Seokjin bersenandung pelan. Tangannya sibuk memotong tahu menjadi potongan dadu. Setelah selesai, dia memasukkannya ke dalam panci. Uap sup mengepul di atas panci yang didiamkan di kompor yang menyala, bau harum sup itu memenuhi ruangan hingga sudut-sudutnya.

Dengan anggukan puas, Seokjin mematikan kompor lalu mengambil tiga mangkuk. Sup miso pun memenuhi dua mangkuk kaca putih. Terakhir, Seokjin menuangkan sup miso ke mangkuk kayu yang ukurannya sedikit lebih kecil dari dua mangkuk sebelumnya.

"Namjoon, sarapan sudah siap! Cepat ke sini sebelum makanannya dingin!" ujar Seokjin lantang, dia kemudian menaruh tiga mangkuk barusan di nampan dan membawanya ke ruang makan yang terletak tepat di depan dapur.

Suara langkah kaki dihentakan dengan keras dan cepat membuat Seokjin tersenyum. Ketika dia selesai menata meja makan, suara nyaring terdengar dari lorong.

"Sarapan!"

Seokjin hampir jatuh ketika sepasang tangan mungil memeluk pinggangnya, suara tawa terdengar walaupun sedikit teredam oleh apron yang dipakai Seokjin.

"Seoknam, berapa kali harus ayah bilang? Jangan berlari di lorong." Suara berat seorang pria terdengar dengan nada melerai. "Kau bisa jatuh."

"Sudahlah, Namjoon, biarkan saja. Lagipula anak ini sendiri yang akan tahu rasa." Seokjin berjongkok dan mencium pipi tembam anaknya.

Namjoon hanya bisa menghela napas, lalu menggelengkan kepalanya. Dia berjalan mendekati keluarga kecilnya dan memberi kecupan di pucuk kepala Seokjin serta usapan di kepala anaknya. "Kau dengar kata ibumu, Seoknam, kau sendiri yang akan tahu rasa kalau sampai jatuh."

"Aku tidak akan jatuh, Ayah! Aku ini skater yang handal," balas Seoknam dengan semangat, tangannya terkepal ke atas.

Kening Namjoon berkerut, "Skater handal?"

Seoknam mengangguk, lalu mencoba memeragakan pose biellman patah-patah. Pada akhirnya Seokjin harus menangkap Seoknam yang kehilangan keseimbangannya. Namjoon tertawa ketika melihat anaknya yang cemberut, dia mengusak rambut hitam Seoknam, "Seingat ayah skater handal memiliki keseimbangan yang bagus."

Seokjin mencubit lengan atas Namjoon sebagai peringatan, dia kemudian menyuruh Namjoon dan Seoknam untuk segera makan karena makanannya sudah mulai mendingin. Dua laki-laki itu masih saja bertengkar saat sedang makan, suara leraian Seokjin sampai tidak terdengar.

Pada akhirnya, Seokjin hanya bisa menggelengkan kepalanya pasrah. Runitinas memang susah dipatahkan, terutama untuk suami dan anaknya itu.

.

.

.

Walaupun sudah memakai baju hangat, udara dingin tetap saja terasa. Bagi orang lain, hal itu sangat memuakkan. Tapi tidak bagi Seokjin yang sudah biasa dengan udara dingin sejak kecil. Dia malah bisa menghabiskan berjam-jam di atas es dengan satu lapisan baju.

Perasaan itu kembali bersamaan dengan andrenalin yang meninggi. Seokjin selalu saja merasa gelisah jika sudah melihat rink es. Alasannya satu, dia tidak sabaran untuk meluncur di atas es itu. Bahkan sekarang saja Seokjin menahan rasa tidak sabarannya itu dengan meremas mantel Namjoon. Seokjin dapat merasakan tatapan heran dari suaminya yang berhasil meredam semangatnya.

