Aku merendamkan diriku ke dalam bak mandi yang penuh dengan air hangat.

"Ah segarnya." Air hangat setelah melewati hari yang melelahkan memang yang terbaik. Lebih tepatnya bukan hari tapi otakku yang kelelahan mencerna semua penjelasan anak itu. Melihat buku harian tadi, mengingatkanku dengan alasanku mulai menulis diary. Seorang pria populer sepertiku menulis hal seperti diary yang girly ini menggelikan bukan? Tentu saja semuanya karena Rin dan untuk Rin.

Setelah putus dari Miku, aku berhenti menjadi playboy dan menggembok permanen hatiku. Hanya Rin dengan sifatnya yang ceria, perhatian namun keras yang berhasil membuat lubang di hatiku. Lubang yang sangat besar khusus untuknya. Sampai-sampai semua perkataan dan permintaannya selalu aku turuti bahkan sebelum kami resmi berpacaran -yah bisa dibilang aku jadi bucin Rin-, salah satunya menulis diary walau aku masih sering malas dan bolong menulisnya. Rin menyarankanku untuk menulis diary karena dia tahu bila aku sering sekali merenung. Rin yakin suatu hari nanti, aku akan membutuhkan diary itu. Aku sedikit tertawa karena alasan Rin terwujud sekarang. Aku menutup kedua mataku dan berendam cukup lama sampai kepalaku membaik.

###

Aku merebahkan diriku di atas kasur dan menghitung jumlah buku harian itu. Total ada 7 diary dengan 3 di antaranya bersampul sama dengan diaryku. Aku mencocokkan 3 diary itu dengan 3 diaryku dan isinya 100% sama persis.

"Haha... Sepertinya mulai sekarang hidupmu akan penuh dengan kekonyolan dan drama, Len." Aku tertawa sarkastik. Aku tidak pernah menyangka bahwa aku yang ilmiah dan berlogika akan mengalami hal yang sangat tidak masuk akal.

Aku menaruh 3 diary tadi di sebelahku dan mengambil diary dengan sampul putih yang sudah mencoklat. Sepertinya diary ini adalah diary yang ke empat karena buku diaryku yang ketiga sudah mau habis dan aku punya buku yang sama persis dengan diary ini. Halaman-halaman awal dalam diary ini berisi tentang keseharianku setelah aku gagal melamar Rin. Keseharian tanpa Rin, tanpa melihatnya dan tanpa meneleponnya.

Aneh... Aku pasti menelepon Rin sesibuk apa pun aku. Paling lama 3 hari tidak meneleponnya. Tapi di sini aku sama sekali tidak menelepon Rin walaupun sudah 1 bulan Rin kembali ke Italia. Terlebih, di sini tidak tertulis alasan aku tidak meneleponnya padahal aku selalu dan pasti menuliskannya. Apa ada beberapa halaman yang dirobek? Tapi tidak ada tanda-tanda halaman yang dirobek dan peristiwa yang tertulis disini selalu bersambung ke halaman berikutnya. Apa aku dan Rin bertengkar besar sehingga aku tidak mau meneleponnya? Tapi tidak mungkin aku bisa bertahan bertengkar dengan Rin sampai 1 bulan. Baru 3 hari saja aku langsung meminta maaf padanya. Apalagi Rin sudah meneleponku beberapa kali dan responsku yang tertulis di sini wajar, sama seperti biasanya. Apa karena… Rin yang memintanya? Jika Rin yang memintanya, aku pasti akan mengabulkannya tapi apa alasannya memintaku untuk tidak meneleponnya? Seperih apa sampai aku tidak menuliskannya?

Aku berhenti membaca sejenak. Mataku sedikit sakit melihat halaman-halaman setelah pertengahan buku karena tulisannya yang berantakan dan berwarna-warni. Dari yang kubaca tadi dapat kusimpulkan bahwa selama 1 bulan setelah Rin kembali ke Italia, aku sangat sibuk dengan kegiatan magangku dan tidak pernah menelepon Rin. Rin juga sibuk dengan urusan keluarga dan kelulusannya. Setelah 1 bulan lebih, aku pun menelepon Rin dan mulai menyusun rencana lamaran dengan meminta bantuan Mayu, Fukase, Kaito, dan kawanku lainnya. Dua bulan kemudian, aku tetap melamar Rin terlepas dari masalah keluarganya yang belum dia ceritakan dan dia menerimaku.

Aku mengambil secarik kertas dan pulpen lalu menuliskan kesimpulanku. Setelah selesai, aku melanjutkan membaca diary tersebut.

"Baiklah Len, saatnya otakmu bekerja ekstra." Jika aku memakai pulpen warna-warni pasti ada teka-teki yang harus kupecahkan. Beberapa halaman hanya berisi coretan dan kata tanya dalam berbagai warna. 'Apa' 'Kenapa' 'Siapa' 'Bagaimana' 'Kapan' 'Dimana' semua kata tanya ada di dalam sini dan semuanya bertumpu pada peristiwa yang sama, peristiwa yang merenggut nyawa Rin. 2 kata tanya, 'Siapa' dan 'Kenapa' berwarna merah dan digarisbawahi. Sepertinya 2 kata itu merupakan kata paling penting di antara kata yang lainnya dan mungkin merujuk pada dalang dan alasan dia mencelakai aku dan Rin.

