NARUTO belongs to Masashi Kishimoto

A/N: AU! Typo(s), and maybe I've made so many mistakes. WARNING! Banyak typo, EYD kecebur got.

Sasuke Uchiha. Kelas 11 IPA 2 di SMA 1 Tokyo. Sudah resmi menjadi ketua OSIS periode 2019/2020. Memang dari awal ia dan wakilnya, Shion, sudah menjadi kandidat terkuat yang digadang-gadang akan menjadi pasangan yang bisa membawa sekolah ke masa kejayaan.

Keduanya sama-sama memiliki otak yang di hampir melewati rata-rata. Sasuke yang langganan menempati tempat nomor satu di atas kursi peringkat umum IPA sejatinya adalah anak kebanggaan para guru. Ia berbakat dalam bidang akademik maupun non-akademik.

Dirinya sudah menjuarai olimpiade matematika tingkat nasional. Juga membawa nama sekolah ke tingkat nasional dalam pertandingan basket. Puluhan kali jadi MVP dalam pertandingan tersebut.

Sedangkan Shion merupakan siswi yang tadinya merupakan wakil ketua ekstrakulikuler PMR, hingga kini ia menjadi wakil ketua OSIS, jabatannya dari wakil PMR tersebut digantikan oleh temannya. Shion juga menjuarai olimpiade ekonomi, dan beberapa kali masuk tiga besar dalam lomba cerdas cermat bersama kedua rekannya, Sara dan Kiba.

Sasuke Uchiha sudah punya pacar? Belum. Tapi kalau orang yang disukai, tentu ada.

Jadi, Sasuke bukanlah lelaki yang akan terpincut dengan pesona gadis yang menjadi teman dekatnya atau karena ia dekat diakibatkan oleh masalah kerja organisasi atau klub dan lain-lain.

Nyatanya Sasuke tengah menyukai seseorang yang tak ia kenal, hanya sekadar ia ketahui namanya.

Ino Yamanaka. Kelas 12 IPA 1 di SMA 1 Tokyo. Juga merupakan salah satu anak kebanggaan para guru karena ia telah berhasil berkali-kali membawa pulang medali emas dengan ikutsertanya Ino dalam olimpiade astronomi. Otaknya yang cair menjadikannya salah satu harta karun sekolah.

Ino Yamanaka adalah satu dari beberapa harta karun sekolah yang berada di angkatannya. Begitu juga dengan Sasuke Uchiha yang menjadi harta karun sekolah di angkatannya.

Sasuke menyukai Ino. Jawabannya, ya.

Namun mereka belum sekalipun terlibat dalam perbincangan. Dibilang, Sasuke hanya tahu nama Ino, tapi ia tak mengenalnya. Palingan ia hanya melihat keseharian gadis itu lewat snapgram-nya. Mereka saling mengikuti di akun Instagram, by the way.

Dan hari ini, adalah hari rapat untuk para petinggi OSIS periode 2019/2020 dengan petinggi OSIS 2018/2019. Yang di mana terdapat Ino sebagai sekretaris 1, dan yang berarti Sasuke akan bertemu Ino, dan mungkin saja bisa menjalin obrolan dari sana.

Walau sedikit terlambat, tapi tak apa. Sasuke tak pernah bermasalah dengan kalimat it is too late now?

Kini ia dan yang lainnya berada di ruang OSIS. Berhadapan dengan sang pujaan hati yang dikaguminya diam-diam.

Di hadapannya, Ino sibuk dengan pulpen dan buku catatannya. Maklum, kerjaan sekretaris.

Di sebelahnya, Shion tengah berbincang dengan Sakura Haruno dan Sasori Akasuna, ketua dan wakil ketua OSIS periode 2018/2019. Entah membicarakan apa, Sasuke masih memfokuskan netranya pada si cantik yang juga tengah fokus menulis.

"Sas," panggil Shion.

"Ya?"

"Ditanya Kak Sasori, tuh. Jangan bengong, lah," omel Shion.

"Kenapa?" Sasuke beralih menatap Sasori.

"Intinya, kalian harus mengembangkan program kerja yang ada dulu, baru membuat proker yang lain," ujar Sasori, matanya beralih menatap Sakura. "Sudahi saja?"

