Pagi itu Seokjin bangun sebelum matahari terbit. Seoknam masih tertidur pulas di sampingnya dan Seokjin tidak tega membangunkan anaknya itu. Akhirnya dia meminta tolong pelatihnya untuk menjaga Seoknam selagi dia pergi berlatih untuk free skatenya nanti sore.

"Kau jangan memaksakan diri, Seokjin. Kemarin kau hampir mengalami salah satu episodemu, di depan umum dari semua tempat."

Seokjin menganggukkan kepalanya, dia juga tidak ingin terlalu lelah. Setelah mengemas barang-barang yang dibutuhkan, Seokjin pamit pada pelatihnya sebelum dia berangkat ke venue untuk latihan.

Ketika dia sampai, orang-orang memerhatikannya penuh penasaran. Dulu-dulu, Seokjin biasanya pergi latihan dengan pelatihnya saat musim pertandingan, tapi kali ini dia selalu pergi sendirian.

Tanpa memedulikan tatapan orang di sekitarnya, Seokjin mempersiapkan dirinya untuk latihan. Kemarin secara mental dia tidak siap, tapi Seokjin sudah mempersiapkan dirinya lebih baik dari kemarin. Dia harus berhasil menampilkan program yang sempurna dan kuat.

Untuk free skate tahun ini, Seokjin berencana untuk melakukan quads, lompatan dengan empat rotasi. Tahun lalu dia mencobanya tanpa ada perencanaan yang berakhir dia terjatuh. Tapi tahun ini berbeda. Seokjin sudah melatih lompatan quadsnya, terutama quad salchow dan toe loop yang ada di program free skatenya.

Dengan ancang-ancang yang kuat, Seokjin melempar tubuhnya ke udara dan berputar empat kali. Dia mendarat di kaki kanannya dengan keseimbangan dan postur tubuhnya yang bagus. Terdengar suara tepukan tangan dari arah bangku penonton. Seokjin menoleh dan dia terkejut ketika melihat teman-temannya di sana.

"Itu merupakan quad salchow yang sangat bagus!" teriak Jungkook tanpa berhenti bertepuk tangan.

Taehyung menangkup mulutnya dan berteriak, "Bravo!"

Seokjin tersenyum dan menghampiri tiga temannya. "Apa yang kalian lakukan di sini?" tanyanya ketika mereka berdiri berhadapan di antara dinding pembatas rink.

"Tentu saja menjadi suportermu." Yoongi membalas senyuman Seokjin, dia juga membalas pelukan Seokjin. "Memangnya kau kira kami akan melewati GP kali ini?"

"Bukankah kalian ada projek kuliah, Jungkook, Taehyung?"

Taehyung tersenyum lebar dan merangkul Jungkook. Dia terkekeh, "Yep. Tapi seperti yang Yoongi bilang, tidak mungkin kami akan melewati GP kali ini."

"Lagipula, kita sudah mengajukan izin ke dosen kita beberapa hari lalu. Untungnya mereka tidak mempermasalahkannya," lanjut Jungkook dengan senyuman khasnya.

"Dua bocah ini membujukku agar mereka bisa ikut ke Kanada. Apakah kau tahu mereka melakukannya dengan apa, Jin-ah?"

Seokjin menggelengkan kepalanya.

Yoongi menghembuskan napas, dia kemudian berkacak pinggang dan menatap lelah Taehyung dan Jungkook. "Mereka bilang mereka akan membayar tiket pesawat dan kamar hotelku. Tapi aku menaikkan tawaranku tentu saja."

Seokjin menaikkan sebelah alisnya, "Dan kau menaikkannya dengan…"

"Traktiran selama di sini."

"Jujur saja itu akan sangat menguras dompet kita berdua, tapi setidaknya kita bisa menyaksikan GP tahun ini secara live!" Taehyung mengangkat tangannya yang terkepal ke udara, sedangkan tangan satunya lagi masih merangkul Jungkook.

Seokjin tertawa melihat tingkah laku Taehyung. "Padahal kalian bisa menyaksikannya lewat live streaming."

"Tapi itu kurang seru," ujar Jungkook dengan bibir dimajukan. Seokjin tersenyum maklum, dia kemudian mengusak rambut Jungkook dan Taehyung. "Kalian berdua memang masih anak kecil."

"Anak kecil di tubuh orang dewasa," gumam Yoongi.

Taehyung kembali membuka mulut untuk menyanggah kalimat Yoongi. Jungkook yang ingin membantu Taehyung dibuat diam karena tatapan tajam Yoongi. Seokjin yang menyaksikan ketiga temannya itu hanya bisa menghembuskan napas lelah. Sepertinya semua orang yang dia kenal memiliki kebiasaan untuk bertengkar.

