Disclaimer: Detective Conan bukan punya saya.
Catatan Pengarang:
Ini fic pertama saya dalam bahasa Indonesia karena saya tidak pernah PD membuat dalam bahasa Indonesia (meski bahasa Indonesia adalah my first language).
Belakangan ini saya lagi mengulang baca manga Detective Conan dan terpikir untuk membuat fic ini. Awalnya saya penggemar berat Shinichi x Shiho, tapi belakangan ini saya mundur teratur sebelum merasa kecewa super berat.
Just One-shot, and I think Shuichi x Shiho would be a great pairing.
Cerita ini diambil dari sudut pandang Conan Edogawa.
MESKI BUKAN DARIKU
Aku mungkin terlihat cuek dari luar. Bahkan terlalu cuek. Tidak peka terhadap perasaan wanita. Berterima kasihlah pada isi kepalaku yang cenderung mengedepankan logika, deduksi, dan tantangan otak.
Aku juga bersyukur dan merasa sangat terbantu bahwa Ran bisa menjadi sangat ekspresif. Ceria. Sedih. Bingung. Marah. Cemas. Takut. Kecewa. Hampir semua perasaan itu dapat tercermin di mata dan wajahnya, meskipun aku merasa perasaan yang dia perlihatkan seperti halnya fenomena gunung es. Terlihat jelas pada puncaknya di atas permukaan air. Namun kita tidak akan pernah dapat memperkirakan seberapa besar dan tinggi bagian gunung es yang terendam di dalam air.
"Sampai kapan dia akan tinggal menumpang di rumahmu?"
Aku segera menoleh ke si penanya. Ini bukan pertama kalinya dia menanyakan hal itu padaku. Matanya birunya yang biasa mengamati orang lain seperti pandangan meremehkan, menuntut penjelasanku. Kedua tangannya berkacak pinggang dengan angkuh. Dia berdiri tegak tak jauh di depanku.
Ai Haibara. Salah satu gadis tercantik, terpandai, termodis, sekaligus terdingin, di SD Teitan.
"Kalau soal itu, aku masih belum bisa memastikan," jawabku apa adanya.
Dia menyipitkan matanya dengan marah. Tak ada satupun kata keluar dari bibir pinknya.
Aku melanjutkan, "Haibara, aku tidak punya alasan untuk memperlakukannya seperti penjahat dengan mengusirnya. Aku mempercayai dia untuk menjaga rumahku. Lagipula, ayah dan ibuku juga tidak keberatan dia tinggal di sana. Selain itu …." Aku tersenyum mengejek. "… bukankah kau juga terbantu dengan adanya dia di sini? Kau dan Profesor Agasa selalu mendapat kiriman makanan setiap hari."
Sang mantan ilmuwan Black Organization itu menggerutu, "Aku merasa dia selalu menguntitku. Aku bahkan sudah yakin, selain handphone-ku, telepon dan komputer di rumah ini pasti sudah disadap olehnya. Apa ini perbuatan yang tidak terlalu berlebihan untuk seseorang yang menumpang? Seorang tetangga?"
Aku menghela napas panjang. Dalam hati aku memuji semua prasangka gadis berambut merah ini. Memang kuakui, semua jaringan telepon dan komputer di rumah Profesor Agasa sudah tersambung ke rumahku, tepatnya ke laptop si mahasiswa pasca sarjana, Subaru Okiya. Bahkan komputer di rumah Paman Kogoro juga berada dalam penyadapannya.
"Dengar, Haibara. Itu semua dilakukan demi keselamatan kita semua."
Dia tampak tidak puas dengan penjelasanku, dan dengan langkah lebar dan tidak sabaran, dia berjalan menuju kamarnya. Tak lupa dia sedikit membanting pintunya.
"Dia marah," gumam Profesor Agasa dari balik meja penelitiannya.
"Biarkan saja," sahutku sambil kembali menatap pemandangan luar dari jendela.
