Boboiboy merasa jika ini adalah surga dunia. Bodoh sekali jika dia harus melewati malam ini begitu saja. Sekarang dia tahu dan sadar jika malam ini sangatlah penting. Sebuah malam panjang yang memang perlu untuk dia nikmati bersama istrinya.

Di bawah kuasa tubuh suaminya, Yaya begitu menikmati ketika kini sebuah pagutan lembut tengah salah satu gundukan kembarnya dapatkan. Bersamaan dengan hal itu, tangan jahil suaminya sudah lebih dulu bergerilya di daerah paling intim kepunyaannya. Sebuah sentuhan dari elusan lembut tangan suaminya kemudian berlanjut pada cubitan-cubitan kecil. Tidak cukup sampai di sana, Yaya merasa sesuatu yang kecil memasuki daerah pribadinya namun rasa sakit tetap tak bisa ia hindari. Ia meringis walau pada akhirnya menggumamkan sebuah lenguhan nikmat.

"Kau menyukainya, sayang?" Boboiboy angkat kepalanya dan sekarang dia menatap dalam wajah istrinya yang tengah menutup mata namun bibir wanitanya digigit sendiri oleh wanita itu. Senyumnya terukir puas. Saat itulah dia semakin bertindak lebih dengan mempercepat kocokannya di daerah intim Boboiboy. Membuat wanitanya semakin mengerang hebat dan pundaknya harus merasa sakit kala kuku-kuku Yaya memberi goresan luka di sana.

"Ah…." kembali lenguhan terdengar namun kali ini yang melakukannya adalah Yaya. Wanita itu melenguh panjang serta lega saat pencapaian pertamanya telah sampai pada titik nikmat.

Boboiboy menyeringai. Seringainya dia lanjutkan dengan kembali ajak istrinya untuk berciuman dan tak lupa, satu tangan yang tadi bermain di daerah intim Yaya kini, dia lanjutkan di gundukan Yaya lagi. Meremasnya. Memberi sensasi lebih dari sebelumnya.

Mereka terengah dalam kekehan yang sama-sama dikumandangkan. Walau sama terengah dan keringat sudah bercucuran, tapi aktivitas tersebut tak bisa berhenti sampai di sana. Boboiboy angkat dulu tubuhnya. Dia berikan tawanya saat sang istri langsung menutup wajahnya dengan sangat malu. Dia lepas seluruh bajunya hingga tak menyisakan apapun lagi. Kembali, Boboiboy posisikan dirinya di atas tubuh Yaya

"Hei…." serunya selembut mungki. Tidak perlu malu" kecupan lembut Boboiboy berikan di telapak tangan istrinya saat dia lepaskan serta jauhkan tangan itu agar tidak menutupi wajah cantik sang istri. Yaya bersemu merah, sangat merah hingga dia tak bisa mengukur seberapa merah dan panasnya kini wajah yang ia miliki karena terlalu malu dan gugup.

"Aku tak menyangka kau bisa melakukan ini, Boboy " serunya disertai pukulan ringan di lengan sang suami "Kau membuatku ketakutan tadi. Aku pikir kau sedang apa? Ternyata…."

"Ternyata aku tengah memberimu kenikmatan" ejeknya yang harus diberi sebuah pukulan lagi dari Yaya. Pria itu acuh. Sekarang dia malah semakin merapatkan tubuh polosnya dengan wanitanya "Aku mencintaimu, sayang…kau sangat cantik. Selalu cantik dan malam ini lebih lebih lebih cantik"

Pujiannya memang sangat berlebihan. Sadar itu buat orang yang berada di bawahnya semakin melayang tak sedikitpun membuat Boboiboy puas. Kecupan lembut dirinya kembali ia lakukan dan senyum cerah dia suguhkan untuk bidadarinya.

"Ikutlah bersamaku" Boboiboy lanjut berucap dengan nada sensual yang memang sanggup membuat Yaya memandang tanpa berkedip. Napasnya dia hembuskan dengan sengaja di area tengkuk istrinya "Mari kita menikmati inti dari kenimatan surga dunia yang sebelumnya hanya sebuah khayalan"

Pekikan disertai ringisan hebat tercipta setelah tepat kalimat itu terucap. Betapa tidak, saat itu pula Boboiboy langsung melancarkan aksinya dengan dia satukan tubuh itu sempurna. Cukup kasar dan tak beri sikap bertele-tele karena dia pikir itu hanya akan membuat waktu tak terasa nyaman ditapaki.

"Bo-boiboy aawww" tak ada jeda untuk memberi belas kasih saat seperti sekarang.

