner?"

"Mungkin aku sedang menguji sebuah keberuntungan ku?"

"Maksudmu?"

"Maksudnya, ya aku beruntung jika ada yang membalasnya. Dan tidak masalah juga jika tidak ada yang membalasnya." Taeyong berbohong, jelas-jelas dia sangat menunggu balasan itu.

"Apa kau senang, aku membalas pesanmu?"

Taeyong menundukan kepalanya, merasa malu. Tetapi dia mengangguk pelan.

Jaehyun tersenyum lebar, memperlihatkan kedua titik cacat di pipinya. "Jadi, kita sekarang sepasang kekasih?"

Taeyong seketika langsung mendongakan kepalanya, dan menatap Jaehyun dengan kedua matanya yang membulat lucu. "Kekasih?"

"Ya, kau kan yang mengajak ku berkencan, dan aku menerimanya. Jadi, bukanah kita sepasang kekasih sekarang?"

Taeyong tersenyum manis, dan kembali menundukan wajahnya sambil mengangguk pelan.

"Kau sangat menggemaskan, Taeyong."

Pipi Taeyong memerah hingga ke telinganya.

-o0o-o0o-

"Wah kau sangat beruntung, haruskah aku juga melakukan seperti mu? Mungkin saja aku akan segera menemukan pangeran ku." Ten berandai sambil tersenyum memikirkannya, tapi seketika dia menggelengkan kepalanya dan buyar semua khayalannya. "Tapi aku tidak mengerti kode memusingkan itu." Menekuk bibirnya kebawah Ten menenggelamkan wajahnya di meja dengan beralas lengannya.

Sedangkan Taeyong hanya tersenyum sendiri memikirkan pertemuan pertama mereka tadi di kantin, sekaligus hari pertama mereka menjadi sepasang kekasih.

Ah, Taeyong merasa hatinya begitu penuh dengan nama Jaehyun. Dia sangat tampan, suaranya begitu lembut walaupun sedikit berat, ketika dia sedang tersenyum itu semakin menambah kadar ketampanannya. Perut Taeyong tergelitik, merasa banyak sekali kupu-kupu berterbangan.

Setelah pertemuan tadi, mereka saling bertukan nomor ponsel. Dan, akhir pekan mereka mempunyai janji untuk pergi bersama. Taeyong rasanya sudah tidak sabar menanti akhir pekan.

-o0o-o0o-

Akhir pekan yang di tunggu keduanya telah tiba. Mereka memang sengaja bertemu di malam hari, karena ingin menikmati malam akhir pekan bersama.

Berjalan di daerah Myeongdong dan menikmati street food adalah kegiatan mereka hari ini. Banyak makanan yang sudah mereka cicipi, di mulai dari tteokbokki, hotteok, dan yang sangat Taeyong sukai adalah bungeoppang atau biasa disebut kue ikan dengan isian berupa pasta kacang merah.

Taeyong merasa sangat senang, karena biasanya dia pergi dengan Ten untuk mencicipi makanan ini, tapi sekarang dia bersama orang yang berbeda dan status yang berbeda. Sedari tadi Taeyong tidak melepaskan gandengan tangannya di lengan Jaehyun. Kakinya melangkah menelusuri stand makanan yang sangat menggiurkan di pandang oleh mata.

Jaehyun tidak merasa keberatan apalagi risih, justru dia berkali-kali menahan gemas melihat tingkah Taeyong yang lucu, apalagi ketika bertemu makanan yang disukainya.

"Jaehyun, kau lelah?"

"Tidak, kenapa kau lelah?"

Taeyong mengangguk kecil, sambil mengerucutkan bibirnya.

Jaehyun tertawa dan mengajak Taeyong untuk beristirahat sebentar.

"Taeyong."

"Hm."

"Aku sungguh senang hari ini, terima kasih."

Taeyong menolehkan kepalanya, sehingga hidungnya mengenai pipi Jaehyun karena jaraknya yang terlalu dekat. Sedikit menjauhkan jaraknya, Taeyong tersenyum manis. "Aku jauh lebih senang. Terima kasih Jaehyun." Lagi-lagi Taeyong tersenyum manis menunjukan deretan giginya.

