Napasnya masih terasa ngos-ngosan. Hatinya cukup dapat rasakan debaran kala dia ingat jika beberapa saat yang lalu telah melakukan kegiatan menyenangkan bersama suaminya. Dia, Yaya , langsung baringkan tubuhnya di atas ranjang dengan sangat kuasa. Tubuhnya terlentang seraya ia ukir senyum manis sambil memandang berbinar langit-langit kamarnya.
"Bagus! Setelah membuatku basah kuyup hingga hampir mati kedinginan, si pembuat ulah malah tengah enak-enakan berbaring terlentang seperti itu! Ck!"
Ocehan ringan yang menerjang pendengarannya ditanggapi senyum ringan. Yaya menolehkan wajahnya dan saat itu pula, dia tengah dapati suaminya sibuk mengobrak-abrik isi lemari. Satu handuk berwarna putih menjadi sasaran. Dilihatnya, sang suami nampak mengeringkan rambutnya dengan bibir masih komat-kamit. Yaya tergelak sesaat.
"Aigoo" lenguhnya pelan "Si pembenci Topi sedang marah rupanya" tubuhnya beranjak. Yaya langkahkan ke dua kakinya kemudian menghampiri Boboiboy , sang suami.
"Begitu saja marah. Kekanakan!" omelnya ringan kemudian rampas handuk yang dipakai Boboiboy. Mengambil alih handuk tersebut kemudian bergati dirinya yang mengeringkan rambut pria itu.
"Salahmu" katanya masih santai "Berani-beraninya menciumku di depan semua orang sehingga membuat mereka semua tertawa. Alhasil, mendorongmu sampai terjatuh ke air laut adalah yang terjadi"
Yaya terus berikan kekehan ringannya saat sang suami masih berikan decakannya karena terlalu sebal. Jatuh hingga basah kuyup karena didorong begitu kuat sungguh membuatnya sangat malu. Yaya melakukannya dengan tanpa sadar namun nyatanya wanita itu malah tertawa terpingkal-pingkal melihatnya demikian. Bukannya membantu, Yaya malah meninggalkannya dengan gelak tawa pengunjung pantai yang pasti puas mengolok-oloknya yang nampak sangat terlihat bodoh. Sialan!
"Di mana-mana, sepasang kekasih wajar saja jika berciuman. Terlebih kita berdua sudah menikah. Bercinta di muka umum tidaklah masalah"
Erangan keras harus dia lakukan ketika jambakan Yaya lakukan di rambutnya. Boby meringis merasa sebagian rambutnya seakan ingin rontok seketika ketika penganiyayaan itu dia dapatkan. Yaya mendengus kasar di tempatnya. Otak serta mulut suaminya memang tidak ada bedanya. Sama-sama mesum dan seenaknya. Keterlaluan!
"Masih mau berbicara setelah ini, huh?" maki Yaya seraya ia lempar handuknya "Mandilah, kalau perlu rendam seluruh tubuhmu dengan deterjen agar bersih dan steril dari hal-hal berbau mesum!"
"Kau kira aku pakaian?"
"Terserah!" sungut Yaya beri sahutan "Kau memang harus direndam atau perlu dikucek hingga bersih agar tidak menyisakan noda sedikitpun. Ah, tambahkan juga pemutih supaya benar-benar bersih!"
"Yak!"
