Ringkasan: Boboiboy yang tiba-tiba mengabaikannya, membuat Fang bingung. Fang yang sudah tak tahan lagi, akhirnya memutuskan untuk bertanya langsung pada Boboiboy. Tapi hal yang tidak di sangka terjadi! Boifang!
Disclaimer: Animonsta
Warning: Slash. Boifang. Fluff. Typo(s). DLL.
Di Sekolah Menengah Atas Pulau Rintis, ada banyak hal menarik di dalam nya. Ini bukan persoalan seorang Bad Boy dengan gaya kerennya atau bahkan anak perempuan dengan wajah bak bidadari nya, tentu saja bukan. Hal menarik ini lebih dari itu. Tidak percaya? Mari kita analisa. Coba perhatikan kelima remaja tanggung di kelas 12 IPA 2 sana, yang mana? Jelas saja mereka! Sekumpulan sahabat sejak masa SD yang di sebut-sebut sebagai pahlawan! Iya pahlawan Pulau Rintis.
Biar ku perjelas; Boboiboy pemilik 7 kuasa elemetal terkenal sebagai Soft Boy peluluh hati wanita bahkan pria -eh, Yaya dengan kuasa pengendali gravitasi nampak cantik dan elegan dengan hijab merah mudanya, Ying pemegang kuasa pengendali waktu nampak cerah dengan jaket kuningnya, juga Gopal dengan kuasa pengubah bentuk memiliki wajah khas keturunan india, dan tentu Fang sang pengendali bayang yang terkenal dengan sikap dingin dan ketampanannya.
Contoh hal menarik lainnya, termasuk Papa Zola. Guru matematika mereka, yang singkatnya suka sekali memberikan kuis matematika dadakan. Atau bahkan Iwan yang sekarang terlihat keren dengan suara beratnya.
Dan satu hal menarik yang tak dapat terbantahkan lagi—bahkan jika kau bertanya pada satpam sekolah sekalipun pasti tahu jawabannya—adalah bahwa Boboiboy dan Fang merupakan rival bebuyutan, yang selalu menyempatkan waktunya untuk bertengkar—hal tak penting.
Kecuali akhir-akhir ini, mereka tidak pernah bertengkar lagi. Dan Fang merasa risih dengan hal itu. Mungkin awalnya dia merasa biasa-biasa saja—malah bahagia, karena Boboiboy tak lagi sibuk mengganggunya. Bisa di bilang hidup tenangnya kembali. Tapi yang dia tidak habis pikir adalah, berani-beraninya Boboiboy mengacuhkannya. Boboiboy juga tidak pernah lagi menyapanya. Atau mengajaknya pulang bareng. Atau bahkan mentraktirnya Ice Choco Tok Aba–bukan berarti dia mengharapkan semua itu.
Fang melipat tangannya dan berpikir keras, apa ada yang salah di antara mereka? Tapi seingatnya tidak ada kok, mungkin. Terakhir dia ingat, dia juga masih berbicara normal dengan Boboiboy tapi itu sudah dua minggu yang lalu. Dan dengan segala tenaga, Fang mencoba untuk mengingat hal apa yang mereka debatkan terakhir kali, tapi percuma saja dia tetap lupa.
Menghela nafas berat, Fang menelungkukan kepalanya dia atas meja. Suasana kelas yang sepi sama sekali tidak membuatnya terganggu, dia justru terlihat menikmati nya. Beberapa menit yang lalu Gopal mengajak nya untuk pergi ke kantin bersama Yaya, Ying, dan tentu Boboiboy tapi dia tolak dengan halus ajakan tersebut. Suasana hatinya sedang tidak baik dan sumber dari permasalahannya tersebut adalah Boboiboy.
"Ehm, Fang?" Itu suara Yaya, sekarang di depannya sudah ada Yaya yang menatap Fang dengan gugup. Punggung Fang seketika menegak, dia bahkan tidak sadar jika ada orang yang masuk ke dalam kelas. Mungkin dia terlalu serius dengan lamunannya. "Kau baik-baik saja Fang?"