Jaehyun menoleh dan menjepit hidung Taeyong dengan ibu jari dan telunjuknya, lalu mendaratkan sebuah kecupan kecil di pipi Taeyong.

Mata Taeyong membulat, lalu setelahnya dia menundukan kepalanya. Merasa malu untuk menunjukan pipinya yang sekarang seperti sedang terbakar.

Jaehyun semakin melebarkan senyumnya melihat tingkah Taeyong. "Setelah ini kau ingin kemana?"

"Bagaimana jika kita ke Banpo Bridge Park?"

Jaehyun terlihat berpikir sejenak, kemudian menganggukan kepalanya tanda setuju dengan usul Taeyong. "Sebelum itu, ayo kita beli sebuah barang couple." Ajak Jaehyun sambil menarik tangan Taeyong kembali menelusuri deretan toko.

.

.

Mereka sedang duduk direrumputan yang di depannya tersaji sebuah pemandangan jembatan berisi air mancur yang diterangi oleh lampu-lampu LED.

Sedari tadi Taeyong terus menatapi benda couple yang baru saja mereka beli, itu hanya sebuah jam tangan yang bahkan harganya tidaklah terlalu mahal. Tapi Taeyong sangat menyukainya, karena dia membelinya bersama Jaehyun.

Jaehyun menutup matanya, menikmati angin yang berhembus menerpa kulit wajahnya. Lalu kepalanya bersandar di kepala Taeyong yang sekarang sedang menyandarkan kepalanya di bahu Jaehyun.

Berdeham, Jaehyun mulai melantunkan sebuah lagu.

"I found a love for me.

Darling just dive right in and follow my lead.

Well, I found a boy, beautiful and sweet.

Oh, I never knew you were the someone waiting for me...

Cause we were just kids when we fell in love.

Not knowing what it was.

I will not give you up this time..

But darling, just kiss me slow, your heart is all i own.

And in your eyes, you're holding mine..."

Taeyong menolehkan kepalanya menatap Jaehyun dengan jarak yang sangat dekat, begitupun dengan Jaehyun yang ikut menolehkan kepalanya. Sehingga kini hidung mereka hampir bersentuhan.

"Baby, I'm dancing in the dark with you between my arms.

Barefoot on the grass, listening to our favourite song.

When you said you looked a mess, I whispered underneath my breath.

But you heard it, darling, you look perfect tonight."

Menghentikan lantunannya, Jaehyun membalas senyum Taeyong yang sedari tadi sudah mengembangkan senyuman indahnya. Perlahan, mereka mendekatkan wajah satu sama lain. Hingga dua belah bibir mereka saling bersentuhan, keduanya serentak mengatupkan kelopak mata mereka. Menikmati bagaimana bibir mereka saling bersentuhan, dan saling melumat lembut penuh kasih sayang.

-o0o-o0o-

Semenjak hari itu, hubungan keduanya kian mendekat disetiap harinya. Dan setiap pagi Jaehyun akan selalu mengirimnya sebuah pesan berupa.

"01000111 01101111 01101111 01100100 00100000 01101101 01101111 01110010 01101110 01101001 01101110 01100111 00100000 01000010 01100001 01100010 01111001 00101110 00100000 01001001 00100000 01001100 01101111 01110110 01100101 00100000 01011001 01101111 01110101 00101110"

Good morning Baby. I Love You.

Walaupun dikirim berulang di setiap harinya, tapi Taeyong tidak pernah bosan untuk membacanya.

Disekolah mereka memang jarang bertemu, mungkin hanya bisa bertemu disaat istirahat. Seperti mereka makan bersama di kantin, atau Jaehyun yang menghampiri kelas Taeyong karena lelaki cantik itu membawa bekal untuk mereka makan berdua.