Kala penyatuan secara cepat itu dilakukan, tangisan perih serta alunan bernada kenikmatan sudah tercipta secara bersamaan. Yaya yang mengalunkan nada sakit tetap tak bisa menolak jika rasa nikmat adalah hal yang dia rasakan setelahnya. Mendapat ciuman dari suaminya ketika pergumulan itu terus berlanjut membuat rasa sakitnya sedikit hilang.

Boboiboy memaju mundurkan pinggulnya saat dia sudah merasa tempo yang harus dirinya lakukan adalah cepat. Tak dia pedulikan napasnya yang terengah ditambah keringatnya yang bercucuran, lelaki itu tetap menikmati tubuh istrinya dengan penuh gairah. Beberapa kali Yaya lengkungkan punggungnya ke depan dengan dadanya yang naik turun. Di beberapa aksi itu terlihat maka dia memang yang paling sering menapaki titik kenimatan. Sedangkan Boboiboy, dia justru semakin memasuki tahap yang semakin membabi buta dari sebelumnya.

"Boboiboy…."

"Sebentar lagi, sayang" selaannya dia lakukan bersamaan dengan ciuman-ciuman nakal di derah dada istrinya. Tubuhnya masih menyatu dan pinggulnya masih bergerak maju mundur. Dan tangannya tetap sesekali beraksi meremas gundukan kembar istrinya.

Mungkin sudah lebih dari satu jam dan racauan semakin terdengar tak karuan. Kondisi ranjang sudah sangat tak beraturan. Belum lagi decitan alat tidur itu adalah salah satu pelengkap pergumulan dua insan yang kini tengah menikmati malam panjang mereka yang sebutlah sebagai malam pertama.

Temponya semakin Boboiboy percepat dan dada Yaya semakin bergerak-gerak hebat seiring dengan gundukan kembarnya yang bergoyang akibat hentakan penuh emosi serta gairah dari Boboiboy.

"Kau lelah?" Boboiboy sedikit terkekeh dalam usahanya yang sudah akan mencapai puncak kenikmatan. Kepala istrinya mengangguk namun erangannya menandakan jika wanita itu justru seolah sangat menikmati hal ini dan tak ingin ini berakhir.

"Malam ini sangat indah. Terima kasih, sayang"

Tepat saat kalimat itu dia ucapkan, Boboiboy juga turut tapaki puncak kenikmatan yang sudah sedari tadi dia buru dengan begitu semangat. Tubuhnya terhempas pelan di atas tubuh istrinya dan sekarang dadanya sama-sama bergemuruh seperti Yaya.

Boboiboy angkat secara perlahan tubuhnya dan dia keluarkan adiknya dari daerah intim Yaya . Raut sedih sedikit tercipta saat dia dapati setitik darah di sana. Boboiboy segera raih kembali tubuh Yaya yang terkulai lemas kemudian dia peluk dengan erat. Perasaan bahagia dia rasakan setelahnya.

"Perlu kau dengar secara berulang kali jika aku sangat amat mencintaimu, Yaya" katanya dengan diikuti kecupan ringan di puncak kepala istrinya "Terima kasih telah menjaganya hanya untukku. Aku sangat bahagia"

Yaya balas memeluk suaminya dengan erat. Dia rasakan hangat kala wajahnya beradu secara bebas dengan dada suaminya yang masih berkeringat dan detak jantungnya masih bertalu tidak pada tempo yang benar. Yaya balas tersenyum dengan mata sedikit terpejam.

"Aku juga mencintaimu. Terima kasih untuk malam ini, suamiku" sambutnya seraya mengecup kilat dada Boboiboy "Malam yang panjang. Malam yang sangat indah. Malam yang tak pernah bisa aku lupakan seumur hidupku"

"Aku mencintaimu"

Mereka terkekeh bersamaan kala ucapkan pengakuan cinta itu secara serempak. Boboiboy eratkan pelukannya. Selimut tebal sudah lebih dulu dia tarik untuk menutupi tubuh polos mereka. Dia pejamkan ke dua matanya.

"Tidurlah. Besok kita akan banyak melakukan aktivitas. Tempat ini mempunyai banyak tempat yang akan sangat rugi jika dilewatkan begitu saja"

"Hmh…aku tahu. Baiklah, kita tidur sekarang"

"Hmh..selamat tidur, sayang…mimpikan hal indah bersamaku"

"Hahaha tentu. Kau juga, lakukan hal yang sama"

"Hemh…" Yaya tersenyum dalam tidur .