From: Gumi
To: Rin
Subject: Re; Re; Reuni
Jadi bagaimana?
Apa kau bisa datang?
Rin menatap email yang terpampang di layar ponselnya dengan tatapan bingung. Sebenarnya Rin hanya bingung dengan apa yang harus ia tanggapi dari undangan reuni sekolahnya dulu semasa Senior High School. Masalahnya sih ini begitu mendadak dan di rumah sedang tidak ada orang karena Miku tengah menginap di rumah ibunya dan Len masih bekerja, tidak mungkin ia meninggalkan rumah begitu saja.
From: Gumi
To: Rin
Subject: Re; Re; Reuni
Ayolah, Rin. Lagipula hanya malam ini saja kau bisa menikmati bar berkelas milik Meito. Kita bisa menikmati wine mahal disana.
Melihat keantusiasan Gumi, Rin terkekeh geli. Sahabatnya semasa sekolah ini tidak pernah berubah, masih saja kekanak-kanakan terlebih jika sifat tsundere-nya kambuh. Demi sang sahabat, sepertinya Rin akan memenuhi permintaan tersebut. Toh hanya satu hari saja.
From: Rin
To: Gumi
Subject: Re; Re; Re; Reuni
Baiklah. Untuk sahabatku, aku akan datang ke acara reuni kali ini.
Hurt
"Aku tidak menyangka akan banyak yang datang."
"Sudah sewajarnya, bukan? Lagipula siapa yang tidak tergoda untuk datang ke bar nomor satu di Voca City ini?"
"Kau benar, Rin. Aku pun tidak menyangka Meito membuka bar seperti ini." Gumi terdiam sebentar sebelum melanjutkan perkataannya. "Bagaimana dengan-nya?"
"Nya?"
"Ayolah, Rin. Kau tidak perlu berpura-pura seperti itu di hadapanku. Kau tau, aku sudah menjadi sahabatmu selama bertahun-tahun, aku mengerti semua gelagatmu itu."
Inilah salah satu penyebab, mengapa Rin tidak pernah mau bertatap muka terlalu lama dengan sahabatnya ini. Saat pernikahannya dengan Len, Rin masih sangat belia dengan umurnya yang baru enam belas tahun dan dipastikan masih sekolah. Meski acara pernikahan dilakukan secara tertutup, namun tidak menutup kemungkinan adanya paparazzi yang meliput, mengingat Kagamine adalah salah satu pembisnis besar, dan besar kemungkinan jika Rin juga akan dikeluarkan dari sekolah. Maka dari itu ia memohon pada Gumi selaku orang yang paling ia percayai untuk menutup mulut para penyebar gosip murahan. Dan Gumilah satu-satunya yang mengetahui Rin telah menikah dan rasa cinta gadis itu pada suaminya.
"Kudengar ia telah menikah dengan keluarga Hatsune, apa itu benar?"
Rin menengok ke arah Gumi di sampingnya. "Apa hal seperti itu perlu diperjelas?"
"Tapi kenapa?"
"Kenapa kau membiarkannya menikah dengan wanita lain? Kau mencintainya, bukan? Seharusnya kau tak membiarkannya menikah begitu saja!"
"Lalu apa yang harus kulakukan? Mengurungnya? Atau mengatakan akan bunuh diri jika dia menikah lagi?" Rin menatap Gumi dengan serius. "Aku hanyalah adik baginya. Lalu apa yang bisa kuharapkan dari seorang yang menganggapku adik? Cinta sebagai wanita?"
"Rin."
"Setiap saat, aku menatap punggung tegapnya dengan angan yang sama, tapi tanpa kusadari punggung itu semakin menjauh." Rin menarik nafas dengan berat seraya menundukkan kepala. "Bagi seorang pejuang sepertiku, aku hanya bisa menepuk punggungnya untuk melangkah maju meski diriku jatuh terluka dan tertinggal jauh."
"Maaf," Gumi ikut menundukkan kepalanya. "Maaf, aku tidak mengerti perasaanmu selama ini. Aku hanya berpikir egois tentang kebahagiaanmu tanpa tahu akar masalahnya." Katanya lagi.
Rin menarik nafas cukup dalam sebelum membuat simpul senyuman di wajahnya. "Sudahlah. Lagipula sekarang kita tengah berada di acara reuni, bukan? Mumpung masih disini, pesanlah sesuatu. Aku akan membayarnya." Kata Rin menawarkan.
