Trigeer Warning! brief anxiety attack

.

Setelah menutup panggilan teleponnya Namjoon, Seokjin kembali berlatih tapi hanya sebentar. Ketika Seokjin melatih SP-nya di bawah pengawasan pelatihnya, Seokjin gagal mendaratkan lompatan pertamanya, triple axels. Padahal dia belum pernah gagal di lompatan itu sejak Grand Prix tahun lalu.

Pada putaran berikutnya, Seokjin berhasil di triple axelsnya. Tapi tubuhnya terlalu kaku, dan lagi-lagi Seokjin jatuh ketika dia melakukan lompatan kombinasinya. Yang membuatnya semakin kesal adalah ketika dia tidak bisa mendarat di satu pun lompatan di putaran ketiga. Seharusnya tubuhnya menjadi lebih fleksibel setelah beberapa kali putaran, begitu pula dengan lompatan yang biasanya lebih ringan.

Tapi kali ini Seokjin dapat merasakan betapa beratnya melakukan satu lompatan. Dia merasa seakan-akan gravitasi menarik tubuhnya ke bawah secara paksa. Saat Seokjin melakukan putaran kombo di akhir programnya, kepalanya tiba-tiba sakit dan dia bisa merasakan bagaimana tenggorokannya tercekat.

Tidak bisa menahan sakit di kepalanya, Seokjin kehilangan keseimbangannya dan jatuh lumayan keras. Pelatihnya yang melihat segera meluncur mendekat. Kidoh yang sedang melatih programnya juga meluncur dengan kecepatan tinggi, dia sempat tergelincir karena pendaratan yang kurang sempurna.

"Seokjin!" Suara teriakan pelatihnya dan Kidoh mengundang perhatian orang-orang yang ada saat itu.

Sebelum pelatihnya atau Kidoh menggapainya, Seokjin memaksakan dirinya untuk berdiri namun sia-sia. Tubuhnya kembali tumbang dan kali ini dia jatuh di sisi sampingnya. Perasaan nyeri menjalar di seluruh bagian sampingnya, membuat Seokjin mendesis kesakitan. Sakit di kepalanya tidak berkurang, malah semakin bertambah.

"Astaga! Kenapa kau tiba-tiba jatuh?!"

Jika seandainya kepalanya sedang tidak sakit, Seokjin mungkin akan berkata pada pelatihnya bahwa itu pertanyaan yang bodoh.

"Air..." Seokjin berhasil berkata walaupun sedikit bergetar karena menahan sakit di dua bagian tubuhnya.

Kidoh mengangguk dan bergegas meluncur ke pinggiran rink untuk mengambil botol minum Seokjin. Pelatihnya membantu Seokjin untuk mengambil posisi duduk, akan lebih baik jika mereka segera keluar rink tapi sakit kepalanya Seokjin tidak memungkinkan bagi Seokjin untuk berdiri.

"Ini." Pelatihnya mengambil botol yang disodorkan Kidoh dan membantu Seokjin minum dengan memegang botol minumnya.

Di dalam pikirannya, Seokjin berteriak pada dirinya sendiri yang terlalu lemah. Dia tidak percaya bahwa dirinya selemah itu sampai minum saja harus dibantu.

Setelah merasa cukup, Seokjin menjauhkan botol minumannya. Dia mencoba menarik napas dalam-dalam untuk kemudian terbatuk karena udara dingin yang menusuk dadanya. Pelatihnya mengusap pelan punggungnya dan Seokjin sangat berharap agar tubuhnya mau bekerja sama.

Beruntungnya dia bisa berdiri walaupun dengan bantuan pelatihnya. Setelah sampai di pintu pembatas, Kidoh memapah tubuh lemasnya dan membawanya ke bangku terdekat. Seokjin sempat protes ingin ke ruang istirahat, tapi Kidoh tidak menanggapi protesnya itu.

Saat Kidoh mendudukkan Seokjin di bangku, Kidoh bergegas pergi untuk mencari jaket atau sesuatu yang bisa menghangatkan tubuh Seokjin. Pelatihnya menyuruh murid lainnya untuk beristirahat sebentar selagi dia mengurus Seokjin.

Mendengar itu hanya membuat pikiran Seokjin semakin kacau. Dia sudah membuang-buang waktu pelatihnya dan juga Kidoh karena tubuh lemahnya. Kenapa dia harus selalu seperti ini? Hanya karena Namjoon memberitahunya bahwa masalah siapa yang menjaga Seoknam bisa dibicarakan nanti, membuat Seokjin berantakan seperti ini.

