Seokjin menarik napas dalam-dalam sambil meregangkan tangannya. Dengan postur tubuh yang tegap dia meluncur mengitari rink es sebagai pemanasan sebelum memulai latihannya pagi itu. Seokjin merupakan satu-satunya orang yang ada di rink saat ini, bahkan pelatihnya belum datang.
Seharusnya rink masih tertutup dan baru dibuka jam delapan nanti, tapi karena staf di sana sudah hafal dengan kebiasaan Seokjin, mereka memberikan Seokjin duplikat kunci agar bisa masuk sebelum jam buka. Hanya staf dan pelatih yang memiliki kunci itu, termasuk Seokjin.
Setelah dirasa cukup, Seokjin melakukan programnya secara kasar. Dia bergerak dengan kecepatan sedang sambil menggerakkan tubuhnya sesuai gerakan yang ada di programnya. Seokjin hanya menambah kecepatannya ketika dia akan melakukan lompatan. Pelatihnya selalu memberitahu bahwa Seokjin memiliki kebiasaan buruk untuk selalu meluncur dengan kekuatan penuh di awal latihannya, yang mengakibatkan setengah energinya terkuras.
Pertandingan pertamanya akan diadakan di Kanada dan tersisa kurang dua minggu lagi. Dengan Seokjin yang sibuk dengan latihannya dan Namjoon dengan persiapan turnya, mereka meminta tolong ke Yoongi untuk menjaga Seoknam selama setengah hari. Seoknam merasa senang dengan hal itu, tapi Seokjin merasa sebaliknya.
Dia merasa kecewa dengan dirinya sendiri karena tidak bisa merawat anaknya hanya karena dia harus latihan. Seharusnya dia berada di rumah bersama Seoknam, bukannya di rink. Dialah yang seharusnya bermain dengan Seoknam saat ini, bukannya Yoongi.
"Seokjin! Berhenti!"
Seokjin mengerjapkan matanya kaget. Suara keras menggema ketika tubuh Seokjin menabrak dinding pembatas rink. Untung dia refleks mengerem walaupun masih berakhir menabrak, tapi setidaknya dia berhasil memperkecil efeknya.
"Astaga! Apa yang sedang kau pikirkan huh?! Berapa kali harus aku beritahu untuk fokus saat kau di atas es? Seribu kali?!"
Seokjin menggaruk tengkuknya yang tidak gatal mendengar pelatihnya yang memarahinya. Dia hanya bisa tertawa gugup, yang membuat pelatihnya semakin mengomel.
Dengan semakin dekatnya GP, Seokjin semakin keras berlatih. Untuk GP kali ini Seokjin memiliki waktu berlatih yang lebih banyak daripada tahun lalu karena dia langsung membuat dua program segera setelah pertandingan tahun lalu selesai. Dia hanya perlu memoles dan memantapkan persiapan untuk Kanada nanti.
"Cara masukmu barusan sangat jelek. Jika kau melakukan itu saat GP nanti, bisa-bisa kau mendapatkan GOE -2."
Seokjin terengah-engah, dia baru saja menyelesaikan SP-nya dan ketika dia meluncur ke pinggiran rink untuk minum, pelatihnya langsung berkomentar. Dia tahu pelatihnya hanya menunjukkan kesalahan dan kekurangan yang Seokjin lakukan, tapi apakah pria itu tidak bisa melakukannya dengan kalimat yang lebih halus dan memotivasi?
Untungnya Seokjin sudah terbiasa dengan komentar pelatihnya yang blak-blakan, jadi dia tidak membawanya ke hati. Malah sebaliknya, Seokjin bersyukur dengan sifat pelatihnya itu. Dia jadi bisa lebih tahu kekurangannya.
"Oh dan caramu berputar barusan seperti pria tua mabuk. Pertajam putaranmu, jangan sampai kau memberi kesan pria tua mabuk ke juri nanti. Pertajam juga triple axelmu. Kau sangat handal di lompatan itu jadi usahakan agar kau mendapat GOE plus yang tinggi untuk itu."