Atau setiap pulang sekolah, Jaehyun akan selalu menyempatkan diri untuk menunggu Taeyong agar bisa naik bus bersama. Mengantar kekasihnya hingga sampai depan gerbang rumahnya dan dia kembali berjalan ke halte untuk segera pulang kerumahnya. Walaupun memang memakan banyak waktu, tetapi Jaehyun sangat menyukai kegiatan rutinnya hingga mereka sekarang sama-sama berada di kelas akhir untuk sekolah menengah atas.

Seperti hari ini, mereka sedang bermain sehabis pulang sekolah. Hanya sekedar menonton film baru yang tayang di bioskop. Lalu membeli sebuah ice cream untuk di makan bersama, yah walaupun Taeyong yang lebih banyak makan.

"Jaehyun setelah kelulusan, kau akan meneruskan ke universitas apa?"

"Aku belum memikirkannya."

Taeyong mengerutkan keningnya lalu menatap Jaehyun dengan bola matanya yang memancarkan sebuah kebingungan. "Kenapa? Ujian akhir sudah dekat. Bukankah kita harus bersiap melaksanakan ujian masuk universitas?"

"Mungkin aku harus bertanya lebih dulu kepada orang tuaku." Jawabnya sambil mengangkat bahunya acuh.

Taeyong menekuk bibirnya kebawah. "Padahal aku ingin satu universitas denganmu."

Jaehyun terkekeh, "Sekalipun kita tidak di satu universitas yang sama, ataupun suatu saat nanti jarak mungkin akan memisahkan kita percayalah kalau aku sangat mencintaimu."

"Kau berkata seolah-olah ingin berpisah denganku dalam jangka waktu dekat ini."

Jaehyun hanya bisa terkekeh menanggapi.

Taeyong kembali mengerutkan keningnya. "Kau tidak akan meninggalkan ku, kan?"

"Aku masih disini sekarang Taeyong, masih disampingmu."

"Bagaimana untuk besok?"

Jaehyun tersenyum lalu merangkul pundak Taeyong, "Besok pun aku masih berada di sampingmu."

"Lalu untuk besoknya? Atau besoknya lagi dan lagi?"

Jaehyun mencuri sebuah kecupan kecil di bibir Taeyong. "Bibir ini kenapa berisik sekali." Setelahnya Jaehyun berjalan meninggalkan Taeyong yang tersenyum sambil memegang kedua pipinya yang memerah.

-o0o-o0o-

Jaehyun mengusak rambut Taeyong lembut, "Masuklah."

Seperti rutinitasnya, sepulang mereka bermain atau sekolah Jaehyun selalu mengantarkan Taeyong hingga depan gerbang rumahnya.

Bukannya menuruti ucapan Jaehyun, justru Taeyong malah berjalan kearah Jaehyun dan memeluk lelaki tampan itu erat. Menyembunyikan wajahnya di dada bidang kekasihnya.

"Sebelum masuk, bisakah kau menyanyikan aku sebuah lagu?"

Jaehyun tersenyum sambil mengusap lembut punggung Taeyong, dia mulai menuruti permintaan kekasihnya.

"To be young and in love in New York City.

To not know who I am but still know that,

I'm good long as you're here with me.

To be drunk and in love in New York City.

Midnight into morning coffee, burning through the hours talking.

Damn.

I like me better when I'm with you.

I like me better when I'm with you.

I knew from the first time, I'd stay for a long time, cause.

I like me better when, I like me better when I'm with you..."

Taeyong melepaskan pelukannya dan menatap Jaehyun lekat. Begitupun sebaliknya, Jaehyun tidak sama sekali memutus kontak mata mereka, justru menatap lelaki cantik di depannya dengan sayang. Baginya, Taeyong adalah anugerah terindah yang dia dapatkan. Jaehyun tidak pernah membayangkan jika kehidupannya akan berwarna seperti ini setelah bersama Taeyong.

"Sekarang masu..." kata-kata Jaehyun menggantung di udara karena dengan tiba-tiba Taeyong mengecup bibirnya, hanya sekedar menempelkan bibirnya tanpa ada sebuah lumatan. Setelahnya dia tersenyum dan berjalan masuk kedalam rumahnya.