Sore ini akan menjadi sore yang melelahkan karena pertandingan, tapi sore ini juga akan menjadi sore yang meriah dengan adanya tiga temannya yang siap mendukungnya. Seokjin rasa dia akan melewati hari ini lebih baik daripada kemarin.

.

.

.

"Kenapa kau tidak minta tolong padaku untuk menjaga Seoknam?"

Setelah menengahi pertengkaran Taehyung dan Yoongi, Seokjin kembali ke hotel bersama tiga temannya yang kebetulan juga menginap di sana. Ternyata pelatihnya yang menyuruh Yoongi untuk menginap di hotel yang sama. Dan sebenarnya mereka bertiga juga menyaksikan pertandingan kemarin, tapi karena suruhan pelatihnya Seokjin, mereka baru bertemu Seokjin hari ini.

Karena Jungkook yang ingin berbicara dengan Seokjin karena sudah lama tidak bertemu, akhirnya mereka semua pergi ke kamar Seokjin. Di mana Seoknam sedang menonton tv ditemani pelatihnya Seokjin.

"Aku tidak ingin merepotkanmu, Yoongi." Seokjin memberi kecupan di pipi anaknnya, "Lagipula, aku juga tidak kepikiran untuk minta tolong padamu."

"Ehm, aduh?"

Taehyung terkekeh, "Wajahmu sedatar dinding untuk orang yang tersinggung."

Seokjin tersenyum bersalah. "Maaf jika aku menyinggungmu, Yoongi."

"Tidak, itu tidak apa-apa. Sebenarnya yang membuatku penasaran adalah bagaimana Namjoon mengizinkanmu untuk membawa Seoknam di GP kali ini. Karena jika aku harus jujur saja, suamimu itu sangat keras kepala plus terlampau protektif." Yoongi menekankan di kata-kata terakhirnya.

"Ceritanya panjang." Seokjin menjawab singkat.

Yoongi membuka mulutnya untuk bertanya lebih jauh, tapi dia mendapatkan tatapan peringatan dari pelatihnya Seokjin yang duduk di sofa. Yoongi menutup kembali mulutnya.

"Astaga! Apakah ini benar-benar Seoknam? Kau semakin besar saja!"

Taehyung mengangkat Seoknam ke udara dan mencium perutnya. Seoknam tertawa dan menggeliat menjauh dari ciuman Taehyung. Jungkook melihatnya dengan penuh horor, dia bergegas mengambil Seoknam dari tangan Taehyung dan menatap tajam pria itu.

"Ayolah Jungkook, aku belum selesai menjahili Seoknam."

"Seokjin akan jantungan jika Seoknam jatuh," tuduh Jungkook. Matanya menajam ketika Taehyung protes. Dia berbalik badan dan berjalan menjauhi Taehyung dengan Seoknam di gendongannya. Suara protes Taehyung terdengar semakin keras dan dia berjalan mengekori Jungkook.

Yoongi mendesah kesal. "Inilah kenapa aku ogah pergi dengan mereka berdua, apalagi Taehyung. Sangat berisik."

"Setidaknya suasananya jadi tidak sepi."

"Tapi malah tambah berisik," cibir Yoongi.

Seokjin tertawa. Dia tidak ingat terakhir kali mereka semua berkumpul di satu ruangan seperti ini. Mungkin satu tahun ada. Seokjin benar-benar bahagia dia dapat berkumpul dan bersenang-senang dengan teman-teman dekatnya setelah sekian lama. Akan lebih lengkap lagi jika seandainya ada Namjoon, Hoseok, dan Jimin. Tapi untuk sekarang, ini tidak apa-apa.

Dia jarang bertemu dengan Jungkook dan Taehyung karena mereka berdua sedang mengejar kelulusan kuliah mereka. Mereka berdua sedang sibuk-sibuknya dengan tugas dan ujian akhir belakangan ini. Ketika tahu mereka bersedia untuk datang ke GP kali ini di tengah jadwal padat mereka benar-benar membuat Seokjin terharu.

Inilah keluarganya. Bukan hanya Namjoon, Seoknam, Hoseok, dan pelatihnya. Tapi juga teman-temannya yang akan selalu mendukung dan menolongnya setiap saat.

"Aku akan menjaga Seoknam nanti sore." Taehyung menyeringai ke Seokjin, "Sebagai balasannya, kau harus menang, Seokjin."

Seokjin membalas seringaian Taehyung. "Siapa bilang aku akan memberikan podium tertinggi ke skater lain?"