Triple axel merupakan lompatan yang selalu Seokjin lakukan di programnya. Awalnya dia memang kesulitan untuk melakukannya, tapi sekarang dia sudah mahir. Kidoh sampai bercanda dengan mengatakan Seokjin bisa melakukan triple axel dengan mata tertutup.
Setelah melatih SP-nya berulang-ulang kali, pelatihnya akhirnya memberi tanda "ok".
Dengan bercucuran keringat dan napas terengah-engah, Seokjin berdiri di pinggiran rink. Dia mengelap keringat di wajah dan sekitar lehernya. Sekarang sudah jam sembilan, dua jam sudah lewat sejak Seokjin memulai latihannya. Teman skaternya mulai berdatangan satu per satu, tampak di wajah mereka gurat senang bercampur semangat membara di mata mereka.
Entah sudah menjadi kebiasaan atau bukan, tapi mereka semua menghampiri Seokjin dan menyemangatinya sebelum mereka memulai latihan mereka. Seokjin tersenyum dan berterimakasih. Dia senang dengan dukungan mereka, tapi entah kenapa, Seokjin juga merasa terbebani dengan harapan yang terlihat jelas di mata mereka.
Seokjin sadar semua orang yang ada rink ini, baik teman-temannya maupun staf rink, berharap agar Seokjin memenangkan GP tahun ini. Tentu saja mereka juga mengharapkan Kidoh agar menang, pria yang lebih muda tiga tahun darinya itu merupakan skater pria terbaik di rink mereka. Tapi mereka berharap lebih besar pada Seokjin yang menang tahun lalu.
Itulah kenapa Seokjin merasa berat untuk berlatih selama beberapa hari ini. Itu dan juga karena kekhawatirannya akan Seoknam.
.
.
.
Tidak terasa hari pertandingan tiba. Seokjin terbang ke Kanada bersama Seoknam dengan pesawat pribadi Namjoon karena kesepakatan yang mereka buat beberapa minggu lalu. Pelatihnya tiba di Kanada tiga hari sebelum pertandingan, dia menyusul Seokjin karena Kidoh yang tiba-tiba ingin mengubah beberapa bagian di SP-nya.
Seokjin memaklumi itu, dia tahu Kidoh kadang bisa merepotkan pelatihnya. Tapi yang membuatnya heran adalah kehadiran Kidoh di venue pagi ini. "Apa yang sedang kau lakukan di sini?" tanya Seokjin setelah menyelesaikan latihan bersama di pagi itu sebelum pertandingan nanti sore.
"Mendukungmu tentu saja, memangnya apa lagi?" Kidoh menjawab seakan-akan pertanyaan Seokjin terdengar aneh.
"Kau akan bertanding di Paris November nanti?" Seokjin mengerutkan keningnya. Skater yang lain sudah meninggalkan rink, menyisakan Seokjin yang masih berdiri di pinggiran rink.
Kidoh kelihatan ragu untuk menjawab beberapa saat karena bingung apakah itu pertanyaan atau bukan, tapi pada akhirnya dia mengangguk.
Seokjin melipatkan tangannya di depan dadanya, "Lalu apa yang kau lakukan di sini, di Kanada, padahal kau seharusnya di Seoul untuk berlatih?"
"Hei, apa salahnya beristirahat beberapa hari sebelum pertandingan?" Kidoh tertawa, dia menghiraukan Seokjin yang menatapnya tajam.
"Kau gila." Seokjin menghembuskan napas, dia menggelengkan kepalanya. Kidoh sepertinya tidak bisa menutup mulutnya, pria itu terus saja berbicara sambil berjalan mengikuti Seokjin yang meluncur ke pintu pembatas yang terbuka.
Seokjin terus meluncur sambil menghiraukan kicauan berisik Kidoh. Dia memasang pengaman pisau sepatu skatingnya dan berjalan keluar venue dengan kotak tisu serta botol minumnya di tangan. Kepalanya melongok ke kanan dan kiri, ketika dia tidak menemukan pelatihnya, dia bertanya pada orang-orang di sekitarnya. Saat dia sedang bertanya, pelatihnya tiba-tiba berjalan ke arahnya.
