"Apa?... Jangan bercanda!" Aku menepis tangannya dan memandanginya dengan tatapan sinis.

"Aku tidak berbohong apalagi bercanda! Kagamine Rin di masaku, 26 tahun kemudian sudah meninggal." Tak peduli dengan tatapan sinisku, dia menatap langsung ke mataku dengan ekspresi serius. Kemudian, dia mengeluarkan beberapa buku dari ranselnya.

"Ini semua diary yang papa tulis dari masa SMP sampai papa meninggal dan dari sinilah aku tahu sebagian besar rahasia papa." Dia mengangkat dan menunjukkan buku-buku itu padaku. Aku sedikit terkejut. Warna serta ukuran beberapa buku di tangannya sama persis dengan buku harianku. Pasti kebetulan kan? Seserius apa pun dia, tidak mungkin mesin waktu itu ada kan?

"Papa masih tidak percaya? Besok, papa mau melamar Kagamine Rin kan?" Darimana dia tahu kalau besok aku mau melamar Rin? Hanya Fukase yang tahu dan dia tidak mungkin menyebarkannya. Bahkan Mayu pun tidak tahu kalau aku ingin melamar Rin... Melihat ekspresiku yang kaget dan bingung, dia melanjutkan kata-katanya.

"Usaha papa bakal sia-sia. Papa tidak akan bisa melamar Kagamine Rin. Karena besok, Kagamine Rin harus segera balik ke Italia." Dia tersenyum lebar, ekspresi dan nada bicaranya seolah-olah mengejekku. Menyebalkan! Sabar Len. Dia hanya mau memancing emosimu. Aku harus sabar.

"Dengar ya, aku ga ada waktu untuk bermain rum-" Kata-kataku terputus ketika mendengar hpku berbunyi. Ringtone ini sudah pasti dari Rin! Aku lekas mengambil hpku dari saku celanaku.

"Halo Rin?" Aku senang sekali Rin meneleponku. Biasanya dia tidak akan menelepon duluan jika keesokan harinya kami ada kencan. Kecuali….

"Halo Len, maafkan aku, aku tidak bisa pergi bersamamu besok. Aku harus segera kembali ke Italia." Sudah kuduga. Pasti ada kabar buruk yang ingin disampaikan oleh Rin dan lagi-lagi tebakan? Prediksi? Atau kejadian? Yang perempuan itu katakan benar.

"Ada apa Rin? Kenapa keberangkatanmu bisa dipercepat?" Aku yakin Rin tidak akan memberitahuku tak peduli seberapa lemasnya nada suaraku tapi tak ada salahnya mencoba kan.

"Maaf Len aku tak bisa mengatakannya…" Ya, untungnya aku sudah biasa menerima penolakan Rin selama 3 tahun ini. Meski hati ini masih merasakan sakitnya...

"Maaf Len… Setelah semua masalahku di Italia selesai, aku janji, aku akan memberitahumu…." Mendengar hal ini, aku hanya bisa menghela nafas. Rin selalu mengatakan kalimat ini setiap kali aku bertanya semua tentang dirinya dan Italia. Aku memang sudah biasa. Aku juga tak ingin menambah beban pikiran Rin tapi pertanyaannya sampai kapan? Sampai kapan Rin akan menyembunyikannya dariku? Sampai kapan aku bisa bertahan dan menunggu Rin menceritakan semuanya?

"Baiklah aku mengerti. Kamu berangkat jam berapa? Aku akan mengantarmu." Sebenarnya aku kesal dan kecewa namun aku berusaha untuk tidak menunjukkannya pada Rin.

"Jam empat pagi. Pesawatku berangkat jam setengah tujuh pagi. Kamu tak perlu mengantarku Len, besok kamu magang jam sembilan kan. Kamu istirahat saja." Aku sedikit tersenyum karena Rin tidak pernah berubah. Selalu memikirkan orang lain dan tak ingin merepotkan mereka.

"Tentu saja aku harus mengantarmu! Tenang, aku tidak akan kecapekan dan telat magang asal kamu memberiku kecupan tanda kasih sayang." Aku mengatakannya setengah bercanda dengan harapan agar Rin tertawa. Sedaritadi nada bicaranya terdengar sedih. Lagipula sudah 1 tahun aku tidak dikecup Rin. Selalu aku duluan yang memulai. Sekali-kali aku ingin Rin yang memulai duluan.

"Dasar." Dia tertawa kecil. Aku pun juga ikut tertawa.

"Hehehe… Sebaiknya kamu istirahat sekarang, besok kamu bangun pagi banget kan." Aku masih ingin mengobrol dengannya tapi aku tidak ingin Rin kelelahan besok.

"Kamu juga Len... Bye Lenny." Untunglah nada bicara Rin sekarang sudah menjadi lebih ceria.

