Disclaimer : All characters and cover are not mine :') but this fic is mine.
Pairing : Rin x Len x Mayu
Genre : Tragedy, Drama, Sci-fi, Romance
Warning : typo, kata tidak baku, monoton, OOC, OOT, EYD berantakan, lebay, aneh, alur gaje, kalimat agak baku, tidak efektif, ga nyambung, TERMASUK DALAM SERI MESIN WAKTU dan kekurangan-kekurangan lainnya.
Sering kali seseorang menyesali kejadian dan perbuatannya di masa lalu sehingga muncullah keinginan untuk mengulang kembali kejadian tersebut. Tetapi semua yang telah berlalu tidak akan mungkin terulang kembali tak peduli seberapa besar rasa menyesal yang dirasakan, seberapa kuat harapan yang dimiliki, dan seberapa keras usaha dan perjuangan yang dilakukan. Tapi, benarkah demikian? -Time Machine Series-
-Singkat Cerita-
Setelah 1 tahun lamanya tidak bertemu, Rin akhirnya pulang ke Jepang. Sayangnya, Rin hanya berada di jepang selama 2 minggu saja. Len pun selalu menyempatkan diri bertemu dengan Rin setiap hari sebelum Rin kembali ke Italia. Tanpa diketahui oleh Rin, Len sudah menyiapkan kejutan yang sangat spesial untuknya….
-Len POV-
"Terima kasih Len sudah mengantarku, hati-hati di jalan." Rin tersenyum manis, senyuman yang sudah lama tak kulihat.
"Aku belum mau pulang. I still miss you." Aku memeluknya dan dia membalas pelukanku.
"Rin, apa kamu benar-benar harus kembali ke Italia?" Aku berbisik pelan di telinganya.
"Len, kamu sudah menanyakan itu lebih dari 10 kali." Rin tertawa kecil.
"Dan jawabanmu?" Aku melepas pelukanku dan menempelkan keningku ke kening Rin, menatap matanya dengan penuh harap walau aku tahu jawabannya tidak akan berubah.
"Tetap sama Len. Aku harus kembali ke Italia." Rin tersenyum sedih sembari memegangi pipiku dengan kedua tangannya.
"Apa kamu tidak bisa mengambil cuti seminggu lagi?" Aku tahu Rin, kamu tak suka tinggal di Italia. Kamu sengaja mengatakan bahwa kamu baik-baik saja dan betah tinggal di sana padaku agar aku tidak khawatir. Hatimu, raut wajah, dan gerakan tubuhmu tidak sesuai dengan perkataanmu, tidak dapat membohongiku.
"Seandainya saja bisa, aku pasti akan mengambil cuti selama mungkin." Rin menatap mataku dengan penuh arti. Ya... seandainya saja aku bisa menyusulmu ke sana... Dan seandainya kamu mau menceritakan semua masalahmu padaku... Mungkin saja aku bisa membantumu, Rin...
"Kamu pergi ke Italia 3 hari lagi kan?" Aku menatap serius kedua matanya dan membalas memegangi kedua sisi pipinya.
"Seharusnya tapi semoga saja tidak dipercepat." Rin melihat ke arah lain, menolak kontak mata denganku. Tangan kirinya memegangi lengan kanannya. Ada yang disembunyikan olehnya tapi aku tetap berpura-pura tidak tahu.
"Kalau begitu, besok setelah magang, aku akan membawamu ke suatu tempat." Aku tersenyum dan langsung mengenggam kedua tangan Rin.
"Biar kutebak, tempat yang kamu maksud itu gedung smp kita kan?" Sudah kuduga, tebakan pertama Rin pasti tempat pertama kali kita bertemu sayangnya bukan tempat ini yang kumaksud.
"Nope." Aku yakin tebakan selanjutnya adalah tempat aku menyatakan perasaanku padanya.
"Swan Lake?" Aku sedikit tertawa karena dugaanku benar.
"Na ah." Aku tersenyum melihat ekspresi Rin yang sedang berpikir. Aku sangat menyukai semua ekspresi Rin terutama saat dia sedang penasaran akan sesuatu.
