Len…
Siapa itu?
Len… Berbahagialah bersama Mayu….
Mmmm… Suara ini… Seperti suara Rin….
Su… Suara Rin…?
Aku terbangun dan melihat jam dindingku yang sudah menunjukkan pukul 05.48 pagi.
"YA AMPUN!" Aku mengambil handphoneku dan mendapati 3 miss call dari Rin. Aku langsung menelepon Rin, bergegas mengambil kunci mobil dan berlari ke garasi tak peduli dengan tampilanku yang masih memakai piyama dan rambut yang berantakan. Sesampainya di ruang tamu, Rin menjawab telponku.
"Halo Len? Kamu baik-baik aja?" Rin terdengar sangat khawatir pasti karena aku tidak menjawab telponnya sampai 3 kali. Biasanya panggilan masuk dari Rin akan langsung kujawab biarpun aku sedang tertidur.
"Halo Rin, aku gapapa kok. Kamu sudah di bandara? Maaf banget Rin, aku ketiduran." Aku berhenti sejenak dan mengambil napas panjang.
"Iya aku sudah di sana. Tidak apa-apa Len, kamu pasti capek. Kamu tidak perlu menyusulku. Sebentar lagi aku check-in." Aku menduduki sofa ruang tamu sembari bernapas lega.
"Kamu diantar sama siapa?" Mungkinkah Rin berangkat sendiri?
"Sama Yohio-niichan. Kemarin dia dan keluarganya mengginap di tempatku." Yohio-san dan keluarganya? Bukannya istrinya sedang melahirkan?
"Lola-san sudah keluar dari rumah sakit?" Kalau di ingat-ingat, sudah sebulan semenjak Lola-san melahirkan, wajar jika dia sudah keluar dari sana. Tapi bisa saja keluarga disini bukan istri Yohio-san tapi adiknya, Kaiko-san.
"Sudah, bahkan anaknya juga sudah bisa dibawa pulang. Anaknya menggemaskan banget Len." Rin terdengar sangat senang. Rin memang sangat menyukai dan terobsesi dengan bayi terutama jika bayinya kembar.
"Anaknya cewek atau cowok?" Bayinya pasti kembar tapi aku tidak bisa menebak jenis kelaminnya.
"KEMBAR Len, kembar cewek-cowok! Lucu banget kan! Selang berapa menit setelah kamu pulang mereka datang. Coba kamu tidak ada janji sama orang lain, kamu kan bisa lihat anaknya." Benar kan. Nada bicara Rin terdengar sangat ceria setiap kali dia membicarakan sesuatu yang sangat disukainya.
"Hahaha, aku kan bisa lihat mereka kapan aja." Yohio-san tinggal di kompleks yang sama denganku dan dekat dengan rumahku. Kalau aku mau, aku bisa mampir ke rumahnya sekarang.
"Lihat secepatnya Len. Terus fotoin bayinya yang banyak lalu kirim ke aku. Kemarin aku sibuk cubit-cubit mereka jadi cuman keambil beberapa foto doang." Tipikal Rin banget. Lebih memilih berinteraksi daripada mengabadikannya. Aku jadi ingin menggodanya.
"Iya kalau ada waktu luang, aku pergi jengguk mereka dan fotoin bayi mereka tapi gak gratis ya." Bayarannya apa ya yang bisa jadi gombalan… Oh aku tahu!
"Eh... Kok gitu?" Nada bicara Rin terdengar sedikit kecewa. Pasti sekarang alisnya agak dikerutkan dan pipinya sedikit dikembungkan.
"Sebagai bayarannya aku minta semua foto mereka yang kamu ambil kemarin." Sebenarnya tanpa dikirim foto kemarin pun aku pasti akan mengabulkan keinginan Rin.
"Oh itu. Kamu penasaran kan sama wajah mereka?" Tidak juga sih tapi kalau kujawab begitu Rin bisa kesal karena menganggap aku tidak peduli dengan mereka dan gombalanku bisa gagal.
"Lumayan. Tapi aku lebih penasaran sama ekspresi kamu Rin." Bohong dikitlah demi sukses menggombal Rin.
"Ekspresiku di foto bareng mereka? Untuk apa?" Untuk gombalin kamu Rin, Hahaha.
