Normal POV

Ketika waktu menunjukkan pukul empat pagi, orang itu mendadak terbangun.

Kedua mata biru bagai hamparan langit mengerjap, membiasakan diri dalam gelap. Hening antara malam membuat dirinya paham lebih cepat. Ia mengubah posisi menjadi terduduk, bantal digunakan sebagai sandaran punggung. Ia menoleh ke kanan, menampakkan jendela besar dalam kondisi terbuka. Tirai berkibar pelan-pelan, memberikan afeksi mengenai fakta bahwa malam itu merupakan kebenaran.

Kuroko Tetsuya berada di sana, terdiam dengan tubuh dibungkus oleh selimut tebal.

Dia mendelik ke atas, merendah. Hari ini pun, langit tidak menampakkan bintang.

Wajah pucat menoleh ke meja nakas. Ia menyalakan lampu kecil sebagai bentuk penerangan. Ponsel putih tergeletak tanpa makna, terdiam dalam kondisi gelap. Tetsuya bergerak, mengharapkan sebuah pendapat. Ketika layar ponsel menyala, ia pun terdiam. Kedua mata sempat bergetar, dingin, hampa.

— tidak ada pesan, tidak ada panggilan; harapan terlihat pupus begitu saja.

Piyama kebesaran berwarna biru dengan kain yang begitu mahal dan lembut tampak menghiasi tubuhnya yang kecil namun cukup berisi. Pemuda itu berdiri, membiarkan selimut kasur terjatuh dari samping, berjalan menuju dapur dan mengambil segelas air.

Tetsuya meletakkan gelas itu di atas meja. Iris biru miliknya tetap menunjukkan sorot datar, seolah di dunia ini tidak ada yang mampu membuatnya bahagia.

Ia melirik ke ruang tamu, di mana kalender gantung berada dan mampu menampar dirinya begitu kalut.

Hari ini, tanggal 01 Februari.

Tetsuya mengerjapkan mata berkali-kali, berusaha untuk menghalau sesuatu yang ingin mengalir.

.

.

CAN YOU HEAR ME

Kuroko no Basuke by Fujimaki Tadatoshi

Can You Hear Me by stillewolfie

Akashi S. & Kuroko T.

OOC, alternate universe, typos, etc.

.

.

Dedicated for Kuroko Tetsuya's Birthday (January 31th) on 2020

.

.

Kuroko Tetsuya melirik jam, sudah pukul setengah lima pagi.

Ia mengenggam erat ponsel putih pemberian seseorang tiga tahun yang lalu. Ia mengambil selimut, membungkus tubuhnya di depan jendela besar di dalam kamar yang telah ditempati selama lima tahun. Ia terduduk di atas lantai yang dingin, merenungi sesuatu. Kebimbangan dapat terlihat di sana; ketidakyakinan, kekecewaan, kehampaan.

Tetsuya ingin menyerah. Namun ia sadar, hal itu tidaklah semudah membalikkan telapak tangan.

Karena itulah, Tetsuya menekan sesuatu di layar ponsel dan meletakkan benda itu ke telinga kanan; berharap respon dari sang lawan bicara.

Pip.

— sebuah tanda bahwa sambungan tidak lagi terputus.

"Ini aku."

Tetsuya mengerjap, pandangan tetap datar. Ia sama sekali tidak berharap akan jawaban ketus—menurutnya—yang seolah dapat mencairkan balok es dari kutub utara.

"Akashi-kun." Tetsuya tersenyum tipis, ia berusaha mengatur suara agar tidak terdengar sedih. "Maaf mengganggu. Apa kau sibuk?"

"Ya." Pemuda manis berambut biru sempat menahan napas, menghalau perasaan bersalah yang perlahan muncul di dalam dada. "Kau tahu di sini belum malam, Tetsuya."

"Maafkan aku." Udara menghantam telapak tangan yang tidak terbungkus apapun. Mata biru sibuk menatap langit hitam yang mulai menampakkan semburat jingga. "Aku hanya merindukanmu."

Tidak ada jawaban. Lama. Tetsuya menunggu jawaban. Namun tetap, rasanya sangat lama.

"…aku juga merindukanmu."

— dua belas detik, apakah selama itu jika harus menjawab kalimat yang biasa digunakan oleh sepasang kekasih?

Tetsuya terkekeh pelan. "Benarkah? Aku tidak yakin."

"Apa maksudmu?"

"Tidak. Maaf, aku hanya bercanda."

"Aku baru tahu kau suka bercanda, Tetsuya."