Dari ujung matanya, Seokjin dapat melihat orang-orang yang berhenti berjalan untuk berbisik dan mengeluarkan ponselnya. Hembusan napas keluar dari mulutnya, dia dan Namjoon hanyalah atlet dan pianis, bukan artis. Seokjin mengerti kalau mereka berdua ahli di bidang masing-masing, tapi itu bukanlah sesuatu yang besar seperti artis-artis di luar sana.

"Aku masih tidak mengerti kenapa orang-orang memperlakukan kita seperti artis besar," keluh Seokjin dengan volume kecil.

Namjoon hanya mengangkat bahunya, "Mungkin anak-anak muda sekarang tertarik dengan piano dan skating, siapa yang tahu?"

"Tapi kita bukan artis, Namjoon," desis Seokjin.

Namjoon membuka pintu masuk dan mempersilahkan Seokjin untuk duluan, dia sedikit menggigil ketika wajahnya tertiup udara dingin dari dalam. "Ya, tapi kita terkenal sejak masa muda kita, Sayang. Aku sebagai pianis dan kau sebagai figure skating. Tentu saja berita pernikahan kita akan tersebar luas."

Mereka berdua membalas orang-orang yang menyapa mereka. Seokjin melambaikan tangannya ke teman-teman skaternya dan juga pelatihnya. "Maksudmu kau yang terkenal sebagai prodigy," sergah Seokjin.

"Tidak, tidak, Sayangku." Namjoon menggelengkan kepalanya, dia menangkup kedua pipi Seokjin dan mendekatkan wajah mereka berdua. "Kita berdua terkenal sebagai prodigy, bukan aku saja."

Namjoon memberikan kecupan singkat di bibir Seokjin yang berhasil membuat orang-orang di sekitar mereka terkejut, kecuali teman-teman skater Seokjin yang tertawa dan pelatih Seokjin yang mengoceh tentang mereka yang tidak tahu tempat.

"Oi! Kalian dengar kata Coach, ini tempat umum. Simpan PDA-nya untuk para penggemarmu di luar sana!"

Namjoon berdecak sebal mendengar teriakan itu. Dia mengirimkan tatapan tajam ke seorang pria yang berdiri di dalam rink es. "Urusi saja urusanmu, Kidoh."

Kidoh mengangkat bahunya tak acuh, dia menyeringai senang. "Hei, ini juga termasuk urusanku. Kalian terlalu sering melakukan PDA di sini sampai membuatku mual."

"Bilang saja iri." Namjoon tersenyum penuh kemenangan ketika wajah Kidoh berubah masam. Ketika Kidoh memberikan jari tengah, Namjoon membalasnya dengan dua jari tengah. Setelah puas, dia beranjak duduk di samping Seokjin yang sedang mengikat tali sepatu skatingnya.

Seokjin dapat merasakan tatapan Namjoon yang tertuju padanya. Seokjin menoleh ke samping dan menatap Namjoon bingung, tapi hanya dijawab dengan gelengan dari Namjoon. Daritadi Seokjin memakai earphone, jadi dia tidak tahu apa barusan terjadi antara Namjoon dan Kidoh.

Setelah selesai mengikat tali, Seokjin melepas mantelnya. Namjoon mengambil tas dan mantel Seokjin dan memberikan isyarat bahwa dia akan menaruhnya di loker. Seokjin tersenyum dan memberikan kecupan singkat di pipi Namjoon sebagai tanda terima kasih.

"Aku akan menjemputmu nanti," ucap Namjoon tanpa bersuara sambil menunjuk jam tangannya.

Seokjin mengangguk. Dia menunggu sampai Namjoon masuk ke ruang penyimpanan barulah dia masuk ke rink. Dengan musik yang masih mengalun di telinganya, Seokjin melakukan stretching di pinggiran rink. Dia berpegangan dengan dinding pembatas rink dan mulai aktifitas awalnya.

"Jin-ah."

Mendengar namanya dipanggil, Seokjin menoleh ke asal suara. Dia tersenyum dan melambaikan tangannya ke arah Namjoon yang harus segera pergi.

"Aku tidak mengerti kenapa dia selalu buru-buru pergi."

