"Ma-maaf!"

Sebuah senyuman manis nan tulus diberikan oleh Rin pada seorang anak laki-laki berumur sekitar lima atau enam tahun yang menabraknya. Tak hanya senyuman, sebuah elusan kecil pada pucuk kepala anak itu pun Rin berikan sebagai makna tidak masalah sebelum dirinya kembali melangkah ke arah pria yang menunggunya beberapa meter di depan.

"Ayo!" Kata Rin pada pria itu.

Rasanya baru beberapa jam yang lalu Rin mengeluh ingin keluar rumah dan mencari suasana baru untuk dirinya maupun kelanjutan novel yang tengah ia buat, tapi ternyata itu terkabulkan dengan cepat. Hanya butuh beberapa menit Len pun datang dan mengajaknya pergi keluar entah apa alasannya, dan ini pertama kalinya Len mengajaknya keluar. Rasanya bagaikan ribuan kupu-kupu yang terbang di hati.

"Kau ingin pergi kemana?"

Rin mengarahkan pandangan pada pria yang berbalut kemeja putih dengan dasi kuning longgar dan celana bahan denim berwarna hitam. "Ah ... Etto ...," otak Rin mulai berproses mencari tempat yang bagus untuk inspirasi, namun perutnya berbunyi seakan mengatakan keinginannya lebih dulu.

Mendengar suara perut Rin yang berbunyi, Len pun tersenyum simpul. "Bagaimana jika mencari tempat makan lebih dahulu?" Rin mengangguk kecil menanggapi perkataan Len tanpa rasa malu. Baginya rasa lapar itu wajar dan tidak perlu malu untuk mengungkapkan walau perut lebih dahulu yang berbicara. "Kau ingin makan sesuatu?"

"Entahlah. Kurasa aku ingin makanan berat."

Len mengangkat sebelah alisnya saat mendengar jawaban Rin. "Kau memang sedikit aneh sejak dulu, Rin."

"Ekh?" Rin menatap pria di sampingnya dengan pandangan bingung.

"Bukankah kebanyakan gadis selalu meminta dessert manis saat berjalan-jalan? Sedangkan kau malah memilih makanan berat."

Rin tersenyum menanggapi perkataan Len. "Bilang saja kalau Len-Nii sedang ingin banana split yang ada di dekat stasiun," Len menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidak gatal dan lebih tepatnya salah tingkah karena pengalihan perhatiannya tentang makanan berat ke dessert pun ketahuan. "Kalau begitu aku akan mentraktir Len-Nii banana split."

"Tidak perlu! Aku membawa uang dan beberapa kartu, jadi kau tidak perlu sampai mentraktirku. Lagipula aku yang mengajakmu pergi, maka dari itu aku yang akan mentraktirmu."

"Bukankah aku belum memberikan apapun atas kenaikan saham perusahaan saat Len-Nii bisa mendapat tanda tangan investasi dengan perusahaan SHION FAMILY*? Maka dari itu aku akan mentraktir Len-Nii sebagai hadiah untuk kesuksesan perusahaan."

Len menghela nafas, menurutnya beradu argumen dengan Rin adalah pilihan yang salah. "Baiklah. Tapi kau harus menemaniku seharian, bagaimana?" Negonya.

"Tidak masalah!"

Hurt

"Saya tahu. Tapi tidak segampang itu untuk mendapatkan ide dan membuat cerita, Kamui-san."

"Cobalah terlebih dahulu, Kagari-sensei. Lagipula kisah romantis penuh cinta banyak, jadi anda bisa membaca salah satunya dari karya-karya penulis lain."

"Saya tahu. Tapi bukan berarti saya dapat langsung menulis kisah cinta romantis begitu saja setelah membaca karya orang lain. Lagipula sejak awal saya sudah pernah mengatakan, bahwa saya tidak bisa menulis cerita bergenre romance."

"Tapi ini permintaan produser dan konsumen. Aku mohon pertimbangkanlah."

"Dengar! Sekarang aku tengah menulis sequel yang anda minta, jadi saya mohon beri saya waktu untuk memikirkannya."

"Baiklah. Saya akan menunggu jawaban anda, Kagari-sensei. Terima kasih atas waktu luangnya."

Rin menurunkan lengannya yang memegang ponsel lalu menghela nafas lelah dengan perbincangan panjang bersama sang editor. Inilah kerasnya dunia kepenulisan di jepang, dan Rin tahu benar karena sudah bertahun-tahun ia jalani. Ia tahu rasanya bersaing ketat dengan penulis lain, dan belum lagi ia harus memenuhi permintaan pasar. Sebenarnya Rin tidak hanya membuat novel biasa, ia pun membuat beberapa Light Novel seperti permintaan produser atau pasar.

"Wajahmu terlihat berantakan, apa terjadi sesuatu?"

