Kehidupan berjalan semestinya dan berbahagialah keduanya. Tak ada rumpun kesedihan yang mengalir dipernikahan muda keduanya, mereka berharap jika kehidupan mereka akan selalu seperti ini untuk kedepannya.
Yaya sebagai seorang istri selalu melakukan tugasnya dengan baik, hal yang selalu ia canangkan demi kelancaran pernikahannya.
Sebenarnya dulu ia tidak percaya jika keduanya menikah dan akan menjalin sebuah hubungan baru drngan ikatan resmi. Bahkan ia bingung melakukan tugasnya, ia berpikir jika ia akan menikah dengan seorang pengusaha. Namun ketika ia lihat.. Tubuh jangkung dosennya lah yang berada dalam jarak pandang matanya.
Shock berkepanjangan dan membuat keduanya tidak bertegur sapa selama dua hari. Saat itu Yaya ingin menceburkan diri di New York karena kenyataannya malah membuat dirinya ragu. Namun ia pikirkan kembali, tidak salah menjadi bagian hidup dari Boboiboy karena secara mental pria itu mampu menjaganya. Lebih dewasa dan dapat membimbingnya, serta dapat menjadi partner untuk kedepannya.
Lagipula secara fisik tubuh dan juga wajah tidak jauh dengan seorang superhero Ia bahkan semakin bangga memiliki seorang suami yang diidamkan wanita lain, karena pernikahannya rahsia maka semuanya juga tidak mengetahui bahwa keduanya menikah.
Termasuk teman seangkatannya yang mengidolakan Boboiboy dan berimajinasi konyol.
Ia tidak marah jika orang lain mengidolakan suaminya, bahkan ia terkadang merasa geli saat semua mahasiswi selalu memuja dan mengibaratkan suaminya itu seorang Hero lagak suami mereka ! huh memamg tak malu aku ni isterinya yang sahhhh
Asal Boboiboy tidak berkhianat akan selalu ia tepati janji pernikahan keduanya, ia ingin kehidupannya semakin baik bersama lelaki itu atau cintai.
Walaupun sebenarnya kata cinta itu belum didasar dengan jelas namun saling menjaga telah menjadi hal yang lumrah. Kadang ia bertanya dalam hati, apakah ia dan Boboiboy dapat bertahan?
Bagaimanakah keduanya menghadapi masalah ini? Permasalahan hati yang masih menjadi misteri.
Sebenarnya ia cukup santai, Boboiboy teramat menghormatinya. Bahkan diawal malam pertama lelaki itu malah tertidur disofa, ia merasa bukan istri yang baik. Rumah ini milik keduanya, semua harus berbagi dan semenjak itu ia menawarkan bed untuk berdua.
Bukan modus, tentu saja demi kebaikan bersama. Ia juga bukan wanita genit yang menginginkan Boboiboy menyentuhnya, ia merasa bersalah ketika bed kamar ia kuasai.
Lepas dari hal itu, sebulan cukup terasa dan saat ini sudah 16 bulan keduanya menikah. Sudah hafal dengan sikap maupun sifat, saling mengerti dan juga memahami satu sama lain.
Untuk jenjang selanjutnya memang cukup runyam, apakah keduanya akan melakukan progam lain? Memiliki anak? Astagaaa.. Membicarakan anak membuat pipinya memerah karena malu.
Ia tidak dapat membayangkan jika melakukan hal itu bersama Boboiboy sahabat perjuangan masa kecil , akan terlihat menggelikan. Lagipula ia akan tanyakan cinta jika keduanya akan memukai proses nya. Tidak akan ia berikan jika semua karena pernikahan, ia benci kalimat yang memaparkan bahwa menikah harus memiliki anak. Lalu dimana letak cinta?
Akan lucu jika Making Love tanpa ada perasaan cinta, untuk apa membuat cinta. Harusnya kalimat itu diralat.. Tidak semua orang yang melakukan Making Love dengan landasan cinta. Makan saja ucapan cinta! Memang ia cintakan lelaki itu tapi lelaki itu cintakan dia ka ? Membuatkan Yaya rasa serba salah berkahwin sosok yang dikagumi ramai orang
Segera ia benahi rumah dan menyelesaikan pekerjaan lain, berangkat siang ini untuk mengawali hari sebagai mahasiswi tingkat akhir. Setelah ia wisuda ia tidak tau harus melakukan apa.. Dulunya ia bercita-cita ingin terus belajar sampai ada yang meminangnya. Sekarang ia telah menikah, tidak mungkin ia berhenti belajar bukan?
