Normal POV
Udara mulai menampakkan diri kala manusia itu perlahan menginjakkan kaki.
Ketika Bakugou Katsuki memiliki waktu luang untuk pergi ke suatu tempat yang tak pernah dipikirkan, ia mulai sadar bahwa betapa tolol dirinya kala berada di fase remaja. Dia tidak berusaha untuk mengerti. Dia mencoba mengelak akan sebuah kesalahan pasti. Dia paham bahwa tidak pantas apabila tubuh dan batin mengajak untuk merenungi nasib yang sukses namun menyiksa diri.
Meski bertahun-tahun telah berlalu, tetap saja rasa bersalah membuat hati serta pikirannya menjadi buntu.
Katsuki berada di sebuah tanah lapang dengan berbagai batu nisan yang disusun penuh perhatian. Dia berada di tengah-tengah, berdiri tegap dengan kostum pro-hero yang dari dulu selalu dibanggakan, menggenggam satu buket bunga berwarna putih kebiruan. Setelah menangkap penjahat kelas D yang berniat untuk merampok bank dan membuat kerusakan parah di pusat kota, ia mendapati sebuah toko bunga dengan pemilik yang terkejut akan kedatangannya. Tanpa berpikir panjang, ia memilih kumpulan bunga yang berada di sebelah buket mawar, berpikir secara gamblang bahwa warna putih sangatlah cocok untuk seorang teman.
Dalam satu jam ke depan, Katsuki sudah berada di sana; berdiri, tegap, rambut terayun pelan, melamun sembari membaca sebuah nama yang tertulis di batu nisan berwarna hitam.
untukmu yang telah pergi, beristirahatlah dan terbang menuju permukaan langit tertinggi,
—Midoriya Izuku.
Katsuki meletakkan buket bunga yang telah dia beli, terduduk dengan menyilangkan kedua kaki. Iris merah tak pernah lepas dari nisan yang terus berada di sana—terkesan lemas, menerawang, tidak percaya, dan emosional.
"Lupakan Yuuei, dasar kutu buku."
"Kau terlalu menyedihkan. Cobalah untuk menerima kenyataan, Deku."
Ingatan yang terus menghantuinya sepanjang malam. Ada kalanya, dia, sang pahlawan profesional, mengingat masa saat ia masih mengenakan seragam gakuran berwarna hitam; terkenal, hebat, percaya diri, hampir sempurna. Katsuki selalu dielukan akan menjadi pahlawan hebat, pahlawan masa depan, pahlawan yang akan menjadi sebuah harapan.
Katsuki mengetahui hal itu dengan sangat baik.
Dia selalu hebat dalam berbagai hal. Dia tahu bahwa masa depan gemilang akan ada di depan mata. Dia selalu sadar mengenai kebenaran yang akan terjadi di masa mendatang. Dia mengerti, dia memahami, dia mengetahui; tidak ada yang lebih hebat dari dirinya, tidak ada yang mampu melampaui dirinya, dialah satu-satunya kandidat yang akan melampaui sang pahlawan legenda. Jika kau mengenal Bakugou Katsuki dari awal, maka kau akan percaya semua opini yang dilayangkan akan menjadi kenyataan. Katsuki adalah pemuda terpercaya dengan segala kemampuan.
Midoriya Izuku adalah salah satu orang yang yakin bahwa Bakugou Katsuki adalah sebuah harapan.
Mereka bertemu saat usia masih menginjak angka lima. Berteman karena memiliki kesamaan lingkungan adalah hal wajar, mengingat anak kecil tidak pernah luput dari pergaulan serta menjalin persahabatan. Namun, dunia yang ditempati saat ini berupa perbedaan; di mana kesenjangan karena kehebatan bakat adalah sebuah halangan. Katsuki memiliki berkat melimpah; dia diberikan bakat yang sangat hebat. Izuku adalah kesalahan; di mana ia hanyalah seseorang yang dilahirkan tanpa hal istimewa. Katsuki adalah kesempurnaan. Izuku adalah pecundang. Katsuki adalah sumber masa depan. Izuku adalah manusia terbuang. Katsuki memiliki rasa percaya diri yang tinggi. Izuku hanyalah anak pemalu yang masih mencari mimpi.
"Jika kau sangat ingin jadi pahlawan, ada cara yang bagus."
Meski berlawanan, mereka tetap memiliki kesamaan.
