"Bagaimana perkembangan janinmu?"

"Ayolah, bu. Miku baru hamil selama dua bulan lebih dan ibu sudah begitu bawel."

"Tak apa, Len. Ibu hanya ingin mengetahui perkembangan cucunya saja."

"Ibu setuju dengan Miku. Kau ini terlalu kolot seperti ayahmu, Len."

Aura bahagia kini meliputi seluruh ruangan makan. Sebelumnya beberapa jam yang lalu mereka diundang untuk makan malam keluarga di rumah utama milik keluarga Kagamine hingga akhirnya perbincangan dan tawa mewarnai tempat tersebut. Tapi suasana itu sama sekali tidak berlaku bagi Rin.

Gadis honey blonde itu sama sekali tidak mengatakan sepatah kata pun sejak sampai di rumah utama, bahkan tak ada satupun orang yang memulai pembicaraan dengannya. Rin tidak pernah merasa bahwa dirinya diasingkan, mungkin saja mertuanya memang tengah dilanda kebahagiaan karena mendengar kabar tentang cucunya yang akan lahir ke dunia sehingga melupakan Rin. Meski hal ini telah terjadi dari 2 tahun sebelumnya.

"Ibu sangat bahagia mendengar tentang calon cucu kami. Bahkan saking bahagianya, mungkin bibir ibu bisa sobek karena terlalu banyak tersenyum."

"Aku juga sangat senang saat pertama kali mendengar tentang kehamilanku di rumah sakit, Bu."

"Kau benar-benar seperti malaikat yang membawa kebahagiaan pada keluarga ini, Miku. Setelah bertahun-tahun aku tidak bisa mendapatkan cucu, tiba-tiba saja kau datang dan memberikan banyak berkah bagi keluarga ini. Tidak salah aku menyetujui pernikahan kalian."

Deg!

Rin mengeratkan kuku jari pada alat makan yang ia pakai tanpa menghentikan pergerakan tangannya. Pasti ibu mertuanya sangat senang dengan kehadiran calon bayi di rahim Miku hingga begitu bersyukur akan kehadiran gadis teal tersebut. Rin yakin itu.

"Lily!"

Lily-ibu mertua- menengok ke arah suaminya yang memanggil dengan nada tinggi untuk memberi teguran. "Apa? Aku hanya berkata sejujurnya. Lagipula memang sudah bertahun-tahun kita menunggu kehadiran seorang cucu di rumah ini. Kalau saja Len menikahi Miku jauh lebih cepat, pasti kita sudah bermain cucu kita, Leon." Katanya.

Mendengar perkataan sang istri, Leon melirik ke arah menantu tertuanya yang tengah menarik nafas cukup panjang sebelum menelan makanannya. Pria dewasa itu mengerti bagaimana susahnya menelan makanan disituasi seperti ini. Terkadang istrinya perlu diajarkan untuk berbicara lebih sopan lagi meski kepada menantunya sekalipun.

Rin menaruh peralatan makannya di atas plate yang telah bersih dari hidangan makan malam mereka dan menarik bibir ke atas untuk tersenyum. "Terima kasih atas makan malamnya. Seperti biasa, masakan ibu memang sangat e-"

"Kau tak perlu memuji hanya untuk mendapat perhatian dariku."

Selaan itu membuat Rin menghentikan perkataannya. "Kalau begitu aku akan kembali ke kamar. Lagipula masih ada deadline yang harus-"

"Sejak dulu kau memang hanya perduli dengan buku-bukumu dan tidak memperhatikan anakku. Aku ragu kau melayani Len dengan baik selama ini."

"Ibu."

Lily menatap Len yang memanggilnya untuk meminta pengertian terhadap ucapan wanita itu pada Rin. "Kau tidak perlu membelanya, Len! Lagipula sejak awal ibu hanya mengundang kalian berdua kemari, tapi mengapa kalian membawanya ke tempat ini?!"

"Cukup Lily!"

Merasakan suasana panas di ruangan ini karena perkataannya, Rin pun bangkit dari posisi duduk. "Aku sudah selesai, maka dari itu aku akan kembali ke kamarku. Ayah, ibu, Len-nii dan Miku-san bisa melanjutkan makan malam kalian, permisi." Rin membungkukkan badannya sebentar sebelum berjalan pergi dari ruang makan.

"Ibu."

"Kita akan membahas hal ini nanti, Lily."

Perkataan bersahutan dari Len dan Leon setelah tubuh mungil Rin menghilang dari balik pintu ruang makan membuat Lily enggan menatap kedua pria tersebut seakan tak mendengarnya. Dan meskipun Rin telah pergi dari ruang makan, namun suasana acara makan malam mereka tidak bisa diubah kembali seperti sediakala.

Hurt

"Ditolak?"

Jemari lentik gadis honey blonde menghentikan aktifitas mengetiknya tatkala orang yang berada di seberang sambungan telpon itu memberitahu tentang penolakan naskah cerita baru Rin. Gadis itu langsung mengubah posisinya yang tengah tengkurap di atas tempat tidur menjadi duduk bersila untuk menyamankan diri.