"A-aku baik-baik saja, kok. Ada apa?" ucap Fang sedikit terbata.
Yaya tersenyum lembut, dari tangan kanannya dia menaruh sebungkus donat lobak merah di atas meja Fang. "Ini untukmu Fang." Mata Fang menatap bingung pada donat di depannya, sebelum Fang bertanya Yaya keburu berbicara lagi. "Anggap saja donat itu dari ku, tadi di kantin kebetulan masih sisa satu." Yaya kembali tersenyum.
Dengan canggung Fang mengambil donat itu, "Terimakasih, Yaya."
"Bukan masalah!" Yaya menarik kursi terdekat dan duduk di depan Fang. "Ngomong-ngomong Fang, ada hal yang ingin ku tanyakan pada mu, boleh?"
"Tentu, apa itu?" Balas Fang dengan mulut penuh donat kesukaannya.
"ehm... beginilah, aku perhatikan akhir-akhir ini kau sering sekali melamun..." Bahu Fang menegang. "Aku hanya khawatir, jadi ku pikir jika ada hal yang mengganggumu katakan saja padaku. Aku akan membantu jika bisa!" kalimat itu di akhiri dengan senyum manis Yaya.
Fang terbatuk kecil, tangannya melambai gugup di depan wajah Yaya. "Aku tidak apa-apa, dan terimakasih Yaya..." Fang tersenyum tipis, "Ini hanya masalah kecil ku dengan Boboiboy."
"Boboiboy? Masalah?"
"yaa... Aku hanya bingung kenapa Boboiboy akhir-akhir ini seperti menjauhi ku, seperti mengabaikan ku." Wajah Fang di tundukkan, jari tangannya bermain dengan bungkus plastik donat tadi. "aku hanya takut, jika aku berbuat kesalahan tanpa ku sadari." Lirihnya.
Yaya tersenyum lembut mendengar pernyataan sahabat nya sejak kecil ini. Firasatnya benar jika ada yang salah dengan Fang dan itu berhubungan juga dengan berhentinya perkelahian—bodoh—antara Fang dan Boboiboy. "Boboiboy pasti mendiamkan mu karena alasan yang lain, kau tau sendiri kan Boboiboy bukan tipe pendedam?" ucap Yaya perlahan.
Fang mengangkat wajahnya untuk membalas tatapan Yaya. "Ehm, bagaimana kalau seperti ini. Kau Fang coba saja tanyakan langsung pada Boboiboy, kenapa dia tiba-tiba mendiamkanmu. Jadi mungkin kalian bisa berbaikan lagi!" Ucap Yaya dengan semangat.
"Tapi.." Mata Fang bergerak gelisah. Bertanya langsung pada Boboiboy, itu sama saja seperti dia membuang harga dirinya bukan?
"Jangan ragu lah Fang! Boboiboy kan teman mu sendiri, sedikit saja kau lupakan persoalan harga diri." Ucap Yaya dengan nada memelas. "Apa kau mau hubungan kalian berakhir begitu saja?" pertanyaan Yaya cukup membuat Fang tersentak. Tentu saja tidak. Walaupun waktu yang dia habiskan dengan Boboiboy lebih banyak berisi pertengkaran-pertengkaran bodoh, tapi tetap saja mereka adalah sahabat. Lagi pula apapun akan di lakukan jika demi seorang sahabat bukan?
"Oke, akan ku tanyakan pada Boboiboy sehabis pulang sekolah." Ya mungkin ini adalah cara terbaik untuk berbaikan lagi dengan Boboiboy. Mau bagaimana pun mereka adalah sahabat, masalah ego sudah Fang buang jauh-jauh jika menyangkut hal-hal seperti ini.
