Yaya hentikan aksi menyisirnya. Senyumnya tercipta. Ke dua tangannya terangkat menyentuh lengan Boboiboy

"Sudah lama, pasti sekarang sangat lusuh" katanya tetap memandang ke arah cermin "Aku jadi sedikit malu jika kau mengungkitnya"

Boboiboy terkekeh pelan. Dia turunkan tubuhnya lalu berjongkok. Satu tangannya terulur mengelus dahi Yaya. Anak rambut wanitanya turut dia benarkan.

"Walau sudah lusuh, tapi aku sangat menyukainya" katanya sambil tersenyum "Kapan-kapan belikan lagi yang modelnya sama"

Pria itu meringis saat sebuah pukulan ringan harus dia dapatkan dari Yaya. Wanitanya merengut kesal dikarenakan suaminya malah balik meminta sesuatu.

"Dasar tukang minta" ejeknya dengan disertai lidahnya yang ia julurkan.

Boboiboy tertawa cukup keras setelahnya. Digeser tubuhnya semakin dekat dan tak lupa ke dua tangannya kini melingkar ke pinggang Yaya. Dia masih dalam posisi berjongkok.

"Hanya bercanda. Lagipula, barang-barang semacam itu bisa kita beli nanti bersama-sama. Sepulang dari sini, kita akan mendapat banyak tugas untuk membuat rumah baru kita nanti supaya terasa nyaman"

Yaya mengangguki ucapan suaminya. Malam ini dia dan juga Boboiboy memang sedang berada di Pulau. Ritual yang katakanlah biasa. Mereka tengah menikmati masa bulan madu seperti halnya orang-orang yang baru menikah. Setelah satu minggu ke depan, keduanya akan pulang dan mulai menempati rumah baru.

"Sayang" Boboiboy bersahut "Aku sudah mengantuk"

Yaya tersenyum "Hemh..aku juga sama"

Boboiboy berikan senyum lebarnya sesaat setelah dia mulai berdiri. Rasa panik seketika tercipta sesaat setelahnya. Bukan dari Boboiboy. Itu adalah yang terjadi pada Yaya. Wanita itu memekik saat tubuhnya terasa terayun secara tiba-tiba membuatnya harus berpegangan dia leher Boboiboy dengan cepat. Sekarang dirinya sadar. Sang suami telah berbuat usil dengan menggendongnya ke arah ranjang.

"Boboiboy , turunkan aku" Yaya merengek pada suaminya "Aku bisa jalan sendiri. Kau tidak perlu repot-repot"

"Tanggung ya. Sebentar lagi sampai" kerlingan menggoda dihadiahkan Boboiboy untuk istrinya.

Yaya merinding. Bulu kuduknya berdiri dengan cepat. Wajahnya sangat terlihat cemas. Ia ketakutan dan gugup.

"Akhirnya" Boboiboy baringkan Yaya tepat di atas ranjang lega.