Seokjin mengecilkan volume musiknya dan melanjutkan stretchingnya. "Belakangan ini Namjoon sibuk karena sebentar lagi dia akan tur, jadi wajar saja."

"Tur? Kapan?" tanya Kidoh dengan alis terangkat.

"Entahlah. Namjoon bilang tanggal turnya akan diumumkan paling cepat minggu ini." Seokjin berseluncur ke tengah rink diikuti Kidoh di sampingnya. Dia kemudian mengangkat kaki kanannya dan menahannya di belakang kepala dengan kedua tangannya, punggungnya melengkung sempurna khas pose biellmann. "Memangnya ada apa? Tumben sekali kau bertanya."

"Pose biellmann yang sempurna seperti biasanya, huh?" Kidoh berdecak kagum. Sampai sekarang dia masih kesulitan melakukan pose itu, dia lebih unggul di staminanya.

Seokjin tertawa kecil melihat ekspresi Kidoh. "Hei, kau belum menjawab pertanyaanku."

"Kau tidak tahu?"

Seokjin mengerutkan keningnya tidak mengerti.

Kidoh pun mengulurkan tangannya, "Ponselmu."

Tanpa banyak bertanya, Seokjin memberikan Kidoh ponselnya. Pria itu kelihatan sibuk mengetik sesuatu. Karena penasaran, Seokjin akhirnya meluncur mendekat untuk melihat apa yang Kidoh lakukan.

"Ini apa?" Seokjin mengambil ponselnya dari tangan Kidoh. Dia memerhatikan baik-baik apa yang tertera di layar ponselnya.

"Kidoh, Jin! Kenapa kalian hanya berdiri di sana?!" Seokjin dan Kidoh mengangkat kepala mereka dan melihat ke ujung rink di mana pelatih mereka berdiri dengan wajah terlipat. "Cepat mulai latihan! Kalian berdua tidak akan menang di GP kali ini jika kalian bermalas-malasan seperti itu!"

"Tunggu," Seokjin memutar kepalanya dan menatap Kidoh tidak percaya. "GP? Kapan?"

Kidoh memutar matanya, dia menunjuk ponsel Seokjin dan mendengus kesal. "Apa kau tidak membaca berita semalam? Tanggal pelaksanaan GP dan peserta yang ikut sudah keluar kemarin malam, Seokjin. Kau merupakan skater profesional, bagaimana kau tidak tahu berita itu?" Kidoh tertawa mengedek Seokjin.

Seokjin menatap tajam temannya itu, pandangannya kembali ke layar ponselnya. Benar saja kata Kidoh, beritanya keluar kemarin malam. Setelah membaca sebentar, Seokjin terkejut ketika melihat peserta GP tahun ini.

"Jangan bilang kau terkejut melihat namamu di sana?" Kidoh menaikkan alisnya dengan senyum miring. "Padahal kau ikut dan menang di GP tahun lalu, Seokjin."

Seokjin menggelengkan kepalanya, "Tidak, aku terkejut bukan karena itu. Tapi karena namamu yang ada di sini."

"Wah! Akhirnya kau menyadarinya juga! Aku kira kau tidak akan sadar sampai kita bertemu langsung di GP nanti." Kidoh menyenggol Seokjin dengan sikunya.

"Aku tidak sebodoh itu, Kidoh." Seokjin melipat tangannya di depan dadanya dan mendengus kesal.

"'Bodoh' bukanlah kata yang tepat, tapi 'tidak peka'," kekeh Kidoh.

"Ak–"

"Jin! Kidoh! Dasar anak-anak malas! Bukankah aku menyuruh kalian untuk segera latihan?! Jangan datang menangis padaku kalau kalian kalah nanti!"

Seokjin meringis ketika mendengar teriakan kesal pelatih mereka. Kidoh masih punya nyali untuk tertawa dan meledek muka merah pelatih mereka yang barusan berteriak. Dia tidak berhenti bahkan ketika pelatihnya itu berteriak memarahinya untuk yang ketiga kalinya pagi itu.