Wajah Yaya berseri-seri mendengarnya. Dia sangat senang mengetahui temannya yang terkenal memiliki harga diri tinggi ini mau menurunkan sedikit harga dirinya untuk Boboiboy. "Bagus! Aku selalu mendukung mu Fang!" Ucap Yaya dengan semangat.
"Oke, kalau begitu aku permisi dulu ya Fang. Soalnya lima menit lagi akan ada pertemuan klub Taekwondo." Mata Yaya melirik pada jam tangan kuasanya yang menunjukkan pukul setengah sepuluh.
Fang mengangguk sebagai balasan di iringi senyum tipis. "Jangan lupa ya! Untuk tanyakan itu pada Boboiboy!" dan dengan itu, Yaya berlari keluar kelas. Meninggalkan Fang yang pikirannya kali ini penuh pertanyaan bagaiman masalah ini akan berakhir.
Fang keluar dari sekolah pada pukul tiga sore. Gopal, Yaya, dan Ying sudah pulang duluan karena hari ini bukan jadwal piket mereka, jadi dia pulang sendirian sekarang. Biasanya Boboiboy akan menungguinya piket untuk pulang bareng tapi karena keadaan sekarang tidak memungkinkan—mengingat mereka lagi perang dingin, yang sejujurnya bahkan dia tidak tahu apa persoalannya. Alhasil dia pun pulang sendiri.
Sesuai saran Yaya, Fang tidak langsung pulang ke rumah. Kakinya terus melangkah menuju Kedai Choco untuk mencari Boboiboy yang kemungkinan besar ada di sana—mengingat Boboiboy adalah cucu berbakti, dia pasti sedang membantu Atoknya.
Dalam jarak satu meter, mata Fang menangkap kedai Choco yang ramai pengunjung. Iris ungunya bergerak liar, mencoba mencari pemuda bertopi orange di tengah-tengah banyak orang yang sedang meminum Choco. Tapi yang Fang dapat malah sesosok yang lain, dengan menelan ludah susah. Fang melangkah dengan ragu mendekati kedai tersebut. Padahal saat berangkat tadi dia semangat-semangat saja kok, mungkin karena tiga alasan ini semangat Fang mengikis.
Pertama. Dia tidak bisa menemukan lelaki bertopi orange tersebut. Kedua. Mungkin itu karena yang Fang temukan malah pemuda dengan topi berwarna lain, yaitu kuning, putih, dan biru muda. Dengan kata lain mereka adalah pecahan kuasa Boboiboy, Petir, Cahaya, dan Air. Dan yang menjadi pokok permasalahannya adalah sifat dari mereka bertiga yang kadang membuat Fang tepuk jidat.
Petir dengan sifat dingin dan menyebalkannya, tidak akan cocok untuk Fang ajak bicara. Lalu Cahaya dengan tingkat kenarsisan yang tinggi, yang Fang yakini dia tidak akan kuat dengan itu. Dan Air dengan wajar super datar, Fang seakan seperti bicara dengan tembok.
"Ehm... Boboiboy?" kata Fang pelan dan mereka bertiga yang di maksud menengok bersamaan. Wajah mereka sedikit terkejut dengan kedatangan Fang, tapi berhasil di tutupi dengan pandangan datar.
Sebenarnya Fang cukup sedih saat tidak satupun dari mereka yang membalas sapaannya. Dan dengan canggung Fang duduk di kursi kedai sambil memikirkan bagaimana caranya untuk memulai percakapan, jika nampaknya mereka bertiga pun sepertinya mengabaikan Fang.
"Ah Fang!" Suara robot yang Fang kenal memanggil nya, memiringkan kepalanya untuk melihat Ochobot yang mendekat ke arahnya.
"Fang! Lama sekali kau tak ke sini! Kemana saja kau?" robot kuning itu menunjukkan gurat khawatit pada Fang.
"Tidak kemana-mana kok. Cuman... Ehm banyak tugas! Iye banyak tugas." Ucap Fang dengan tertawa canggung. Tapi Fang gak bohong kok mengenai tugas sekolah nya yang banyak itu.
