Aku memiliki suatu rahasia yang sangat aku simpan dengan baik. Namun, semuanya berubah kacau semenjak aku bertemu dengan kakak tingkatku disekolah . Memergokiku dikamar mandi sedang memeras air asi yang terus keluar dari gundukan mungil didadaku.
Dan satu lagi, aku sungguh tak menerima keanehan dalam diriku ini, mana mungkin aku yang berstatus sebagai laki laki, memiliki rahim dan kelenjar susu yang terus berproduksi setiap harinya. Ditambah lagi dengan tingkah kakelku itu, semenjak mengetahui rahasiaku ia terus membuntutiku kemanapun aku pergi, bahkan selalu mengancam akan membeberkan rahasiaku ini keseluruh sekolah bila aku tidak menuruti kemauannya, cih! Dasar pemaksa, walau akupun tidak bisa menolak keinginannya sih, atau aku akan dapat masalah bila melawan perkataannya.
Bagaimana jika ku ceritakan awal kisah aku mengetahui semua keanehan dari diriku ini? Jika kalian memaksa, baiklah aku akan menceritakannya, tapi jangan ceritakan keorang lain yah.. Ini rahasia kita berdua, ok?
"Tuan baekhyun adalah seorang pengidap Disorder of sexual development, dan dari data yang saya dapat, rahim yang terdapat pada tubuh tuan baekhyun juga dapat berfungsi dengan baik."
Itu yang dikatakan dokter yang menanganiku waktu itu, aku yang masih berumur 13 tahun, dengan tubuh bergetar, aku duduk mendengarkan dokter tersebut menerangkan apa yang terjadi pada tubuhku ini.
Mungkin dikehidupan sebelumnya, aku pernah berbuat sesuatu yang buruk sehingga Tuhan mengutukku dengan penyakit ini.
Mama yang berdiri disampingku mencoba menenangkanku dengan mengelus bahuku dengan lembut.
"Baekhyunah, tenanglah semua akan baik-baik saja, oke?"
"Mama, tidak bisakah 'itu' dihilangkan dari tubuhku?"
Aku mencoba menggapai lengan ibuku dari pundakku dengan mata berair aku menatapnya memohon. Namun, harapanku kembali runtuh saat dokter itu kembali berbicara.
"Maaf, tapi jika ingin melakukan pengangkatan rahim sunggu dapat mengancam nyawa dari tuan baekhyun sendiri. Kami belum bisa memberi kepastian bahwa pengangkatan rahim dapat berhasil atau sebalikanya."
Itu yang ia katakan, dan aku tak tau lagi harus berbuat apa. Well, akhirnya aku memaksa untuk pulang saja, atau aku akan bertambah gila bila disana terus.
Dari situ pulalah aku tak lagi mau bergaul dengan orang orang disekitarku, lebih memilih menutup diri dari lingkungaku. Aku juga hampir mengalami depresi berat saat itu. Namun, karna kasih sayang ibuku, akupun dapat melalui semuanya.
Lalu pada umurku yang ke 16, masalah kembali menghampiriku seperti tidak ada bosannya, aku tak tau apa yang terjadi tapi dadaku sungguh sakit saat itu, sampai membuatku menjerit kesakitan saat pertama kali mengalaminya.
Sesuatu juga mulai keluar dari pucuk dadaku, berwarna putih, menyebabkan kaos putihku basa luar biasa. Katanya aku mengidap hiperlaktasi, padahal setahuku itu hanya berlaku bagi ibu yang baru saja melahirkan. Aku sungguh down saat itu.
Namun, karna aku tak mau terlihat lemah akhirnya aku mencoba untuk tegar. Setiap satu kali sehari, aku harus memerasnya agar tidak menjadi bengkak dan menyebabkan nyeri yang sungguh menyikasa.
Jadi, begutulah cerita singkat tentang apa yang terjadi pada saat aku mengetahui keanehan tubuhku. Baiklah mari kita kemasa kini, dimana aku yang berdiri didepan wastafel dengan bagian depan seragam terbuka, menampilkan payudara mungilku yang berwarna merah muda.
Sedang tangan masih memegang alat penyedot asi itu yang menampung asiku kedalam botol ukuran sedang. Namun bukan itu sebenarnya yang membuatku tercengang. Namun, pantulan sosok dari kaca didepanku.
Dimana seorang lelaki tinggi yang kuketahui kakak kelasku itu sedang memandangku terkejud namun hanya hitungan detik pandangannya berubah kepadaku. Ujung bibirnya tertarik membentuk seringaian berbahaya.
"Heh? Sungguh pemandangan yang luar biasa, byun."
Aku dengan segera mencabut benda yang masih menempel didadaku itu, lalu mengancing kemejaku dengan tangan gemetaran bukan main.
Namun, saat mencapai kancing teratas, sepasang lengan memelukku dari belakang, menanahan tanganku. Lalu, dilanjutkan dengan hela nafas hangat seseorang menerpa tengkukku, membuat tubuhku merinding bukan main.
"Untuk apa ditutupi, hm? Aku tidak menyuruhmu menutupinya, bukan?"
Dia berbicara dengan pandangan mengarah kekaca yang memantulkan bayangan kami.
"L-lepas Chanyeol."
Namun, bukannya mendengarkan kata-kataku, dia malah mengecupi garis leherku, menjilatnya dengan mata yang tertuju pada kaca, aku melihatnya, saat lidah basa itu menelusuri sisian leherku menjalar ke cuping telinga, membuat sekujur tubuhku merinding bukan main.
Lalu, dilanjutkan dengan tangan kasarnya yang mulai masuk kedalam seragam sekolahku, mengelus perutku dari dalam. Ini pertama kalinya aku merasakan sensasi ini, dan anehnya lagi aku tak bisa menolak, bahkan mencoba untuk melawanpun aku tak sanggup.
Tapi, disaat aku merasakan telapak tangan itu, perlahan naik keatas, aku dengan segera mendorongnya menjauh. Dengan nafas tersengal, aku memandang chanyeol sekilas, lalu berlalu pergi meninggalkannya sendiri disana.
TBC
