Np:
"..." = Bicara
= Telepon
HURT
Tok... Tok... Tok...
"Len-Nii,"
Tak ada jawaban.
Sudah hampir lima menit Rin berdiri di depan pintu kamar Len yang masih terkunci. Sebenarnya dia tidak enak, jika harus membangunkan Len yang kerja lembur beberapa malam ini, tapi melihat jam dinding yang menunjukkan tanda-tanda keterlambatan pria itu kalau tidak segera bangun, disinilah Rin sekarang.
Untuk yang ke empat kalinya Rin mengetuk pintu kamar Len, berharap pria blonde yang menjadi suaminya mau membuka pintu mahoni ini. Sejujurnya jika kali ini masih tidak mendapat tanggapan juga, Rin berniat untuk mendobrak pintu tersebut. Bukannya Rin bertindak tidak sopan, tapi mungkin saja sesuatu terjadi bahaya terjadi pada Len. Yah, mengingat Len adalah salah satu pengusaha muda yang memiliki saingan cukup kuat, apapun bisa terjadi.
"Len-,"
Belum sempat Rin memanggil Len sepenuhnya, pintu kamar itu pun terbuka. Dari balik pintu terlihat seorang pria berambut blonde tak beraturan dengan piyama tidur berwarna kuning. Wajah pucat nan lemasnya sama sekali tak menghilangkan ketampanan pria tersebut. Tapi tetap saja wajah pucat itu membuat Rin khawatir.
"Ada apa, Rin?" Tanya Len pada Rin yang masih menatapnya dengan khawatir.
"Len-Nii baik-baik saja? Len-Nii terlihat pucat."
"Aku baik-baik saja, Rin. Hanya sedikit mual dan pening."
"Morning sick?"
Len tersenyum simpul mendengar pertanyaan Rin. "Disini bukan aku yang hamil, Rin. Dan tidak ada pria yang hamil, jadi tidak mungkin aku mengalami morning sick. Terlebih Miku sedang berada di rumah ibunya." Kata Len.
"Tapi seorang calon ayah pun bisa mengalami mual ataupun mengidam saat kehamilan, bukan? Apa perlu aku panggilkan dokter?" Tanya Rin.
"Aku baik-baik saja, Rin. Aku hanya butuh isti-Hmp!" Secara reflek, Len membekap mulutnya sendiri tatkala cairan asam dari lambung mulai naik dan meminta untuk dikeluarkan. Tangan satunya ia gunakan untuk menopang tubuhnya sendiri pada dinding di sebelahnya agar tidak ambruk akibat pening yang ikut menyerang.
Melihat Len yang tidak terlihat baik-baik saja, Rin pun langsung menaruh telapak tangannya pada dahi Len untuk mengetahui suhu badan Len. "Panas," Tanggap Rin seraya menarik kembali tangannya. "Sepertinya Len-Nii terkena masuk angin. Aku akan memanggilkan dokter untukmu."
"Tidak perlu, Rin. Aku hanya perlu beristirahat sebentar." Kata Len.
"Tapi-"
"Aku akan beristirahat lagi. Jangan perdulikan diriku, lanjutkan saja pekerjaanmu."
"Umm... Wakatta."
HURT
Baik-baik saja? Mungkin itu salah satu kata-kata munafik yang biasa didengar hampir semua orang termasuk Rin. Rin sebenarnya tahu, bahwa keadaan Len tidaklah baik-baik saja seperti yang dikatakannya. Namun untuk menghargai keinginan Len, Rin pun berkutat di dapur dengan sebuah celemek. Tangannya dengan lihai mulai mengolah beberapa bahan seraya menunggu beras yang ia masak pun menjadi bubur.
Sepiring umeboshi yang telah dipotong-potong dan dibuang bijinya, dan telur dadar gulung dengan rasa manis yang lebih dominan menjadi pendampingnya. Rin ingat sewaktu kecil, Len pernah mengatakan ia lebih menyukai telur dadar yang terasa manis dibanding asin seperti pada umumnya, maka dari itu Rin membuatkan telur dadar gulung manis untuk Len. Kini Rin tengah mengupas satu buah pisang untuk ia masukan ke dalam blender bersama susu kental manis dan sedikit es batu.
