"Maaf."

"Kenapa?!"

"Ada seseorang yang ku cintai. Jadi, lupakan soal perjodohan kita."

Set!

Sebuah tarikan pada ujung kemeja pemuda blonde itu kenakan membuatnya kembali berhenti melangkah. Gadis honey blonde di belakangnya ini masih saja memaksakan sesuatu yang tidak di inginkannya. Meski mereka telah mengenal satu sama lain, meski mereka adalah teman masa kecil tapi, pemuda itu tidak menginginkan hal yang di katakan gadis itu.

"Onegai! Onegai! Untuk kali ini saja, demi ayahku."

"Sudah kukatakan aku tidak bisa membantumu."

Setitik air mata kini mulai menuruni pipi chuby milik gadis honey blonde itu. "Onegai! Untuk yang terakhir kalinya aku memohon padamu. Aku akan melakukan apa saja! Tapi kumohon kabulkan permintaanku. Demi ayahku!"

Melihat teman masa kecilnya ini terus saja berusaha hingga menangis, pemuda itu pun menghela nafas. "Baik, aku akan membantumu. Tapi dengan satu syarat." Kata pemuda itu.

Senyum mengembang di bibir gadis itu."Apapun! Aku akan melakukan apapun!"

"Pernikahan ini harus ada hitam di atas putih."

~HURT~

Kring... Kring...

"Ummh..."

Suara nyaring yang berasal dari alarm handphone milik Rin membuat gadis itu mengeluh ngantuk. Kemarin malam ia baru kembali dari acara yang di buat agensinya untuk merayakan kesuksesan novel dan hal itu membuatnya masih mengantuk. Tapi, semengantuk apapun dia, dirinya tetap harus terbangun karena ini adalah kegiatan paginya. Maka dari itu meski dengan nyawa yang belum terkumpul semua, Rin bangkit dari posisi tidurnya dan berjalan keluar kamar dengan sedikit terhuyung.

Ceklek! Bam!

"Hoaamm..."

"Kau sudah pulang, Rin."

Mendengar suara dari arah depan yang tepatnya beberapa meter dari jarak kamar miliknya seketika seluruh nyawa Rin pun terkumpul begitu saja. Dia mengenal suara itu.

"Tadaima, Len-Nii." ucap Rin lirih seraya menunduk. Melihat Len di pagi buta seperti ini mengingatnya dengan apa yang ia lihat semalam di kamar mereka.

Len berjalan mendekat ke arah Rin dan berhenti tepat di depan gadis itu dengan sebuah senyuman. "Terima kasih untuk oleh-olehnya. Aku sudah menaruhnya di lemari dan bagaimana acaramu kemarin? Sukses?" Tanya Len.

"Umm." Rin mengangguk.

Rin semakin terdiam tatkala dirinya merasakan sebuah elusan di kepalanya. "Aku benar-benar tidak mengira kau akan menjadi seorang novelis yang sukses di jaman canggih seperti ini." Len menghentikan elusannya dan menggantinya dengan beberapa tepukan pelan. "Tapi, jangan hanya impianmu yang sukses. Kuharap suatu saat ada pria yang sukses merebut hatimu dan menggantikan posisiku sebagai penjagamu."

Deg!

Jari jemari lentik milik Rin itu kini meremat kemeja putih yang ia kenakan meski tidak terlalu kencang. Dadanya terasa sakit saat mendengar apa yang di katakan Len padanya. Apakah pria di hadapannya ini benar- benar tak ingin kehidupan bersamanya? Apakah itu keinginannya selama ini?

"Baiklah. Kurasa aku harus bersiap- siap. Hari ini aku harus menangani perusahaan cabang di Kanto. Kemungkinan akan pulang terlambat jadi, tolong jaga Miku dan calon bayiku."

"Tenang saja, aku akan memberikanmu oleh-oleh. Jadi, tolong ya."

Setelah permintaan tolongnya, Len pun beranjak dari posisinya untuk bersiap-siap tanpa menyadari sebuah sayatan kecil tak terlihat kembali terbentuk. Memang rasanya begitu cukup sakit tapi, ia harus bertahan karna dirinya yakin semuanya akan baik di akhir. Ia tahu ini bukan sesuatu yang mudah apalagi jika mengingat dirinya telah kalah jauh dari 'dia', bahkan terlalu jauh. Terlebih, ia saja baru mendengar kabar bahwa ada calon anggota keluarga yang akan lahir dan kemungkinan usianya baru sekitar 3 bulan jika di hitung dari hari pernikahan mereka.