Elemental Boboiboy yang mendengar hanya tersenyum miring, mengingat alasan Fang yang sebenarnya bukan itu. "Eh tugas? Tapi ku lihat Boboiboy santai-santai saja kok, tidak pernah mengerjakan tugas."
"Ada lah tugas, kau saja yang tak nampak Ochobot." Petir menyahut datar di sertai dengusan ketara sebal. Tangan nya terampil mengelap gelas basah yang lalu dia taruh dengan rapi di rak piring. "Dan kau Fang ada apalah datang?" Mata Petir menatap tajam pada Fang.
"Ehm—sebenarnya ada hal yang ingin kutanyakan pada mu Boboiboy." Fang berucap pelan dengan pandangan ke bawah, apapun asal jangan iris mata para Elemental Boboiboy yang seperti menelanjanginya. Tentu saja Fang sadar jika sedari tadi tatapan intens mereka terarah padanya. Dia risih, tentu saja apalagi jantungnya sekarang berdetak sangat kencang.
"Aku ingin berbicara dengan mu." Mata Fang terangkat untuk menatap balik Petir, dan sedetik kemudian dia menyesal. Seringai ketiga Elemental yang menatapnya membuat Fang merinding. Apa dia salah dengan keputusan pergi ke sini?
"Oke." Air angkat suara. "Tapi tidak di sini, tak apa Fang?" Ucap Air penuh penekanan pada nama pemuda rambut landak tersebut.
"Eh Boboiboy kenapa tidak di sini saja? Aku masih ingin ngobrol bareng Fang." Suara Ochobot mengembalikan Fang yang masih terpaku pada seringai Air. "Tak bisalah Ochobot, kita orang ingin berbicara perihal penting. Begitu kan Fang?" Kali ini Cahaya yang bicara, suara nya yang kalem membuat Fang merinding. Apalah yang Boboiboy rencanakan padanya?
"Huh okelah, ya sudah kau pergi saja. Biar aku yang urus kedai." Ucap Ochobot sambil lalu untuk menghampiri pelanggan. "Dah Fang, sampai jumpa lagi." Dan sang Power Spera pun menghilang.
"Ayo." Suara memerintah dari Petir membuat Fang tersentak lalu mengangguk kaku. "Ta-tapi kita akan pergi kemana?" Kata Fang dengan wajah di tundukkan. Jantungnya secara tak sadar berpacu cepat, menyebabkan aliran darahnya kini terpusat di wajahnya dan membuat wajahnya memerah.
"Tentu saja, kamarku." Jawaban Air membuat kedua bahu Fang menegang.
Belum sempat Fang protes, Cahaya berkata. "Kalau tidak mau ya sudah. Aku sibuk." Ucapnya tidak peduli.
Mata dari para Elemental terarah padanya dan itu memberi kesan tidak nyaman bagi Fang. Apalagi dengan aura asing yang terpancar, membuatnya susah untuk menelan ludah karena kaku. Aura Boboiboy yang biasanya memancarkan kehangatan berubah menjadi aura mendominasi yang kuat. Entah kemana perginya sifat Boboiboy yang ceria itu.
"Baiklah, tapi aku minta satu syarat." Fang terpaksa mengiyakan, dia tidak mau hubungan dengan sahabat kecilnya ini memburuk. "Kalian harus bersatu, aku mau berbicara dengan satu Boboiboy saja." Iya cukup satu Boboiboy saja yang bersikap dingin padanya dia tidak perlu tiga sekaligus.
Raut wajah Petir nampak berpikir. "Oke apapun yang kau minta." Petir berucap tenang. Cahaya dan Air ikut mengangguk.
"Baiklah." Boboiboy menyilangkan tangannya dan menatap Fang dengan tatapan agak melembut jika di bandingkan para Elemental sebelumnya. "Jadi, apa yang kau bicarakan dengan ku, Fang?" tanyanya dengan tenang menatap Fang yang terduduk gelisah di kasurnya.