Sebuah suara terdengar di telinga Rin yang spontan membuat gadis itu menoleh ke belakang tepatnya pada seorang pria berambut blonde. "Ah! Len-Nii!" Dengan terburu-buru Rin pun melipat laptopnya yang tengah menyala agar pria itu tidak bisa melihat isinya.

Melihat tingkah laku istri pertamanya ini, Len menaikan sebelah alisnya. Tingkah Rin yang selalu menutupi pekerjaannya pada siapapun membuat Len penasaran. Tapi menanyakan privasi seseorang bukanlah hal baik karena itulah Len lebih memilih menanyakan hal lain seperti, "apa pekerjaanmu sudah selesai?"

Rin menggeleng sebagai jawaban awal sebelum berkata, "belum." lalu gadis itu merebahkan dirinya di atas sofa yang ia duduki.

"Lalu kenapa kau tidak melanjutkannya?"

"Aku butuh refreshing sejenak, Len-Nii. Lagipula produser takkan membayar lebih atas kerja lemburku setiap hari."

"Refreshing? Kebetulan sekali, aku memang ingin mengajakmu keluar hari ini."

Rin menatap Len dengan pandangan yang seakan bertanya tentang keseriusan suaminya sebelum berkata, "pergi?"

"Kau tidak ada jadwal hari ini, kan?"

HURT

Sudah hampir dua jam Rin berjalan mengelilingi distrik pertokoan dan mall, tapi hingga saat ini ia belum juga tahu tujuan mereka ketempat ini. Sejak awal Len hanya mengajaknya keluar tanpa mengatakan apapun lagi, bahkan ia tidak tahu kalau dirinya hanya berputar-putar seperti. Tapi tidak hanya berputar-putar tidak jelas saja. Pasangan suami itu selalu mampir pada beberapa toko yang menarik perhatian tanpa membeli apapun. Yah, dalam dua jam ini mereka hanya membeli keperluan untuk perut di restaurant lebih tepatnya.

Kaki mungil Rin berhenti tanpa disadari tatkala manik sebiru lautnya berbinar menatap sebuah gaun pernikahan berwarna kuning pada salah satu etalase toko yang mereka lewati. Perlahan pikirannya mulai memproses untuk membuat objek pandangannya itu terbayang seakan ia yang memakainya. Mengingat dulu sewaktu pernikahannya ia hanya memakai pakaian casual tanpa dandanan apapun. Mau bagaimana lagi? Pernikahan mereka memang begitu mendadak dan terjadi sangat cepat sampai-sampai Rin dapat mengingat semua prosesnya.

"Rin?"

Rin tersentak kaget tatkala Len menepuk pundaknya. Dengan cepat Rin mengalihkan pandangannya pada Len seraya berkata, "a-ah! Iya?"

"Sedang apa kau disini? Aku mencarimu sejak tadi! Dan kau malah berdiri termenung disini. Apa yang kau lihat?" Tanya Len pada Rin.

"Ti-tidak ada! Ayo kita jalan lagi, Len-Nii." Salah tingkah. Itu yang Rin rasakan saat dirinya ketahuan tengah melamunkan yang tidak-tidak.

"Kau yakin?"

"Aku baik-baik saja, Len-Nii. Aku hanya sedang berpikir tentang apa yang kita lakukan di tempat ini. Maksudku, sudah hampir dua jam kita berkeliling dan aku sudah mendapatkan ide, tapi entah mengapa aku merasa Len-Nii masih saja mencari sesuatu yang tidak jelas," jelas Rin pada Len.

Memang benar, sejak tadi Rin bingung dengan acara kencan mereka--setidaknya itulah yang Rin pikirkan-- yang sama sekali tidak jelas. Selain acara makan siang yang mereka lakukan tadi, tidak ada aktifitas satupun yang jelas lainnya. Padahal Rin sedikit berharap agar Len membawanya ke bioskop atau taman hiburan, tapi pada nyatanya jauh lebih absurd dari itu semua.

"Kau akan tahu nanti, tapi untuk sekarang fokuslah pada apapun yang membuatmu menyukainya, mengerti?" Dan hanya itulah intruksi Len sejak mereka menjejakkan kaki ke dalam mobil.

"Tapi bisakah kita perkecil benda apa yang Len-Nii cari? Masalahnya kalau Len-Nii hanya mengatakan benda yang aku sukai, maka kartu kredit Len-Nii akan membengkak seketika."

"Tenang saja, aku yakin kau takkan pernah berpikir untuk membuatku bangkrut. Jadi katakan saja apa yang menurutmu bagus, mengerti?"

Rin menghela nafas mendengar ocehan Len. "Baiklah."

"Bagus! Kalau begitu kita lanjutkan lagi perjalanannya."

"Iya-iya."