-o0o-o0o-

Ini adalah hari kelulusan mereka, dan kedua orang tua Taeyong sangat bangga karena Taeyong berhasil masuk ke Seoul National University, sebuah universitas ternama dan terbaik di Korea.

Sedari tadi Taeyong sibuk mengucapkan terima kasih kepada teman-temannya yang mengucapkan selamat atas keberhasilannya. Sehingga, dia lupa jika hari ini dia belum bertemu Jaehyun dan dia tidak tahu dimana kekasihnya itu berada.

"Ten, kau melihat Jaehyun?"

"Jaehyun? Aku tidak melihatnya, lagipula sedari tadi kan aku bersamamu."

"Aku belum bertemunya hari ini, bahkan dia tidak mengirimkan ku pesan seperti biasanya di pagi ini."

"Kau hubungi saja nomornya."

"Aku tadi sudah mencoba menghubungi, tapi nomornya tidak aktif."

"Mungkin dia juga sibuk Taeyong dengan keluarganya. Ini adalah hari kelulusannya, jadi biarkan dia menghabiskan waktunya seharian ini bersama keluarganya. Kau juga begitu kan?"

Taeyong menganggukan kepalanya, tapi dia sedikit merasakan khawatir di hatinya. "Tapi ini seperti tidak biasanya."

Ten menepuk bahu Taeyong, mencoba menenangkan temannya. "Sudahlah jangan terlalu di pikirkan. Aku yakin besok dia pasti akan menghubungimu."

Taeyong menghembuskan nafasnya, tetapi hatinya masih tidak bisa tenang.

-o0o-o0o-

Pagi hari setelah 4 hari kelulusannya, Ten dibuat tersentak oleh ketukan pintu kamarnya yang kencang. Dengan mata yang masih mengantuk, Ten mencoba bangun dan membuka pintu kamarnya yang seperti ingin di robohkan dari luar.

Betapa terkejutnya dia saat melihat Taeyong berdiri di depan pintu kamarnya dengan berderai air mata. "Kau kenapa?" tanya Ten panik.

Tanpa buang waktu Taeyong berhambur memeluk temannya yang masih berpenampilan berantakan. "Jaehyun menghilang. Dia tidak menghubungiku sejak hari kelulusan, bahkan saat aku menghubunginya nomornya tidak aktif."

Lagi-lagi Ten dibuat tercengang dengan ucapan yang di lontarkan Taeyong. Oh, mimpi apa dia semalam jika sepagi ini dia sudah dibuat terkejut setengah mati. Dengan lembut Ten membawa sahabatnya masuk kedalam kamar, dan mendudukan Taeyong diatas kasurnya sementara dia mengambil kursi meja belajarnya dan duduk di depan Taeyong.

"Jadi coba jelaskan pelan-pelan. Nyawaku belum terkumpul, jangan membuatku serangan jantung."

Terisak kecil, Taeyong mencoba menceritakan keadaan setelah hari kelulusannya. "Sejak hari kelulusan kita, Jaehyun tidak menghubungiku hingga hari ini. Aku khawatir, ini seperti bukan dirinya yang setiap saat mengirimkan ku pesan."

"Mungkin dia masih menghabiskan waktunya bersama keluarga?"

"Tapi bukan dengan cara tidak mengaktifkan nomornya kan? Jaehyun tidak pernah seperti ini, bahkan dulu saat nenek nya meninggal dan dia tidak masuk sekolah hingga beberapa hari. Dia masih tetap mengirimkan ku pesan setiap harinya."

Ten bingung harus mengatakan apa lagi untuk menenangkan Taeyong, karena sungguh dia tidak begitu dekat dengan Jaehyun apalagi mengenal tentang lelaki itu. Yang dia tau, Jaehyun hanyalah seorang pria tampan yang ketampanannya melebihi batas orang normal, dan pria itu adalah kekasih teman sebangkunya, hanya sebatas itu saja.

"Kau sudah pergi kerumahnya?"