Sakura mengangkat kedua bahunya. "Terserah kau."

"Ya." Sasori bangkit dari duduknya. "Kita akhiri pertemuan ini. Semoga OSIS kalian lebih baik dari tahun sebelumnya. Selamat bekerja." Ia menjabat tangan Sasuke, kemudian Shion, Sara selaku bendahara, dan Hinata selaku sekretaris. Diikuti Sakura di belakangnya yang melakukan hal yang sama dengannya.

"Ino," panggil Sasori. Gadis pirang itu tersentak. Sasori mengerutkan dahinya menatap mata Ino yang sayu. "Jadi daritadi kau tidur?"

Ino tiba-tiba menjadi gugup. Masalahnya adalah kini ia tengah menjadi pusat perhatian orang-orang di ruangan itu. "Loh? Maaf, maaf. Tapi aku sudah mencatat semuanya, kok." Ia berseru panik.

"Mana?" Sasori mendekati si gadis. "Apa inti dari pertemuan kita hari ini?"

Ino makin gelagapan. "Itu ... Sasuke dan yang lainnya lebih baik mengembangkan proker yang ada dulu, baru setelah itu membuat proker lain."

Dalam hatinya, Sasuke langsung seperti tersengat lebah (Ya, Sasuke pernah mengalaminya) kala mendengar namanya disebut dengan lancar tanpa hambatan oleh Ino. Untuk pertama kali dalam seumur hidup, Ino akhirnya menyebut namanya. Biasanya gadis itu hanya akan menyebutnya dalam suatu acara penting, dan itu pun menyebutnya 'Calon Ketua OSIS'.

Sasori manggut-manggut. "Hmm, masih berfungsi ternyata telingamu walau sudah pergi ke alam bawah sadar." Setelah itu ia pergi dari ruang OSIS.

Sakura tak menyusul, ia malah menatap Ino intens. "Kau tidur jam berapa semalam?" tanyanya.

"Jam dua pagi." Ino beranjak dari posisi duduknya. "Ayo kembali."

"Ada apa dengan ekspresimu tadi?" tanya Gaara ketika ia dan Sasuke menyusuri koridor sekolah.

Sasuke meminum sodanya. "Kenapa?"

"Benar-benar," Gaara menggeleng-gelengkan kepalanya. "Benar-benar tak enak dilihat. Untung hanya aku dan Shion yang sadar."

"Memang bagaimana?"

Gaara menggelengkan kepalanya lagi. "Tak bisa dideskrisikan. Ekspresi itu ... jarang orang-orang memiliknya. Dan sepertinya hanya kau yang memilikinya."

"Apa itu anugerah atau kutukan?" tanya Sasuke iseng.

"Bukan keduanya. Sepertinya itu tanda lahirmu yang selama ini tersembunyi." Jawaban Gaara pun makin ngelantur. Keduanya terbawa dalam arus topik yang tak jelas ke mana arahnya. Kadang membicarakan kucing milik Naruto yang hamil di luar nikah, sampai pada topik siapa wanita yang akan Kakashi–guru matematika–nikahi.

"Permisi." Gara dan Sasuke menghentikan langkahnya saat mendengar suara seorang gadis di belakang mereka. Keduanya langsung menoleh ke arah belakang.

"Ya?" Gaara yang pertama kali bersuara.

Sedangkan Sasuke, ia tak sanggup mengeluarkan suaranya. Rasanya seperti tertahan di dalam tulang leher. Di hadapannya kini ada Ino Yamanaka yang tengah membawa sebuah macbook yang direngkun di depan dada. Tak lupa ia menggunakan kacamata. Juga tiba-tiba ada jaket berwarna navy yang tersampir di pundak gadis itu.

Oh, sejak kapan Ino punya macbook? Setahunya, kakak kelasnya itu memakai laptop HP andalannya yang berwarna hitam. Sejak kapan pula Ino memakai kacamata? Yang Sasuke tahu, Ino tak memiliki masalah apa pun terkait penglihatannya. Omong-omong, ia tahu ini saat tak sengaja melihat hasil tes kesehatan Ino di ruangan suster. Sejak kapan pula Ino memakai jaket navy seperti itu? Sasuke kira Ino pernah mendeklarasikan ia tak suka warna navy karena menurutnya warna itu tidak netral, maksudnya, tidak masuk dalam biru, juga hitam.

