Dua hari sudah lewat sejak free skate dan upacara pemberian medali. Pertandingan di Kanada secara resmi berakhir dengan Exhibition Gala kemarin malam. Yoon Jeonghan mendapatkan medali silver. Dia juga mengikuti GPF tahun lalu, tapi sayangnya dia gagal masuk ke tiga besar. Dari yang Seokjin perhatikan sepertinya Jeonghan sudah berlatih mati-matian selama satu tahun ini.
Sebagai sesama skater dari Korea Selatan, Seokjin harap Jeonghan bisa meraih medali tahun ini. Tapi sebagai kompetitor, Seokjin tidak akan semudah itu membiarkannya menang.
Di tengah lamunannya, Seokjin dibuat kaget dengan suara deringan ponselnya. Dia beranjak berdiri dan meraih ponselnya. "Halo?"
"Seokjin, maafkan aku baru menelpon sekarang."
Ternyata Namjoon.
"Itu tidak apa-apa. Kau sedang tidak sibuk?" Seokjin mengaktifkan mode speaker dan kembali membereskan isi koper Seoknam.
"Tidak, turku di Paris akan dimulai besok. Jadi aku punya waktu santai hari ini."
Seokjin tersenyum mendengar jadwal Namjoon yang tidak terlalu padat. Dia tiba-tiba ingat sesuatu. "Oh, apakah kau menonton pertandingan di Kanada tiga hari ini?"
"Tidak."
Seokjin termenung mendengar jawaban singkat dan datar dari Namjoon. Beberapa detik kemudian terdengar suara tawa Namjoon. "Aku hanya bercanda. Tentu saja aku menontonnya."
Hembusan napas keluar dari mulut Seokjin. "Kau mengagetkanku, Namjoon." Seokjin mendengus.
Namjoon kembali tertawa, "Bagaimana mungkin aku akan melewatkan penampilan skating istriku sendiri? Walaupun dengan jadwal turku yang lumayan padat, setidaknya aku harus meluangkan sedikit waktuku untuk menyaksikan penampilanmu, Seokjin."
Setelah beres dengan pekerjaannya, Seokjin menutup koper Seoknam dan meraih ponselnya. Dia mengangkat alisnya dan berkata dengan nada menggoda, "Apakah turmu lebih penting daripada istrimu ini, Namjoon?"
"Tidak, tentu saja kau lebih penting, Sayangku. Tapi aku juga harus menanyakan pertanyaan itu juga padamu."
"Sama seperti jawabanmu barusan, kau lebih penting, Namjoon." Seokjin duduk di pinggiran tempat tidur. Matanya beralih ke arah kamar mandi di mana Seoknam sedang mandi. Tadinya dia mau memandikan Seoknam, tapi anaknya itu mengotot ingin mandi sendiri.
"Kalau memang begitu, maka jangan terlalu lama latihan, Seokjin."
Ah, topik itu lagi. Seokjin berdeham sebagai respon. Sebenarnya dia sedikit terusik dengan Namjoon yang selalu membatasi latihannya. Namjoon memberikan paling lama lima jam untuk latihan, padahal Seokjin biasa latihan lebih dari delapan jam sejak dia kecil.
Sejak mereka menikah, Namjoon selalu tegas jika sudah bersangkutan dengan Seokjin, terutama tentang karirnya sebagai skater. Menurut Yoongi, "tegas" bukanlah kata yang tepat untuk mendeskripsikan Namjoon, tapi "memaksa". Dan overprotective, Yoongi waktu itu bilang.
Seokjin selama ini tidak pernah tahu alasan dibalik sifat Namjoon itu. Dia mencoba untuk memakluminya. Tapi seiring berjalannya waktu, Seokjin merasa keberatan.
Dia tahu kapan harus berhenti dan beristirahat. Dulu di masa mudanya, Seokjin pernah jatuh keras dan masuk rumah sakit. Pengalaman itu meninggalkan bekas yang tidak akan pernah Seokjin lupakan dan menjadi pengingat baginya untuk tidak memaksakan tubuhnya.
