"Critamu sungguh menyentuh, Kagamine-sensei."
"Trima Kasih."
"Aku benar-benar merasa terbawa dengan alurnya."
"Aku senang bisa membuat orang-orang bahagia hanya dengan membaca ceritaku. Dan terima kasih atas dukungannya."
Aku tersenyum tulus tatkala setiap kali orang- orang mengatakan bahwa mereka menyukai hasil dari kerja kerasku selama ini. Meski pekerjaan ini telah ku jalani selama bertahun-tahun tapi rasanya tetap tidak pernah berubah terlebih melihat rasa antusias dan dukungan dari para penggemarku. Meski mereka tak pernah tau apa yang menjadi inspirasiku dalam setiap naskah.
Tak terasa semua aktifitasku telah selesai. Sesi fans meet kali ini berjalan lancar seperti yang di rencakan. Cukup membahagiakan melihat para fans masih tetap membaca dan mendukungku dari belakang, meski tak bisa ku pungkiri bahwa para hatters pun tetap 'mendukung' dengan cara mereka sendiri. Tapi, semua ini sudah lebih dari cukup untukku.
"Trima kasih atas bantuannya."Aku membungkuk tatkala berterima kasih kepada crew fans meet kali ini yang hendak kembali ke rumahnya masing- masing setelah beres-beres.
Aku menatap langit malam yang cukup terang pada hari ini. "Sepertinya aku pun harus kembali." Kataku pada diriku sendiri.
Aku mulai melangkahkan kakiku perlahan dalam diam. Di pikiranku sekarang hanya berisikan pertanyaan tentang apa yang akan ku beli sebagai oleh-oleh hari ini. Kue kah? atau aksesories khas Shibuya? Ahh... Mungkin keduanya boleh saja. Toh, tak ada yang melarangku untuk membeli sesuatu. Lagipula, memakai uang itu boleh, hanya saja tidak boleh berlebihan. Dan kurasa ini tidak berlebihan.
Ramai.
Jalanan ini cukup ramai meski di malan hari. Dari sudut mataku, aku dapat melihat pasangan muda yang tengah di mabuk asmara, anak-anak berandal yang bertebaran entah mencari apa, dan juga beberapa keluarga kecil. Keluarga kecil...
Entah mengapa mataku kini terfokus pada sebuah keluarga yang tengah berjalan di sebrang jalan sana. Tak ada yang spesial dari mereka, mereka hanya keluarga biasa yang terdiri dari ayah, ibu, dan satu anak berumur 5-6 tahun. Memang tak ada yang spesial dari keluarga itu tapi saat melihat kebahagiaan mereka...
Tap!
"Apa yang ku pikirkan." Semua hal itu membuat langkahku terhenti.
Ada satu hal yang membuangku bingung. Melihat mereka, rasanya begitu menyakitkan. Kenapa? Padahal aku memiliki keluarga bahkan, aku telah memiliki seorang suami. Tapi mengapa rasanya begitu sakit? Apa karna aku merindukan kedua orang tuaku yang telah meninggal beberapa tahun silam? Atau...
Aku sungguh tak tahu apa yang terjadi padaku.
~HURT
.
.
.
"Aku pulang."
Suasana Sepi dan gelaplah yang pertama kali menyambut Rin ketika sampai di rumahnya. Wajar saja jika tak ada siapapun yang masih beraktifitas, sekarang sudah tengah malam dan hal itu sudah biasa bagi Rin. Yahh... Jika mengingat pekerjaannya sebagai Novelis yang di tuntut untuk memenuhi keinginan para penggemarnya termasuk fans meet. Dan ini sudah seperti kebiasaannya sejak 5 tahun lalu.
Srak...
Rin menaruh kantung plastik berisi oleh-olehnya pada meja di ruang keluarga seperti biasa sebelum berjalan ke lantai dua. Kakinya berhenti tepat pada sebuah pintu dengan kualitas kayu mahoni berwarna teal dan memiliki tulisan "Miku" sebagai papan namanya. Tangannya kini mulai menggapai handle pintu di depannya dan memutarnya sepelan mungkin agar tidak menimbulkan suara yang dapat membangunkan pemilik kamar tersebut.
Ceklek.
Gadis itu selalu tahu bahwa pemilik kamar itu tak pernah mengunci pintu kamarnya dan hal ini memudahkan Rin untuk membukanya. Tunggu, Rin bukanlah penguntit atau apapun. Ia hanya ingin memastikan bahwa 'dia' ada dan sehat, itu saja. Meski Rin tahu bahwa itu terdengar tidak masuk akal jika mengingat mereka semua berada di dalam satu rumah. Tapi, itu semua tidak bisa ia lakukan meski hanya sekedar melihat jika mengingat pekerjaannya selalu memiliki Deadline. Dan, setiap hari hanya ini yang bisa ia lakukan.
