"Terima kasih. Dan silahkan datang lagi."

Sebuah kata-kata yang biasa terdengar di telinga saat selesai berbelanja di konbini* seperti ini pun membuat Rin tersenyum kecil. Bukan karena petugas kasir maupun salamnya. Rin tersenyum karena akhirnya ia bisa pulang setelah antrian panjang yang menguras emosi. Terlebih sekarang sudah cukup larut dan ia harus menunggu lama demi membayar belanjaan.

"Setidaknya aku sudah bisa pulang."

Baru saja Rin melangkah kaki keluar dari konbini, ponselnya berdering dengan nada pesan masuk. Tangan kanannya yang tidak memegang kantung belanjaan itu pun ia gunakan untuk mengambil ponsel di dalam saku. Dahinya menyeringit tatkala notifikasi ponsel pintarnya memberitahu tentang sepuluh pesan masuk yang belum terbaca. Saat ia membuka aplikasi pesannya, hanya terdapat satu nomor tidak di kenal yang memberikan rentetan pesan. Dari seluruh pesan tidak masuk akal, Rin terkejut dengan sebuah foto yang dikirim melalui MMS.

Kepala kuning Rin menengok kesana dan kemari. Mata birunya meneliti setiap tempat di sekitarnya guna memastikan tak ada siapapun di jarak yang dapat bisa dilihatnya. Perasaan tak nyaman menyelimuti hatinya. Ia hanya ingin sampai di rumah secepatnya.

Rin berjalan menjauh dari konbini dengan jantung yang berdebar cepat tanpa henti. Pikirannya kalut dengan semua pesan yang ia baca sebelumnya. Ia tidak mau tahu apapun, bahkan ia tidak mau tahu tentang suara langkah yang mulai mengikutinya sejak tadi itu nyata atau hanya imajinasi Rin saja. Rin mengambil langkah cepat tatkala sebuah bayangan mulai terlihat mengikuti di dekat kakinya.

Penguntit.

Rin yakin kalau bayangan yang mendekatinya itu berasal dari seorang penguntit. Bukannya Rin terlalu merasa percaya diri, tapi mengingat ia adalah seorang penulis terkenal. Terlebih seluruh pesan masuk di ponselnya yang berisi kalimat pujian, bahkan foto dirinya yang berada dalam konbini pun membuat Rin yakin.

Rin mengeratkan genggamannya pada plastik belanjaan di tangan kiri saat bayangan itu semakin dekat. Entah orang di belakangnya ini memang penguntit atau bukan. Rin berbalik ke arah belakang lalu melempar bungkusan belanjaannya sekuat tenaga ke arah orang tersebut. Sayang tempat itu begitu gelap hingga ia tidak bisa melihatnya. Tapi, apa disaat seperti ini sangat penting untuk melihat orang yang dapat membahayakan diri? Rin yakin tidak, maka dari itu kini ia berlari secepat mungkin untuk menjauh dari jangkauan.

Rin terus berlari tanpa memperdulikan suara langkah yang mengejarnya. Meski rumahnya tak terlalu jauh, tapi dengan kondisi jalan seperti ini akan membahayakan kalau dia berhenti. Ia akui, sudah cukup lama ia tak berolahraga dan sekarang dirinya memaki akan hal itu dalam hati. Lain kali, ingatkan Rin untuk olahraga meski seminggu sekali agar ia tidak cepat lelah seperti sekarang.

Bruk!

Tubuh mungil Rin limbung ke belakang beberapa langkah sebelum jatuh duduk di atas aspal jalan. Tubrukan cukup keras tak bisa dihindari terlebih ia sedang panik dan terburu-buru. Rin meringis tatkala bokongnya terasa nyeri setelah bertemu dengan kerasnya aspal.

"Apa anda baik-baik saja, Nona?"

"A-ah, ya. Aku baik-baik saja," jawab Rin tanpa melihat orang yang ditabraknya. Bukannya ia tak mau melihat, tapi kepalanya kini tengah menengok ke arah jalan yang ia lewati sebelumnya. Jalan dimana dirinya merasa ketakutan. Tapi, tak ada siapapun disana.

"Rin?"

Saat namanya dipanggil, Rin langsung menengok ke arah orang di depannya. Lebih tepatnya pada sepasang kekasih-kelihatannya- di hadapannya. Matanya bergulir pada si gadis. "Gumi."

"Temanmu?"