Pintu kamar mandi terbuka, Seoknam keluar dengan handuk membungkus tubuh mungilnya. Seokjin tersenyum dan menghampiri anaknya itu.
"Lihatkan, Bu! Seoknam bisa mandi sendiri. Seoknam bukan anak kecil lagi." Seoknam mengaku dengan dada dibusungkan bangga.
Seokjin tertawa dan mengusak rambut Seoknam yang basah. "Sampai kau besar nanti, kau akan tetap menjadi bayi mungil Ibu."
Seoknam menggembungkan pipinya, dia melotot. Seokjin kembali tertawa melihat ekspresi Seoknam.
"Seoknam bukan bayi lagi, Ibu! Seoknam sudah besar! Lihat, besaaaarr," ujar Seoknam sambil membuka tangannya lebar-lebar.
Seokjin tertawa lagi.
"Seokjin? Kau tidak melupakanku, kan?"
Seokjin menepuk dahinya, dia melupakan Namjoon yang menelpon.
"Apakah itu Ayah? Ayaaaaahhh!" Seoknam berlari menuju ponselnya Seokjin yang tergeletak di kasur. Seokjin berseru keras ketika handuknya Seoknam lepas.
Dia bergegas mengambil handuk yang tergeletak di lantai dan membungkus Seoknam dengan handuk itu. "Kau bisa sakit, Seoknam," lerainya. Seokjin pun sibuk mengeringkan Seoknam.
"Seoknam, jika kau sakit, kau tidak bisa datang ke pertunjukan Ayah besok, loh."
"E-eh, Seoknam tidak sakit kok, Yah," sergah Seoknam buru-buru. "Lihat, Seoknam baik-baik saja. Seoknam tidak sakit."
Suara tawa Namjoon terdengar dari ujung sana. Seoknam tersenyum lebar mendengar suara ayahnya, tapi Seokjin mengerutkan keningnya tidak mengerti. "Kita tidak akan ke Paris, Namjoon. Otets mengajak kami ke Moskow untuk berkunjung ke keluarga di sana."
"Bukankah Otets harus melatih Kidoh untuk pertandingan di Paris November nanti?"
Seokjin berdeham, "Tapi dia bilang dia ingin ke Moskow. Kidoh juga memberitahuku kalau dia akan ke Moskow besok. Bilang kalau dia akan latihan dengan Otets di Moskow sebelum bertanding di Paris."
"Kidoh akan ke Moskow?"
"Yep. Dia bilang dia tidak ingin menjadi alasan Otets batal bertemu keluarganya." Seokjin menjelaskan. Dia sebenarnya berterimakasih pada Kidoh. Dengan Kidoh ke Moskow, dia dan Seoknam bisa bertemu keluarga besar mereka bersama ayahnya. Di sisi lain, ayahnya masih bisa melatih Kidoh.
"Tapi aku sudah membelikan kalian tiket untuk besok malam."
Seokjin menahan suara erangannya. Selalu saja seperti ini, geramnya dalam hati.
Namjoon selalu membuat jadwal dadakan dan baru memberitahunya di menit-menit terakhir. Kebiasaan buruk yang selalu disimpan suaminya itu masuk ke daftar hal-hal yang mengusik Seokjin.
"Namjoon–"
"Yey! Kita akan menonton pertunjukan piano Ayah!" Seoknam bersorak gembira. Dia melompat-lompat di kasur masih dengan tubuhnya yang telanjang.
Seokjin dapat merasakan sakit kepala yang akan datang sebentar lagi. Dia memijat keningnya dan menyuruh Seoknam untuk berhenti melompat.
"Seoknam, apakah kau bisa memakai baju sendiri?" tanya Seokjin.
Seoknam mengangguk semangat, lalu bergegas mengambil bajunya yang tersusun rapih di atas kopernya. Setelah memastikan Seoknam tidak bermasalah dengan memakai bajunya, Seokjin mematikan speaker mode dan mengangkat ponselnya ke telinganya.
"Kau tahu kita selalu ke Moskow di antara dua pertandinganku. Tahun lalu dan dua tahun lalu juga seperti itu." Seokjin berbicara dengan volume kecil, takut Seoknam mendengarkan intonasinya yang serius.