Seokjin memejamkan matanya, dia mencengkram rambutnya keras. Tentu saja dia akan bereaksi seperti ini. Masalahnya bersangkutan dengan Seoknam, anak itu baru berumur empat tahun, tentu saja Seokjin akan khawatir setengah mati.

Dia dan Namjoon akan pergi keluar negeri selama beberapa bulan dan Seokjin tidak mungkin meninggalkan Seoknam sendirian. Dia tidak mau memanggil pengasuh anak, bagaimana jika pengasuh itu bersikap terlalu kasar pada Seoknam? Atau lebih buruk lagi, membawa pergi Seoknam.

Seokjin bisa gila kalau hal itu sampai terjadi.

"Hei, Seokjin, tenanglah. Kau akan membuat kepalamu tambah sakit jika kau memegang rambutmu seperti itu."

Suara Kidoh membuyarkan pikirannya yang penuh skenario buruk. Seokjin mencoba untuk menenangkan pernapasannya ketika dia menyadari dadanya yang naik-turun sangat cepat. Dia melonggarkan cengkramannya di rambutnya, tapi tidak sepenuhnya melepaskannya.

"Apakah semuanya baik-baik saja? Kau membuat semua orang khawatir barusan. Aku yakin Coach hampir kena serangan jantung ketika kau tiba-tiba jatuh." Kidoh tertawa pelan, dia mencoba bercanda untuk melonggarkan ketegangan, "Maksudku, tidak setiap hari dia melihatmu jatuh sekeras itu."

Seokjin mencoba untuk tertawa atau paling tidak tersenyum. Tapi pikirannya terlalu kacau untuk melakukan hal sesimple mengangguk.

.

.

.

Setelah beristirahat setengah jam karena paksaan pelatihnya, Seokjin kembali masuk ke rink es. Beberapa teman skaternya menatapnya khawatir, satu atau dua bertanya keadaan Seokjin dan menyuruhnya untuk tidak memaksakan tubuhnya. Tentu saja Seokjin menjawabnya dengan gelengan kepala, bilang bahwa dia baik-baik saja.

Dia dapat merasakan tatapan khawatir Kidoh, tapi dia tidak memedulikannya. Kenapa semua orang menjadi khawatir seperti ini? Walaupun titelnya merupakan skater profesional, bukan berarti Seokjin tidak bisa jatuh.

"Kau yakin kau baik-baik saja, Jin?"

Seokjin mengangguk, dia harap pelatihnya tidak menyuruhnya untuk istirahat lebih lama atau menyuruhnya pulang.

Pelatihnya menghela napas, "Apakah kau bisa mengulang programmu barusan? Aku akan memberimu arahan dan masukan jadi kau bisa langsung memperbaikinya. Aku harus mengurus program Kidoh yang belum selesai."

Mendengar itu, mata Seokjin berbinar. Dia mengangguk dengan cepat dan bergegas meluncur ke tengah rink. Ketika dia memberi isyarat bahwa dia siap dengan pose awalnya, pelatihnya terkekeh.

Percuma jika dia menyuruh Seokjin untuk istirahat apalagi pulang. Dia sudah melatih dan membimbing Seokjin sejak wanita itu masih kecil. Melihat seberapa jauh jarak yang ditempuh Seokjin, membuatnya bangga dan terharu.

Ketika musik dimulai, tubuh Seokjin bergerak seperti air. Dia seakan-akan menyatu dengan musik. Semua gerakannya mulai dari tangan hingga kakinya terlihat hampir sempurna, dia tampak seperti dia tidak jatuh dengan keras setengah jam yang lalu. Yang membuat pelatihnya semakin bangga adalah cara Seokjin menampilkan programnya.

Bukan hanya tubuhnya yang bergerak seirama dengan musik, tapi pandangannya juga. Pelatihnya seakan-akan dapat merasakan apa yang sedang Seokjin rasakan saat ini. Cinta yang murni dan suci, cinta tanpa syarat atau cinta tanpa batas.

Di akhir programnya, Seokjin terengah-engah. Dia berhasil menyelesaikan programnya tanpa kesalahan seperti yang terakhir kali. Suara tepuk tangan datang dari beberapa penjuru.

Ketika Seokjin memutar badannya, dia dapat melihat teman-teman skaternya dan beberapa orang asing yang bertepuk tangan. Melihat reaksi itu, Seokjin memberikan terima kasihnya dengan membungkuk. Dia merasa sangat bahagia sampai dia tertawa.