Gumi menengok pada pria berambut hijau dengan kacamata yang berdiri di sampingnya. Gadis itu mengangguk menjawab pertanyaan dari sang kekasih. "Dia sahabatku yang selalu kuceritakan." Gumi kembali menengok ke arah Rin yang tengah berdiri dengan bantuan kekasihnya. "Kenapa kau berlarian malam-malam begini, Rin?"

Rin berkedip beberapa kali seraya menatap Gumi. "Ahh ..." Rin tak tahu harus berkata apa, masalahnya dia bukan orang yang pandai berbohong. "Kau sendiri? Kau mau kemana malam-malam begini? Dan siapa dia?"

"Aku?" Gumi dan kekasihnya saling berpandangan sebentar sebelum kembali menatap Rin. "Perkenalkan, Rin. Dia adalah tunanganku. Dan aku dari rumahnya untuk membicarakan pernikahan kami," ucap Gumi seraya memperkenalkan pria di sebelahnya sebagai tunangan bukan kekasih.

"Tunangan?" Rin menatap tunangan Gumi dengan pandangan tak percaya.

"Megpoid Gumiya, salam kenal." Gumiya mengulurkan tangannya pada Rin.

"A-ah. Kagari Rin, salam kenal." Rin menjabat tangan Gumiya sebentar sebelum melepasnya.

"Jadi, apa yang kau lakukan malam-malam seperti ini?"

Rin kembali menatap Gumi saat gadis itu bertanya. "A-ah! Sepertinya sudah terlalu malam. Bagaimana kalau kalian mengantarku pulang?" Kata Rin dengan nada sedikit panik. Kejadian tadi masih membuatnya takut.

"Kenapa aku harus mengantarmu pulang?"

"Sudah, jangan banyak tanya! Ayo cepat antar aku pulang!"

"Baiklah, kami akan mengantarmu pulang." Gumi hendak protes dengan pernyataan kekasihnya, tapi perkataan selanjutnya membuat ia bungkam. "Lagi pula tidak baik seorang perempuan berjalan sendiri di malam hari."

"Aku setuju dengan kekasihmu. Lagipula aku marah karena kau tidak menceritakan apapun soal pertunangan kalian."

"Ah! Baiklah!" Gumi mengembungkan pipinya kesal. "Aku merasa kalian bekerja sama." Hal ini membuat Rin maupun Gumiya saling berpandangan.

"Tapi, nyatanya aku baru pertama kali bertemu dengan tunanganmu, Gumi."

Hurt

"Terima kasih atas tumpanganmu, Gumi."

"Sama-sama. Lain kali, jangan pergi keluar sendirian saat malam hari. Beruntung kau bertemu kami di jalan." Gumi menyentil dahi Rin agak keras hingga membuat gadis mungil itu memekik kesakitan. "Sepertinya rumahmu sepi sekali."

"Ahh ..." Rin menengok rumahnya yang masih gelap dan kembali menatap Gumi, "sepertinya Len-Nii belum pulang. Dan Miku-san sedang menginap di rumah ibunya."

"Kau yakin tidak apa-apa kalau kami tinggal?"

Rin mengangguk. "Aku baik-baik saja. Lagi pula, aku sudah biasa di rumah sendirian."

"Baiklah. Tapi kalau terjadi sesuatu jangan lupa hubungi aku, mengerti?"

Anggukan kembali Rin layangkan. "Sudahlah, bukankah kau harus pulang?" Rin memutar tubuh Gumi dan mendorongnya.

"O-okay! Aku pulang!" Langkah Gumi berhenti, gadis hijau itu berbalik menatap sahabatnya. "Aku pulang dulu, Rin. Jangan lupa kunci pintu setelah ini."

"Iya, aku mengerti."

"Baiklah! Ayo, Gumiya!" Gumi menatap kekasihnya untuk memberi kode agar mereka meninggalkan Rin untuk pulang.

"Terima kasih atas tumpangannya, ya."

"Lain kali aku takkan mengijinkanmu menumpang di mobil kami!"

~Hurt~

Rin menggosok kedua matanya seraya menguap beberapa kali saat berjalan ke dapur. Kejadian semalam membuatnya tidak bisa tidur hingga pukul empat. Tapi, pukul delapan pagi ia dibangunkan oleh alarm ponsel yang memberitahu tentang deadline pengiriman cerita. Meski sangat mengantuk, tubuh mungil itu harus ia gerakan dari pada mendapat omelan dari editornya lagi.

"Pagi, Rin."