"Kalian lihat ... ummm ... Naruto, atau ... Menma?" cicitnya.

"Naruto?" gumam Gaara. Ino mengangguk. "Kurasa ia berada di kantin, bersama Menma dan Kiba."

"Oh? Terimakasih, Gaara!" pekik Ino.

"Kak," panggil Sasuke. Ino menoleh. "Kau mau menghampiri mereka?" tanyanya. Ino kembali mengangguk.

Gaara melirik Sasuke dengan tatapan curiga. Ada apa gerangan temannya bertanya seperti itu tiba-tiba? Mau ngajak bareng, eh?

"Dengan kita saja."

Nah, kan ...

Ino tanpa pikir panjang langsung mengiyakan. Dan setelahnya mereka bertiga berjalan beriringan menuju kantin. Sasuke dan Ino yang berada satu langkah di depan Gaara, sedangkan lelaki rambut maroon itu hanya menatap jengkel pada Sasuke yang meninggalkannya.

Namun beberapa detik setelahnya, Gara menyadari sesuatu yang tak pernah ia duga selama ini.

Sasuke menyukai Ino.

Sesampainya di kantin, Ino segera berlari menghampiri orang yang dicarinya tadi. Ia langsung menaruh macbook yang dibawanya di meja dan memukul Naruto pelan.

"Aku mencarimu ke mana-mana, menghubungimu lewat semua akun media sosialku bahkan sampai ke panggilan biasa, tetap tak mendapat jawaban, malah operator yang menjawab," gerutu Ino.

Naruto terkekeh. " Handphone-ku mati. Kenapa tidak kauhubungi saja Menma?"

Ino mendelik. "Aku tidak sempat kepikiran menghubunginya."

Sasuke dan Gaara duduk di sebelah Naruto. Berhadapan dengan Ino dan menma yang tetap sibuk dengan laptop hitamnya.

Dengan cepat Sasuke sadar bahwa; sejak kapan Menma memakai laptop HP berwarna hitam? Bukankah yang ia pakai adalah macbook? Matanya melirik ke macbook yang tadi dibawa oleh Ino. Ia mengangguk pelan sekali. Mengerti bahwa mereka mungkin bertukar untuk sementara.

"Hoi, Teme!" panggil Naruto dengan nada sewot. Sasuke menjawab dengan lirikan sinis.

"Ciee semoga bisa menjadi ketua OSIS yang baik dan benar, ya! Pasti sulit mengatasi orang semacam aku apalagi anak kelas duabelas yang sering melanggar."

Menma berhenti fokus pada laptopnya. "Maksudmu apa, ya?" tanyanya sinis pada sang adik.

"Hehehehe." Naruto hanya memberikan cengirannya sebagai jawaban bahwa ia hanya bercanda.

"Menma," panggil Sasuke.

"Yo?"

"Turnamenmu ... kapan?" tanyanya.

Menma melirik ke arah kirinya, terlihat berpikir. "Kira-kira satu minggu lagi."

Sasuke dan Gaara mengangguk-anggukkan kepalanya. "Kau tidak akan pernah membuat sekolah kecewa, kan? Apalagi sudah berkali-kali berada di satu besar tingkat nasional," ucap Gaara.

Menma mengangkat bahunya. "Tak ada yang tahu kapan aku akan tersandung."

"Mulutmu, ya!" geram Ino tiba-tiba.

"Kenapa?"

"Minta dijahit! Agar tak selalu menjawab seperti tadi."

"Lho? Memang benar, kan?" Menma menyadari perubahan dari penampilan Ino. "Oh, wow. Sejak kapan kau pakai kacamat dan jaket itu?"

Ino melirik ke bawah dengan dahi mengerut. Kemudian menatap Naruto yang duduk di hadapannya. "Ini milik Menma yang ketinggalan di perpustakaan," jawabnya santai sambil melepaskan kacamata dan jaketnya, kemudian menaruhnya di meja.

