AUTHOR POV
Langkah itu menuruni tangga dengan sebuah senyum kehangatan, pertanda bahwa hidupnya kini memang teramat indah.
Suara dari sepatunya memecah keheningan suasana rumah yang sepi ini, semakin dekat langkahnya menuju dapur. Tak pernah ia absen untuk mencicipi masakan istrinya.
Senandung kecil ia nyanyikan bersama dengan hatinya yang syahdu, busana khas Dosen ia kenakan dan tercetak amat apik pada tubuhnya. Tubuh jangkung yang sekarang lebih berisi daripada awal saat menikah dahulu, ini adalah bukti bahwa sang istri mengurusnya dengan baik.
Langkahnya sampai pada ruangan yang cukup luas, disana ia bisa melihat sesosok dewi yang berdiri sibuk dengan beberapa bahan masakan. Hari ini ia ingin sarapan yang istimewa, bukan yang sebelumnya tidak istimewa. Istrinya selalu membuat menu baru dan ia menyukai hal itu.. Benar-benar istri yang bijak. Terlebih semua kebutuhannya terpenuhi walau ia masih sangat tau jika istrinya itu mahasiswi didikannya.
Jangan salah, mengabdi sebagai dosen karena kecerdasan otaknya malah membuatnya menikahi mahasiswinya sendiri. Ini bukan seperti berita yang tidak mengenakkan, tidak seperti berita murahan. Ia menikah juga bukan karena menodai mahasiswinya, namun ia menikah atas nama perjodohan.
Baiklah, silahkan tertawa.. Bagaimana mungkin seorang mahasiswi yang kau banggakan atas nilainya adalah istrimu? Ya, ia sempat kaget. Sebelumnya ia tidak mengetahui mengapa ia harus menikah dengan mahasiswi dan bukan wanita karir. Namun sekarang ia mengerti, orangtuanya adalah orang yang bijak dan tentu saja pendidikan amat dijunjung tinggi.
Semua anggota keluarganya terjun pada dunia pendidikan yang memusingkan seperti kursi panas kedaulatan pimpinan hukum. Mungkin itu sebabnya ia dinikahkan dengan salah seorang mahasiswi yang membanggakan.
Sejujurnya ia amat berterima kasih karena telah dipertemukan dalam ikatan perjodohan, dan ia juga sempat tidak percaya bahwa si wanita juga menerimanya. Tentu saja hatinya berbunga, semuanya berjalan dengan lancar.
Suatu saat ia berpikir jika menikah itu lebih sulit, ia bayangkan jika menikahi seorang gadis itu tidaklah mudah.. Namun sekarang ia tidak menemukan kesulitan saat menjalaninya.
Istrinya bukan wanita yang senang membelanjakan uang tetapi juga bukan orang yang pelit dalam pengeluaran, ia patut bangga. Istrinya bijak walau kini masih berusia 25 tahun. Kedewasaan itu mengimbanginya, haihhh.. Menikah itu ternyata cukup menyenangkan.
Awalnya ia hanya mengenal istrinya melalui progam belajar mengajar, sebelumnya ia juga teramat hafal dengan istrinya ini. Karena nilai, wajah dan juga keramahan itu membuatnya menjadikan istrinya mahasiswi favorit. Saat itu hanya berjalan selama setahun, ia mulai membuat agenda sebagai pendekatan, namun sepertinya semuanya gagal karena ia dijodohkan.
Sempat ia menolak, namun orangtuanya bukan tipe orang yang mudah diberontak sehingga ia hanya diam dan menerima meski dalam hatinya menolak dengan sangat.
Kekagetannya berawal dari saat dimana ia bertemu dengan calon istrinya, keduanya shock dan lantas saling diam selama dua hari. Itu terdengar sangat lucu, bahkan saat ia mengajar dikelas sang istri malah terlihat seperti kucing yang malu. Sulit beradaptasi ditambah sang istri yang hanya menunduk setiap keduanya tak sengaja bertemu pandang.
Bagaimana mungkin orang yang ingin kau dekati adalah calon istrimu dan tanpa sadar keduanya mulai menjauh. Ia frustasi saat itu, semuanya terlihat akward. Lalu pada akhirnya ia melakukan pendekatan awal sebagai pasangan calon suami-istri, mendekatkan diri dan semua itu terjadi..
Mungkin cerita seperti ini sudah basi, namun ingat.. Semua hal yang terjadi dalam pernikahannya terlihat seperti sebuah kejutan. Ia tidak menyangka akan menikah diusia 28 tahun, ia kira ia akan menikah diumur 33 tahun.
maaf kalau tidak best