Rin terkejut saat sebuah suara dari belakang memanggilnya. Mungkin rasa terkejutnya adalah efek dari kemarin malam. Rin berbalik dan menemukan Len dengan rambut berantakan tengah menguap di belakangnya.

"A-ah! Pagi, Len-Nii."

Len mengamati wajah Rin yang tampak lesu dan kurang tidur. "Apa kau sedang dikejar deadline?"

Rin menggangguk. "Begitulah." Yah, meski tidak terlalu benar juga.

Tubuh besar itu melewati Rin tanpa banyak bicara dan berhenti pada pintu kulkas. Satu botol air dingin ia keluarkan dan diteguknya hingga setengah. Pandangannya beralih pada Rin yang tetap berdiri mematung di tempat saat ia masih minum.

"Kau baik-baik saja, Rin? Apa kau sakit?"

Kepala honey blonde menggeleng kecil sebelum menengadah menatap Len. "Len-Nii! Bisakah kau antarkan aku ke konbini di dekat tikungan sana?"

Sebelum menjawab pertanyaan adiknya, iris berwarna samudra itu mencari jam dinding untuk sekedar melihat pukul berapa sekarang. "Sepertinya masih ada waktu untuk bersantai sebelum berangkat kerja."

"Jadi?"

"Aku akan mengantarmu."

*~Hurt~

"Err ... Rin."

"Iya?"

"Kita hanya pergi ke konbini depan sana 'kan?"

"Iya."

"Lalu, mengapa kau berpakaian seperti itu?" Len agak sedikit bingung dengan gaya berpakaian Rin saat ini. Masalahnya, gaya berpakaian Rin saat ini tampak seperti orang yang ketakutan dengan wabah virus menular ditambah kacamata hitam. "Kita tidak akan merampok konbini 'kan?"

"Huh? Mana mungkin aku merampok isi konbini, Len-Nii!"

Len mengusap tengkuknya. "Ah, baiklah. Terserah kau saja."

Setelah memastikan pintu rumah terkunci dengan rapat, sepasang pasutri ini mulai melangkah menuju konbini. Jarak dari rumah ke konbini sebenarnya tidak terlalu jauh, hanya berjarak dua blok dari rumah mereka. Tapi, entah mengapa saat ini Rin merasa perjalanan mereka terasa cukup lama dan menegangkan. Meski telah ditemani, tetap saja terasa ada yang mengikuti dan ingin mengejarnya.

"Kau baik-baik saja, Rin?"

Rin menengadah menatap Len yang lebih tinggi darinya. "Memangnya kenapa?"

"Kau terlihat gelisah. Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?"

Pandangan Rin kembali beralih pada jalan. "Tidak ada."

"Ta-oi, Rin!"

Tubuh mungil itu berlari ke depan dengan terburu-buru. Langkahnya terhenti tepat di sebuah dinding dengan sebuah kantung plastik berlambangkan logo sebuah mini market. Kantung itu masih berisi barang-barang yang sepertinya dibeli di tempat kantung plastik itu berasal. Tanpa berkata apapun, Rin membuka dan memeriksa isinya.

"Oi, Rin. Apa yang kau lakukan? Itu milik orang lain," kata Len seraya berjalan mendekat. "Rin, kau tidak dengar? Cepat taruh kembali! Mungkin saja pemiliknya akan mengambilnya-"

"Ini milikku."

"Rin, aku tidak pernah mengajarkanmu untuk mengambil barang milik orang lain."

"Tidak! Ini barang-barangku! Aku yang membelinya semalam."

Len menyeringitkan dahi kebingungan. "Kalau itu punyamu, bagaimana bisa ada disini?" Tanya Len.

"Semuanya belanjaanku lengkap, tapi dompetku hilang." Rin menengadah menatap Len. "Aku menaruh dompetku di dalam kantung belanjaan. Tapi, sekarang hilang."

"Tapi, bukankah isi dompetmu selalu kosong, Rin?"

"Iya. Tapi-"

"Sudahlah, Rin. Kau masih bisa beli yang baru 'kan?"

Rin terdiam mendengar perkataan Len dan perlahan kepalanya menunduk menatap kantung belanja yang ia pegang. "Iya."

To Be Continue

note:

konbini : mini market.

Ahhh... sebenarnya kebiasaan Rin yang bawa" dompet kosong itu, kebiasaan saya . kalau tanya kenapa Rin sedih, itu dompet Len yang kasih dulu. Makanya dia sering bwa" wlw ga ada isinya.