"Kau bahkan cemburu saat aku bertanya tentang hal sepele seperti ini. Manis sekali…"

"Aku tidak cemburu…"

Ia diam sejenak kemudian menyampirkan rambut yang menutupi dahi ke telingaku.

"Meskipun aku menemui dewi tercantik sekalipun, bagiku kau tetap yang paling sempurna"

Aku benar-benar sudah tidak tahan dengan semua godaan yang ia lontarkan padaku jadi aku memilih menciumnya lebih dulu, merasakan bibirnya membalas setiap lumatan di bibirku. Bibirnya menyentuh setiap sisi bibirku memastikan aku merasakannya dengan sempurna.

Aku terengah-engah saat ia melepaskan tautan bibir kami. Ia menatap mataku dengan sayu dan bibirnya yang setengah terbuka menarik udara sebanyak-banyaknya. Aku tidak tahu apa yang ia fikirkan karena sekarang ia tengah menggigit bibirnya dan menatapku tajam.

"Aku ingin melihatmu…"

Dengan bersusah payah aku menelan air liurku. Meskipun kami sudah melakukannya tapi ia tidak benar-benar melihatku karena kemarin aku menutup matanya. Ia bangun dari posisi menindihku dan duduk di hadapanku. Aku benar-benar gugup saat tangannya memegang ujung kaos yang aku kenakan, menarik dengan sangat pelan dari kepalaku. Ia menghembuskan nafasnya berat saat ia menatap tubuhku, aku tidak mengenakan apapun di balik hoodieku karena aku hanya memiliki beberapa pasang bra dan panty yang hari ini aku cuci semuanya. Aku mengepalkan tanganku merasa malu karena ia masih menatap tubuhku.

Matanya kembali pada mataku saat ia mengecup salah satu punggung tanganku. Aku merinding saat bibirnya menyentuh telapak tanganku kemudian menjilat ibu jariku. Shit… aku bahkan hampir mengeluarkan suara aneh saat ia menghisap salah satu jariku.

"Aku menyukai setiap hal pada dirimu"

Suaranya rendah di rahangku sebelum ia mengecup pelan dan turun menuju leherku. Aku hampir saja kehilangan nafasku sejalan dengan ia yang terus turun menuju dadaku.

"Hng…"

Ia menghisapku di sana dan salah satu tangannya meremas dadaku yang lainnya. Lidahnya berputar pada seluruh bagian payudaraku dan aku terhempas pada bantal tak sanggup menahan sensasi luar biasa yang ia hasilkan. Bibirnya turuk ke perutku dan terus menuju pinggangku, meninggalkan bekas di setiap bagian yang ia lewati. Aku meremas kuat seprai merasa sangat gugup saat bibirnya mengecup sisi bagian dalam pahaku dan kakiku , tidak benar-benar menyentuhku di sana dan hal ini membuatku frustasi.

"Sabar Yaya… kita tidak buru-buru…Wow ini pertama kali aku akan buat orgasm kamu dengan lidahku"

Ia membuka lebar pahaku, mengekspos tubuhku di depan wajahnya dan aku hanya bisa berbaring tidak tahu harus bagaimana, menatap langit-langit apartemen dengan gugup.

"Mhhh….Seharusnya aku lebih fokus area ini Yaya supaya kau tidak melupakanya"..Ucap Boboiby sambil tersenyum jahil

Ia menghembuskan nafas beratnya di sana dan berhasil membuatku merinding.

" Kau sudah sebasah ini, aku bahkan belum benar-benar menyentuhmu…Bersiap sedia sayang"..

1…2…3…

Sebuah jilatan besar membuat aku membulatkan mataku sambil berteriak keras saat aku merasakan lidah lembutnya di sana.

"Ahhh… Boboiboy …"

Aku meremas kuat rambutnya saat lidahnya menggoda seluruh organ seksku. Shit!!!! Maaf aku tercarut.

"Hnggg….Faster…"

Ia menggerakkan lidahnya lebih cepat di dalam tubuhku sambil memegang erat pehaku.Fuck it! aku lebih baik menjadi manusia asalkan aku bisa selalu merasakan semua kenikmatan ini.