.

.

.

"Di mana Kidoh?"

"Hm? Aku menyuruhnya balik ke Seoul." Pelatihnya menjawab singkat.

Sore itu Seokjin baru sadar dia tidak melihat Kidoh sejak short programnya kemarin. Seokjin hanya menganggukkan kepalanya sebagai respon. Dia kembali sibuk dengan pemanasannya.

Untuk free skate sore ini, Seokjin masuk di grup pertama. Dia mendapat urutan ketiga untuk sore ini. Sayangnya, dia tidak punya waktu untuk mengobrol sebentar dengan Yoongi dan Jungkook. Sesuai janjinya, Taehyung menjaga Seoknam dan dia menyaksikan pertandingan lewat tv di hotel.

Berbeda dengan kemarin, Seokjin merasa lebih rileks. Bahkan ketika dia akan tampil sebentar lagi. Pundaknya terasa lebih ringan ketika mengetahui Seoknam tidak sendirian di kamar hotel dan Seokjin bisa lebih fokus di free skatenya nanti.

Ketika arena skating sudah bersih dari hadiah yang dilempar penonton, pelatihnya memberitahunya satu-dua hal sebelum Seokjin masuk ke arena es. Tepuk tangan segera memenuhi venue diikuti dengan suara host yang memandu acara.

"Mari kita sambut, Seokjin Kim dari Korea Selatan!"

"Untuk free skatenya kali ini, dia akan berskating dengan lagu "Art on Ice" karya Edvin Marton."

"Oh my my, betapa indahnya kostum skatingnya kali ini. Sepertinya kita akan mendapatkan penampilan yang spektakuler sore ini."

Seokjin tersenyum menyambut para audiensnya, tapi juga karena komentar salah satu host. Kostum untuk free skatenya berbeda jauh sekali dari kostum short programnya. Jika kostum kemarin terlihat simple dan elegan, kostum yang ini lebih kompleks dan glamor.

Seokjin meluncur ke tengah arena dan melakukan pose awalnya dengan kedua tangan terangkat horizontal. Ini mungkin terlihat susah dan memang kenyataannya susah, karena Seokjin harus menahan tubuhnya di atas es dengan salah satu kakinya yang berjinjit.

Ketika suara erangan angin disertai dengan suara siulan beberapa detik setelahnya, Seokjin bangkit dari pose awalnya dan bergerak mundur. Senyuman yang terpampang di wajahnya tergantikan dengan ekspresi serius yang menatap tajam ke arah depannya. Ketika terdengar suara gong, Seokjin menekuk sedikit lututnya dan melompat ke udara.

Seokjin mendarat dengan kaki kanannya setelah melakukan triple loop. Pendaratannya mungkin sedikit kikuk, tapi dia berhasil menjaga keseimbangan serta berhasil melakukan lompatannya.

Dia berseluncur memutari arena sebelum tubuhnya bergerak secara auto pilot untuk bersiap-siap melakukan lompatan keduanya. Pisau sepatu skatingnya menyapu permukaan es dan Seokjin melakukan lompatan keduanya.

"Itu lompatan quads pertamanya di free skate kali ini. Quadruple salchow yang dilakukan dengan sangat baik!"

"Sepertinya dia tidak main-main dengan rencana lompatannya di musim kali ini."

"Tentu saja tidak! Dia datang jauh-jauh untuk mempertahankan posisinya di podium."

Itu benar. Seokjin datang jauh-jauh bukan untuk main-main. Ketika dia bilang dia tidak akan memberikan podium tertinggi skater lain, Seokjin serius. Dia sudah berkorban banyak dan memenangkan GP tahun ini yang akan membayar semua pengorbanannya.

Intonasi musik semakin memadat mencapai puncak, Seokjin menampilkannya secara koreografis dan mengakhiri bagian pertama dari programnya dengan putaran kombinasi.

Seperti kostum skatingnya, Seokjin merancangkan free skate yang kompleks. Dia bukan hanya sekedar memamerkan kehebatan skillsnya dalam penilaian teknikal, tapi Seokjin ingin menceritakan dirinya dan skating. Bahwa mereka merupakan pasangan terkompleks yang pernah ada.

Seokjin kembali melompat ke udara dan mendarat lagi kurang dari satu detik. Suara tepukan tangan mengisi venue dan memberikan kesan meriah. Triple lutz yang sukses.