"Love you, bye Rinny." Aku tersenyum dan mengakhiri telponku dengan Rin. Aku memasukkan hpku ke saku celanaku lalu melihat ke arah perempuan tadi sambil tersenyum canggung.

"Apa sekarang papa percaya padaku?" Dia tersenyum penuh kemenangan. Lagi-lagi ekspresinya persis seperti Rin saat Rin berhasil menang berdebat dariku….

Sepertinya memang aku harus mengaku kalah dan mempercayainya walau ceritanya tentang mesin waktu agak aneh dan konyol. Aku hanya tersenyum simpul. Aku membuka gerbang dan mempersilahkan ia masuk. Dia terlihat sangat senang seperti anak kecil yang dibelikan barang yang dia inginkan oleh orang tuanya. Tanpa menunggu lama, dia buru-buru masuk ke dalam rumahku. Aku pun segera memasukkan mobilku ke garasi dan menyusulnya.

###

"Apa alasan utamamu datang ke masa ini?" Sebenarnya ada banyak pertanyaan yang ingin aku tanyakan tapi yang paling membuatku penasaran adalah alasan dia datang ke masa ini. Aku melihat dia dengan teliti, dengan tatapan intimidasi untuk mengetahui apakah dia berbohong atau tidak.

"Tentu saja untuk membantu papa menyelamatkan Kagamine Rin sekaligus mengungkap penyebab kematian papa." Tak kusangka, dia menjawab pertanyaanku dengan tenang terlepas dari tatapan intimidasiku. Sepertinya dia sudah biasa dengan semua tatapan seramku.

Kematian 'papa'? 'papa' ini aku di masa depan kan...?

"Aku di masa depan sudah meninggal?" Sebelumnya Rin dan sekarang aku. Apalagi, aku meninggal secara misterius. Semakin lama semakin konyol saja. Dan lebih konyolnya lagi kemungkinan besar kejadian ini nyata.

"Ya… Aku menemukan papa yang tak bernyawa sambil memegangi buku diary ini di lab papa. Tanpa satu pun luka di tubuh papa." Dia memberikanku sebuah buku dengan sampul berwarna kuning. Aku pun mengambilnya dan membuka halaman pertama. Disitu tertulis namaku juga tanda tanganku dan tanda 'Rin' yang artinya ini memang milikku.

"Sebenarnya apa yang terjadi setelah Rin meninggal?" Aku menutup kembali buku itu dan menaruhnya di atas meja.

"Ceritanya sangat panjang dan sejujurnya aku pun juga tidak mengerti…. Yang kutahu papa menikah dengan mama sepulang kuliah dari luar negeri lalu setelah itu papa mulai membuat mesin waktu. Jika papa ingin tahu detailnya, silahkan baca diary-diary papa ini." Dia memberikan semua buku yang ia genggam daritadi. Aku mengambilnya dan melihat satu per satu buku-buku tersebut. Dan memang benar 3 buku di antaranya adalah buku yang sama dengan buku harian milikku.

"Mengapa kau datang sendiri? Mengapa kau tidak datang bersama... Ehm.. Mayu?" Aku agak ragu untuk menanyakan hal ini. Selain karena aku masih tidak percaya jika Rin akan meninggal, aku juga tidak percaya bahwa aku akan menikah dengan Mayu.

"Mama meninggal tak lama setelah papa meninggal." Ekspresinya yang tadinya tenang dan biasa saja berubah menjadi sedih. Dia menatap langsung ke mataku yang artinya dia tidak berbohong.

"Sebelum mama meninggal, mama memintaku untuk mencegah dan mencari tahu kenapa papa meninggal dan disinilah aku." Dilihat dari ekspresinya ini, dia pasti sangat menyayangi mamanya, Mayu...

Tunggu... Kalau dia hanya ingin mengabulkan permintaan Mayu, dia kan hanya perlu mundur beberapa tahun saja, beberapa tahun setelah dia lahir.

"Mayu kan hanya menyuruhmu untuk mencari tahu penyebab dan mencegah kematianku, tapi kenapa kau malah kembali ke masa ini untuk menyelamatkan Rin?" Apa dia datang ke masa ini untuk mewujudkan keinginannya? Dan benarkah keinginannya itu untuk menyelamatkan Rin?

"Setelah aku membaca semua diary papa, aku sadar bahwa cinta sejati papa adalah Kagamine Rin. Aku pun memutuskan untuk kembali ke masa ini untuk menyelamatkan Kagamine Rin. Lagipula penyebab kematian papa sangat berhubungan dengan masa ini." Aku tersenyum sarkastik merespons jawabannya. Apa dia sadar dengan apa yang dia inginkan? Jika dia berhasil menyelamatkan Rin maka sudah pasti aku tidak akan menikah dengan Mayu dan dia tidak akan lahir. Kalau pun dia lahir ke dunia, kemungkinan besar anakku bukan benar-benar dirinya kan. But whatever. Aku tidak peduli selama Rin bisa diselamatkan.