Seokjin menggelengkan kepalanya melihat interaksi teman skaternya dan pelatihnya itu. Mereka berdua mengingatkannya pada Namjoon dan Seoknam yang selalu bertengkar setiap hari. Lelah mendengar keributan di depannya, Seokjin pun meluncur mundur dan mencari tempat yang tidak terlalu ramai.

Earphonenya masih terpasang di telinganya dan Seokjin pun menggeser ke bawah di layar ponselnya sampai dia menemukan musik yang dicari. Untuk musim skating ini, Seokjin memilih dua lagu yang belakangan ini menarik perhatiannya. Tentu saja dia memilihnya dengan persetujuan dari pelatihnya.

Lagu untuk SP kali ini bertemakan "cinta", tema yang belum pernah Seokjin pilih sebelumnya. Seokjin selalu menolak tiap kali pelatihnya menawarkan program dengan tema itu dan alasannya selalu sama, terlalu mainstream. Tapi lagu yang satu ini memberikan Seokjin sebuah feel yang berbeda dari lagu-lagu yang lain. Itulah kenapa dia memilih lagu ini.

Suara soprano seorang laki-laki mengalunkan lirik dalam Latin bersamaan dengan suara organ menggelegar di telinga Seokjin. Dia hafal betul melodi di lagu ini mengingat dia selalu memutar ulang lagunya.

Seokjin mengangkat tangannya dan menggerakkan pergelangan tangannya dengan elegan. Ini hanya sebuah warm up, dia tidak perlu mengeluarkan semua energinya. Tapi Seokjin merasa ada yang kurang, itulah kenapa dia berseluncur lebih kuat tapi dengan keanggunan. Untungnya rink tidak ramai mengingat sekarang baru jam sembilan pagi. Seokjin menambah kecepatannya, dia menggunakan kaki belakangnya untuk mendorong dirinya ke udara lalu dia melompat. Dengan tiga setengah putaran dan pendaratan yang bersih, Seokjin berhasil melakukan triple axels.

Seokjin memusatkan semua kecepatannya untuk melakukan flying sit spin. Seokjin melompat ke udara dan sebelum pisau seluncurnya menyentuh es, Seokjin menekuk lutut kanannya dan melipat kaki kirinya di atas paha kanannya. Tubuhnya pun berputar dengan posisi itu selama beberapa saat sebelum Seokjin bangkit dan meluncur melintasi es.

Pandangan semua orang tertuju pada penampilan Seokjin. Mereka terpana dengan gerakannya yang anggun dan indah. Seharusnya Seokjin dapat meraskan tatapan-tatapan itu, tapi pada saat itu anehnya Seokjin tidak dapat merasakan apa-apa. Dia hanya dapat merasakan bagaimana tubuhnya bergerak sesuai lagu, perasaan tenang menyapu dadanya.

Fokus Seokjin hanya tertuju pada apa yang tengah dia lakukan saat itu. Skating merupakan sesuatu yang sangat dia cintai lebih dari apa pun. Sejak kecil rink es yang dingin ini merupakan teman yang selalu dapat membawa kenyamanan pada dirinya. Setiap kali Seokjin sedih, kakinya otomatis melangkah ke rink es.

Di atas es yang dingin ini, semua masalahnya menghilang. Tapi begitu pula dengan kesadarannya terhadap dunia luar.

.

.

.

Seokjin sedang mendengar arahan pelatihnya ketika ponselnya bergetar di saku jaketnya. Setelah melihat ID callernya, Seokjin meminta izin pelatihnya untuk mengangkat panggilan teleponnya. Dengan perasaan jengkel karena diintrupsi, pelatihnya menganggukkan kepalanya.

"Apakah semuanya baik-baik, Namjoon?" Seokjin bertanya dengan nada khawatir. Namjoon tidak pernah menghubunginya di jam-jam ini karena dia tahu Seokjin sedang latihan. Dia hanya akan menghubunginya kalau ada sesuatu yang penting.

"Semuanya baik-baik saja. Kau tidak perlu khawatir, Seokjin."