Mendengar sesuatu tentang gratis, Gumi mulai bersemangat kembali. "Benarkah?" Tanyanya.
Rin mengangguk kecil. "Asalkan kau pilihkan wine terbaik untukku." Kata Rin.
"Kalau masalah wine, kenapa tidak tanyakan pada pemilik barnya saja?" Gumi mengarahkan pandangan pada sesosok pria berambut coklat yang tengah berbincang di ujung kanan meja bar.
"Meito!"
Mendengar namanya dipanggil, Meito mengarahkan pandangannya pada Gumi dan Rin yang tengah duduk bagian ujung kiri meja bar. Melihat isyarat tangan dari Gumi agar ia mendekat, Meito pun meminta ijin waktu pada teman-temannya sebelum berjalan ke arah Gumi dan Rin.
"Ada yang bisa ku bantu, Nona-nona?"
"Meito, bisakah kau mencarikan wine yang tepat untuk bunny manisku ini?"
Rin melirik tajam ke arah Gumi saat dirinya dipanggil bunny. Padahal ia sudah tidak pernah memakai pita putih besar yang selalu Rin kenakan sewaktu sekolah dulu. Tapi mengapa panggilan bunny masih melekat pada dirinya? Apakah ia terlihat seperti kelinci?
"Wine, ya?" Meito beralih menatap Rin. "Kau suka rasa yang seperti apa, Kagari-san?"
Kagari? Ah, rasanya sudah lama sekali saat orang-orang memanggil marga lamanya. Ia bahkan hampir lupa bahwa semua orang disini-terkecuali Gumi- tidak mengetahui bahwa dirinya telah menikah. Tapi entah mengapa ia lebih nyaman dipanggil dengan marga lamanya.
"Aku tidak tahu apapun soal wine, tapi aku suka jeruk." Kata Rin menanggapu.
"Jeruk, ya?"
"Aku Vosne Romanee tahun 2005 saja." Kata Gumi menambahkan.
"Baiklah, tunggu sebentar."
Meito berjalan keluar dari meja barnya dan masuk ke dalam sebuah pintu. Melihat Meito yang pergi begitu saja, Gumi dan Rin saling menatap dengan pandangan bingung. Harusnya Meito menyiapkan minuman untuk mereka dari jajaran botol-botol wine yang tertata rapih di belakang meja bar, tapi pria berambut coklat itu malah menghilang di balik pintu sana.
Sekitar 15 menit menunggu, akhirnya Gumi dan Rin melihat Meito yang keluar dari ruangan tersebut seraya membawa sebuah botol wine di tangannya. Ia berjalan kembali ke dalam meja bar dan mulai mencari botol lainnya di antara jajaran botol wine disana. Setelah menemukan apa yang dicari, Meito pun menyiap gelas khusus wine dan membuka dua botol tersebut. Dua aroma khas menguar di udara dengan perpaduan yang tumpang tindih seakan berlomba untuk mencari perhatian.
"Silahkan."
Dua gelas wine dengan isi yang berbeda kini disodorkan pada Gumi dan Rin. Gumi yang sudah tau dengan pesanannya mulai meminum wine dari gelas tersebut. Berbeda dengan Gumi, Rin tidak langsung meminumnya, ia hanya memegang wine tersebut seraya membauinya. Rin tertegun dengan aroma menyegarkannya dan menenangkan. Aroma leci, akasia, mawar dan seroja bercampur menjadi satu bagaikan taman bunga. Selama ini Rin tidak pernah meminum wine atau jenis alkohol apapun, maka dari itu ia tidak pernah mengira bahwa wine dapat membuatnya kagum.
"Gewurtztraminer Selection Du Grand Nobel tahun 2003"
"Ekh?"
"Kau ingin sesuatu seperti jeruk bukan? Kurasa itu pilihan yang tepat. Minumlah!"
Rin tidak langsung meminumnya meski disuruh. Rin menatap sebentar cairan wine di dalam gelas dengan ragu hingga ia memberanikan diri untuk meneguknya perlahan. Rasanya yang sedikit mild tapi begitu transparan, rasa asam menyegarkan seperti jeruk memberikan sebuah ketegasan. Wine itu sama sekali tidak memakai jeruk kedalamnya, tapi Rin bisa menikmati rasa asam bagaikan jeruk di dalamnya.