Rin menarik nafas berat. Dirinya mulai kembali memproses segala jadwalnya hari ini. Ia tidak boleh terdiam begini terus, masih ada pekerjaan rumah tangga yang harus di lakukannya. Rin menepuk beberapa kali kedua pipinya untuk menyadarkan dirinya sendiri sebelum kembali melangkahkan kakinya ke arah dapur dengan semangat. Bukankah Len yang mengatakan bahwa pria itu akan pergi ke luar kota? Maka dari itu ia akan membuatkannya bekal.

"Kurasa aku akan membuatkan bekal untuknya."

~HURT~

09.45

Sudah 2 jam lebih Rin mencari inspirasi untuk sequel novel miliknya yang lain tapi, masih saja buntu. Ia pikir dengan mengubah suasana dari dalam kamar lalu pindah ke ruang keluarga akan mendapatkan sedikit ide untuk melanjutkan naskah ceritanya namun nyatanya tak ada satupun ide yang masuk ke dalam otaknya. Haruskah ia meminta pendapat pada agensinya? Tapi, mengingat hari ini agensinya di liburkan akibat renovasi gedung... Rasanya tidak enak mengganggu hari libur yang sangat sulit ini.

Rin menghela nafas menyadari kesulitannya. "Kurasa otak kecilku perlu refreshing sejenak" Ucap Rin.

Merasa tidak ada perkembangan, Rin pun memilih untuk bersender di sofa dan membuat peregangan sedikit untuk merilekskan dirinya. Padangannya yang sejak tadi terus menatap layar laptop kini beralih pada langit cerah di luar jendela dalam diam. Meski terdiam tapi, entah mengapa dalam pikirannya terus bertanya-tanya akan sesuatu. Sesuatu yang tak mungkin bisa Rin katakan pada siapapun.

"... Tolong jaga Miku dan calon bayiku.

Rin meraba perutnya yang datar dalam diam tatkala perkataan pria blonde yang menjadi suaminya itu terputar jelas di benaknya. Rin tersenyum kecut tatkala menyadari dirinya yang semakin jauh tertinggal di banding wanita teal yang menjadi istri kedua suaminya beberapa bulan lalu. Tidak, sebenarnya ia menyadari bahwa sejak awal dirinya telah kalah namun, entah apa yang meyakinkannya untuk bertahan hingga saat ini.

Prang!

Gadis honey blonde itu tersentak bangun dari alam pikirannya tatkala suara barang yang pecah terdengar jelas seakan menyadarkan dirinya pada wanita teal yang di minta untuk di jagai. Dengan terburu-buru Rin mengatur laptopnya pada mode sleep dan segera bangkit dari posisi duduknya untuk berlari ke arah asal suara yang ia yakini dari dapur. Gadis itu berharap bahwa tak terjadi sesuatu yang membahayakan istri kedua suaminya dan calon anak mereka jika tidak, entah apa yang bisa Len lakukan padanya. Meski sebenarnya ia tak pernah melihat Len marah padanya.

"Miku-san!"

Mendengar ada seseorang yang memanggil seraya berlari ke arahnya, Miku selaku orang yang di panggil mengalihkan pandangnya pada Rin dengan raut wajah yang pucat. Melihat tubuh lunglai dan wajah pucat Miku, Rin membopong Miku ke arah kursi meja makan dengan perlahan seraya menghindari pecahan gelas kaca. Memang tubuh Rin kecil dan kurus tapi, bukan berarti dirinya lemah jika mengingat dirinya pernah ikut bela diri sewaktu sekolah dulu.

"Kau baik-baik saja?" Tanya Rin yang di balas dengan anggukan kecil.

"Maaf, aku hanya berniat membuat susu tapi, tiba-tiba kepalaku terasa begitu pening."

Rin menghela nafas mendengar jawaban Miku. "Kau bisa meminta bantuanku. Lagipula, Len-Nii telah mempercayakan dirimu padaku. Bagaimana jika terjadi sesuatu pada dirimu atau bayimu? Bisa-bisa Len-Nii sangat sedih." Tegur Rin.

Rin tahu dia memang jauh lebih muda dari Miku tapi, dirinya tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan seluruh keluarganya jika terjadi sesuatu calon penerus keluarga Kagamine. Padahal sudah bertahun-tahun mereka menunggu calon penerus yang tak bisa Rin berikan karena sebuah kondisi yang tak bisa dirinya jelaskan pada siapapun tapi, saat mereka telah mendapatnya dan itu menghilang secara tiba-tiba... Sungguh, Rin tidak tahu rasa sedih seperti apa yang akan melanda keluarga mereka. Sudah cukup jika dia d anggap mandul dan membuat semua orang kecewa.

"Lain kali, aku akan meminta bantuanmu." Ucap Miku seraya tersenyum.

Gadis blonde itu kembali menghela nafas menyadari nasihatnya sejak tadi mungkin tak terlalu di mengerti oleh Miku. "Tunggu disini!"