"Sudah, sehari setelah kelulusan aku mengunjungi rumahnya. Tapi rumah itu tampak sepi tak berpenghuni. Aku sudah mencoba menekan belnya berkali-kali tapi tidak ada jawaban dari dalam rumah."

"Sudah melakukan berulang di hari selanjutnya?"

Taeyong menganggukan kepalanya. "Bahkan masih di hari yang sama, dan di waktu yang berbeda aku mengunjungi rumahnya lagi. Tapi keadaannya masih sama."

Ten mencoba berpikir, tapi dia tidak menemukan jawaban apapun di kepalanya selain. "Apa mungkin Jaehyun hanya mempermainkanmu?"

Taeyong terkejut mendengar penuturan temannya. "Maksudmu?"

"Ya, mungkin saja dia hanya mempermainkan hatimu. Setelah kau sudah terjatuh dalam kepadanya lalu dia meninggalkanmu, seperti saat ini."

"Jaehyun tidak seperti itu, aku sangat mengenal dia. Dan dia bukan orang yang seperti itu." Taeyong membatah keras atas tuduhan Ten terhadap kekasihnya.

"Yasudah, lalu sekarang dia kemana? Apa alasan dia meninggalkanmu?"

"Aku tidak tahu."

"Aku lebih tidak tahu, Taeyong. Aku mengenal dekat dengan dia saja tidak, lalu aku harus menjawab apa untuk semua ini?"

Taeyong kembali menangis keras mendengar jawaban Ten yang tidak membantu sama sekali.

-o0o-o0o-

Taeyong terpuruk disetiap harinya, raganya ada tetapi hati dan jiwanya seperti terbawa jauh bersama kabar tentang hilangnya Jaehyun dari sisinya. Setiap malam, dia selalu menangis sambil menatapi sebuah jam tangan couple yang menjadi satu-satunya barang kenangan dia bersama Jaehyun.

Sampai saat ini dia masih belum mengerti apa alasan pria tampan itu meninggalkannya, apa benar yang di katakan Ten soal Jaehyun hanya mempermainkannya? Tapi hati Taeyong menyangkalnya, jika Jaehyun berkeinginan hanya mempermainkannya tidak mungkin dia terlihat seserius itu saat bersamanya. Tidak perlu sampai di titik seperti ini untuk membuatnya jatuh, karena saat tau ada yang membalas pesannya di dinding saja Taeyong sudah jatuh kepada seseorang itu, dan posisinya disaat itu dia belum mengenal Jaehyun.

Taeyong selalu menatap jam tangan itu tanpa henti, berharap jam tangan itu mampu memutar kembali waktu nya saat bersama dengan Jaehyun. Tapi, semua itu mustahil, semua itu hanya khayalan Taeyong, semua itu hanya keinginan Taeyong. Dan sekarang dia berada di dunia nyata dimana Jaehyun sudah tidak ada lagi di sisinya.

Yang Taeyong butuhkan saat ini hanya Jaehyun, tidak ada yang lain. Tapi, tidak ada seorangpun yang bisa mengembalikan Jaehyun ke hadapannya. Bahkan dirinya saja tidak mampu melakukan itu.

Taeyong kehilangan separuh jiwanya, Taeyong kehilangan harapannya, Taeyong kehilangan masa depannya. Dia seperti hidup tapi tidak punya masa depan, dia hidup tapi seperti tidak punya alasan untuk dia bahagia.

-o0o-o0o-

Ini adalah tepat ke-5 tahun dia hidup tanpa kehadiran Jaehyun disekitarnya. Pria itu seperti hilang ditelan bumi, tidak ada sama sekali kabar tentangnya. Taeyong sudah menyerah mencari kabarnya 2 tahun belakangan ini. Karena dia tidak ingin ada hati yang tersakiti selain dirinya.

Seorang pria mengecup pipi Taeyong yang sedang duduk melamun. "Maaf jika aku lama, sayang."

Taeyong mencoba tersenyum dan menggeleng pelan. "Tidak, aku juga baru saja sampai."