"Hhahh..Aku tak sangka rasanya akan begini Yaya"

Gelombang kenikmatan menghempaskanku dan aku terbaring terengah-engah sementara Boboiboy sibuk membersihkan wajahnya yang terkena cairan milikku. Ia tersenyum nakal sebelum melepaskan semua pakaiannya dengan terburu-buru.

"This time… I'm the leader of the show…"

Aku terkejut saat ia mengangkat tubuhku dan memaksaku menghadap pada cermin di salah satu lemari di kamar ini.Fuck!Apa ini? Aku bahkan sudah mengeluarkan terlalu banyak carut marut dunia hanya dalam hitungan menit. Di langit aku pasti sudah di hukum. Aku tidak tahu apa yang ia lakukan karena sekarang aku menatap pantulan bayangan diriku tanpa sehelai benangpun dengan Jimin berada di belakangku.

Aku tak bisa menahan rasa malu yang membuatku tak berani menatap cermin besar itu. Bibir Boboiboy menyentuh bagian bawah telingaku dan aku terkesiap saat tangannya bergerak di dadaku.

"Aku ingin melihat wajahmu dan aku ingin kau melihatku saat aku menyentuhmu"

Apa dia sudah gila? Aku bahkan tidak berani mengangkat kepalaku sekarang. Ini sangat memalukan…

"Boboiboy… ini sangat memalukan"

Ia menarik daguku dengan salah satu tangannya dan memaksaku mengangkat wajahku, menyaksikan ia menatapku di sana dengan wajah hornynya.

"Ini menyenangkan…"

Tangannya berhasil menarik perhatianku, aku ingin mengalihkan pandanganku tapi aku bahkan tak bisa menggerakkan bola mataku dari tangannya yang bergerak pelan turun menuju perutku. Aku menggigit bibirku keras saat jarinya menyentuhku di sana dan aku menatapnya dengan mata kepalaku sendiri mengirimkan sensasi tidak biasa ke seluruh otak dan perasaanku. Aku tidak pernah mengetahui sisi Boboiboy yang seperti ini, aku tahu dia sangat pervert tapi aku tak menyangka dia akan melakukan hal semacam ini.

"Hah…."

Matanya menatapku tajam saat dua buah jarinya bergerak keluar dan masuk dengan sangat pelan.

"Bo..boiboyhhh…"

"Kau sangat nikmat Yaya , sungguh aku menyukai tubuhmu…"

Aku memegang erat pahanya yang berada di kedua sisi tubuhku, merasa tak sanggup menahan semua kenikmatan ini.

"ahh…"

Saat aku benar- benar sudah dekat, ia berhenti dan aku memperhatikan setiap gerak geriknya di belakangku. Ia mengangkat tubuhku perlahan dan menurunkan ditubuhnya menghasilkan lenguhan hebat dari kami berdua. Ia memposisikan diriku agar ia benar-benar masuk sangat dalam menyentuh bagian terdalam tubuhku.

"Ahhhhh...hhh,Walaupun banyak kali aku masuk tapi masih ketathh.

Dan tubuhku bergerak hebat menghempas pada tubuhnya bertumpu pada kedua pahanya. Pergerakanku semakin cepat saat ia memegang pinggangku memaksaku berpacu sesuai dengan harapannya.

"Nggghhh…."

"Ah…ah…agh…"

"Boboiboyhh…."

Rasanya seperti ribuan bintang berputar di kepalaku dan mataku berkunang-kunang. Apa ada hal semacam ini? Kenapa kemarin rasanya tidak seperti ini? Aku menatap wajah Boboiboy pada pantulan cermin berharap aku tidak membahayakannya karena aku bisa merasakan aliran auranya ke tubuhku, ia sedikit pucat dan keringat mengalir deras di wajahnya tapi tak memperlihatkan tanda-tanda ia merasa sakit atau tersiksa. Justru kebalikannya, matanya menatap sayu pada bagian tubuh kami yang saling menyatu, sesekali ia menggigit bibirnya meredam lenguhan di tenggorokannya, tak jarang ia tak mampu menahan erangannya dan mengeluarkan suara erotis di telingaku, dan saat suara itu melesat keluar dari bibirnya, aku terpesona dengan ekspresi seksinya dengan bibir setengah terbuka.

Hah… hha….ha…"

"Nggggghhhaaaaaaahhhh"