"Kalau kau percaya mereka menyimpan bakatmu di kehidupan selanjutnya, lebih baik kau loncat saja!"
— setiap remaja juga memiliki cita-cita.
Katsuki ingin menjadi pahlawan yang melampaui pahlawan lainnya.
Izuku ingin menjadi pahlawan yang bisa menyelamatkan semua orang dengan senyuman.
"Benarkah, Kacchan?"
Bakugou Katsuki adalah manusia menyebalkan. Dia senang memerintah. Dia suka berteriak. Dia emosional. Tetapi, dia bukan orang yang tidak bisa berpikir panjang.
"Kalau aku melompat … mereka akan memberiku bakat?"
Hari itu adalah sebuah kesalahan.
Hari itu adalah di mana mimpi buruk mulai menghantui mental.
Hari itu adalah di mana Katsuki berbicara dengan Izuku untuk terakhir kalinya.
.
.
.
LOVE, THAT ONE WORD
My Hero Academia by Horikoshi Kouhei
Love, That One Word by stillewolfie
Katsuki B. & Izuku M.
OOC, alternate reality, typos, etc.
.
.
.
Bakugou Katsuki tidak akan merasakan kekalahan. Dia bersumpah.
Sejak lulus dari Yuuei dengan nilai memuaskan, memiliki status resmi sebagai seorang pahlawan profesional, sebagai salah satu sosok yang disebut sebagai tiga besar untuk seluruh angkatan; ia mulai membentuk agensi dan menjadi sosok yang terkenal. Ground Zero mulai diketahui oleh berbagai kalangan karena sikapnya yang arogan namun mampu membuktikan. Katsuki tidak pernah untuk tak berteriak. Katsuki suka berbicara seenaknya. Katsuki terbiasa untuk mengancam. Katsuki selalu menghina. Katsuki akan menyakiti hati penggemar secara non-verbal. Dia adalah sosok yang tidak ingin menerima perhatian. Dia hanya ingin menjadi pahlawan yang bisa menangkap penjahat bebal sebanyak yang dirinya bisa.
"Kerja bagus, Ground Zero!"
Suatu hari di musim semi, pusat kota lagi-lagi diserang oleh satu kelompok bodoh yang menyebut diri mereka sebagai perampok. Melakukan patroli saat senggang merupakan kebiasan dari Ground Zero, pahlawan terhebat sebelum Shouto. Pemuda itu hanya mengangguk, mengalihkan lima orang penjahat kelas kecil kepada polisi untuk ditindak lebih lanjut. Katsuki menatap sekeliling, memastikan tidak ada warga lokal yang terkena serangan atau pun merasakan sakit. Ia mengabaikan sorakan para wanita serta teriakan anak-anak yang meminta untuk foto bersama. Dia tidak punya waktu untuk memberikan hiburan. Ia yakin bahwa warga setempat memahami apa yang seharusnya dilakukan.
Katsuki berbalik, ia melompat tinggi. Ia mengabaikan teriakan semua orang yang menyebut nama pahlawannya. Ia mencoba untuk tidak memberi kesenangan mengenai hal-hal tidak berguna. Mengaktifkan quirk pada kedua tangan dan melompat-lompat adalah sebuah keahlian yang signifikan, alat pendengar yang dari awal telah aktif mendadak memberikan sebuah tanda.
"Bagaimana?"
Katsuki berbisik. Jika dia masih berada di masa remaja, berteriak tanpa sebuah alasan yang jelas, melakukan apapun yang dia suka, tidak peduli terhadap sesama; mungkin berbicara dengan pro-hero Shouto adalah sebuah keajaiban. Katsuki memang tidak memiliki hubungan yang cukup baik dengan Todoroki Shouto, pahlawan nomor dua, saat mereka bertemu dan bersaing secara sehat kala masih menginjakkan kaki di sekolah. Yuuei adalah salah satu saksi yang menyaksikan pertumbuhan mereka; bekerjasama, menyindir dengan beragam sikap, bersaing di festival olahraga, berada di lokasi yang sama dalam menangkap penjahat kelas atas, dan bekerja keras untuk disebut sebagai tiga besar dalam angkatan mereka. Bakugou Katsuki dan Todoroki Shouto, Ground Zero dan Shouto; semua pahlawan saat ini bergantung terhadap keduanya.
"Aku sedang mengejarnya."