Tetsuya menutup kedua mata. Ia mencoba untuk meresap segala kalimat yang baru saja dilontarkan oleh kekasihnya, Akashi Seijuurou, yang saat ini sedang bekerja di London. Entah pekerjaan macam apa yang pria itu lakukan, ia tidak mau terlalu memikirkan. Saat ini, biarlah Tetsuya menikmati apa yang telah terjadi antara dirinya dan Seijuurou.

"Pukul berapa sekarang?"

"Hm?"

"Di sana," Tetsuya bersabar, ia paham bahwa Seijuurou tak berfokus kepadanya. Pemuda itu sedang melakukan sesuatu dan lain hal. "Pukul berapa, Akashi-kun?"

"Pukul lima sore." Tetsuya dapat mendengar bahwa ada getaran heran dari suara Seijuurou. "Kenapa tiba-tiba bertanya hal yang tidak penting seperti itu?"

Tetsuya mengeratkan selimut. Udara pagi mulai masuk dari celah jendela, memberikan kesan hangat tiada tara. "Aku hanya ingin memastikan kalau di sana hari ulang tahunku belum berakhir."

— kemudian, dunia mendadak hening.

Tetsuya tersenyum; tidak tipis, tidak lebar—senyuman khas miliknya, sederhana. Ia menangkap ada keraguan. Ia merasakan ada kepanikan. Ia tahu bahwa Seijuurou sedang memutar otak untuk menutupi kesalahan. Ia menghela napas begitu dalam, berusaha agar tetap tenang.

"Tidak apa-apa, aku tahu kau sibuk." Tetsuya menyelesaikan kejanggalan tersebut dengan penuh makna, tenang namun tetap mengena. "Jangan dipikirkan, Akashi-kun."

"…maaf."

— kata yang tidak perlu; tanpa diminta pun, dia sudah dimaafkan dari dulu.

"Sudah makan?" Tetsuya mengelus perutnya. Ia hampir lupa bagaimana perasaan lapar itu. Ia tidak tahu kapan terakhir dia makan, setidaknya dirinya harus mengingatkan sang terkasih untuk mengatur nutrisi dalam badan. "Meski jadwalmu sibuk, kau harus makan. Aku tidak mau Akashi-kun sakit."

Telinga dapat mendengar suara kekehan, terkesan geli namun membuat segan. Tetsuya mencoba untuk tersenyum. Ia berusaha untuk terdengar bahagia.

"Aku baik-baik saja. Aku makan dengan baik."

— sangat berkebalikan dengan dia yang menderita di sini.

"Itu bagus," Tetsuya menjawab. "Aku senang kau selalu sehat."

"Terima kasih, Tetsuya."

— dia menunggu, namun orang itu sama sekali tidak bertanya apakah dia sudah makan atau belum.

"Akashi-kun," Tetsuya memanggil, jari memainkan ujung selimut dengan kepala berpikir. "Aku benar-benar merindukanmu."

"Kau sudah mengatakan hal itu," Hela napas dapat terdengar. Tetsuya ingin melanjutkan perkataan, namun keabsolutan membuat segalanya menjadi bungkam. "Aku tahu perasaanmu. Tapi, aku tidak bisa pulang dalam waktu dekat."

Kali ini, Tetsuya tidak mampu bersuara.

— tidak, orang itu tidak tahu bagaimana perasaannya saat ini.

"…Tetsuya?"

Matahari telah terbit dari ufuk timur. Kicauan burung dapat terdengar dari pohon sebelah apartemen milik Keluarga Akashi. Mata biru tampak berpendar; lebih bercahaya, lebih hidup, lebih kosong.

"Sayang, kau masih di sana?"

— sayang mana yang orang itu maksud; dirinya, atau selingkuhannya?

"Ya. Aku di sini, Akashi-kun." Tetsuya telah menjadi aktor yang baik. Dia bertahan untuk tidak membuat suaranya gemetar. Dia tidak ingin membuat Seijuurou cemas. Dia tidak ingin membuat pria itu tahu bahwa dirinya sedang menangis sekarang. "Maafkan aku, rasanya terdengar egois sekali."

"Tidak apa-apa."

Tetsuya menatap matahari yang perlahan menghasilkan terik. Dia pun bangkit, membiarkan selimut terjatuh di atas lantai yang dingin. Udara menghantam tubuhnya, memberikan kesan cinta begitu dalam. Dia tidak lagi memberi senyuman. Dia tidak lagi merasakan bahagia. Yang ada di pikiran saat itu hanyalah sebuah kehampaan.