Gadis honey blonde itu melangkah lebih dahulu yang langsung diikuti oleh Len. Dalam diam dan tanpa sepengetahuan pria di sampingnya ini, gadis itu tersenyum kecil. Saat ini dadanya terasa begitu hangat dan ia sangat menyukainya.

HURT

15.49

Rin memasukan kembali ponselnya setelah melihat pukul berapa sekarang. Ia menghela nafas kecil seakan tak ingin siapapun tahu bahwa dirinya begitu lelah. AC mobil yang di naikinya bersama sang suami tidak dapat melunturkan hawa panas dalam dirinya. Kini Rin hanya menopang dagunya di dekat jendela mobil seraya menatap keluar dengan pandangan datar.

Baru sekitar 45 menit yang lalu Rin mulai merasa bahwa dirinya berarti, tapi seketika hal itu runtuh seketika saat mereka menemukan apa yang dicari Len. Masih jelas diingatan Rin ketika ia melihat sebuah kalung emas dengan liontin berbentuk pita berwarna kuning yang dihiasi permata di tengahnya. Di saat Len menghampirinya dan menanyakan apakah ia menyukainya, ia pikir pria itu akan membelikannya. Pria itu memang membelinya, tapi bukan untuk dirinya.

"Beberapa hari lagi Miku akan merayakan hari jadinya. Jadi aku ingin membelikan sesuatu untuknya, tapi aku tidak tahu harus memberikan apa," Len memberikan senyuman pada Rin seraya memegang kotak merah kecil berisikan kalung yang ia beli. "Terima kasih, Rin. Kau benar-benar membantuku."

Entah mengapa senyuman yang Len berikan beberapa waktu lalu saat di toko tidak membuatnya bahagia. Ia tak tahu harus berkata apa karena pada dasarnya Rinlah yang salah. Sudahlah, ia tak mau perduli dengan apa yang terjadi tadi. Lagipula itu hanya sebuah kalung. Rin bisa membeli kalung apapun dengan uangnya, jadi ia tak mau memikirkannya lagi. Bukan Len saja yang dapat menghasilkan uang, ia pun bisa.

"Rin."

"Hmm?" Jawab Rin malas tatkala namanya dipanggil.

"Lihatlah kemari!"

"Aku lelah, Len-Nii. Nanti saja saat sampai di rumah atau kalau ada yang penting, katakan saja!" Rin benar-benar tidak berbohong, ia sangat lelah hari ini. Lelah fisik dan batin.

"Lihatlah kemari sebentar, Rin!"

Rin menghela nafas lelah. Ia menurunkan lengannya yang menjadi penopang dagu sebelum kepalanya menengok ke arah kursi pengemudi, tepatnya pada sang pengemudi. "Ada a-"

"Kau suka?"

Mata Rin kini terfokus pada telapak tangan kanan Len. Disana, diatas telapak tangan besar itu terdapat sebuah jepit rambut berukuran sedikit besar yang berhiaskan manik-manik putih, hitam dan lambang not balok berwarna putih. Dari tatanan aksesoris pada jepit rambut tersebut, Rin yakin bahwa hanya seorang profesional yang membuatnya. Bentuk jepit rambut dan aksesoris di atasnya itu seakan menggambarkan keindan sebuah musik. Sangat cantik.

"Bagaimana? Kau suka?"

Saat pertanyaan itu kembali terdengar, Rin mulai kembali pada kenyataan. "Sangat bagus," Rin memberikan penpadapatnya lebih dahulu sebelum melanjutkan perkataannya. "Tapi warna kuning tidak cocok untuk Miku-san."

"Miku?" Tanya Len dengan nada bingung. "Aku membelikan jepit ini untukmu. Kau suka warna kuning, bukan?"

"Ekh?"

"Ada apa?"

"Ti-tidak. A-ano ... a-aku pikir tadi-"

"Jadi kau tidak mau? Baiklah, aku akan berikan pada orang la-"

"Aku mau!" Belum habis Len menyelesaikan perkataannya, jepit rambut itu telah direbut oleh Rin. "Aku sangat menyukainya."

"Baguslah kalau kau menyukainya."

Rin mengelus pola manik-manik di atas jepit itu perlahan dengan sebuah senyuman kecil.

"Terima kasih."

To Be Continue

Np:

*Shion Family: disini saya buat Keluarga Shion itu memiliki berbagai perusahaan yang diwakili oleh setiap dari shion family, dan tidak hanya miliki Kaito. Jadi saya buat bukan Corp atau Group. Biar anti meanstream, saya buat FAMILY :v.

Saya mau minta maaf karena keterlambatan mengupdate cerita di karenakan pekerjaan saya dan kuliah. Maklumlah, saya anak tunggal yang harus menghidupi diru sendiri dan keluarga. Hehehe.

Satu lagi! Selamat Hari Raya Idul Fitri bagi yang merayakan. Mohon maaf lahir dan batin.

~ Go Minami Asuka Bi