Seokjin menoleh ketika namanya dipanggil. Dia dapat melihat raut terkejut pelatihnya saat melihat Kidoh di sampingnya dan Seokjin berani bertaruh seribu pound yang tidak dia punya bahwa Kidoh datang ke sini tanpa memberitahu pelatih mereka.
Dan dugaannya benar. Pelatihnya itu mempercepat langkahnya dengan hentakan yang keras. Dia mencengkram mantel Kidoh dan berteriak di depan wajah pria itu. Seokjin hanya bisa menghembuskan napas lelah dan memijat keningnya yang berdenyut. Kidoh dengan kurang ajarnya tertawa dan mengatakan alasan bodohnya, yang tentu saja membuat pelatih mereka semakin marah.
Seokjin dapat merasakan tatapan orang-orang di sekitar mereka. Dengan perasaan malu, Seokjin berjalan menjauh. Seokjin rasa dia masih beruntung karena pelatihnya dan Kidoh membuat adegan yang ke sekian kalinya di luar venue.
Setidaknya hanya beberapa orang yang menyaksikan adegan memalukan itu. Dasar anak-anak kecil, pikirnya.
.
.
.
Saat sore tiba, Seokjin merasa gugup. Dia sudah berkali-kali tampil di depan banyak orang, tapi baru kali ini dia meninggalkan Seoknam sendirian. Anaknya itu saat ini ada di kamar hotel, walaupun kata pelatihnya Seoknam akan aman (pelatihnya tahu soal Seoknam), Seokjin tetap tidak bisa menghilangkan kekhawatirannya.
Sejak grup pertama mulai bertanding, Seokjin tidak bisa diam di satu tempat. Dia sudah melakukan stretching dan beberapa pose yoga, tapi beberapa saat kemudian, Seokjin berlari kecil dari ujung satu ke ujung lainnya. Ketika pelatihnya menyuruhnya untuk berhenti, Seokjin dapat merasakan perasaan gatal itu.
Dia pun memilih untuk mengamati tv yang memperlihatkan pertandingan yang tengah berlangsung. Beberapa skater lainnya juga mengamati pertandingan lewat tv itu. Belum satu menit berlalu, Seokjin mulai gelisah lagi. Dia menghentakan salah satu kakinya di lantai, awalnya pelan tapi semakin lama dia diam berdiri, hentakannya semakin keras sampai mengundang perhatian skater di sebelahnya.
Pada akhirnya Seokjin kembali ke matras yoganya dan meregangkan tubuhnya untuk yang kedua kali sore itu. Saat Seokjin melakukan perenggangan, pikirannya melayang ke lain hal. Dia berpikir betapa buruknya dia meninggalkan Seoknam sendirian di hotel. Anaknya itu pasti bosan, tiba-tiba saja kekhawatirannya menaik. Bagaimana jika Seoknam lapar? Seokjin tidak meninggalkan makanan malam untuk anaknya itu.
"Seokjin, berhenti melakukan split. Kakimu akan lelah duluan sebelum grup pertama selesai." Suara pelatihnya membuyarkan Seokjin dari lamunannya.
Ketika pelatihnya melirik, Seokjin masih saja bertahan di posisi splitnya. Dia mengendus kesal, "Dia akan baik-baik saja, Seokjin. Aku sudah memberinya makan malam dan beberapa snack sebelum aku datang ke sini."
Mendengar itu, Seokjin menghembuskan napas lega. Tapi perasaan bersalah masih dapat dia rasakan dengan sangat jelas. Seokjin perlahan bangun dari posisinya dan meluruskan kakinya. Dia membungkukkan badannya hingga wajahnya menyentuh lututnya.
Pelatihnya datang untuk memberi sedikit bantuan agar Seokjin bisa lebih meregangkan tubuhnya.