"Ck, apa-apaan kau? Masa menangkap penjahat seperti itu saja tidak bisa!?" Katsuki pergi melewati angin. Ia memberikan tekanan pada kaki saat hendak menyebrang menuju atap rumah orang lain. "Berikan lokasimu, aku segera ke sana."
"Dia cepat, Ground Zero." Ponsel Katsuki berbunyi, mata menatap lokasi yang telah dikirim oleh rekan berambut merah putih. Tidak jauh, sebentar lagi. "Aku sudah menangkapnya dengan esku, tapi dia kabur. Uravity dan Creati juga bersamaku."
"Intinya kau memang tidak berguna."
Katsuki pun mendarat dengan benar pada salah satu ruko tua berwarna cokelat. Dia dapat melihat segalanya dari atas. Ia sudah sampai ke lokasi yang telah menjadi target seorang penjahat. Di bawah sana, ia menangkap atensi berupa es yang sedang mencair serta kobaran api yang membekas. Kedua mata merah menjelajah, menatap penuh atensi pada warga yang telah diselamatkan oleh pahlawan kelas menengah.
"Setengah sialan, apa yang sudah dia lakukan!?"
Tingkat kerusakan merupakan sebuah ujian bagi pahlawan profesional. Mereka adalah seseorang yang bertugas untuk menyelamatkan, bukan memberikan kepanikan dan kerusakan di mana-mana. Tidak perlu berpikir dua kali bahwa segala kejelekan ini dibuat oleh sang pahlawan nomor dua. Katsuki ingin meledak, namun ia tahu bahwa dirinya harus bisa menahan emosi kala sedang bekerja. Karena itulah, ia berlari menggunakan ledakan sebagai alat untuk membuat dirinya melayang di antara udara.
Hingga Katsuki menangkap sesuatu di ujung sana. Dia pun melompat, kedua tangan dengan sigap membentuk ancang-ancang.
"SHINEEEEEE!"
BOOOM!
Ledakan besar tidak dapat terelakkan. Shouto harus berhenti untuk melindungi diri akibat tingkah Ground Zero yang kurang ajar. Asap mengepul, membumbung menuju langit tertinggi, kegelapan tidak dapat teratasi. Uravity pun harus bersembunyi di dalam selimut khusus yang telah dibuat oleh Creati. Mereka terdiam di jalanan yang hampir rusak akibat ulah sang penjahat yang berhasil membuat masyarakat resah. Di depan sana, berdiri Ground Zero, sang pahlawan nomor satu, dengan tangan siap meledakkan apapun.
"Bakugou-kun!" Uraraka Ochako mengintip dan keluar setelah semuanya baik-baik saja, diikuti oleh Yaoyorozu Momo yang tiba-tiba terdiam akibat sebuah alasan. "Berhentilah membuat segalanya semakin berantakan!"
"Diamlah, Muka Bulat! Kau tahu kalau penjahat itu sampai sekarang belum tertangkap!?" Katsuki berteriak tanpa menoleh ke belakang. Dia sadar bahwa Shouto perlahan mulai mendekatinya. "Ini semua terjadi karena kalian semua memang tidak berguna!"
Shouto terdiam sesaat, ia mengerjap.
"Kau terlambat."
"Apa kau tahu kalau dari tadi aku sangat sibuk, hah? Aku terlambat karena ada kejahatan lain yang harus kuselesaikan, Sialan!"
Asap pun perlahan mulai menghilang. Di antara mereka, hanya Momo yang dapat menyadari sesuatu yang janggal telah terjadi.
"Dia … masih hidup."
"Eh?" Ochako tersentak. Dia pun menoleh ke atas, menatap sesuatu yang berdiri di salah satu tiang jalan yang hampir patah.
Katsuki mengalihkan pandangan. Ia berfokus pada sesuatu yang menarik perhatian.
— hingga suatu kala, udara membuat segalanya menjadi hening begitu saja.
Seseorang telah berdiri dengan membawa sesuatu di tangan kanan. Helai hijau berterbangan serta dedaunan musim semi seketika menjadi sebuah atensi untuk semua orang. Kedua mata hijau perlahan menampakkan tujuan, terkesan lebih gelap, menatap lamat-lamat pada empat pahlawan yang tidak berhasil melaksanakan tugas. Ia ingin tertawa, namun ditahan. Kemeja hitam dengan celana panjang, rambut mekar berwarna hijau yang begitu terang, serta tatapan menusuk yang hanya ditujukan oleh satu orang.