Pelatihnya menyaksikan dari jauh. Dia dapat melihat bagaimana bahagianya Seokjin. Seokjin tidak pernah memberitahunya secara langsung, tapi dia tahu betapa Seokjin mencintai es skating. Terlihat dari Seokjin yang selalu membela-belakan es skating dan menempatkannya di nomor satu.

Melihat bagaimana Seokjin melakukan programnya, pelatihnya langsung tahu alasan kenapa Seokjin memilih lagu ini, yang jelas-jelas bertemakan "cinta". Tema yang selalu dihindari Seokjin sejak kapan tahu. Seokjin akhirnya sadar bahwa "cinta" memiliki beragam bentuk dan dia pun memilih lagu ini untuk mengekspresikan cintanya terhadap es skating, atau itulah dugaan pelatihnya.

Apa pun alasan Seokjin memilih lagu ini, pelatihnya menyetujuinya. Dia bisa melihat muridnya yang satu ini berdiri di atas podium dengan medali emas melingkar di lehernya.

"Kau telah menempuh jarak yang panjang, Seokjin." Seulas senyuman merekah di wajahnya, tatapan bangga terlihat jelas di wajahnya, "Aku bangga padamu."

.

.

.

Ketika malam tiba, Seokjin menghabiskan waktunya dengan bermain bersama Seoknam. Anaknya itu baru saja menghabiskan hampir seharian di apartemen Yoongi. Sepertinya tadi siang Seoknam mendapatkan tidur siang yang cukup lama sehingga dia bisa seaktif ini sekarang.

Seokjin sedang membantu Seoknam menggambar ketika telepon rumahnya berdering cukup keras. Seoknam menggerutu dan menutup telinganya, dia kemudian berteriak untuk mengalahkan kerasnya bunyi deringan telepon. Seokjin tertawa melihat tingkah laku anaknya itu dan memberi kecupan di pipi tembamnya.

"Halo–"

"Seokjin!"

Suara keras di ujung sana memaksa Seokjin untuk menjauhkan telepon yang dipegangnya. Seoknam sampai bisa mendengar suara itu padahal jarak mereka berdua lumayan jauh.

"Hoseok, kau mau membuatku tuli, huh?" ujar Seokjin ketus.

"Ahaha, maaf, maaf. Aku tidak bisa menahan diriku sendiri."

Seokjin mendengus mendengar permintaan maaf setengah hati kakaknya itu. Dia melirik ke sampingnya ketika merasakan tarikan di bajunya.

"Apakah itu Paman Hobi?" Seoknam bertanya dengan mata terbuka lebar. Seokjin tersenyum, anggukan darinya berhasil membuat Seoknam tersenyum sangat lebar. Dia mengangkat tangannya ke arah telepon dan memandang Seokjin dengan pandangan memohon.

Tidak kuat dengan pandangan itu, Seokjin memberikan Seoknam teleponnya. Anaknya itu langsung menyapa paman kesayangannya dengan antusias. Suara tawanya mengisi ruangan tengah ketika Hoseok balik menyapa tidak kalah antusias.

Seokjin tertawa mendengar interaksi mereka berdua. Dari ujung matanya, Seokjin melihat Namjoon yang berjalan masuk dengan handuk melingkar di lehernya. Dia tersenyum dan menghampiri keluarga kecilnya.

"Hoseok menelpon?"

Seokjin berdeham dan mengangguk. Dia mengambil handuk di leher Namjoon dan memberitahu Namjoon untuk berbalik badan. "Kenapa kau selalu membiarkan rambutmu basah seperti ini? Kau bisa sakit, Namjoon."

"Kebiasaan," jawab Namjoon singkat dengan mata tertutup.

Seokjin mendengus kesal, "Sama saja seperti Hoseok."

Namjoon tertawa mendengar kalimat ketus Seokjin. Setelah merasa cukup kering, Seokjin menepuk pundak Namjoon dan memberikan handuknya. "Eh?"

"Aku masih harus berbicara dengan Hoseok." Seokjin terkekeh ketika Namjoon memajukan bibirnya sebagai bentuk rajukan.

Karena tidak mendapat balasan lebih dari Seokjin, akhirnya Namjoon mengalah. Dengan helaan pasrah, Namjoon berjalan keluar ruang tengah. Seokjin tersenyum ketika melihat pundak Namjoon yang merosot.

"Seoknam, apakah kau bisa memberikan ibu teleponnya, Sayang?" Seokjin menjulurkan tangannya, "Ibu ingin berbicara dengan Paman Hobi."