Rin berjalan kembali ke arah dapurmeninggalkan Miku yang menatapnya menjauh. Melihat kekacauan yang di buat Miku membuat Rin hanya bisa menghela nafas dan segara mengambil perlatan untuk membersihkannya. Pecahan gelas kaca besar yang berserakan ia ambil dan buang ke dalam tempat sampah sedangkan susu bubuk juga serpihan gelas ia sapu hingga bersih. Setelah merasa cukup bersih, Rin mengambil gelas baru untuk membuatkan segelas susu ibu hamil untuk Miku. Mulai sekarang, Rin harus terbiasa dengan kebiasaan barunya yang menjadi babysitter dadakan.

"Minumlah." Rin memberikan segelas susu yang terlah di buatnya pada Miku yang segera di ambil oleh gadis teal itu.

"Terima Kasih."

"Lain kali jangan bertindak sendiri. Kau beruntung karena ada aku disini. Bagaimana jika aku sedang tidak ada? Lainkali mintalah bantuanku, OK?"

Miku tersenyum mendengar perkataan Rin. "Kuharap Len melihat kebaikan adik kecilnya ini." Kata Miku sebelum meminum susunya.

Deg!

"Ya... Aku memang adik kecilnya yang baik."

~HURT~

"Tadaima."

"Okaeri, Len-Nii."

Len sedikit terkejut dan kebingungan tatkala hari ini bukan senyuman wanita teal yang menyambutnya seperti biasa. "Dimana Miku?" Tanya Len pada Rin yang membuat senyuman gadis honey blonde itu luntur perlahan.

"Ah, itu... Miku-san sedang istirahat, sejak pagi ia tidak bisa menahan pening dan mual. Tapi, sekarang sekarang sudah lebih baik." Jawab Rin yang sekarang tengah sedikit menunduk seraya menatap layar laptopnya yang menyala.

"Syukurlah jika ia baik-baik saja."

"Hmm... Ya..."

Puk!

Merasakan sesuatu di atas kepalanya dengan tiba-tiba alhasil membuat Rin terkejut dan dengan spontan memegang apapun itu yang ada di kepalanya. Kantung? Bulat-bulat?

"Sekantung jeruk untukmu."

Mendengar jawaban dari pemikirannya, Rin langsung menurunkan kantung jeruk itu dengan cepat dengan wajah bahagia. Ternyata Len tidak pernah lupa dengan buah kesukaannya ini dan ia bersyukur atasnya.

"Kau senang?"

"Ya! Sangat!"

Puk!

Jika tadi adalah sekantung jeruk yang hinggap di kepalanya kini tangan besar milik Len yang mengelus pucuk kepala honey blonde tersebut. "Aku senang jika kau menyukainya." Kata Len sebelum menarik elusannya.

"Karena ini sudah terlalu larut, aku akan masuk ke dalam. Kau juga jangan tidur terlalu larut mengerti?"

"Umm!" Jawab Rin yang masih kegirangan.

Len tersenyum menanggapi perkataan singkat Rin sebelum berjalan ke dalam kamar dan Miku. "Oyasumi."

"Umm! Oyasumi."

Srek! Tak!

Pintu kamar itu kembali tertutup tatkala pemiliknya telah masuk ke dalamnya meninggalkan gadis berambut honey blonde yang sekarang menampilkan sebuah senyum kecut yang sejak tadi ia tahan. Sejujurnya ia memang senang mengingat Len masih ingat dengan kesukaannya namun, bukan hal ini yang ia harap. Padahal, sejak tadi ia memang sengaja menunggu pria itu pulang hanya untuk mendapatkan sedikit momen kebersamaan mereka. Tapi, sepertinya itu takkan pernah terjadi.

Clik! Tap!

Rin mematikan laptopnya yang sejak tadi menyala. Ia sudah tidak mood lagi untuk menulis kelanjutan naskahnya hingga akhirnya ia memutuskan untuk mengakhiri aktifitasnya malam ini. Rin bangkit dari posisinya seraya membawa laptop dan berjalan ke arah kamarnya. Tepat saat dirinya melewati kamar milik sang suami, sebuah senyuman hambar dan sebuah ucapan seperti biasa tak bisa terelakkan.

"Oyasumi."

To Be Continue

Halo All,

Kembali bersama saya si author ngaret. kali ini saya coba satu-satu buat terusin seluruh fic saya yang terbengkalai. Dan untuk kali ini maaf masih pendek wordnya dan cuap-cuapnya pub pendek, karena mengingat ada hal yang penting hari ini.

Jadi, mungkin segitu dulu cerita saya, saya harap bisa memuaskan Readers sekalian.

Trima kasih bagi Readers yang mau membaca, saya harap kalian mau memberikan sedikit Review bagi saya. sekali lagi Trima kasih.

Salam Hangat,

Go Minami Asuka Bi