"Ya, tapi aku ingin kalian datang ke pertunjukanku besok malam," paksa Namjoon.
Seokjin menghela napas, lalu bertanya, "Berapa tiket yang kau beli?"
"Empat."
Seokjin tidak mengerti. Kenapa Namjoon membeli empat tiket kalau yang hadir hanya dua orang?
"Siapa saja yang ikut?" tanya Seokjin lagi.
"Kau, Seoknam, Jimin, dan Hoseok."
"Hoseok?" gumam Seokjin bertanya-tanya.
"Dia dan Jimin sedang tur di London. Jadi aku mengajak mereka juga."
Seokjin diam, dia tidak ada pilihan selain menurut. Karena jika tidak, maka Namjoon akan marah. Dan Seokjin sangat tidak tahan ketika Namjoon marah. Pria itu tidak main pukul atau membentak, tapi dia hanya diam dan tidak mengizinkan Seokjin latihan skating.
Karena takut disuruh mengundurkan diri, Seokjin akhirnya mengalah. Tidak mengapa, dia masih bisa bertemu keluarganya setelah NHK Trophy. Walaupun dia hanya punya waktu seminggu sebelum final, itu pun kalau dia berhasil masuk sebagai finalis.
"Baiklah, aku dan Seoknam akan ke Paris nanti sore."
"Aku sudah menyiapkan jet pribadiku untuk penerbangan jam sebelas."
Seokjin ingin sekali berteriak dan mencabut rambutnya. Dia hanya punya tiga jam untuk memberitahu ayahnya, benah-benah, dan check out hotel.
Seokjin harap ayahnya tidak memberikan ceramah panjang tentang semua "shenanigans" ini.
.
.
.
Energi Seokjin benar-benar terkuras habis dalam waktu kurang dari tiga jam. Ketika dia memberitahu ayahnya kalau dia dan Seoknam akan ke Paris, ayahnya marah besar.
"Apa maksudmu kau akan Paris sekarang juga?!" Jika seandainya ini film animasi, maka Seokjin dapat memastikan uap panas keluar dari telinga ayahnya saat ini juga.
"Namjoon sudah membeli tiket untuk pertunjukan besok malam, Otets." Seokjin menjelaskan singkat.
Alis ayahnya tertekuk, lipatan di keningnya semakin dalam, "Dan kau lebih memilih pergi ke pertunjukan itu daripada bertemu keluargamu?"
"Namjoon adalah keluargaku. Dia merupakan suamiku, Otets." Seokjin menjawab dengan tegas dan lugas.
Seokjin terus merespon ayahnya dengan berkata bahwa dia akan pergi ke Paris, dia juga memberitahu kalau dia dan Seoknam masih bisa ke Moskow setelah pertunjukan Namjoon selesai dan juga setelah NHK Trophy.
"Itu pun kalau Namjoon mengizinkanmu," gumam ayahnya dengan sinis.
Seokjin menghembuskan napas lelah. Dia dan Seoknam baru berada di udara selama kurang lebih satu jam. Sejujurnya Seokjin tidak enakan dengan ayahnya dan juga keluarganya di Moskow. Mereka jarang bertemu karena kesibukan Namjoon di Seoul yang menyebabkan Seokjin dan Seoknam susah ke Moskow.
Mereka biasanya pergi ke Moskow setiap musim pertandingan karena di saat itulah Namjoon bisa meluangkan waktunya. Bedanya, kali ini Namjoon sedang tur keliling dunia, jadi kemungkinan besar dia tidak sempat datang ke Moskow.
Ayahnya memaklumi jadwal Namjoon yang padat, tapi dia juga sedikit kesal karena Namjoon tur di musim pertandingan skatingnya Seokjin.
Seokjin sangat menghargai ayahnya yang peduli terhadap dirinya, tapi Seokjin menjadi tidak enakan dengan Namjoon. Dia khawatir Namjoon merasa seperti diberlakukan sebagai orang asing oleh keluarganya karena mereka selalu mementingkan Seokjin dan Seoknam.