Dengan berat hati, Seoknam memberikan teleponnya ke Seokjin. Seokjin mengusak rambut anaknya itu. Wajah ceria Seoknam berubah murung. Seokjin terkekeh ketika melihat kemiripan anak dan suaminya.

"Seoknam? Halooo."

Suara Hoseok terdengar nyaring dari ujung sana. Seokjin menempelkan teleponnya ke telinganya. "Ini aku, Hoseok."

"Oh, Seokjin! Bagaimana kabar adik tersayangku?" Suaranya Hoseok masih saja terdengar nyaring. Seokjin sampai meringis ketika telinganya berdengung berkat suaranya Hoseok.

"Kau harus sekali senyaring itu saat berbicara di telepon, huh?"

"Ei, jangan ketus seperti itu. Apakah kau tidak senang mendengar suara kakakmu ini, hm?"

"Tidak."

"Ouch! Itu menusuk tepat di jantungku, Jin."

Seokjin memutar matanya mendengar seruan dramatik Hoseok. Dari sini, dia bisa melihat Seoknam yang kembali sibuk menggambar dan kali ini yang membantunya adalah Namjoon. Mereka berdua kelihatan sangat akur.

Tumben sekali, pikir Seokjin.

"Oh! Aku dengar kau berhasil lolos ke GP tahun ini. Selamat, Adik kecilku! Walaupun sebenarnya aku tahu dan sangat yakin kau akan mengikuti GP tahun ini."

Seokjin tertawa mendengar kalimat terakhir Hoseok.

Dari semua orang yang mendukungnya, Hoseok merupakan pendukung nomor satu Seokjin yang selalu percaya dan yakin bahwa dia akan menang. Meskipun begitu, Seokjin sempat turun di GP dua tahun lalu. Tapi itu tidak mematahkan semangat Hoseok dalam mendukung dan menyemangati Seokjin. Dan benar saja, tahun lalu Seokjin berhasil memenangkan GPF dengan membawa pulang medali emas.

"Jadi, bagaimana perasaanmu soal kabar baik itu?"

Seokjin berjalan ke sofa dan duduk di sana. Dia mengacungkan jempolnya ketika Seoknam menunjukkan hasil gambarannya. "Tentu saja senang. Aku tidak mengira aku akan mengikuti GP untuk yang ketiga kalinya."

Hoseok berdecak, "Kau terlalu merendahkan dirimu, Seokjin. Kau memiliki talenta yang luar biasa, belum lagi sifat pekerja kerasmu itu. Tentu saja kau akan mengikuti GP berkali-kali. Bahkan aku jamin kau akan mengikuti yang tahun depan."

Seokjin tersenyum mendengar itu, "GP tahun ini saja belum mulai dan kau sudah menjaminkan hal itu?"

"Tentu saja. Para juri itu mungkin buta jika mereka bilang kau tidak masuk kriteria skater yang mengikuti GP."

Seokjin tidak tahu kenapa Hoseok begitu bencinya terhadap para juri di figure skating. Setiap kali skor Seokjin keluar, Hoseok akan berkata kalau seharusnya skornya lebih tinggi. Awalnya Seokjin pikir kakaknya itu hanya mencoba menghibur atau membangun semangat. Tapi sepertinya Hoseok memang membenci para juri.

"Oh, dan aku dengar jadwal turnya Namjoon keluar hari ini."

"Ya, malam ini lebih tepatnya."

"Astaga! Aku lupa kalau di sana sudah malam."

Seokjin menaikkan alisnya, "Memangnya kau ada di mana?"

Hoseok tertawa ragu, "New York. Aku dan Jimin sedang tur keliling dunia. Dan sebelum kau mengoceh soal kenapa aku tidak memberitahumu, aku benar-benar minta ma–"

"Tunggu." Seokjin menegakkan punggungnya. Pandangan matanya tertuju ke depan, tapi fokusnya tidak pada apa yang ada di depannya. "Sampai kapan?"

"Um.." Hoseok kedengaran sedang mengingat-ingat jadwal turnya. "Seingatku sampai akhir Oktober."

Mendengar jawaban Hoseok, Seokjin dapat merasakan perasaan yang sama seperti tadi pagi di rink. Hoseok sedang tur dan baru selesai akhir Oktober, sedangkan GP dan turnya Namjoon mulai bersamaan di bulan Oktober. Itu berarti Hoseok tidak bisa menjaga Seoknam, berarti pilihan terakhir adalah memanggil pengasuh anak.

"Seokjin? Halo?"