"Aku mau pakai foto itu sebagai wallpaper handphoneku dong." Wallpaper hatiku juga kalau bisa. Kenapa tadi ga kujawab begitu ya.
"Kenapa pakai foto itu? Kenapa engga pakai foto kita?" Foto 'kita' udah sering dan sedang kupakai. Foto Rin yang sedang ngambek dan aku yang sedang mencubit pipinya. Lagipula foto 'kita' bikin aku pengen menyusul Rin ke Italia dan aku tahu jika aku melakukannya Rin pasti bakal marah.
"Foto kamu sama bayi itu sebagai motivasi aku buat cepat halalin kamu." Secara tak langsung aku memberi kode lamaran padanya. Rin ngerti ga ya maksud gombalanku.
"Aduh Len, bisa-bisanya kamu mengombal pagi-pagi." Rin sedikit tertawa, aku bangga karena gombalanku selalu berhasil membuatnya tertawa.
"Aku serius kok hehehe." Gombalan yang serius, seharusnya hari ini aku melamarmu, Rin. Seandainya aku bisa ngomong begitu.
"Hahaha. Kalau begitu nanti setiap kali aku ketemu bayi, aku bakal foto bareng sama mereka sekalian sama papanya deh biar kamu buru-buru halalin aku." Aku sedikit kaget dan senang mendengar jawaban Rin. Apakah ini artinya Rin memintaku untuk cepat melamarnya? Apa ini lampu hijau untukku?
"Hahahaha." Saking senangnya, aku pun ikut tertawa bersama Rin.
"Ah, pesawatku udah bisa check in." Suara Rin terdengar kaku dan sedih. Kenapa kamu memaksakan dirimu Rin? Padahal kamu tidak bahagia….
"Ok, nanti kalau sudah sampai sana, kabari aku ya." 'Rin jangan pergi!' Ingin sekali ku utarakan keinginanku itu tapi aku tidak boleh egois, Rin sedang berjuang menghadapi masalahnya sendirian. Aku harus menghargai keputusannya selama Rin tidak dalam bahaya.
"Pasti Len, Love you Lenny, bye." Suara Rin kembali melembut seperti biasanya, aku tahu Rin berusaha menutupi kesedihannya dariku.
"Love you too Rinny, I'll miss you, bye." Aku mematikan telponku dan memejamkan kedua mataku.
'Len… Berbahagialah bersama Mayu….' Aku teringat dengan suara dari mimpi yang membangunkanku. Kayaknya aku pernah mendengar kalimat ini keluar dari mulut Rin di dunia nyata entah kapan dan dimana. Anehnya beberapa detik sebelum aku benar-benar terbangun, aku melihat gambaran Rin memegangi tangan diriku yang terbaring di atas ranjang putih rumah sakit. Yah mungkin ini hanya sekedar bunga tidur karena cerita Neru dan isi buku diary itu. Aku melihat jam hpku dan berjalan menuju kamarku, bersiap-siap untuk memulai hari normalku. Paling tidak normal sampai nanti malam saat aku melanjutkan diskusiku dengan Neru. Seharusnya sih begitu….
###
"Selamat pagi papa." Aku melihat ke arah Neru yang sedang sibuk menggoreng sesuatu.
"Pagi." Aku memindahkan pandanganku ke dua pasang sumpit dan sendok di atas meja. Aku pun duduk di depan meja makan yang ada sumpit dan sendok tersebut, tak jauh dari tempat Neru memasak. Kelihatannya dia sedang memasak sarapan untukku, masakannya bisa dimakan tuh...
"Aku sudah menyiapkan sarapan untuk papa." Neru meletakkan sepiring scrambled egg dan bacon di depanku. Bentuk keduanya sih normal, tidak gosong dan matang sempurna. Walau begitu, aku masih ragu dengan rasanya.
"Papa pasti telat mengantar Kagamine Rin kan?" Neru duduk di seberangku sembari tersenyum lebar. Aku tak ingin membuatnya besar kepala namun memang prediksinya menjadi kenyataan, mau tak mau aku pun menganggukkan kepalaku.