Rin membuka sedikit pintu tersebut untuk melihat keadaan di dalamnya. Meski celah tersebut tidaklah terlalu lebar namun, matanya masih saja dapat melihat keadaan di dalamnya. Ia dapat melihat seorang pria berambut blonde tengah tertidur lelap seraya memeluk seorang gadis berambut teal berantakan. Melihat keadaan kamar yang tak cukup rapih dengan pakaian bertebaran dimana-mana juga selimut yang menutupi tubuh telanjang kedua insan itu, Rin bisa menyimpulkan kejadian sebelumnya tanpa harus membayangkannya. Mengerti dengan keadaan, dengan perlahan pintu kamar itu pun kembali di tutup. Dan menyisakan Rin yang masih terdiam di depan pintu.,
"Aku pulang, Len."
Rin kembali melangkahkan kakinya ke arah sebuah kamar di ujung lorong yang memiliki warna kuning pada pintunya. Ia membuka pintu tersebut dan masuk ke dalamnya.
Entah mengapa setiap kali membuka pintu teal tadi, ada rasa tak nyaman di dadanya terlebih melihat mereka bersama. Padahal ia yang memperbolehkan mereka menyatu sebagai suami dan istri tapi, ia dalam lubuk hatinya Rin menentang semua itu. Munafik... mungkin itu yang paling jelas menggambarkan diri Rin.
Seumur hidupnya ia tak pernah tahu bahwa dirinya akan memiliki kehidupan yang begitu menyakitkan seperti ini. Yang ia tahu, segalanya berawal dari perjodohan. Perjodohan dengan teman masa kecilnya yang harus ia terima dan laksanakan tepat pada beberapa jam sebelum sang ayah meninggal. Ia begitu mengingatnya di umur 16 tahun, Rin harus menikahi teman masa kecilnya yang memiliki perbedaan umur 4 tahun darinya. Rin tahu perjodohan ini salah meski perasaannya terhadap pria itu benar ada tapi, mengatakan soal perjodoha secara tiba-tiba dan menikah... Itu terlalu mendadak. Dan terlalu mendadak untuk segala hal menjadi nyata jika mengingat sang ayah menghembuskan nafas terakhir beberapa jam kemudian.
Sepertinya bukan hanya ayah-ayah mereka saja yang memiliki perjanjian tapi, mereka pun memiliki. Pria yang akan di nikahinya itu membuat sebuah perjanjian yang harus Rin tepati jika ingin di nikahi olehnya, dan perjanjian itu hanya di ketahui oleh kedua belah pihak tanpa ada campur tangan siapapun termasuk orang tua. Di dalam perjanjian tersebut mengatakan bahwa:
1. Mereka takkan melakukan hubungan badan sampai keduanya benar- benar dapat saling mencintai,
2. Jika salah satu dari mereka mencintai pihak ketiga maka orang itu di perbolehkan untuk menikah lagi untuk di jadikan orang kedua.
3. Pihak pertama hanya membiayai uang sekolah pihak kedua hingga lulus kuliah. Dan pihak pertama tidak membiaya hal-hal yang berkaitan dengan pribadi atau lainnya sebelum mendapatkan keterangan yang mengatas namakan kepentingan sekolah.
4. Jika perjanjian ini bocor, maka semuanya akan di batalkan. Dan hubungan kedua pihak berakhir.
Rin tidak pernah menyangka bahwa keputusannya untuk menyetujui perjanjian tersebut akan menyerang dirinya sendiri. Awalnya Rin pikir semuanya akan baik-baik saja hingga beberapa bulan yang lalu Len membawa Miku ke dalam pernikahan mereka. Dan di umurnya yang menginjak 21 tahun ini. Rin merasakan penyesalan.
.
.
.
TBC
.
.
.
Hallo,
Aku minta maaf banget karena masih acak-acakan dan jalan critanya belum jelas. Apa lagi wordnya masih sedikit. Aku punya alasan untuk itu. Aku mencoba berjuang sedikit untuk crita ini, jika kali ini pun tak ada perubahan. Dan misalkan ada 1 orang Reader yang mengatakan ini ga bagus atau menyuruhku berhenti. Akan ku pastikan aku menyelesaikan critaku yg lain dan Vakum untuk selamanya.
Sejujurnya aku benar- benar down bgt. tapi ku usahakan berjuang sedikit, dan kurasa crita ini pun ga terlalu banyak Chapter. untuk Ending, saya serahkan ke kalian. Kalian yang menentukan mau Sad Ending atau Happy Ending. Mau LenxMiku atau LenxRin di ending. itu aja.
sekali lagi maaf karna kesannya aku memaksa, tapi aku bukan tipe orang yang bisa menutupi diri. Sebagian orang yang kenal denganku tahu bahwa aku bukan pembohong yang baik dan tipe blak blakan. Jika kata-kataku ada yang salah dan menyinggung, aku minta maaf.
Sepertinya sekian untuk Crita kali ini, dan Trima kasih.
Salam Hangat,
Go Minami Asuka Bi