"I-itu tentang—aku... Apa aku berbuat salah pada mu Boboiboy?" wajah Fang terangkat perlahan melihat Boboiboy yang berdiri di sudut kamar.
Boboiboy mengangkat alis hitamnya. "Tidak juga." Jawaban tersebut memiliki makna ganda. "lagi pula, ada apalah kau bertanya begitu?" Kaki Boboiboy mendekat ke arah Fang dan berdiri di depannya. Tatapannya tepat menemui iris ungu.
"Itu karena tiba-tiba kau mengabaikanku. Sikap kau berubah Boboiboy." Fang yang di pandang intens memilih untuk memalingkan wajah. Entah bagaimana suasana ruangan berubah menegang apalagi suara degup jantung Fang yang mengencang benar-benar menganggu di telinga.
Fang tersentak kaget saat tangan Boboiboy menarik dagunya. Untuk beberapa saat respon otak Fang melambat. "e-ehm Boboiboy?" Ucap Fang ketika kesadarannya kembali dari hazel milik Boboiboy.
"berhenti memasang wajah seperti itu Fang." Suara Boboiboy rendah. Matanya terus menyusuri wajah oriental Fang. Dengan seburat merah di pipi berisi milik Fang juga hidung kecil miliknya membuat Boboiboy tidak bisa menghentikan tatapannya. Apalagi pada bibir kecil milik Fang. "ekspresi ini jangan kau tunjukkan pada orang lain Fang."
Dengan tatapan kaget Fang reflek mendorong Boboiboy untuk menjauh. "A-apa-apan kau barusan Boboiboy?!" Mata Fang melotot. "aku bertanya baik-baik. Kenapa kau tiba-tiba mengabaikan ku? Apa ada aku buat salah sama kau?"
Dengan senyum remeh Boboiboy berucap. "Bagaimana jika kau memang berbuat salah pada ku?" Di luar perkiraan Boboiboy, perkataannya tadi cukup membuat Fang terkejut. Lagi, tangannya dengan santai menyentuh wajah Fang yang menampakkan ekspresi kaget. Kali ini dia sungguh menikmati pipi penuh itu yang sesuai perkiraannya terasa lembut dan kenyal.
Tanpa perlawanan, Fang diam saja merasakan tangan Boboiboy yang mengelus pelan pipinya, pikirannya sedang kalut saat ini. Dengan pelan dia menggigit bibir cherry-nya—pertanda dia sedang gugup—Fang hanya terlalu takut untuk kehilangan teman berharganya hanya karena masalah—yang bahkan dia tidak tahu itu apa. "Lalu.." Ucap Fang lirih. "Apa yang harus ku lakukan untuk memperbaiki semuanya?"
Iris mata Boboiboy tak bisa lepas dari belahan bibir Fang yang sedari tadi di gigit oleh pemiliknya. Di sela kegiatannya Boboiboy membayangkan bagaimana rasa dari bibir merah itu jika dia meraup semuanya tanpa sisa, tapi yang pasti itu akan terasa sangat manis bukan?
"Tentu saja kau harus bertanggung jawab, Fang." Bisik Boboiboy rendah. Wajah Boboiboy mendekat mempersempit jarak diantara mereka, hidung mereka hampir bergesekkan. Tangan Boboiboy yang awalnya berada di pipi Fang, berpindah secara perlahan untuk menyentuh bibir Fang yang sedari tadi menarik atensi Boboiboy. Ibu jarinya secara lembut menarik bibir bawah Fang, membuatnya terlepas dari gigitan itu.
"Tapi yang pertama. Jangan menggigit bibi mu." Ucap Boboiboy pelan, sedangkan jari-jari miliknya masih sibuk mengusap bibir penuh Fang.