"Pantas saja aku merasa seperti ada yang janggal saat melihat ke arah laptop. Nyatanya kacamataku hilang."

"Bukan hilang, tapi ketinggalan," sanggah Ino. "Cepat pakai."

Menma meraih kacamata tersebut dan memakainya.

Sasuke melihat interaksi keduanya yang begitu dekat. Dari cara Ino menatap Menma, begitu juga sebaliknya. Apalagi dari cara Ino berbicara pada kakak sulung Naruto tersebut.

Gaara yang sadar akan atmosfer pada teman pantat ayamnya melirik ke arahnya. "Sas."

"Hn."

"Tak apa."

"AAAAAHH!" Menma tiba-tiba berteriak frustasi sambil mengacak-acak rambutnya.

Naruto yang sedang minum langsung tersedak mendengar teriakan yang sarat akan pilu keluar dari mulut kakaknya. "KENAPA, SIH?! KAGET TAHU!"

"Laptopnya mati!"

"Sudah kubilang, kan. Kalau mau pakai sambil di-charge," sahut Ino kalem. Ia menggeser laptop tersebut dan menaruh macbook di hadapan Menma. "Sudah kusambungkan dengan google drive-mu di sini. Jadi tidak akan terhapus."

Menma berhenti menggerutu. Ia menyentuh keyboard macbook itu. Lalu melirik Ino sedikit. "Hmmm. Begitu."

"Menyebalkan sekali kau. Sudah bagus Kak Ino berbaik hati, ya," omel Naruto.

"Ya, ya. Terimakasih, Ino."

Kedengarannya saja atau memang Menma mengatakannya dengan nada yang sedikit ... manja dan malas-malasan?

"It's time to go back to your class right now! Prepare yourself! It's time to go back to your class right now! Prepae yourself!"

Suara bell menghentikan aktivitas seluruh siswa di kantin. Dengan ogah-ogahan, Sasuke, Gaara dan Naruto beranjak dari duduknya dan mulai berjalan meninggalkan area kantin.

Namun Naruto yang tiba-tiba berhenti dan menoleh ke belakang membuat Sasuke dan Gaara mau tak mau mengikuti apa yang dilakukannya.

"HEI! KEMBALI KE KELAS, YA, JANGAN MALAH MENCURI-CURI KESEMPATAN!" teriak Naruto.

Sasuke mengernyitkan alisnya. Sebelum ia bertanya, Naruto sudah menarik seragam kedua temannya untuk segera meninggalkan kantin.

Sampai di kelas, yang Sasuke lihat adalah suasana kelasnya yang masih ramai. Ia memilih ke tempat duduknya dan membaca materi yang akan dibahas hari ini.

35 menit terlewati dan guru pelajaran belum juga datang. Karena bosan, Naruto mengajak Sasuke dan Gaara untuk menghampiri Menma di kelasnya. Gaara, sih, mengiyakan. Dan karena dua temannya sudah bersatu pada satu jawaban, maka mau tak mau Sasuke ikut juga.

Sepanjang perjalanan menuju lantai empat, di mana kelas Menma berada, Naruto tak henti-hentinya berceloteh tentang apa pun yang bisa ia omongkan, ataupun mengeluarkan leluconnya yang menurut kedua temannya sangat garing sama sekali.

Sampai di kelas Menma, ternyata ketiganya harus mendapati bahwa orang yang dicari tak ada di kelas.

"Ke mana, ya? Padahal aku ingin memberikan flashdisk-nya," gumam Naruto.

"Mana kutahu," jawab Gaara.

Naruto menjentikkan jarinya. "Pasti perpustakaan!" serunya. Tanpa banyak bicara dan mengabaikan gerutuan Gaara, lelaki itu segara berlari menuju perpustakaan. Dan dengan terpaksa, Sasuke dan Gaara lagi-lagi harus mengikuti.

"Sepi sekali," gumam Naruto.

"Ya namanya perpustakaan. Kalau mau ramai ya ke kantin," celetuk Sasuke.

Naruto celingukan ke sana- ke mari mencari keberadaan Menma di dalam ruangan sepi nan luas tersebut. Hingga akhirnya netranya menangkap sosok yang dikenalnya. Dengan sigap ia menghampiri orang tersebut.