Seokjin menghembuskan napas lega dan menganggukkan kepalanya walau dia tahu Namjoon tidak bisa melihatnya. "Lalu ada apa? Coach tidak senang jika penjelasannya diintrupsi, kau tahu?" Seokjin tersenyum kecil sambil melirik di balik bahunya.

Dan benar saja. Pelatihnya itu memasang wajah jengkel dan menunjuk jam tangannya. Seokjin tertawa melihat hal itu.

"Sampaikan maafku ke pelatihmu kalau begitu." Namjoon terkekeh di ujung sana mendengar Seokjin yang tertawa, sepertinya dia dapat merasakan kejengkelan pelatihnya Seokjin dari jarak jauh.

"Jadi, ada apa?" Seokjin tetap tersenyum walau dia sudah berhenti tertawa.

"Tanggal turku akan dirilis hari ini."

Seokjin tersenyum senang mendengar kabar itu. Sudah lumayan lama sejak tur terakhir Namjoon, mungkin sekitar dua atau satu setengah tahun lalu.

Seokjin bisa dibilang salah satu penggemar berat Namjoon. Dia sudah mendengarkan permainan piano Namjoon sejak masa remajanya walau secara digital. Seokjin ingat betapa girangnya dia ketika Namjoon merilis lagu buatannya sendiri untuk pertama kalinya.

"Benarkah?" tanya Seokjin antusias.

Namjoon tertawa di ujung sana. "Ya. Kau kedengarannya senang sekali."

"Tentu saja. Jangan bilang kau lupa kalau aku penggemar beratmu?"

"Tentu saja aku tidak lupa, Sayang." Seokjin tersenyum mendengar itu. "Meskipun aku senang mengetahui kau seantusias ini tentang turku, aku harus memberitahumu berita buruknya."

Seokjin tidak berkata apa-apa, dia membiarkan Namjoon untuk melanjutkan kalimatnya.

"Turku akan dimulai berbarengan dengan GP tahun ini."

"Lalu? Memangnya kenapa kalau begitu?" Seokjin melirik ke belakang. Pelatihnya terlihat sedang sibuk memberi arahan ke Kidoh. Seokjin sempat lupa kalau Kidoh akan mengikuti GP tahun ini, tepatnya di divisi senior sama dengan Seokjin.

Tiba-tiba saja Seokjin menyadari sesuatu. Jika tur Namjoon dimulai berbarengan dengan GP tahun ini, maka itu berarti..

"Aku tidak bisa ikut denganmu ke GP nanti, Seokjin."

Seokjin menggelengkan kepalanya. Dia tidak masalah dengan itu, tapi masalah utamanya adalah Seoknam.

"Bagaimana dengan Seoknam?" Seokjin menangkup ponselnya, dia juga menurunkan volume suaranya hingga berbisik. "Siapa yang akan menjaga Seoknam selama kita pergi, Namjoon?"

Karena demi apa pun, Seokjin siap mengundurkan diri demi putranya.

.

.

.

To be continue

belakangan ini aku tertarik dengan figure skating dan aku belum pernah menemukan ff namjin dengan AU ini.
jadilah aku menulisnya ^^

ini baru permulaan, jadi mungkin di bagian ini masih kurang menarik bagi kalian.
tunggu sampai di bagian kompetisi, aku jamin bakal lebih seru dari ini _

aku akan menjelaskan secara singkat beberapa hal yang mungkin baru buat kalian.

❆ Grand Prix (GP) ❆

kompetisi figure skating internasional yang terdiri dari 6 acara. Para skater mengumpulkan poin sebagai kualifikasi untuk Grand Prix Final. Cuman 6 skater teratas bisa lolos ke Final.

6 acara yang dimaksud terdiri dari Skate America (USA), Skate Canada International (CAN), Internationaux de France(FRA), Cup of China (CHN), Rostelecom Cup (RUS), NHK Cup (JPN).

Di tiap acara, kompetisi berlangsung dua hari. Hari pertama untuk SP (Short Program) dan hari kedua untuk FS (Free Skate).