"Ada yang sedang kau pikirkan?"

Taeyong menghembuskan nafas beratnya. "Ku pikir akhir-akhir ini siswa sedikit tidak bisa di atur."

Pria didepannya tertawa kecil. "Kau harus lebih bersabar menghadapinya, kau tahu? Dia hanya anak-anak remaja yang sangat butuh bimbingan."

Taeyong menganggukan kepalanya, dan tersenyum.

"Hey, kau lihat penyanyi baru itu. Bukankah dia sangat tampan?"

"Wah, itu lebih dari kata tampan. Siapa namanya?"

"Jung Jaehyun."

Taeyong seketika menolehkan kepalanya setelah mendengar gadis-gadis dibelakangnya menyebutkan nama seseorang yang sangat dia cari selama ini. Melihat arah pandang 2 gadis tersebut, Taeyong mengikuti pandangannya.

Dan dia melihat seseorang yang sangat dia kenal di layar tv yang berada di depannya. Itu adalah pria yang selama ini Taeyong cari, pria yang membuatnya merasakan kerinduan setengah mati, pria yang telah membawa jiwa dan hatinya pergi, pria yang membuatnya seperti orang gila karena kehilangannya.

Dia berada di suatu acara musik yang diadakan setiap minggu, sedang bernyanyi membawakan sebuah lagu dengan suaranya yang sangat Taeyong rindukan. Air mata Taeyong menetes dengan sendirinya tanpa di perintahkan. Dan semakin lama semakin deras, membuat pria di depannya mengerutkan keningnya bingung.

"Sayang, kamu kenapa?"

Menghapus air matanya, Taeyong mencoba tersenyum sebaik mungkin. "Kepalaku sedikit pusing, jadi bisakah kita pulang saja?"

Dengan bergegas pria di depannya beranjak dari duduk dan menuntun Taeyong untuk keluar dari cafe.

-o0o-o0o-

Setelah mencari tahu, kini Taeyong mengetahui jika Jaehyun sekarang adalah seorang penyanyi pendatang baru. Taeyong mencoba mencari jadwal fansign yang biasanya diadakan setiap penyanyi baru debut atau penyanyi yang biasanya comeback. Setelah mendapatkan jadwalnya, Taeyong segara bergegas untuk membeli beberapa album Jaehyun agar namanya bisa keluar saat di pengundian.

Berhari-hari Taeyong berfikir, jika pria itu sekarang menjadi seorang penyanyi berarti dahulu dia mengikuti sebuah trainee. Dan yang pasti itu masih berada di Korea, tapi kenapa Taeyong tidak sama sekali tahu kabarnya?

-o0o-o0o-

Taeyong mematut dirinya di cermin, hari ini adalah hari yang paling dia tunggu. Taeyong senang, namanya keluar saat pengundian. Sehingga sekarang dia bisa mengikuti acara fansign Jaehyun.

Membawa satu album untuk di tandatangani Taeyong duduk menunggu gilirannya untuk bersapa dengan sang idol. Sesekali dia mengusap tangannya yang mengeluarkan keringat dingin pertanda dia sangat gugup. Dan mencoba mengatur nafasnya berkali-kali.

Kini saat gilirannya untuk berjalan menuju sang idol, setelah salah satu fans di depannya selesai. Taeyong memberikan album yang di bawanya ke depan Jaehyun yang sekarang masih menundukan kepalanya untuk menandatangani albumnya.

"Siapa namamu?" Jaehyun bertanya, masih belum mengangkat kepalanya karena kini dia sedang memberikan tanda hati di samping tanda tangannya.

Taeyong mengulurkan secarik kertas dengan bertuliskan.

"01001100 01100101 01100101 00100000 01010100 01100001 01100101 01111001 01101111 01101110 01100111"

Lee Taeyong

Seketika Jaehyun mengangkat kepalanya, dan kini dia sungguh terkejut melihat seseorang yang sangat dia rindukan sedang berada di hadapannya dengan berderai air mata. Jaehyun ingin menghapus air mata itu, Jaehyun ingin memeluk tubuh mungil itu, Jaehyun ingin mengecup bibir tipis itu. Tapi yang hanya mampu dia lakukan sekarang adalah terdiam sambil menahan air matanya untuk tidak keluar.