"Lalu apa yang menyebabkan Rin meninggal?" Aku takut untuk menanyakan hal ini tapi mau tak mau aku harus tahu agar aku dapat mencegah atau menunda kematian Rin.

"Kata mama, Kagamine Rin meninggal di hari ketika dia kembali ke jepang untuk selamanya sekaligus di hari ketika papa melamarnya." Seharusnya aku melamarnya besok tapi karena Rin harus kembali ke Italia berarti entah kapan itu aku akan mencoba melamarnya.

"Kapan dan dimana?" Jika lamaranku bisa membuat Rin mati, aku tak akan ragu untuk terus menundanya.

"Kalau tidak salah baca dan ingat, kecelakaan itu terjadi 3 bulan dari sekarang di tempat yang ingin papa tunjukkan pada Kagamine Rin besok." 3 bulan dari sekarang? Berarti saat Rin sudah wisuda. Sayang sekali padahal itu waktu yang pas buat melamar Rin...

"Percuma saja jika papa menunda lamaran papa karena papa dan Kagamine Rin akan tetap mengalami kecelakaan itu." Aku menatap heran ke arahnya. Dia ini cenayang ya. Berkali-kali dia berhasil menebak pikiranku. Aku dan Rin yang mengalami kecelakaan? Dari nada bicaranya, ia sangat yakin jika aku dan Rin pasti mengalami kecelakaan ini. Hanya ada satu kemungkinan... Kecelakaan ini direncanakan oleh orang lain.

"Maksudmu? Kecelakaan ini disebabkan oleh seseorang yang mungkin aku atau Rin kenal?" Dia mengangukkan kepalanya tanda mengiyakan pertanyaanku.

"Sayangnya aku tidak tahu siapa orang ini… Dalam diary papa juga hanya tertulis jika kecelakaan itu disengaja tapi papa tidak tahu siapa yang melakukannya." Hm... Jadi semuanya bertumpu pada diary-diary ini. Aduh… Kepalaku sudah mulai pusing. Aku harus segera membaca buku-buku ini untuk memahami keseluruhan dan kebenaran peristiwa-peristiwa ini.

"Kesimpulannya aku menciptakan mesin waktu untuk menyelamatkan Rin ketika aku menyadari bahwa kecelakaan ini disengaja? Tapi entah bagaimana dan mengapa, kau menemukanku meninggal? Lalu Mayu memintamu untuk menolongku? Dan sekarang tugas utama kita adalah mencari dalang dibalik kecelakaan itu?" Paling tidak aku masih bisa menarik kesimpulannya walau kondisi kepalaku begini.

"Iya, kurang lebih begitu." Dia kembali tersenyum lebar. Akh... Kepalaku semakin terasa sakit. Aku spontan memegangi kepalaku dengan kedua tanganku.

"Papa, apa papa baik-baik saja?" Dia melihatku dengan raut wajah khawatir.

Aku tersenyum simpul lalu mengambil semua buku diary itu dan berdiri.

"Aku tak apa-apa. Sebaiknya kau beristirahat… Eh…" Siapa tadi namanya? Neko? Nene? Naru?

"Neru, pa." Dia tersenyum dan bangkit berdiri. Aku pun langsung membawanya ke kamar tamu.

"Kau bisa beristirahat di sini, anggap semua yang ada di kamar ini milikmu selama kau tinggal bersamaku." Aku membuka pintu kamarnya dan memasukkan kopernya ke dalam.

"Baik, makasih papa." Dia memelukku sebentar kemudian melempar senyuman senang kepadaku. Aku membalas senyumannya dan beranjak keluar.

"Papa, sebaiknya papa minum obat dan langsung tidur." Aku menoleh ke arahnya dengan tangan kananku memegangi kepalaku dan tangan kiriku memegangi buku-buku ini.

"Kalau papa tidak langsung tidur, besok papa bisa telat untuk mengantar Kagamine Rin loh." Cara dia berbicara kali ini mirip dengan Mayu.. Bagaimana ekspresi Mayu ya jika aku mengatakan bahwa Neru adalah anaknya… Membayangkan ekspresi Mayu membuatku tertawa kecil.

"Iya... Iya." Aku pun langsung berbalik dan pergi menuju dapur.

"Selamat malam, papa." Setelah Neru mengatakan itu aku mendengar suara pintu yang ditutup.

Sesampainya di dapur, aku segera mencari kotak obat, mengambil serta meminum obat sakit kepala. Semoga saja obat ini bisa meredakan sakit kepalaku agar aku bisa lebih fokus dan teliti membaca diary-diary ini. Aku mematikan semua lampu kecuali lampu teras dan segera masuk ke dalam kamarku.

-TBC-