Aku tidak ingin mengatakan terus terang bahwa sebenarnya ada alasan yang lebih mendalam. Aku dan Subaru Okiya memantau segala pesan yang masuk-keluar dari rumah ini dan rumah Paman Kogoro. Kami berharap mendapatkan berita atau pesan dari Black Organization, secuil apapun itu, yang tampaknya cenderung dialamatkan ke gadis ini.
Sadar ataupun tidak sadar, peristiwa yang kami alami dalam memburu tindak-tanduk Black Organization semakin lama semakin intense dan mengkhawatirkan. Terlebih lagi, sudah terlambat untuk menarik diri (dan jujur saja, aku pun tidak ada niat untuk mundur selangkah pun.)
Posisi Ai Haibara alias Shiho Miyano memegang peranan penting dalam masa seperti ini. Bagiku, selain menjadi kunci untuk kembali menjadi Shinichi Kudo, Haibara adalah penghubung antara kami dengan Black Organization, terutama dalam urusan mengenali para personil Black Organization, ciri khas, tindakan, dan sifat mereka, walau tidak semuanya.
Tapi ada satu masalah di sini. Haibara memang koperatif, namun dia hanya akan menjawab pertanyaan yang diajukan dengan padat dan sesingkat-singkatnya. Obyektif memang, tapi kadang bisa membuatku frustasi. Sempat terpikir olehku bahwa sebenarnya dia tahu lebih banyak dari itu, tapi dia menyembunyikannya untuk kepentingannya sendiri.
Terlepas banyak yang bilang kalau aku suka ikut campur urusan orang lain, sebenarnya aku sangat menghargai privasi. Makanya aku tidak pernah menanyakan bagaimana kehidupan dia ketika masih menjadi bagian dari Black Organization. Namun rasa penasaran itu perlahan terobati setelah aku mengenal Shuichi Akai dari rekan-rekan FBI-nya.
Aku merasa ada yang aneh setelah mengetahui bahwa lima tahun yang lalu, Shuichi Akai masuk menjadi anggota Black Organization dengan memakai identitas sebagai Dai Moroboshi, berkenalan, dan memacari Akemi Miyano yang notabene adalah kakak Shiho Miyano agar dapat mengorek keterangan tentang Black Organization.
Akemi Miyano bukanlah anggota Black Organization level atas. Wanita itu tidak memiliki nama kode alkohol. Sebaliknya, Shiho Miyano memiliki nama kode Sherry, yang otomatis sudah pasti merupakan anggota elite Black Organization.
Sejujurnya, aku tidak yakin Dai Moroboshi mendapatkan banyak informasi dan misi penting Black Organization jika mengandalkan Akemi Miyano. Bagi Black Organization, wanita itu hanyalah umpan yang diletakkan di dunia yang 'terang' supaya Sherry tetap loyal terhadap Black Organization. Maka dari itu, aku yakin Dai Moroboshi harus mencari cara lain untuk mendapatkan informasi lebih banyak. Dia harus bisa bersikap sekoperatif mungkin dan menyelesaikan misi semulus dan sebanyak mungkin (Aku berani bertaruh bahwa dia sangat tertekan dalam menjalankan misinya yang pasti selalu menembak kepala atau dada kiri orang yang mungkin tidak bersalah demi mendapatkan pengakuan atas loyalitasnya terhadap Black Organization).
Aku juga yakin Dai Moroboshi berusaha mendekati anggota level atas, dan Sherry adalah salah satunya. Apalagi Sherry, seperti yang kita ketahui, tidak memiliki kemampuan beradu secara fisik. Dia sepertinya cukup jago dalam menembak. Tapi dia tidak terlatih untuk menghadapi misi di lapangan. Hidupnya adalah untuk penelitian. Di dalam laboratorium. Bersama dengan peralatan dan perlengkapan penelitian super canggih serta ditemani para tikus percobaan.
Dari sinilah pikiranku mulai berkembang. Jika suatu waktu Sherry harus turun ke lapangan karena itu adalah misi yang menyangkut data atau sampel penelitian, maka bukankah dia butuh seseorang untuk melindunginya?
Gin-kah?
Sangat mungkin. Itulah orang pertama yang terlintas di benakku.