"Kan sudah kubilang, papa tidak mengikuti saranku sih." Senyum lebarnya berubah menjadi senyum mengejek dan penuh kemenangan. Karena sedang tidak mood untuk berdebat, aku hanya meresponsnya dengan senyuman lebar penuh arti. Lihat saja nanti suatu saat akan kubalas senyuman menyebalkanmu itu.
"Papa magang hari ini?" Menurutmu saja. Buat apa aku berpakaian formal dan rapi di pagi hari kalau cuman buat santai atau kuliah?
Aku mengambil sumpit dan mulai mencoba masakannya, "Yah, selamat makan."
Hm. Di luar dugaan ternyata masakannya enak juga. Rasanya sesuai dengan bentuknya.
"Selamat makan. Aku mau ikut papa!" Neru terdengar dan terlihat sangat bersemangat padahal aku belum menyetujui keinginannya.
"Tidak boleh. Akan sangat repot urusannya kalau kau ikut." Meninggalkannya sendirian di rumah saja sudah ribet apalagi membawanya ke kantor.
"Aku mau ikut papa!" Sudah cuekin sajalah, Len. Sebentar lagi juga dia bakal diam sendiri. Aku tetap melanjutkan sarapanku tanpa mempedulikan rewelannya.
-Beberapa menit kemudian-
"Ikut, ikut, ikut!" Geh! Sampai kapan dia mau merengek!? Apa dia tidak capek mengoceh selama kurang lebih 5 menit non-stop? Lagian dia mau ngapain ke sana sampai memaksa ikut segala? Oh! Bertemu Mayu!
"Baiklah baiklah. Tapi kau harus berhenti memanggilku papa." Aku menghentikan sarapanku dan sedikit berteriak. Aku melakukan ini demi Mayu, agar Mayu bisa bertemu anaknya ini karena di masa depan setelah masa ini, Neru tidak akan lahir.
"Eh! Tidak mau! Mana bisa aku tidak memanggilmu papa." Dia ini berlebihan sekali. Tinggal panggil namaku saja, 'Len' apa susahnya.
"Kalau begitu kau tidak usah ikut." Ada bagusnya dia berlebihan begitu jadi bisa kutekan ha ha ha.
"Yaudah, aku akan memanggilmu Len-niichan tapi aku tetap memanggilmu papa jika kita hanya berdua ya." Ya ya ya terserah padamu. Yang penting tidak membuat orang lain salah paham.
"Deal." Aku tersenyum simpul dan melanjutkan sarapanku.
"Papa juga jangan pernah memberitahu kepada siapa pun termasuk mama dan Kagamine Rin kalau aku datang dari masa depan. Beritahu saja kalau aku anakmu di masa depan." Aku melihatnya dengan wajah poker face. Dia ini bodoh atau apa sih? Segitunya kah dia ingin orang tahu dan mengakui aku sebagai papanya?
"Apa bedanya? Bukankah itu juga secara tidak langsung bilang kalau kau datang dari masa depan." Mana mungkin aku memperkenalkannya sebagai anakku atau mengatakan kalau dia datang dari masa depan. Aku tidak mau di cap sebagai orang aneh dan gila!
"Kalau begitu, kenalkan aku sebagai anakmu saja tanpa ada kata masa depan nya hehehe." ABCDEFGH! Anak ini keras kepala banget. Untuk apa aku melarangmu memanggilku papa jika aku mengenalkanmu sebagai anakku. Dan lagi mana mungkin ada orang yang percaya dengan pernyataan itu. Usia kita hampir sama tahu!
"Sudah, kau tidak usah ikut." Aku berusaha menetralkan nada suaraku agar tidak terdengar seperti orang marah walau aku memang sudah marah.
"Tadi papa bilang aku boleh ikut. Papa plin plan!" Aku menyesal memperbolehkannya ikut. Sabar. Ingat Len, ini semua demi Mayu.
"Pokoknya jika kau mau ikut, kau harus menuruti perkataanku. Aku akan memperkenalkanmu sebagai sepupuku." Aku menatap serius ke arahnya, berharap dia dapat mengerti posisiku dan setuju denganku.
"Huft.. Baiklah." Neru sedikit menggembungkan pipinya dan mulai menyantap sarapannya. Akhirnya dia menyerah juga. Aku sedikit menghela napas, hari ini pasti akan sangat melelahkan.
-TBC-