— di sana telah berdiri sosok tanpa nama, salah satu penjahat asing yang berhasil memenggal kepala salah satu warga.
Kepala itu telah putus dari badan, darah terlihat menetes dan mengotori aspal—terkesan masih baru. Tangan yang dari awal menggenggam helai rambut pun perlahan terlentang, bermaksud menyerahkan kembali dan mencoreng nama pahlawan dengan menciptakan kenyataan. Kepala itu terjatuh, terkena aspal jalanan, menggelinding mendekati kaki sang pahlawan gravitasi, Uraraka Ochako.
Mereka pun menatap mayat itu seolah tidak percaya akan beberapa kemungkinan.
"Senang berjumpa dengan kalian, wahai pahlawan."
— suaranya, terdengar amat familiar.
"Aku merasa tersanjung, pahlawan nomor dua berusaha keras untuk menangkapku—tapi tetap saja gagal, huh?"
— senyumannya, terkesan pilu dan jahat.
"Juga," Ia melirik, hijau bertemu merah. Ia melambaikan tangan pada satu manusia. "Lama tidak bertemu, Kacchan."
— gerakannya, dia adalah orang yang sama.
Shouto menatap pemuda itu dingin, kesal setengah mati. Quirk es di tangan kiri telah aktif, bermaksud menangkap sang pemburu tiada henti. Tidak ada yang pernah berniat untuk bermain dan menjebaknya seperti ini. Shouto bukanlah pahlawan yang dapat dikalahkan dengan cara tak tahu diri, namun orang tersebut mampu membuat pemuda itu berlutut hingga hampir meluapkan emosi.
"Ground Zero," Shouto menghentakkan kaki, uapan es mulai terlihat. "Lakukan seperti biasa, aku akan mendukungmu dari belakang—"
"…Deku."
Seketika, Shouto terdiam. Ochako menatap pemuda itu heran, begitu pula Momo yang masih mencoba untuk mengeksplorasi segalanya.
Di sanalah, dunia seperti berhenti bergerak.
Katsuki melihat, seolah tidak percaya.
Izuku menatap, begitu dingin dan tidak beretika.
"Kau masih mengingat nama itu?" Izuku berdiri tegap. "Kukira kau sudah melupakanku."
Mata merah melebar perlahan. Katsuki berusaha untuk tidak melupakan nalar. Ia paham bahwa pemuda itu tidak mungkin bangkit dari kematian. Ia yakin satu miliar persen bahwa dirinya menatap sosok itu tertidur beserta wajah pucat di peti mati berwarna hitam. Ia mengingat dengan jelas bagaimana ekspresi terakhir kala sang teman masa kecil tersenyum sebelum terjatuh dari atap. Ia mengingat semuanya. Ia tahu segalanya. Ia tidak mungkin melupakan Midoriya Izuku yang sudah pergi akibat perbuatan masa lalu yang sangat mengerikan.
Tetapi, dia ada di sana; berdiri dalam wujud nyata, sehat, rupawan, namun mengerikan.
Izuku bertemu Katsuki setelah sekian lama.
Katsuki pun tidak mampu berkata-kata.
"Aku senang kau baik-baik saja, Kacchan."
.
.
love, that one word –
.
.
Penjahat baru dengan quirk tersembunyi bernama Deku dinyatakan gagal ditangkap.
Sebuah fakta yang sangat mengejutkan. Deku adalah penjahat baru, belum terkenal, tidak melakukan perampokan, namun berhasil membunuh enam warga lokal tanpa diperintah. Belum diketahui secara pasti apakah dia memiliki seseorang yang mendukung dari belakang, namun pemuda itu berhasil kabur dari empat pahlawan profesional. Ground Zero adalah pahlawan terhebat, namun ia tidak melakukan apapun ketika berhadapan dengan Deku. Shouto mencoba untuk mengejar, namun quirk teleportasi yang muncul tiba-tiba membuat rencana menjadi buntu.
Midoriya Izuku.
Katsuki tidak pernah melupakan hari di mana Izuku telah pergi.
Dia mengingat saat menatap pemuda itu berdiri di ujung jendela, memperhatikan buku yang telah dijatuhkan secara sengaja. Ketika hal tersebut belum terjadi, Katsuki masih ingat bagaimana Izuku memandangnya, tersenyum seperti hari esok takkan menjelang. Tubuh tersentak begitu hebat saat sosok tersebut melemparkan dirinya secara langsung dari lantai tiga, terjun mengenaskan diiringi oleh teriakan siswa yang berada di lapangan. Katsuki mengingat begitu jelas kala perasaan bersalah mulai meruak saat melihat Midoriya Inko menangis di depan ruang mayat.