Seokjin mengenal skating sejak usianya masih empat tahun. Di saat anak-anak seumurannya sibuk bermain dan menjelajahi dunia kekanak-kanakan, Seokjin sibuk di atas permukaan es dingin. Baginya, rink es merupakan taman bermainnya. Di mana dia bisa menjadi dirinya sendiri dan bergerak seleluasa yang dia mau.

"Lompatan quadsnya yang kedua sore ini! Sebuah quadruple toeloop yang fantastis!"

"Lompatan berikutnya merupakan double toeloop. Daaan…YES! Dia berhasil melakukannya dengan sempurna!"

Seokjin dikenal dengan pikirannya yang kompleks. Belum lagi dengan kegelisahan yang membuat pikirannya terus sibuk dan bekerja tanpa jeda. Tapi es skating bisa menenangkan pikirannya dengan mudah. Cukup dengan bergerak di atas es, pikirannya berubah sunyi.

Dunia bekerja dengan rumit, tapi dia dan skating lebih rumit lagi. Karena tidak ada yang bisa memahaminya selain dirinya sendiri.

Seokjin kemudian mengejutkan semua orang di venue dengan melakukan pose "pistol". Dia menyeringai ketika mendengar respon di sekitarnya dan segera melompat dan melanjutkan program free skatenya. Musik sudah sampai di bagian pertengahan, menandakan bahwa programnya sebentar lagi selesai.

Tapi bagi Seokjin itu berarti dia harus menambah energinya karena di bagian ini, dia akan memasuki step sequences. Tempo musiknya bertambah cepat, Seokjin bergerak mengitari rink seiring dengan gesekan violin yang cepat dan memberi kesan lincah. Seakan-akan disihir oleh musik, para audiensnya bertepuk tangan mengikuti ketukan musik.

Seokjin dapat merasakan semangat yang membara dan dia pun berseluncur mundur. Quadruple toeloop dikombinasikan dengan triple toeloop membuat semua orang bersorak dan bertepuk tangan. Itu merupakan quads ketiganya.

Hanya berseling beberapa detik, Seokjin kembali mempersiapkan dirinya untuk lompatan berikutnya.

"Triple axel, satu eulur, dan triple salchow! Itu merupakan lompatan terakhirnya di free skate kali ini! Menakjubkan!"

Seokjin mengepalkan tangannya dan melemparnya ke udara sebelum berseluncur dan memutar tubuhnya. Dia kemudian dengan mudah melakukan ina bauer, suara tepuk tangan dan sorakan penonton semakin terdengar riuh.

Tidak sampai di situ, Seokjin berhasil mempertahankan kemeriahan dengan hydroblade mengitari bagian kanan rink dan langsung melakukan flying sit spin. Dengan sisa energinya, Seokjin memasuki putaran kombinasinya dengan butterfly spin.

Intonasi musik memuncak selama putaran kombinasi terakhirnya. Akhir melodi ini menjadi aksen musik yang mencolok ketika Seokjin mengakhiri free skatenya dengan pose akhir yang megah.

Tepat ketika ketukan terakhir musik terdengar, suara keras dari perpaduan tepuk tangan dan sorakan penonton memenuhi dinding venue. Seokjin terengah-engah, tapi dia bergegas berdiri dan memberikan salam penutupnya dengan senyuman bahagia di wajahnya. Sebagai terima kasihnya, dia membungkuk ke beberapa penjuru penonton serta para juri sebelum berseluncur ke pinggir rink.

Ketika dia duduk di Kiss & Cry bersama pelatihnya, Seokjin dapat meraskan detak jantungnya yang keras. Dia sudah mengerahkan semuanya di free skate barusan dan mereka bilang usaha tidak pernah mengecewakanmu. Seokjin berpegang erat pada kalimat itu.

"Skor untuk Seokjin Kim.."

Seokjin membelalakkan matanya tidak percaya ketika melihat angka yang terpampang di layar. Itu merupakan skor tertingginya sejauh ini. Dengan 165.58 di FS dan 87.09 di SP-nya, memberikan Seokjin total skor 252.67. Sebuah skor yang mengalahkan skor di GPF tahun lalu.

Yang membuatnya semakin terkejut adalah pelatihnya yang mengusak rambutnya. Ketika Seokjin menoleh ke sampingnya, pelatihnya menyeringai puas dengan mata tertuju ke layar yang memperlihatkan skornya Seokjin.

"Kerja bagus, Nak," gumamnya pelan.

Seokjin tersenyum lebar dan mengulurkan tangannya ke pelatihnya. Ketika mereka berjabat tangan, Seokjin berkata, "Aku tidak bisa melakukannya tanpa bantuanmu, Otets."

.

.

.

To be continue

Otets artinya 'ayah' dalam bahasa Rusia.