Keluarganya tahu tentang pikirannya yang sensitif, itulah kenapa mereka sangat berhati-hati ketika berbicara atau melakukan sesuatu. Tapi Namjoon tidak tahu hal itu dan dia sering mengatakan dan melakukan hal-hal yang memicu tombol merah di otaknya.
Seokjin tidak berani memberitahu Namjoon. Bahkan untuk memberitahu orangtua tirinya memerlukan persiapan mental berbulan-bulan saking pikirannya mendung dengan hal negatif tentang bagaimana mereka akan bereaksi.
Seokjin takut ditinggalkan Namjoon dan ketakutannya sekarang bertambah dua kali lipat dengan adanya Seoknam. Dia takut jika dia memberitahu Namjoon soal kondisinya, Namjoon akan meninggalkannya dan membawa Seoknam juga.
Seokjin tahu kondisinya dianggap aneh dan sepele oleh kebanyakan orang, tapi dia tidak ingin dipandang sebagai orang aneh oleh suaminya sendiri.
Karena cukup dia yang memandang aneh dirinya sendiri.
.
.
.
Setelah mengangkasa selama sepuluh jam, mereka akhirnya tiba di Paris Charles De Gaulle Airport pada pukul enam pagi waktu setempat. Seoknam tertidur tiga jam sebelum jet menyentuh daratan dan dia ogah bangun. Seokjin terpaksa menggendong anaknya itu.
Ketika mereka turun dari jet, sebuah mobil hitam sudah menunggu di ujung anak tangga. Seokjin memperbaiki posisi Seoknam di gendongannya sebelum turun pelan-pelan. Sosok di bawah sana, Namjoon, tersenyum dan melangkah mendekat. Dia bergantian menggendong Seoknam meskipun Seokjin bilang dia tidak apa-apa.
Dengan gelengan kepala, Namjoon berkata, "Aku yakin kau jetlag."
Seokjin tidak ingin mengakuinya terang-terangan, tapi Namjoon benar. Dia memang jetlag, lelah sampai ujung jari kakinya. Seokjin menghembuskan napas dan mengalah, dia membiarkan Namjoon menuntunnya ke mobil. Setelah tas dan koper dimasukkan ke bagasi mobil, Seokjin baru bisa memejamkan matanya.
Tangannya otomatis memeluk tubuh mungil Seoknam yang duduk di sampingnya. Seokjin tidak beranjak sedikitpun. Beberapa saat kemudian, suara dengkuran halus terdengar dari Seokjin.
Namjoon tersenyum melihat keluarga kecilnya yang tertidur pulas, dia menyuruh supirnya untuk membawa mobilnya pelan-pelan.
.
.
.
Théâtre des Champs-Élysées merupakan teater yang terletak di 15 avenue Montaigne di Paris. Bangunan ini memiliki aula utama yang dapat menampung sekitar 1.900 orang. Bangunan ini juga memiliki dua panggung yang lebih kecil, yaitu teater Comédie des Champs-Élysées di lantai tiga dan Studio des Champs-Élysées di lantai lima.
Seokjin terkesiap kagum melihat interior teaternya. Dia tidak percaya Namjoon akan tampil di depan 1.900 orang, angka yang mendekati dua ribu. Seokjin tidak pernah menonton permainan piano Namjoon di teater sebelumnya, jadi untuk menontonnya di tempat sebesar ini membuat Seokjin kagum bukan main.
Seokjin diperbolehkan naik ke panggung untuk melihat-lihat oleh krunya Namjoon. Selagi melihat-lihat, Seokjin tidak henti-hentinya berkata "wow". Dia masih tidak percaya Namjoon akan tampil di tempat sebesar dan seluas ini.
Kekagumannya itu tetap melekat bahkan setelah Namjoon menyelesaikan lagu pertamanya. Seoknam di sampingnya bertepuk tangan dengan semangat, senyuman lebar merekat kuat di wajahnya.