Teleponnya masih menempel di telinganya Seokjin, tapi suaranya Hoseok terdengar seperti suara statis tv yang rusak di telinga Seokjin. Tangannya yang kosong terangkat mencengkram rambutnya. Seoknam akan ditinggal sendirian bersama orang asing yang belum tentu memiliki niat baik.

Pikirannya kembali penuh dengan skenario buruk yang muncul pagi ini. Memikirkan semua kemungkinan buruk itu membuat tenggorokan Seokjin tercekat, napasnya bertambah cepat. Seokjin tahu dan sadar kalau semua itu hanyalah pikirannya yang bertingkah lagi, tapi entah kenapa dia tidak bisa menyingkirkan gambaran-gambaran jelek di kepalanya.

"Ibu akan lomba di luar negeri?"

Suara Seoknam memasuki alat pendengaran Seokjin. Suara lembut dan imut itu berhasil menyingkirkan dengungan di telinga Seokjin, mengeluarkan Seokjin dari pikirannya.

"Ya, ibumu akan lomba di luar negeri, Seoknam. Keren, bukan?"

Seokjin mengangkat kepalanya dan melihat Seoknam yang sedang dipangku Namjoon. Kertas dan krayonnya tergeletak terlupakan di samping mereka.

"Ehm! Keren sekali! Seoknam mau ikut kalau begitu!"

"Eh? Kenapa kau mau ikut, Seoknam? Tempatnya jauh, sangaaat jauh."

Seoknam menggelengkan kepalanya dengan cepat, dia mengepalkan tangannya sekuat mungkin. "Tidak peduli! Seoknam tetap mau ikut karena ibu butuh suporter seperti Seoknam!"

Dan tiba-tiba saja Seokjin berdiri dan berkata, "Kalau begitu Seoknam akan ikut ke Kanada dan Jepang."

Seoknam dan Namjoon memutar kepala mereka. Mata Seoknam yang bulat terbuka lebar menatap ibunya, sedangkan Namjoon dengan kening berlipat kelihatan tidak setuju dengan usulan Seokjin barusan.

"Tidak, Seoknam tidak bisa ikut."

"Kenapa tidak?" tanya Seokjin mendesak.

"Seokjin, apakah kau lupa dengan reporter dan semua orang di luar sana? Kita sudah sepakat sejak awal, Seokjin."

Seoknam bergantian melihat ayah dan ibunya. Dia tidak mengerti apa yang dibicarakan mereka berdua, tapi dia tidak suka mendengar nada yang digunakan dua orang dewasa itu.

"Lalu siapa yang akan menjaga Seoknam selama kita pergi? Hoseok sedang tur dan baru selesai akhir Oktober nanti."

Namjoon menggelengkan kepalanya, "Kita bisa memanggil pengasuh–"

"Tidak!"

Seokjin bergegas menutup mulutnya. Matanya terbuka lebar, begitupula dengan Seoknam dan Namjoon. Ruang tengah berubah sunyi, yang terdengar hanya suara dari tv yang menyala di belakang Seoknam dan Namjoon.

Seokjin menghela napas dan menghembuskannya perlahan. Dia kemudian menundukkan kepalanya dan meminta maaf. Dia dapat merasakan cairan hangat air mata menumpuk di matanya.

Kenapa dia sebegitu kacaunya hari ini? Dia tidak pernah "hancur" di depan Namjoon sebelumnya, dan yang membuat Seokjin semakin kesal pada dirinya sendiri adalah bahwa dia baru saja "hancur" di depan anaknya yang baru berumur empat tahun.

"Seokjin?"

"Seoknam akan ikut ke Kanada dan Jepang. Dia harus ikut, Namjoon," mohon Seokjin dengan nada bergetar. "Aku lebih memilih mengundurkan diri daripada harus meninggalkan Seoknam dengan pengasuh."

Namjoon terkejut ketika melihat pipi Seokjin yang basah dengan air mata. Seokjin kelihatan seperti menahan suara tangisnya dengan susah payah, tapi sayangnya dia tidak berhasil.

Dengan berat hati, Namjoon menghela napas dan menganggukkan kepalanya. Dia menurunkan Seoknam ke karpet dan menghampiri Seokjin.

Namjoon memeluk Seokjin dan mengusap pelan rambut panjangnya. "Jangan mengundurkan diri, Seokjin."

.

.

.

To be continue

Fyi, aku akan selalu memberi warning di awal chapter jika seandainya chapter itu memiliki konten yang sensitif.

Adakah dari kalian yang bisa menebak lagu dari short programnya Seokjin di sini 👀

Tolong beri tanggapan kalian🙏