"Bagaimana?"
"Aku bukan pecinta wine, tapi aku bisa merasakan wine ini seperti jeruk." Rin menengadahkan kepalanya menatap Meito. "Bagaimana bisa."
"Hanya Gewurtztraminer si genius Marcel Deiss lah yang bisa melebihi Gewurtztraminer."
"Huh?"
"Maksudnya wine Gewurtztraminer itu berbeda dengan Gewurtztraminer pada umumnya karena buatan Marcel Deiss." Jelas Gumi yang mendapat anggukan mengerti dari Rin. "Ne, Meito. Untuk Gewurtztraminer, harga perbotolnya berapa?"
"Dua belas ribu Yen."
Hurt
"Darimana saja hingga pulang larut seperti ini?"
"Le-Len-Nii. Bukankah Len-Nii lembur hari ini?"
Sekarang Rin mendapat sebuah pelajaran baru. Lampu rumah mati dan pintu masih terkunci, bukan berarti tidak ada orang di dalamnya. Rin benar-benar tidak menyangka Len memergokinya pulang larut. Sebenarnya sejak awal ia memang salah karena tidak memberitahu Len sebagai suami tentang dirinya yang pergi ke acara reuni. Sebenarnya Rin hanya berpikir ia akan kembali sebelum Len pulang, mengingat pria itu bilang akan kerja lembur hari ini.
"Aku bertanya padamu. Darimana saja kau sejak tadi?"
Rin mengeratkan jari-jarinya pada tas tangan yang ia pegang seraya menundukkan kepala. "Acara reuni." Jawab Rin.
"Mengapa kau tidak mengabariku?"
"Aku pikir Len-Nii akan lembur, maka dari itu aku berniat untuk pergi sebentar dan kembali sebelum Len-Nii kembali." Jawabnya lagi dengan jujur.
Len melangkahkan kakinya lebih dekat pada Rin. Seiring langkah semakin dekat, Len dapat mencium bau alkohol samar-samar. "Kau minum?" Tanya Len.
Rin menegakkan kepalanya menatap Len. "Ti-Tidak! Aku hanya minum dua gelas wine saja, sungguh!" Kata Rin.
"Kau pulang larut setelah minum tanpa mengabari orang rumah, huh? Kau itu sudah besar, harusnya bisa mengerti ini dengan baik!"
"Maaf." Rin kembali menundukkan kepalanya.
"Apa kau tidak mengerti? Kau itu tanggung jawabku! Bagaimana jika terjadi sesuatu padamu? Kau membuatku khawatir!"
Dada Rin terasa berdenyut mendengar perkataan Len. Aneh, denyutannya tidak seperti biasa. Dada Rin malah terasa begitu hangat saat mendengar Len yang mengkhawatirkannya. Perlahan kepala Rin menegak kembali menatap Len.
"Len-Nii mengkhawatirkanku?"
"Pertanyaan bodoh macam apa itu? Bukankah sudah jelas? Aku mengkhawatirkanmu! Kau membuatku kelimpungan sejak tadi! Terlebih ponselmu tidak aktif!" Kata Len.
Ujung bibir Rin tertarik keatas. "Seharusnya aku pulang lebih lama." Gumam kecil Rin.
"Apa katamu!?"
Rin menggeleng kecil sebelum melenggang masuk ke dalam rumah meninggalkan Len yang masih marah.
"Kurasa aku akan membeli sebotol wine nanti."
To be Continue
Hola, kembali lagi bersama Go Minami Asuka Bi.
Ada yang kangen cerita ini? Pastinya ga ada ya. wkwkwkwk.
Cerita saya semuanya sepi sih.
Untuk yang bertanya soal wine, saya sendiri dapat inspirasi dari komik yang saya beli pas ada diskon beli 10 seharga 1 buku seribu. Jadi jangan tanyakan pendapat saya soal wine. Karena di umur yang sudah cukup tua ini, saya belum pernah minum wine atau alkohol. Ah, ga deng. Saya pernah minum arak di rumah temen dulu, itu pun cuma seloki.
Mungkin itu saja untuk saat ini, Terima kasih bagi Reader yang mau membaca dan mereview cerita ini. sampai jumpa di next Story.
Salam Hangat,
Go Minami Asuka Bi