"Men–" Naruto yang hendak memanggil Menma terhenti karena Gaara tiba-tiba menariknya ke belakang dan menutup mulutnya menggunakan telapak tangannya.

Setelah mulutnya bebas, Naruto melirik heran pada Gaara yang dengan cepat menunjuk menggunakan dagunya ke arah di mana Menma berada.

Di sana, di sebuah kursi peprustakaan, Menma tengah duduk ditemani orang yang mereka kenal. Di hadapan si lelaki, terdapat paan catur lengkap dengan bidak-bidaknya. Menma kelihatan fokus–sangat fokus–pada benda di hadapannya. Dan di sebelahnya, yang mereka yakini adalah Ino Yamanaka, tengah duduk sambil bersandar pada bahu lelaki di sebelahnya dengan mata yang terpejam.

Mereka tahu Menma sedang menyusun strategi dan memikirkan hal-hal yang mungkin akan dilakukan lawannya ketika turnamen nanti. Matanya tak lepas dari bidak-bidak catur.

Sasuke ikut mengamati. Namun matanya terkunci pada wajah ayu gadis Yamanaka yang kini tengah terlelap bersender di bahu kakak temannya tersebut. Kelihatannya nyaman sekali.

Tak selang beberapa lama, sepertinya Menma menyudahi latihannya. Ia menoleh sedikit ke kiri, sebelum akhirnya melakukan sesuatu yang tentu membuat Sasuke kembali seperti tersengat lebah, namun kali ini seperti disengat jutaan lebah di hatinya.

Menma menempelkan bibirnya pada bibir milik Ino yang sedikit terbuka. Melumatnya pelan dan menjilatinya.

Ewh, memang, sih, kelihatan mesra. Tapi bagi Sasuke hal itu sama sekali tak manis karena orang yang kini tengah menikmati ciuman itu sambil terlelap adalah orang yang disukainya.

"Aku selesai," ujar Menma kemudian sambil menatap Ino yang dengan perlahan membuka matanya.

Naruto membeku. Ia melirik canggung pada Gaara dan Sasuke. Sedangkan Gaara hanya menatap datar pemandangan di depannya.

Ino mengucek mata pelan. Ia melirik papan catur Menma, kemudian beralih menatap menma yang masih setia mengunci tatapannya pada sosok gadis di hadapannya.

"Kalau begitu aku mau kembali ke kelas," ucap Ino. Ia bangkit dari duduknya, namun belum sempat Ino melangkah, dikunya lebih dulu ditarik oleh Menma.

"Satu minggu lagi, temani aku." Setelah itu, Menma melepas siku Ino yang ditahannya.

Ino yang masih pada posisinya tanpa menoleh, kini membalikkan badannya dan dengan cepat berhambur ke arah Menma, memeluk leher lelaki tersebut sebelum akhirnya memberikan sebuah kecupan singkat namun dalam, dan dengan cepat, tanpa sempat Menma mengeluarkan suara, Ino berlari keluar perpustakaan.

Dari tempatnya, ketiga orang yang daritadi mengintip kejadian itu semakin canggung.

"Ya Tuhan, aku baru melihat adegan drama yang selama ini tak kuduga akan terjadi di kehidupan nyata," gumam Naruto lebay.

Gaara melirik Sasuke yang mematung. Ia tersenyum kecil. "Cari yang lain saja, Sas. Sedikit mustahil anak kelas 12 sekarang ada yang mau dengan adik kelas. Biasanya mereka akan tergoda dengan teman seangkatan."

Sasuke menyadarinya. Sungguh menyadarinya.

Ino tak bisa ia dapatkan.

"Kupikir mereka akan putus," gumam Naruto, "tapi sepertinya aku benar-benar akan memiliki kakak ipar seperti Kak Ino."

Kini Sasuke bukan hanya seperti tersengat lebah, namun ia seperti dikenai bom atom yang dulu menyerang Hiroshima dan Nagasaki.

HAI WKWKWK FF pertamaku di fandom ini!

Maaf kalo banyak kata-kata yang nyeleneh atau mungkin ada beberapa typo karena aku gak baca ulang terus ngedit wkwk. MAApKeunnnn!1!1