"Kau tidak perlu mengkhawatirkan anak itu, Seokjin, dia aman. Sekarang kau harus fokus di pertandinganmu." Seolah-olah sesuai petunjuk, suara pengumuman memberitahu bahwa grup dua akan dimulai setelah pelapisan es.
Seokjin menegakkan punggungnya dan melihat ke tv di ujung ruangan. Skor para pesaingnya ditampilkan dan jika Seokjin harus jujur, dia merasa lebih percaya diri. Sebut saja dia meremehkan pesaingnya, tapi Seokjin merasa yakin dengan programnya kali ini.
"Jangan terlalu percaya diri, Nak." Pelatihnya bergumam mengingatkan, "Aku tahu kebiasaan burukmu itu, jadi tahan dulu sampai akhir pertandingan."
Seokjin berdeham singkat. Walau dengan perasaan baru itu muncul, dia masih bisa merasakan kekhawatiran yang betah mengisi dadanya.
Tapi dia harus mengesampingkan perasaan itu. Setelah menunggu hampir satu jam, Seokjin akhirnya berdiri di luar rink. Jaketnya yang berlogo bendera asal negaranya kini tersampir rapih di lengan pelatihnya, sekarang dia hanya mengenakan kostum skatingnya yang berwarna putih murni layaknya awan.
Untuk kostum short programnya kali ini, Seokjin mengajukan desain yang simple. Tapi disainernya kurang setuju dengan sketch yang Seokjin kirim. Disainernya menambahkan pernak-pernik berwarna silver di pinggiran dan tengah dress putihnya, pernak-pernik itu juga ditambahkan di sekeliling kerahnya yang kelihatan seakan-akan Seokjin memakai kalung. Dressnya itu sedikit terbelah di bagian tengah dadanya, untungnya ditutup dengan spandex putih cerah.
Awalnya Seokjin sedikit ragu karena disainernya itu tidak mau memperlihatkan desain akhirnya, tapi setelah Seokjin melihat dan mencobanya minggu lalu, sepertinya dia harus berterimakasih pada disainernya itu.
"Apakah kau akan melakukan pemanasan lagi?" tanya pelatihnya yang berdiri di sampingnya.
Seokjin kelihatan sedikit ragu sebelum dia mengangguk, "Sebentar saja."
"Satu menit. Tidak lebih, tidak kurang."
Seokjin tersenyum sebagai balasan. Dia kemudian segera melakukan pemanasan. Di tengah-tengah pemanasannya, Seokjin mendengar seruan keras memenuhi venue. Dia mendongakkan kepalanya dan betapa kagetnya dia saat melihat skor yang terpampang.
"Menakjubkan! Jeonghan Yoon berhasil mencetak skor yang tinggi! Dia bahkan berhasil mengalahkan skor Seokjin Kim di GP tahun lalu!"
"Semua latihan keras yang dia lakukan sejak kekalahannya tahun lalu telah membuahkan hasil. Dan betapa indahnya triple axelnya!"
Suara sorakan para penonton di venue membuat Seokjin gugup, belum lagi dengan skor Jeonghan yang terpampang di layar. Seokjin memaksakan tubuhnya untuk berjalan masuk ke rink. Dia melepas pengaman sepatu skatingnya dan meluncur mengitari rink.
"Seokjin! Apa yang kau lakukan?! Kembali ke sini!"
Seokjin menghiraukan teriakan pelatihnya. Dia tahu pelatihnya itu mengkhawatirkan kondisi mentalnya, tapi Seokjin baik-baik saja. Dia bisa meredam suara-suara di kepalanya dengan berskating.
"Ini dia, pemenang GP tahun lalu dari Korea Selatan, Seokjin Kim! Dia akan berskating dengan lagu "On Love: Agape"."
Suara tepuk tangan beserta sorakan keras penonton memenuhi venue yang luas itu. Seokjin merentangkan tangannya dan menyambut semua orang dengan senyuman sambil meluncur ke tengah rink.
Semua akan baik-baik saja, jangan panik.
Suara sorakan dan tepuk tangan berhenti ketika Seokjin mengambil pose awalnya. Suara alunan musik mengalun, menimbulkan gema di ruangan lapang itu. Semua orang diam memerhatikan dengan saksama.