Taeyong mencoba menghapus air matanya dan tersenyum. "Sudah lama bukan?"

Jaehyun hanya bisa mengangguk lemah, sungguh saat ini hatinya sedang berteriak ingin memeluk Taeyong dan menenangkannya sambil mengatakan kalau semua baik-baik saja. Tapi keadaan dia saat ini tidak bisa melakukan itu. Jaehyun hanyalah seorang penyanyi pendatang baru, yang harus menjaga nama baiknya dan tidak menimbulkan scandal apapun.

"Selamat atas kesuksesanmu, Jaehyun. Aku berharap, kau selalu di limpahkan cinta dari fans mu. Dan selalu di limpahkan kebahagiaan." Taeyong mencoba kembali tersenyum di tengah isak tangisnya.

Jaehyun meneteskan air matanya, dia tidak bisa mengatakan apapun lagi, seketika lidahnya kelu untuk mengeluarkan sepatah kata.

Waktu Taeyong sudah habis, maka dengan cepat dia memberikan sebuah kertas kepada Jaehyun sambil diselingi senyuman lebarnya walaupun matanya masih mengeluarkan kesedihannya.

"Aku harap kau melihatnya." Taeyong sedikit membungkuk lalu pergi dari hadapan Jaehyun yang sekarang hanya diam memaku.

-o0o-o0o-

Selama ini Jaehyun menghilang bukan karena keinginannya. Orang tuanya membawa Jaehyun pergi meninggalkan Korea untuk bersekolah di luar negri. Jaehyun hanyalah seorang anak yang patuh kepada orang tuanya. Maka semua dia turuti, termasuk meninggalkan Taeyong.

Orang tua Jaehyun mengingkan anaknya untuk menjadi seorang penyanyi luar negri yang terkenal. Tetapi semua mimpi ibunya musnah setelah kematian ayah Jaehyun 3 tahun lalu. Saat itu mereka kembali ke Korea dan Jaehyun sudah bertekad untuk menemui Taeyong. Tapi ibu nya menuntut Jaehyun untuk mengikuti audisi yang diadakan oleh salah satu agensi besar yang ada di Korea. Menurut ibunya, jika Jaehyun tidak berhasil menjadi penyanyi luar negri, setidaknya anaknya harus berhasil menjadi penyanyi dalam negri.

Dan Jaehyun tahu resiko menjadi seorang trainee, adalah fokus terhadap apa yang ingin dia tuju. Sebisa mungkin dia menjaga nama baiknya, hingga suatu saat jika dia bisa debut tidak ada masa lalu buruk yang bisa menghancurkan nama baiknya. Dan jika dia memutuskan untuk bersama Taeyong sama saja dengan menghancurkan mimpi ibunya. Karena negaranya masih tabu untuk pasangan sejenis seperti dirinya dan Taeyong.

Maka dari itu, sebisa mungkin Jaehyun menghilang dari hidup Taeyong, dan mencoba untuk melupakan Taeyong walaupun sampai sekarang dia masih belum bisa melupakan lelaki itu.

Jaehyun menatap sebuah kertas undangan di tangannya, yang disana tertulis nama Taeyong dengan seorang pria yang tidak Jaehyun kenal. Itu adalah undangan pernikahan, dan kini hatinya seperti di tusuk oleh ribuan panah tak kasat mata. Jaehyun mencoba membaca secarik kertas yang berada di sana.

Hallo Jaehyun, sudah lama bukan? Aku memberikan undangan pernikahan ku dengan kekasihku, aku sangat mengharapkan kehadiran mu dan menyanyikan sebuah lagu di acara pernikahanku. Aku janji ini yang terakhir aku meminta mu bernyanyi, setelahnya aku tidak akan meminta lagi. Jadi bisakah kau datang?