"Aku harus pergi," Tetsuya berkata. "Di sini sudah pagi. Aku akan membuat sarapan, Akashi-kun."

"Ya. Jaga dirimu baik-baik, Tetsuya." Tangan Tetsuya gemetar, rasanya dia belum siap. "Kalau begitu—"

"Akashi-kun."

— tertahan, dia mencoba untuk bertahan.

— dia ingin orang itu menahannya.

"Ada apa?"

— orang itu terkesan tidak senang.

— akhirnya, menyerah adalah keputusan.

"Aku mencintaimu."

Lagi, keheningan kembali datang.

Tetsuya masih berdiri di tempat, di depan jendela besar dengan matahari yang menghangatkan tubuhnya.

— dia menunggu.

"Aku juga mencintamu."

Tetsuya menghela napas, terkesan lega. "Hubungi aku kalau kau sempat, sampai jumpa."

Sambungan pun terputus, diakhiri oleh Kuroko Tetsuya.

.

.

can you hear me –

.

.

Latar kini berubah. Jika sebelumnya berada di benua asia yang terkenal dengan perbedaan musim dan budaya, maka kondisi sekarang dirimu akan ditempatkan di negeri kerajaan serta beragam keunikan. Di sebuah hotel mewah pusat kota, berdiri seseorang berambut merah tengah menghadap balkon kamar. Akashi Seijuurou berada di sana, terdiam dengan wajah datar, seolah tidak ada apapun yang mampu membuat dirinya panik luar biasa.

"Kekasihmu?"

Tangan berwarna putih mulai memeluk, menari di tubuh atletis milik sang pria dengan perasaan candu. Seseorang telah datang, perempuan; bertubuh ramping, berdada besar. Helai merah muda terkesan lembut dan panjang, begitu cantik sekaligus istimewa. Selimut tipis membungkus tubuh tanpa busana, gumpalan payudara dengan sengaja menekan-nekan punggung penuh otot yang sedang melamun tanpa minat.

"Sepertinya aku harus kembali." Seijuurou berkata. Iris heteromatika tampak merenungi beberapa hal. "Tetsuya menghubungiku. Aku mendengar dari suaranya, dia tampak kurang sehat."

Entahlah, Seijuurou merasa ragu.

"Dia memintamu untuk pulang?" Wanita yang telah menghiasi ranjang Seijuurou siang dan malam itu terkesan tidak rela. Ia menggigit bibir, terkesan tidak suka. "Aku tidak mau Seijuurou-kun pergi."

"Aku tidak bisa pulang dalam waktu dekat. Kau tahu itu, Satsuki." Seijuurou melirik, tersenyum tipis. "Urusanku belum selesai—" Pria itu tiba-tiba berbalik, mengangkat tubuh sang wanita begitu mudah, membuat Satsuki menjerit dalam tawa. "—terutama denganmu."

Momoi Satsuki mengulum senyum, ia melingkarkan tangan pada pria bangsawan yang dingin namun mempesona. "Ternyata Akashi Seijuurou-kun sangat nakal, ya…"

Seijuurou menyeringai tipis, ia mengecupi leher jenjang milik Satsuki. "Aku pasti bertingkah nakal jika berada di depanmu."

Mereka pun berciuman mesra, menggoda, panas. Seijuurou membawa pergi Satsuki ke ranjang dan melanjutkan kegiatan yang tertunda.

.

.

ended

.

.

.

omake

.

.

Pukul sebelas malam, Akashi Seijuurou menerima sebuah pesan.

Akashi, ini aku, Aomine Daiki. Maaf menghubungimu lewat pesan, aku tidak bisa meneleponmu karena kau sedang di luar negeri. Tapi, bisakah sekarang kau pulang?

Seijuurou menerima pesan itu ketika rapat dengan pemilik saham telah selesai. Ia berjalan pergi menuju ruangan diikuti oleh sang sekretaris berambut hitam, Izuki Shun, sembari membalas pesan tersebut dengan cepat.

Ada apa, Daiki?

Ketika pria itu terduduk di kursi kehormatan sembari melonggarkan dasi, ia pun menerima balasan.

Tetsu meninggal, dia melompat dari jendela kamar. Mayatnya ditemukan tadi pagi, sekitar pukul enam. Jadi kumohon, cepatlah pulang.

Aku tahu ini berat. Tapi aku turut berduka, Akashi.

.

.

can you hear me – fin.

.

.

A/N: aku tahu ini telat. tapi selamat ulang tahun untukmu, karakter unik yang menjadi kesayangan dari salah satu fandom tercinta, kuroko tetsuya.

mind to review?