"Ini bukan salahmu, Bakugou-kun."
— ibu dari sang korban pun berkata, tersenyum menenangkan.
Katsuki tahu hal tersebut membuatnya tidak tenang. Ketika dia tertidur, ia selalu bermimpi tentang Izuku. Izuku yang tersenyum. Izuku yang selalu mendukung. Izuku yang berjalan di belakang tubuhnya. Izuku yang memberikan pertolongan. Izuku yang menangis. Izuku yang selalu tersakiti. Izuku yang perlahan pergi. Izuku yang mengatakan selamat tinggal. Mereka adalah teman masa kecil. Mereka sudah menjalin hubungan dengan baik. Mereka pun berada di satu sekolah yang sama sebelum tragedi itu terjadi. Lantas, mengapa?
Mengapa Katsuki tidak pernah menunjukkan perasaan positif?
"Aku selalu menyukai Kacchan."
Suatu hari di musim dingin. Saat mereka berada di sekolah dasar, Katsuki menerima sebuah pernyataan cinta dari sosok lain. Midoriya Izuku, menggenggam ujung mantel berwarna cokelat, menatap malu-malu pada dirinya yang hanya mampu melebarkan kedua mata.
"Kacchan sangat hebat, aku ingin jadi sepertimu."
Kacchan menatapnya kesal, genggaman kecil tersebut terlepas secara paksa.
"Teruslah bermimpi. Orang tanpa quirk sepertimu tidak mungkin jadi pahlawan."
Katsuki yang masih berumur delapan pun berbalik, berjalan pergi. Ia meninggalkan Izuku di sana, terdiam.
Katsuki telah gagal menjadi seorang pahlawan.
Katsuki tidak mampu menyelamatkan seorang teman.
Katsuki adalah seorang pecundang.
Katsuki sudah membuat Izuku tewas mengenaskan.
Katsuki pun tidak mampu menerima bahwa Izuku kembali datang.
Apakah ada seseorang yang memiliki quirk untuk membangkitkan orang mati?
— demi apapun, itu sangat tidak mungkin.
Katsuki hanya berbaring di lantai apartemen tanpa cahaya sebagai penerangan. Meja di sampingnya terisi penuh oleh beberapa bir yang terbuka. Perasaan negatif telah terlihat, menyeruak ke seluruh ruangan dan membuat apapun di dalam sana menjadi tidak enak. Ia mengenakan kaos hitam dengan bawahan berwarna sama. Ia berhasil kabur dari para wartawan yang seolah memaksa untuk menjelaskan hubungan antara dirinya dengan salah satu penjahat baru yang meresahkan warga. Ia tidak tahu. Ia tidak ingin tahu. Ia 'berusaha' untuk tidak ingin tahu.
Katsuki mencoba untuk mencerna dengan akal, namun aksi hari ini membuat kecerdasan menjadi buta.
Mengapa? Bagaimana? Siapa?
Mengapa Midoriya Izuku telah datang dan menampakkan diri untuk pertama kali setelah sekian lama? Bagaimana pemuda itu bisa tumbuh dan berkembang, seolah kematian belum pernah datang ke dunia? Siapa yang membuat takdir berputar? Siapa yang mengejutkan Katsuki menggunakan fakta bahwa Izuku telah datang dan berubah haluan menjadi penjahat kelas atas?
Mengapa Midoriya Izuku, bocah yang selalu mengidolakan pahlawan, penggemar All Might sang legenda, sosok tanpa bakat yang sangat pemalu, seorang kutu buku yang selalu bergumam-gumam tanpa maksud; telah berdiri dan berhasil membuat Bakugou Katsuki terdiam, membeku, terkejut seperti melihat hantu.
Izuku yang tersenyum lebar. Izuku yang memberikan tangan. Izuku yang melompat dari jendela. Izuku yang tersenyum kepadanya; membunuh dan menghancurkan kota, menggenggam kepala seorang warga tanpa perasaan bersalah.
"Aku senang kau baik-baik saja, Kacchan."
PRANK!
Vas bunga terlempar begitu saja.