Rasakan agapenya.
Seokjin menambah kecepatannya dan beberapa saat kemudian, tubuhnya berputar di udara selama kurang dari satu detik sebelum pisau seluncurnya menyentuh permukaan es. Seokjin memutar tubuhnya dengan anggun, tangannya bergerak dengan elegan. Dia melompat sedikit sebelum mengambil posisi flying sit spin.
"Entrinya barusan cukup sulit, tapi posisi tubuhnya sangatlah indah."
Seokjin dapat merasakan jantungnya yang berdebar kencang di dadanya. Perasaan saat latihan beberapa bulan lalu terasa seperti mendesak untuk keluar.
Rasakan agapenya, sialan!
"Lompatan selanjutnya merupakan kombinasi."
Dengan memusatkan kecepatannya, kaki kirinya mendorong tubuhnya untuk melompat ke udara. Setelah kaki kanannya menyentuh es, Seokjin menggunakan ujung pisau luncur kirinya untuk kembali melompat dan berputar tiga kali. "Kombinasi triple axel dan triple toe loop yang hebat! Dengan ketinggian dan keanggunan yang luar biasa!"
Seokjin bersumpah dia sudah berusaha untuk merasakan cinta yang seharusnya mengalir di sekujur tubuhnya saat ini. Tapi tidak peduli apa yang dia coba lakukan, pikirannya terlalu berisik. Dia tidak bisa merasakan ketenangan sama sekali!
Setelah lompatan terakhir, Seokjin memasuki akhir programnya. Dengan step sequence yang diingat betul tubuhnya, Seokjin melakukan putaran kombinasi.
Dasar bodoh!
Di akhir putarannya, Seokjin berdiri tegap dan melakukan pose akhirnya saat kord terakhir dari lagunya mengalun di rink yang luas itu. Telinga Seokjin berdengung selama beberapa saat sebelum kembali normal. Napasnya terengah-engah dan keringat bercucuran di dahinya. Suara sorakan dan tepuk tangan riuh memenuhi rink.
Setelah memberikan penghormatannya pada para penonton dan juri, Seokjin meluncur ke pintu pembatas. Setelah memasang pengaman pisau luncurnya, Seokjin bersama pelatihnya berjalan ke Kiss & Cry untuk melihat review penampilannya serta skornya.
"Tadi tidak 'sebersih' yang aku harapkan, Seokjin."
Seokjin mengelap keringat di wajahnya dengan handuk, napasnya masih terengah-engah. Ketika pelatihnya memberitahu kekurangannya, Seokjin tidak mendengarkannya. Dia sibuk mengatur napasnya yang berat karena lelah dan juga karena dia hampir mengalami episodenya.
Ketika skor short programnya keluar, Seokjin hanya dapat melihat sejumlah angka. Pikirannya masih saja berisik, bukan karena sorakan gembira penonton, tapi karena hal lain.
"Skor Seokjin Kim adalah 87.09, menempatkannya di posisi pertama. Dia berhasil mencetak skor tertinggi sejauh ini! Ini merupakan sesuatu yang luar biasa!"
Dasar tidak berguna!
.
.
.
To be continue
belakangan ini aku tergila-gila dengan Yuri on Ice dan karena Agape lagu favoritku aku jadiin lagu buat programnya Seokjin ^^
fyi, cerita ini terinspirasi Yuri on Ice dan skater favoritku Yuzuru Hanyu (where yall at fanyus!)
jangan sungkan untuk memberi pendapat kalian soal cerita ini guys!
❆ Kiss & Cry ❆
Tempat para skater dan pelatihnya menunggu skor mereka diumumkan di kompetisi figure skating. Namanya seperti itu karena antara skater dan pelatih yang bahagia karena skor mereka, atau menangis setelah penampilan buruk mereka.
Area ini biasanya terletak di sudut venue dan dilengkapi dengan bangku untuk skater dan pelatih mereka saat menunggu hasil kompetisi.
