Halo, Mary
Perkenalkan, namaku Jack. Aku adalah penggemar beratmu. Sejujurnya, aku bukanlah orang yang tertarik dengan dunia fashion maupun modelling. Namun setelah melihat fotomu menjadi sampul salah satu majalah yang tak sengaja kulihat di toko buku bulan lalu, aku merasa dunia itu tidak buruk juga.
Aku mengikuti semua tentangmu. Aku mengikuti semua sosial mediamu, memantau semua berita tentangmu, menjadi anggota dari klub penggemarmu, membeli semua majalah, tabloid, maupun koran yang terdapat wajahmu di salah satu halamannya, dan membeli barang yang kau iklankan. Aku bahkan mengetahui semua jadwalmu. Aku selalu mengikutimu secara diam-diam ke lokasi shooting ataupun pemotretanmu. Kau penasaran bagaimana aku bisa mengetahui itu semua? Tentu saja membelinya dengan uang. Dari siapa? Salah satu asistenmu yang mau menjual jadwalmu padaku. Tidak murah, tapi jika hal itu dapat membuatku lebih dekat denganmu, tentu saja akan kulakukan.
Untuk masalah tambatan hati, aku tau kau tidak memilikinya. Kau memang sering digosipkan memiliki hubungan istimewa dengan beberapa pria, baik itu dari dunia modelling maupun artis. Tapi kau selalu menampiknya. Mengatakan kepada media bahwa berita itu tidak benar. Menjelaskan bahwa hubungan kalian hanya sebatas teman dan rekan kerja. Aku senang mendengarnya.
Hingga hari itu tiba. Aku mendatangi konferensi pers yang agensimu adakan pada tanggal satu Desember lalu. Mengaku kepada para penjaga sebagai cameraman dari salah satu stasiun televisi swasta. Untung saja mereka bodoh, tidak menyadari bahwa tanda pengenal yang kugunakan adalah palsu sehingga aku bisa masuk dengan mudah.
Aku melihatmu duduk di kursi bagian tengah dari meja konferensi pers itu. Disebelah kirimu sudah sangat jelas adalah manajermu dan disebelah kananmu adalah pria yang tidak kukenal. Aku bertanya-tanya siapa dia. Mengapa ada pria asing yang berani sekali duduk disebelah wanita pujaanku?
Konferensi pers dimulai. Manajermu menjelaskan bahwa kau akan menikah dengan pria disamping kananmu itu. Kau membenarkannya. Kau mulai mengenalkan pria itu kepada awak media. Namanya Joseph Desaulniers, seorang fotografer. Kau berkata sudah berkencan dengan pria itu selama lima tahun secara diam-diam dan pada tanggal empat belas Februari nanti, kalian memutuskan untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih serius.
Terkejut, sangat terkejut. Aku memang mengetahui segalanya tentangmu, tapi tidak yang satu ini. Hal sebesar ini ternyata luput dari perhatianku. Dan aku tidak terima. Kau milikku, Mary, milikku. Tidak ada orang lain yang boleh memilikimu selain aku. Lagipula dia tidak cocok denganmu. Kau sangat cantik dan anggun. Tapi lihat dia, terlihat tua dan menyeramkan. Kau dan dia bagaikan langit dan bumi, Mary. Tidakkah kau menyadari hal itu? Aku tau kau pasti tidak menginginkan ini. Pernikahan ini pasti adalah rencananya untuk menjebakmu. Tenang saja, aku akan menyusun rencana agar kau tidak masuk dalam perangkapnya.
Tanggal tiga belas Februari aku putuskan untuk melaksanakan rencanaku. Aku sudah memikirkannya selama sebulan penuh dan aku merasa tanggal itu merupakan saat yang tepat. Aku mengirim pesan yang mengatakan bahwa Joseph, calon suamimu itu, memintamu datang ke taman kota pukul sepuluh malam. Aku tahu pukul sepuluh malam adalah saat dimana orang-orang di rumahmu sudah terlelap. Aku menambahkan bahwa ponsel pria itu kehabisan daya sehingga dia meminjam milikku agar dapat menghubungimu. Tak lama kemudian, aku mendapat pesan balasan darimu yang berisikan bahwa kau akan segera datang.
Alasanku memilih taman itu sebagai tempat kita bertemu adalah karena jaraknya yang dekat dengan rumahmu, sehingga dapat dipastikan kau akan datang kesana seorang diri. Aku sudah ada disana sejak pukul sepuluh kurang lima belas menit dan lima belas menit kemudian, kau muncul. Tepat waktu sekali. Kau datang dengan gaun putih bersih yang melekat pas ditubuhmu. Bertanya dengan kebingungan padaku, mencari keberadaan Joseph. Maaf, Mary, tapi pria brengsek itu tidak ada disini.
Pembukaan rencanaku hanya berlangsung kurang dari lima menit. Hasilnya? Kau dengan lubang tusukkan didadamu dan aku dengan pisau yang berlumuran darahmu. Ah, Mary, lihat dirimu sekarang. Gaun putih itu memang membuatmu tampak cantik, tapi gaun berwarna merah ternyata membuatmu terlihat sangat anggun. Aku tersenyum, kemudian menggendongmu. Membawamu dengan hati-hati ke mobilku yang terparkir tidak jauh dari sana. Aku mulai memacu mobilku dengan kecepatan sedang. Membelah langit malam kota London dengan kau yang berada di kursi belakangku.
Perjalanan menuju rumahku memakan waktu tiga puluh menit. Asal kau tau, aku sudah menyediakan tempat khusus untukmu. Sebuah peti yang akan menjadi satu-satunya tempatmu beristirahat setibanya di rumah ini. Kutidurkan kau didalam sana. Peti cantik yang mempunyai suhu minus 20 derajat Celcius ini pasti mampu menjagamu tetap cantik sampai kapanpun juga.
Mary, hidup berdua denganmu adalah hal yang sangat aku impikan selama ini. Dan sekarang aku bahagia karena dapat mewujudkannya. Mulai saat ini, kau dan aku tidak akan terpisahkan sampai kapanpun juga. Sebenarnya aku masih ingin berbincang lebih banyak denganmu. Tapi malam sudah semakin larut dan ini merupakan waktu bagiku untuk beristirahat. Aku akan menutup peti ini dan kembali ke kamarku.
Sampai jumpa besok pagi dan selamat malam, Mary.
- Selesai -
.
.
.
Hehehe halo. S-s-serius tadinya mau bikin komedi. Tapi jadinya begini. Hehehe maafkan. Ini pertama kali aku bikin fanfiction di fandom Identity V. Semoga suka ^^ Fanfiction ini ku dedikasikan kepada dua sejoli di square Identity V (Ur Trap Husbu UwU dan Ur Trap Waifu) mohon maafkan saya jika hasilnya mengecewakan dan tidak sesuai ekspektasi kalian :")
VChoco
19 Maret 2020