"Manna Proxia Theater?" Aku agak kaget mendengar jawabannya. Aku tak menyangka Rin akan menyebut Manna Proxia Theater, tempat yang menjadi saksi pertengkaran hebat kita hingga hampir memutuskan hubungan kita, tak lama setelah lulus SMA. Melihat responsku, Rin menatapku dengan percaya diri, merasa yakin jika jawabannya benar.
"Salah. Kamu tak'kan bisa menebaknya karena aku belum pernah mengajakmu ke tempat ini." Rin menatapku kesal sambil mengembungkan pipinya karena tidak bisa menebak tempat yang kumaksud. So cute….
"Huh.. Dasar." Gerutunya. Aku tersenyum dan mencubit kedua sisi pipinya dengan lembut.
Kulihat jam di tangan kiriku menunjukkan pukul 4 sore. Seketika, aku teringat akan hal penting yang harus kulakukan.
"Aku baru ingat! Aku ada janji dengan seseorang. Bye Rinny, see you tomorrow." Aku mencium kening Rin dan segera berlari menuju parkiran.
"Bye Len, hati-hati." Aku mendengar teriakan Rin dan melambaikan tanganku tanpa menoleh ke belakang.
###
-Voca Cafe-
"Len." Seorang laki-laki berambut dan bermata merah melambaikan tangan kearahku. Aku pun segera pergi menuju ke arahnya.
"Sorry Fukase, kau tahu kan jalanan di sini macetnya seperti apa." Aku tersenyum lebar dan menduduki bangku di depannya.
"Ya macet, macet di apartemen Rin kan." Aku hanya tertawa mendengar tanggapan Fukase
"Hah… Kau tak berubah selalu merepotkan." Fukase merogoh kantong celananya lalu memberikan sebuah kotak kecil berwarna merah kepadaku.
"Nih, jangan merepotkanku lagi." Aku tersenyum senang sembari mengambil kotak merah itu.
"Terima kasih Fukase, kau juga tidak berubah." Ya... Dia masih tsundere sama seperti waktu SMA.
"Heh... Aku harus kembali ke toko. Bye Len." Fukase berdiri dan tersenyum sarkastik padaku.
Aku ikut bangkit berdiri dan tersenyum simpul ke arahnya, "Bye, semoga tokomu semakin laris."
Dia memasukkan kedua tangannya ke saku celananya dan beranjak pergi, "Good luck Len."
Aku memasukkan kotak merah itu ke dalam kantong bajuku. Aku pengen cepat-cepat memberi kejutan dan melihat ekspresi Rin ketika aku memberikan kotak merah ini. Aku sangat tidak sabar menanti hari ini untuk berganti menjadi hari esok.
###
Kulihat seorang perempuan dengan sebuah koper dan ransel kecil yang tidak kukenal tengah berdiri di depan rumahku. Dia melihat rumahku dan kertas kecil yang dipegangnya secara bergantian sembari terus bergumam. Sepertinya kertas itu berisi alamat seseorang. Dia terlihat kebingungan dan ragu, apa mungkin dia sedang tersesat? Aku segera keluar dari mobilku dan berjalan ke arahnya. Sadar akan kehadiranku, dia melihat ke arahku dengan raut wajah yang langsung berubah menjadi cerah seolah-olah akulah yang dicarinya. Senyuman lebar menghiasi wajahnya dan beberapa tetesan air bermunculan di sekitar matanya.
"Papa!" Perempuan itu langsung memelukku setelah berkata 'papa'. Tunggu… Dia berkata atau memanggilku 'papa'? Aku melepas pelukannya dan memandang bingung ke arahnya.
"Papa, sudah lama sekali aku tidak melihatmu. Aku kangen sekali padamu." Dia kembali memelukku sambil menangis. Sesaat aku dapat merasakan perasaan sayang, kehilangan dan rindu yang dirasakan olehnya kepada papanya lewat caranya memeluk dan berkata atau mungkin memanggilku 'papa'.