Aku membuka halaman berikutnya. Halaman itu berisi hipotesa kecelakaan Rin, bahwa kecelakaan itu disengaja karena segala sesuatu sudah dipersiapkan dan dicek sendiri olehku. Apalagi kecelakaan itu terjadi akibat mobil yang tiba-tiba muncul dan rem mobil yang blong padahal sebelumnya tidak. Sehingga kemungkinan besar tersangkannya adalah orang yang terlibat di dalam rencana lamaranku dan Rin.

Hm… Jadi aku dan Rin mengalami kecelakaan mobil di perjalanan pulang dari tempatku melamar Rin. Penyebabnya karena rem blong padahal saat pergi kesana remnya normal dan mobil yang tiba-tiba mengarah ke arahku. Kalau dipikir-pikir, bukan kemungkinan besar tapi sudah pasti tersangkanya adalah orang-orang yang tahu dan terlibat dalam rencana lamaran ini. Dan orang ini juga tahu bahwa aku tidak akan menabrak mobil itu dan mau tidak mau akan banting stir. Masalahnya hampir semua orang yang mengenalku tahu bahwa aku lebih memilih menabrakkan diriku sendiri ke pohon atau bangunan daripada menabrak orang lain.

Halaman-halaman selanjutnya berisi tentang aku yang berusaha mencari tahu dalangnya sendirian dengan mengurung diri di dalam kamar selama 3 bulan lebih. Heh hebat sekali diriku ini mencari tahu di dalam pikiran, ingatan dan sendirian! Hah… Memang kematian Rin sangat berdampak besar bagiku buktinya aku menjadi orang bodoh. Ya untungnya hanya sebentar.

Aku kembali menuliskan hipotesa dan kesimpulan yang kudapat dari diary ke empat ini. Selama 3 bulan aku mencari dalangnya, tetap tidak kutemukan pelakunya. Aku memutuskan untuk pindah jurusan meski setengah tahun lagi aku lulus. Pindah ke jurusan fisika kuantum di UK guna menciptakan mesin waktu demi menyelamatkan Rin. Tentu saja, papa dan mama tidak mengizinkanku secara cuma-cuma. Mereka menyuruhku menikah dengan Mayu dan aku yang saat itu sudah tidak peduli asal bisa menyelamatkan Rin pun menyetujui syarat mereka. Jelas sudah mengapa aku bisa menikah dengan Mayu. Ternyata papa dan mama memang lebih menyukai Mayu daripada Rin….

Aku melanjutkan membaca diary bersampul biru dengan tempelan stiker 'V' walau jam sudah menunjukkan pukul setengah 12 malam. Dari awal sampai akhir, diary ini berisi tentang keseharianku selama berkuliah di London. Uniknya, bukan keseharian seperti kegiatan atau peristiwa yang terjadi tapi keseharian pikiranku yang selalu memikirkan tentang mesin waktu dan Rin. Aku hanya membaca sekilas diary ini karena menurutku isinya tidak terlalu penting dan langsung lanjut membaca diary bersampul abu-abu dengan angka 6 yang besar di tengahnya.

Sebagian besar diary ini masih berisi tentang keseharian kuliah sampai aku lulus dan sisanya berisi tentang penelitian mesin waktu yang menyebabkan rasa pusingku kembali. Sepertinya mulai dari diary ini, diaryku yang seterusnya sudah beralih fungsinya menjadi catatan riset. Aku juga hanya membaca sekilas diary ini dan langsung lanjut membaca diary terakhir yaitu diary bersampul kuning yang katanya kupegang sebelum aku meninggal.

Setengah diary ini masih berisi penilitian mesin waktu yang semakin memusingkan. Setengahnya lagi tentang mesin waktu yang terus gagal dan akhirnya berhasil. Sayangnya diary ini berakhir di pernyataan bahwa mesin waktunya berhasil tanpa ada lanjutan lagi.

"Ke-…?" Aku membaca kata yang terpotong di halaman terakhir. Ke- apa? Keseharian? Keputusasaan? Kejadian?

Apa aku terkena serangan jantung? Mungkin diriku ini ingin menuliskan sesuatu tapi karena penyakit yang datang mendadak membuatku tidak dapat menyelesaikannya. Atau apa aku meninggal setelah mencoba mesin waktu itu berkali-kali? Karena radiasi atau virus?

Aku menutup diary itu, membereskan lalu menaruh semua diary ke atas meja. 3 diary yang terakhir sama sekali tidak memberikan petunjuk apa-apa. Berarti hanya diary ke empat saja yang bisa menjadi tumpuanku mencegah kecelakaan itu. Mungkin beberapa halaman terakhir di diary ke tujuh bisa menjadi tumpuan juga.

Sedikit banyak aku sudah mengerti peristiwa yang sedang dan akan terjadi tetapi masih ada beberapa hal yang harus kutanyakan dan kupastikan pada anak itu salah satunya sikapku padanya dan Mayu setelah aku dan Mayu menikah. Walau tanpa kutanyakan pun jawabannya sudah jelas.

"Hoam…" Memakai otakku terus menerus membuatku mengantuk. Aku melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 1 pagi. Sebentar lagi aku harus bersiap untuk menjemput dan mengantar Rin. Meski begitu, aku tak dapat menahan kantuk yang kurasakan. Aku pun memasang alarm untuk pukul 3 pagi dan langsung tertidur.

-TBC-

Terima kasih atas review dan sarannya, sudah ane betulkan dan update :) Ane bakal terus lanjutin ficnya sampai tamat kok hanya saja dalam waktu yang mungkin akan sangat lama :p