Selagi mesin blender membuat smothies pisang, Rin beralih pada beras yang tengah dimasaknya sejak tadi. Beras yang keras sebelum dimasak itu pun berubah menjadi lunak dan berair menandakan sudah matang. Rin mengambil toples kecil dengan kertas bertuliskan garam di dekatnya lalu memasukan sejumput halus berwarna putih tersebut ke dalam bubur kemudian ia aduk hingga merata. Rin mematikan kompor juga blender yang segera ia tuangkan isinya ke dalam gelas. Setelah merasa telah siap, Rin menata semua makanan beserta minuman yang ia buat ke dalam nampan dan membawanya ke kamar Len.
"Permisi." Ucapnya pelan seraya membuka pintu kamar tersebut perlahan. Kamar Len tidak dikunci sama sekali, entah karena lupa atau apa.
Setelah merasa dirinya tidak mengganggu Len yang tengah tertidur, Rin kembali melangkahkan kakinya mendekati Len. Rin menaruh nampan berisi makanan dan smothies itu di atas meja kecil di samping tempat tidur Len perlahan. Sekarang ia beralih pada Len dengan handuk kecil basah yang terlipat di atas dahinya untuk sedikit menurunkan panas. Sebenarnya Rin sudah masuk ke dalam Len untuk mengompres pria itu dengan air tanpa persetujuannya, maka dari itu ia hanya perlu mengambil kain yang telah berubah suhunya menjadi hangat lalu menaruhnya ke dalam baskom berisi air agar lebih dingin dan dapat ia pakai untuk mengompres lagi nanti.
"Len-Nii," Rin menepuk-nepuk lengan Len pelan untuk membangunkan pria tersebut. Melihat mata sayu Len terbuka perlahan dan menatapnya, Rin pun tersenyum. "Aku sudah menyiapkan bubur untukmu. Dimakan dulu, ya!" Kata Rin.
"Nanti saja. Aku sedang tidak ingin memakan apapun saat ini." Balas Len.
"Aku sudah membuatkan smothies pisang juga untukmu."
"Aku tidak ingin memakan apapun saat ini, Rin."
"Kalau Len-Nii tidak makan apapun malah bisa jadi lebih parah. Setidak dua atau tiga sendok saja, ya." Pinta Rin.
"Aku tidak ingin makan apapun saat ini, Rin. Mengertilah sedikit dan jangan membuatku semakin pusing."
Rin menghela nafas melihat Len yang begitu keras kepala. "Setidaknya pikirkan Miku-san dan bayi di kandungannya. Aku yakin Miku-san akan sangat sedih melihat Len-Nii seperti ini."
"Makan, ya?"
"Sedikit saja."
"Demi Miku-san dan bayinya."
Len menghela nafas menanggapi permohonan Rin yang tidak berhenti. "Baiklah."
Rin tersenyum senang saat Len mau menuruti perkataannya meski harus diiming-imingi nama Miku. Perlahan ia membantu Len untuk duduk dan memrapihkan bantal agar pria itu nyaman. Rin mengambil semangkuk bubur dan sendok dari dalam nampan yang telah ia siapkan tadi. Tangannya yang memegang sendok kini mulai menyendok sedikit bubur lalu ia dekatkan pada Len.
"Aku bisa makan sendiri." Tolak Len.
"Ah, baiklah." Rin menaruh kembali sendok ke dalam mangkuk lalu memberikannya pada Len. "Aku juga membawa umeboshi dan tamago roll untuk berjaga-jaga kalau buburnya tidak enak." Tambah Rin seraya mengambil piring yang berisi umeboshi dan telur gulung di dalamnya.
Len memperhatikan beberapa barang dan makanan yang bertambah tanpa ia sadari di hari ini. "Rin." Panggil Len.
"Iya?"
"Apa Miku sudah pulang?"
"Belum. Memangnya kenapa?"
"Tidak apa-apa."
HURT
Rin membereskan peralatan yang isinya belum habis itu kecuali tamago roll di atas nampan untuk di cuci nanti. Sekilas ia memperhatikan Len yang sudah kembali tertidur lelap dengan handuk kecil di dahinya seperti sebelum ia bangun tadi. Namun matanya beralih pada ponsel pintar milik Len yang berdering di atas meja kecil. Tangan mungil Rin mengambil ponsel yang menampilkan sebuah nama di layarnya.