Aku tidak mengerti maksud dari perkataannya itu dan ingin membalas dengan kata-kata kasar seperti 'Lepaskan aku. Kau jadi gila gara-gara papamu meninggal ya? Aku kasihan padamu tapi jangan jadikan aku penganti papamu.' yang belum tentu benar tapi aku tak tega melakukannya. Aku tidak membalas pelukannnya tetapi aku membiarkannya memelukku selama yang ia mau.
"Maaf, apa kita pernah bertemu?" Aku yakin aku tidak mengenalnya tapi bisa saja aku pernah bertemu dengannya sekali, dua kali.
"Hehehe... Aku lupa memperkenalkan diri." Dia melepas pelukannya dan menghapus air matanya.
"Namaku Kagamine Neru." Dia tersenyum ke arahku kemudian melanjutkan perkataannya.
"Aku anakmu yang datang dari masa depan." Aku tersenyum geli mendengar jawabannya yang lucu dan tidak masuk akal itu.
"Pff.. Bwahahaha, kau, anakku yang datang dari masa depan?" Saking lucunya, aku tak dapat menahan keinginanku untuk tertawa. Dilihat dari sisi mana pun, sangat jelas jika ia hampir seumuran denganku. Dari masa depan? sunguh sangat konyol.
"Aku serius! aku datang ke sini menggunakan mesin waktu yang papa ciptakan." Mesin waktu? Apa ini cara modus baru?
"Wow… Benarkah?" Aku berhenti tertawa dan bertanya dengan nada mengejek.
"Tentu saja!" Dia menjawab dengan yakin dan antusias sama seperti Rin, membuatku sedikit berharap dan mulai percaya bahwa dia memang anakku dan Rin.
"Aku tahu jika papa pernah menjadi seorang playboy sebelum bertemu dengan Kagamine Rin. Papa mempunyai 33 mantan dan hanya 1 mantan yang benar-benar papa sayangi yaitu Hatsune Miku." Aku kaget mendengar jumlah mantan yang ia sebut. Aku yang playboy sudah menjadi rahasia umum tetapi jumlah mantanku yang diketahui publik dan juga sahabatku hanyalah 31 orang. Hanya Rin seorang yang tahu jumlah mantanku yang sesungguhnya.
"Alasan papa putus dengan Hatsune Miku bukan karena Hatsune Miku melihat papa berciuman dengan mantan papa sebelumnya, Kasane Teto tetapi karena Hatsune Miku tidak kuat dengan serangan dan ancaman para mantan dan fans papa." Aku semakin kaget karena hanya Rin dan Miku yang tahu alasan sebenarnya aku putus dari Miku dan aku tahu mereka tidak mungkin memberitahukan hal ini kepada orang lain. Apa benar dia anakku sehingga aku atau Rin memberitahukan hal ini padanya?
"Kalau benar kau anakku, siapa nama ibumu?" Kalau memang dia anakku, sudah pasti nama ibunya Rin kan.
"... Kagamine Mayu…." Aku tak kaget mendengar jawabannya itu walau sedikit kecewa karena dia sudah membuatku berharap. Dia pasti salah satu pengemar yang meng-ship aku dengan Mayu. Jumlah mantan dan alasanku putus dari Miku pasti hanya kebetulan dia jawab benar.
"Kau bukan anakku, sana cari papa yang lain." Setelah berkata begitu dengan wajah poker face, aku langsung bergegas membuka gerbang rumah. Akan tetapi, dia menarik lenganku dan mataku pun bertemu dengan matanya.
"Kau adalah papaku dan Kagamine Mayu adalah mamaku! Aku tahu papa pasti berpikir bahwa mamaku adalah Kagamine Rin dan itu bisa saja benar jika….." Wajahnya sangat serius, membuatku refleks mengkhawatirkan Rin.
"Jika apa? Apa maksudmu? Apa yang terjadi dengan hubunganku dan Rin?" Entah kenapa aku menjadi penasaran tapi juga takut mendengar jawabannya.
Dia terdiam sejenak dan menatapku dengan tatapan bersalah, "Jika Kagamine Rin tidak meninggal..."
-TBC-
Heyho :D Ini fanfic pertama ane, mohon maafkan bila tidak bagus dan sulit dimengerti. Sangat welcome dengan kritik dan saran ;)