Lee Taeyong

-o0o-o0o-

Jaehyun benar datang ke acara pernikahan Taeyong. Dia tersenyum melihat Taeyong yang juga sedang tersenyum kepadanya di depan sana. Seikat bunga sedang di genggamnya, dan tangan satunya sedang digenggam erat oleh seorang pria tampan yang saat ini berstatus sebagai suami Taeyong.

Taeyong sangat cantik hari ini, dengan tuxedo putih yang membalut tubuh mungilnya. Dan jangan lupakan senyuman kebahagiaan yang sedari tadi dia pancarkan. Jaehyun bersyukur, Taeyong memiliki suami yang sangat mencintai dan menyayanginya. Melihatnya tersenyum di hari bersejarahnya, membuat Jaehyun sedikit merasa tenang dan sedikit mengurangi rasa bersalahnya.

Taeyong menyandarkan kepalanya di bahu suaminya, dan menikmati lagu yang sedang di lantunkan oleh Jaehyun.

"Although it hurts..

I'll be the first to say that, I was wrong...

Oh, I know I'm probably much too late.

To try and apologize for my mistakes.

But I just want you to know.

I hope he buys you flowers,

I hope he holds your hands.

Give you all his hours, when he has the chance.

Take you to every party,

Cause I remember how much you loved to dance.

Do all the things I should have done,

When i was your man.

Do all the things I should have done,

When i was your man..."

Setelah menyelesaikan nyanyiannya, Taeyong berjalan menghampiri Jaehyun dan berhambur memeluk pria itu erat.

"Selamat berbahagia, Taeyong." Ujar Jaehyun sambil mengusap punggung Taeyong lembut.

Taeyong melepaskan pelukannya, dan menatap Jaehyun dengan mata berkacanya.

"Jangan menangis, aku sudah tidak bisa lagi menghapus air matamu, aku sudah tidak bisa lagi memelukmu."

"Terima kasih, Jaehyun."

Jaehyun menganggukan kepalanya sambil mencoba tersenyum sebaik mungkin.

"Aku harus pergi, ada acara yang harus aku hadiri. Sekali lagi selamat berbahagia, Taeyong." Ujarnya sambil mengulurkan sebuah kertas. "Bacalah jika kau ada waktu."

Taeyong mengambil kertas itu, dan menganggukan kepalanya.

"Aku pergi, berbahagialah." Jaehyun mengusap bahu Taeyong dan pergi meninggalkan lelaki cantik itu bersama kenangannya.

Taeyong membuka surat itu, dan tersenyum melihat barisan angka 1 dan 0 yang tersusun di sana.

"01001001 00100000 01101000 01101111 01110000 01100101 00100000 01111001 01101111 01110101 00100000 01100110 01101001 01101110 01100100 00100000 01100001 00100000 01101100 01101111 01110100 00100000 01101111 01100110 00100000 01101000 01100001 01110000 01110000 01101001 01101110 01100101 01110011 01110011 00100000 01110111 01101001 01110100 01101000 00100000 01101000 01101001 01101101 00101110 00100000 01001001 00100000 01001100 01101111 01110110 01100101 00100000 01011001 01101111 01110101 00101110"

I hope you find a lot of happines with him. I Love You.

Kisah mereka cukup sampai disini, Taeyong harus melanjutkan kisah masa depannya dengan suaminya sekarang. Jaehyun hanyalah masa lalu terindah dalam hidup Taeyong, dimana dia akan dengan bangga menceritakan kepada anak-anaknya kelak. Bahwa ada sepasang kekasih yang di persatukan dengan cara yang unik bersama barisan angka yang menarik.

..

..

The End...

..

Fuuhh panjang banget ini, ampe pegel ngetiknya.

Maaf jika tidak memuaskan, akhir-akhir ini aku sering merasa gak percaya diri sama tulisan ku. merasa masih buruk ajah dalam setiap kalimat jauh dari kata lumayan apalagi sempurna. :(

Aku harap kalian menikmati ceritanya, terima kasih.