"Jangan katakan aku harus membuat naskah baru."

"Maaf, Kagamine-sensei. Tapi itu sudah keputusannya.""Tapi aku tidak bisa membuat naskah baru dengan deadline hanya seminggu. Lagipula aku pun harus menyelesaikan cerita yang lain, Kamui-san."

Perbincangan antara Rin dengan penelpon yang bernama Kamui itu harus terhenti tatkala suara ketukan pintu kamar terdengar. Dengan spontan Rin menatap pintu kamarnya seraya bertanya-tanya akan seseorang di balik sana.

"Siapa?"

"Rin."

Mendengar suara yang tak asing lagi didengar, Rin buru-buru beralih pada ponselnya. "Kita bahas lagi nanti." Ucap Rin sebelum mematikan sambungan ponsel tanpa memperdulikan suara protesan dari seberang sana.

Rin turun dari tempat tidur dan melangkah kaki ke pintu kamar lalu membukanya. "Len-Nii? Ada apa?" Kata Rin seraya tersenyum kecil.

Pria yang ditanyanya itu sama sekali tidak memberi jawaban apapun, malah ia matanya sama sekali tidak menatap Rin. Dari balik punggu tegap Len, sosok wanita teal keluar dan berpindah ke samping Len yang membuatnya menjadi perhatian Rin.

"Miku-san?"

"Maaf."

"Ekh?" Rin berkedip menanggapi perkataan Miku yang sama sekali tidak dapat dimengertinya.

"Aku disini mewakili ibuku untuk meminta maaf. Maaf, jika perkataan ibuku membuatmu sedih, Rin."

Rin mengalihkan pandangan lagi pada Len yang meminta maaf karena perkataan ibunya saat makan malam tadi. Rin kembali mengembangkan senyum di wajahnya mendengar permintaan maaf tersebut. Lagipula kenapa harus minta maaf? Bukankah ini biasa terjadi? Biasanya pun Len tidak pernah meminta maaf seperti ini padanya.

"Tidak apa-apa, Nii. Lagipula ibu hanya terlalu bahagia mendengar kabar tentang kehamilan Miku-san saja."

"Benar! Itu bukan salahmu atau salah ibu. Ini semua karena aku memberitahukan tentang kehamilanku, maka dari itu akulah yang bersalah disini."

Ah, rasa emosional yang tinggi karena kehamilan, ya? Tanggap Rin dalam hati saat melihat Miku yang telihat merasa sangat bersalah.

Len menatap Miku yang berada di sampingnya."Bisakah kau tidak menyalahkan dirimu terus menerus, Miku?" Melihat wanita teal itu yang terus gelisah sejak setelah makan malam tadi membuat Len khawatir. Dalam masa kehamilan, seorang wanita tidak boleh terlalu membebani pikirannya untuk mencegah stress yang dapat berakibat pada janin. "Bukankah sudah kukatakan, aku yang akan menggantikan ibu meminta maaf pada Rin sesuai keinginanmu. Jadi bisakah kau tenang sekarang?"

Ah, begitu.

"Kalian tidak perlu khawatir. Aku sama sekali tidak menganggap kejadian tadi sebagai beban pikiran. Lagipula aku memang sengaja kembali lebih cepat karena deadline." Rin memandang Miku yang menatapnya. "Bukankah sudah terlalu malam bagi ibu hamil membuka matanya? Begadang tidak baik baik janinmu, Miku-san." Sambungnya.

"Apa yang Rin katakan itu benar." Kata Len pada Miku sebelum berpaling menatap Rin. "Maaf mengganggu waktumu, Rin."

"Tidak apa-apa, Len-nii."

"Baiklah, kalau begitu kami akan kembali ke kamar."

"E-ekh, tapi-"

"Kami permisi, Rin."

Rin melambaikan tangan seraya tersenyum saat melihat Len yang menggiring Miku ke kamar tidur mereka. Sesaat setelah mereka cukup jauh, Rin kembali masuk ke dalam kamar dan menutup pintu beserta menguncinya.

Telapak tangan gadis itu ia biarkan berada di atas dadanya. Mata shappirenya terpejam saat ia menarik nafas cukup panjang untuk menenangkan diri. Entah mengapa denyutan di dada Rin terasa begitu sakit meski ia tahu dirinya tidak memiliki penyakit jantung atau semacamnya. Tapi rasanya cukup sakit.

"Bukankah sudah kukatakan, aku yang akan menggantikan ibu meminta maaf pada Rin sesuai keinginanmu.-"

Rin menghela nafas lalu menepuk kedua pipinya agak kencang hingga memerah. Ia harus sadar dengan posisinya sekarang meski terkadang Rin muak dengan dirinya sendiri. Dari begitu banyak tingkah laku manusia, mungkin yang cocok dengan tingkahnya sekarang adalah munafik.

To be Continue