Miku-Hime
Itulah yang terpampang di layarnya. Rin menengok kearah Len dengan ponsel yang masih berdering. Ia ingin membangunkan Len, tapi pria itu butuh istirahat, namun jika ia mengangkatnya berarti Rin tidak sopan. Ia menimang-nimang keputusan yang tepat dalam keadaan ini karena membiarkan ponsel ini berdering begitu saja hingga mati akan membuat Miku khawatir. Akhirnya Rin memutuskan untuk mengangkat sambungan telepon tersebut.
"Moshi-moshi?"
"Rin?"
"Maaf, Miku-san. Len-Nii sedang tidur, jadi aku yang mengangkat telepon, Miku-san."
"Tidur? Memangnya Len-kun tidak kerja?"
"Len-Nii cuti hari ini." Rin menggigit bibir bawahnya pelan seraya meminta maaf dalam hati karena telah berbohong. Kekanak-kanakan memang, tapi setidaknya ia selalu mencoba untuk tidak berbohong selama ini.
"Souka. Kalau begitu tolong sampaikan pada Len-kun, bahwa aku menelponnya, ya. Dan katakan padanya kalau aku akan pulang minggu depan."
"Ha'i! Nanti akan aku sampaikan. Tunggu! Minggu depan? Bukannya Minggu depan ulang tahun Miku-san, kan?"
"Bagaimana kau tahu?"
"Len-Nii yang mengatakannya padaku." Bohongnya lagi. Lagipula ia tidak mungkin mengatakan, bahwa ia mengetahuinya dari kalender yang berada di ruang kerja Len sudah di tandai dengan ulang tahun Miku.
"Ternyata Len-kun masih mengingatnya." Gumam Miku dengan suara kecil, namun masih bisa terdengar oleh Rin. "Kalau begitu terima kasih, Rin. Nanti aku akan menghubungi Len-kun lagi. Jangan lupa untuk menyampaikan salamku, ya"
"Iya."
Sambungan telpon itu pun terputus sepihak. Rin menurunkan lengannya dan menatap ponsel milik Len. Ia menghela nafas lelah, untung Miku tidak sadar dengan kebohongannya, ia tak ingin Miku khawatir dan membahayakan dirinya maupun anaknya. Rin jadi ingat artikel yang pernah ia baca tentang ibu hamil, disana tertulis tentang stress seorang ibu hamil bisa memmicu berbagai macam keadaan. Rin menaruh kembali ponsel milik Rin ke atas meja. Kali ini Rin benar-benar akan keluar kamar Len untuk membersihkan perlatan makan yang pria itu pakai.
"Miku."
Rin menengok pada Len yang sepertinya mengigau lalu beralih pada handuk kecil di dahinya. Sepertinya ia harus mengganti suhu handuk kecil itu sebelum keluar agar Len lebih nyaman. Rin mengambil handuk kecil di dahi Len lalu mencelupkannya beberapa kali sebelum ia peras hingga lumayan kering dan setelah itu di kembalikan pada dahi Len. Rin tersenyum tatkala melihat wajah tenang Len saat tidur. Bagaikan anak kecil yang rapuh dan membutuhkan uluran tangannya, jika tidak maka akan hancur begitu saja.
Sebuah tangan besar nan hangat membuat Rin terkejut. Tangan hangat milik Len itu menggenggam lengannya erat seakan tak membiarkannya pergi. Mungkinkah Len bermimpi buruk? Entahlah, yang pasti Rin harus melepaskannya. Rin menarik tangannya perlahan agar tak membangunkan Len, namun semakin Rin mencoba melepaskannya, Len pun semakin mengeratkan cengkramannya.
"Miku."
"Aku bukan Miku-san, Len-Nii." Kata Rin pelan karena tidak ingin membangunkan Len seraya terus mencoba melepaskan genggaman pria itu meski tidak berhasil.
Rin menghela nafas menyerah saat usahanya sama sekali tidak membuahkan hasil malah semakin ia mencoba menarik, Rin malah semakin merasa sakit pada lengannya. Rin mendudukkan dirinya di lantai dengan tangan yang menggantung di atas tempat tidur karena genggaman Len padanya. Berpura-pura menjadi orang lain bukanlah hal yang baik, Rin tahu itu. Tapi entah mengapa Rin menikmati keadaan ini. Rin tersenyum menatap Len yang terlelap.
"Oyasumi, Len-Nii."
To be Continue