Fang tentu tidak bisa menghentikan keterkejutannya dengan perubahan sikap Boboiboy yang drastis. Jika awalnya Boboiboy akan memandangnya dengan tajam dan ucapan sinis, sekarang tatapan itu melembut. Persis seperti Boboiboy yang dia kenal. Walaupun begitu, tatapan kali ini memliiki esensi tersendiri, membuat Fang terpaku pada tatapan Boboiboy. Lupakan tentang detak jantungnya yang semakin menggila dan wajahnya yang pasti merah padam. Fang cukup menikmati hal ini.
"Tanggung jawab? Apa yang harus ku lakukan?"
"Simpel saja." Fang hampir melenguh, ketika Boboiboy tiba-tiba menunduk dan menelusuri tulang selangka Fang dengan lidahnya. Belum sempat bagi Fang untuk merespon, mulut Boboiboy keburu berpindah ke lehernya. "Ciuman di sini..." Gumam Boboiboy, dengan pelan dia mengecup leher Fang menyebabkan tubuh Fang menggeliat geli. Tangan Boboiboy yang bebas, di lingkarkan pada pinggang Fang yang ramping.
"Kau hanya perlu menjadi kekasih ku. Fang." Bisik Boboiboy seduktif. Lidahnya menjilati lubang telinga Fang dan mendapat balasan rintihan manis dari Fang. Fang hampir meleleh di perlakukan begitu oleh Boboiboy. Apalagi setelah mendengar perkataan Boboiboy tersebut, otaknya serasa berhenti bekerja. Membuat Fang melupakan fakta jika sekarang Boboiboy tengah menindihnya di atas kasur.
"Apa kau setuju Fang?" Ucapan Boboiboy mengembalikan kesadaran Fang.
Matanya melihat Boboiboy yang menjauhkan wajahnya. "Jika aku menolak, apa yang akan kau lakukan Boboiboy?" Untuk sesaat Fang melihat bibir Boboiboy membentuk seringai. Pipinya kembali di sentuh oleh Boboiboy.
"Yang pasti. Kau tidak akan pernah ku lepaskan Fang." Bisiknya rendah penuh penekanan. Mengharapakan perkataannya cukup membuat Fang takut.
Deru nafas mereka saling menerpa wajah masing-masig. Untuk beberapa saat Fang merasa waktu seakan berjalan melambat. Wajah Boboiboy yang berada di atasnya membuat Fang bisa leluasa memandang wajah Boboiboy yang ternyata sangat tampan. Pantas dia memiliki banyak penggemar. Fang mendengus pelan pada pemikirannya yang tanpa sadar mengakui kepopuleran rivalnya ini. Boboiboy yang melihat hanya mengangkat alis heran saat Fang tersenyum geli.
"Apa yang lucu Fang?"
"Bukan apa-apa. Cuman pemikiran bodoh." Fang kembali menatap Boboiboy. Kali ini tangannya ikut andil untuk menarik leher Boboiboy mendekat. Bibir mereka hampir bersentuhan.
"Ngomong-ngomong Boboiboy..." Jeda sesaat. "Aku pikir, aku akan bertanggung jawab."
TAMAT
Yo minna! Kembali lagi UwU... Moga-moga kalian suka ama fic ini yang jelas banget gaje bin aneh ini/wkwk. Padahal niat awal pengen humor plus romance aja tapi kok malah drama banget juga serius banget sifat Boboiboy jadinya/ kan lo sendiri yang buat!/ya maap, ke bawa suasana juga saiya nya.
Tapi seriusan deh nih Fic kacau banget endingnya selesai nya gitu aja dan pasti ngerasa gantung banget ye kan? (tp emang sengaja sih)/ hehe... jd jan marah yaaa~
Jangan lupa buat ninggalin jejak. Aku juga sangat terbuka banget ama komen, kritik, atau pun saran dari kalian!
See you next time UwU~
Omake!
"Yaya! Bisa tolong berikan donat lobak merah ini untuk Fang?"
"Kenapa tak kau saja Boboiboy?"
"Hehe, kau saja lah Yaya. Jangan bilang itu dari aku oke?"