Katsuki meremas rambut. Kedua mata merah melebar. Gigi bergemeletuk kencang. Saat ini, dia bukanlah seorang pahlawan; dia hanyalah manusia gagal.
"Deku…" Katsuki berbisik. "Deku … Deku … Deku—"
— lagi, mimpi itu menghantuinya.
— lagi, penyesalan kembali datang.
— lagi, ia merasakan sebuah kesesakan.
— lagi, dia menangis tanpa perkataan.
Katsuki menutup kedua mata dengan tangan, bersembunyi dibalik kegelapan.
.
.
love, that one word –
.
.
Udara dingin menusuk tengkuk, namun ia tetap terduduk di salah satu gedung tertinggi yang berada di daerah Hoshu.
Midoriya Izuku terdiam, melamun. Kedua mata hijau tetaplah bercahaya seperti dulu. Ia menatap kota yang gemerlap, berpendar dengan manusia-manusia yang berkumpul dan tertawa bersama. Ia mengerjap, mencoba untuk mengingat bagaimana dia bisa kabur dan bertingkah normal saat bertatap muka dengan seseorang.
Bakugou Katsuki.
Izuku telah mengenal Katsuki sejak mereka masih kecil. Ingatan akan pertemanan pahit terus menghantui tanpa sebuah kebenaran pasti. Ingatan tentang perkataan yang membuat batin selalu merasakan sakit. Ingatan mengenai fakta bahwa ia berhasil bangkit dari apa yang disebut mati. Ingatan yang memberi kabar bahwa ibunya telah mati bunuh diri. Ingatan bahwa sosok itu tetap hidup dan menjadi pahlawan sejati. Ingatan bahwa lelaki tersebut tidak memiliki perasaan bersalah, melupakan masa lalu, dan berbalik pergi.
Izuku mengenal Katsuki dengan sangat baik. Karena itulah, berita kematian beberapa tahun lalu bukanlah sesuatu yang membuat pria itu diselimuti oleh depresi.
Izuku tahu bahwa Katsuki akan terus melangkah pergi, menjauhi dirinya yang memang sudah mati—terlepas dari apa yang telah dia perbuat selama ini.
Mungkin pertemuan hari ini menjadi saksi bisu yang hampir membuatnya tertawa sampai mati. Ia melihat bagaimana ekspresi kaku itu menghampiri. Ia menebak bagaimana perasaan panik mulai menjamah dan membuat mental tersakiti. Ia merasa senang ketika sadar mengenai satu hal bahwa seorang Bakugou Katsuki, Ground Zero, Kacchan; tidak berhasil menangkap atau melukai dirinya barang sedikit. Izuku memahami satu fakta yang terlihat; Katsuki tetap menyimpan luka lama yang perlahan terbuka kembali.
Ini adalah pertama kali Izuku merasa menang dari Katsuki.
Izuku menarik napas, menghembuskan karbon dari bibir yang sedikit terbuka. Ia menatap bintang begitu lama, berpikir kenangan saat dirinya masih menjadi seorang manusia. Kali ini, pahlawan bukanlah sebuah mimpi. Kali ini, orang baik tidak lagi melekat dalam diri. Kali ini, ia berdedikasi menjadi sosok tanpa hati. Ia berhasil menghancurkan setengah kota Tokyo tanpa bantuan. Deku telah dikenal di mana-mana. Ia berhasil membuat dirinya dikenal. Ia berhasil menampakkan diri di depan Ground Zero dengan sempurna.
"Deku," Sosok gelap di belakang perlahan muncul berupa portal hitam, mengelilingi udara. "Sudah saatnya."
Izuku tersenyum tipis. "…ya."
Saat ini, biarkan ia berbalik. Ia mampu mengambil jalan ini.
Ia harus menghapus kata cinta yang selama ini telah gagal untuk diberi.
— lagi, biarkan ia tidak peduli.
— lagi, ia berusaha untuk menyerah.
— lagi, ia yakin bahwa hidup adalah kesalahan.
— lagi, ia mencoba untuk melepaskan.
Izuku berjalan menuju portal, memasukinya dan menghilang dibalik malam.
.
.
i don't need strength, i don't need anything
all i want is to believe
even if you feel pain in the future,
that will be the only thing that saves you
inspired by – sayuri; koukai no uta
boku no hero academia fourth season: second ending
.
.
ended
.
.
A/N: sebuah pemikiran kalau izuku jadi penjahat.
mind to review?