Tapi tidak tertutup kemungkinan Dai Moroboshi pernah diminta Black Organization untuk misi bersama Sherry. Entah sekali atau mungkin beberapa kali, Dai Moroboshi pasti pernah terlibat bersama Sherry dalam misi. Sebenarnya ini cara yang sangat efektif dan efisien. Dai Moroboshi dapat menjaga dan melindungi adik kekasihnya dalam misi, sekaligus dapat menggunakan pengaruh Sherry untuk mencapai level elite anggota Black Organization, hingga akhirnya dia memiliki nama kode alkohol sendiri: Rye.
Aku menelan ludah ketika memikirkan hal ini lebih lanjut.
Aku tidak tahu sedekat dan sejauh apa hubungan Rye dengan Sherry dulu. Apa cuma sebatas rekan sesama anggota Black Organization, mengingat Akemi Miyano adalah penghubung mereka berdua? Atau ….
Aku menghentikan pikiranku sampai di sana. Aku memang akan selalu melindungi Ai Haibara. Tapi kalau suatu saat nanti aku dihadapkan pilihan antara Ran dan Haibara, aku tak mau membayangkan apa yang akan terjadi karena sejujurnya, Ran akan selalu menjadi prioritas utama bagiku. Dan bagaimana dengan Ai Haibara?
Aku menoleh ke rumah sebelah. Rumahku.
Aku mengerjapkan mataku ketika bersirobok dengan sosok pria tinggi dari jendela lantai dua rumahku. Dia berdiri dengan segelas air minum (sepertinya alkohol) di tangan kirinya, sementara tangan kanannya bersembunyi di kantung celana panjang coklatnya. Pandangannya fokus ke jendela tertutup pada kamar Haibara.
Tampaknya dia sadar bahwa aku sedang memandangnya. Dia langsung beralih kepadaku dan mengangguk seraya tersenyum sedikit.
Subaru Okiya. Bahkan dalam suasana santai begini, dia tetap waspada menjaga dan melindungi Haibara.
Aku membalas senyumannya dan berbalik, berjalan menuju pintu depan untuk pulang ke rumah Ran.
Subaru Okiya. Dai Moroboshi. Shuichi Akai. Rye.
Empat nama berbeda yang sebenarnya merupakan satu orang yang sama.
Rekan-rekan FBI-nya bilang kalau Shuichi Akai tampaknya sangat mencintai Akemi Miyano. Bahkan pesan lamanya masih tersimpan. Tapi entah kenapa aku merasa semua penjelasan itu belum cukup untuk membuktikan segalanya. Terlebih Shuichi Akai sendiri tidak pernah membicarakan tentang hal tersebut.
Aku tahu betapa berat kehidupan yang dijalaninya. Kepeduliannya terhadap Akemi Miyano. Simpatinya. Penyesalannya. Kematiannya. Rasa bersalahnya. Aku merasa lega dia cepat menata kembali perasaannya dan sekarang sudah siap menghadapi tantangan yang baru.
… karena perasaan tertarik yang terlahir dari rasa simpati bukanlah cinta, melainkan iba …
Dan lihatlah sekarang. Dia tidak perlu memilih atau memprioritaskan siapa yang akan dilindunginya. Karena saat ini, di kepalanya hanya ada satu orang yang akan mati-matian dia lindungi.
Aku menunduk sedikit dan kembali berpikir tentangnya.
Aku sedang dan masih menunggu, Akai-san. Menunggumu membuka semua kartumu. Tidak perlu banyak penjelasan karena aku tahu kau bukan tipe orang yang banyak bicara. Cukup petunjuk … dan impuls ... bagaimana kau bertindak terhadap Ai Haibara, dan aku yakin itu adalah hal terbaik.
Karena Shiho Miyano berhak untuk hidup damai dan bahagia meski bukan dariku.
THE END
Catatan pengarang:
Entah kenapa saat baca manga Detective Conan, saya merasa inilah masa-masa Conan melakukan serah-terima jabatan dengan Shuichi Akai dalam melindungi Ai Haibara.
Saya berharap Shuichi Akai – Shiho Miyano menjadi canon.
Jika berkenan, jangan lupa ketik masukan dan saran untuk saya yaa.