Di sebelah kirinya, Hoseok menyuruh Jimin berhenti merekam karena mereka dilarang melakukannya. Jimin membela dirinya sendiri dengan mengatakan dia tidak akan menyebar videonya, dia hanya menjadikannya kenang-kenangan. Kapan lagi dia bisa gratis menonton resital pianonya Namjoon?
Seokjin terkekeh melihat mereka berdua. Pandangannya kembali ke depan, di mana Namjoon bersiap-siap memainkan lagu kedua malam itu.
Seokjin senang melihat resitalnya Namjoon, tapi pikirannya terpaksa melayang ke hal lain. Mereka berempat duduk di Boxes Seats, tempat duduk VIP. Namjoon beralasan tidak ingin mereka diganggu, tapi Seokjin tahu Namjoon ingin menyembunyikan Seoknam.
Seoknam bukan anak kandung mereka. Itulah alasan kenapa dia bersihkeras menyembunyikan Seoknam. Dan yang paling dia takuti jika orang-orang tahu kalau Seokjin tidak bisa hamil.
Memangnya kenapa jika orang-orang tahu tentang kemandulannya dan terutama tentang Seoknam? Ya, mungkin itu akan memunculkan komentar-komentar yang berbau tidak sedap, tapi itulah resiko menjadi pianis dan skater terkenal. Terutama jika mereka tinggal di Korea Selatan, di mana reporter terus mengintai.
Tapi Seokjin tidak suka jika mereka terus menyembunyikan Seoknam. Anaknya itu tidak berhak hidup seakan-akan dia aib yang memalukan. Malam itu berlalu cepat bagi Seokjin.
Dia tidak menyadari Hoseok yang mengawasi di sampingnya.
.
.
.
Keesokan harinya, Hoseok mengajak jalan berdua. Awalnya Seokjin menolak, tapi mengalah ketika Hoseok bilang mereka sudah lama tidak bertemu. Dan di sinilah mereka sekarang, di Le Grand Palais des Glaces.
Seokjin tertawa melihat Hoseok yang kesulitan menjaga keseimbangannya di atas es. Dia pun meluncur mendekati kakaknya yang kelihatan akan jatuh sebentar lagi.
"Bersyukurlah aku menyuruhmu untuk membawa sepatu skatingmu, Seokjin." Hoseok mengomel, dia menatap tajam Seokjin yang terkekeh.
"Aku tahu seberapa bencinya kau dengan sepatu skating milik umum," jelas Hoseok sambil menunjuk ke sepatu skating merahnya.
Setelah membantu Hoseok, mereka berseluncur bersebelahan dengan Seokjin yang menuntun Hoseok. Beberapa orang mengenali Seokjin dan mereka menghargai privasi Seokjin. Satu anak perempuan menghampirinya dan berkata dalam Bahasa Perancis, "Bonne chance pour votre compétition."
Seokjin tersenyum dan berterimakasih. Semoga beruntung di kompetisimu.
"Hei, apakah semuanya baik-baik?" tanya Hoseok ketika anak perempuan itu pergi.
Seokjin menoleh ke kakaknya dan menjawab singkat, "Ya. Memangnya kenapa?"
Hoseok menggelengkan kepalanya, dia kemudian mengusap pinggangnya yang sakit karena jatuh berkali-kali. "Tidak apa-apa. Tapi kemarin sepertinya ada yang mengganggu pikiranmu."
Seokjin terdiam sebentar. Mereka berdua berdiri dalam keheningan di pinggir rink. Orang-orang di sekitar mereka berseluncur melewati mereka berdua. Hoseok dapat merasakan hawa dingin yang menusuk tulangnya. Dia masih tidak mengerti bagaimana Seokjin bisa tahan berlama-lama di rink es sejak kecil.
"Semuanya baik-baik saja." Seokjin membuang muka, "Tidak ada yang perlu kau khawatirkan."
Mendengar itu hanya membuat Hoseok semakin mengkhawatirkan adiknya, tapi dia tahu betul untuk tidak menekan masalah ini lebih jauh.
Dengan menghela napas, Hoseok mengangguk. Baiklah, jika Seokjin tidak ingin memberitahunya, maka dia tidak akan memaksa.
Kemudian Hoseok menyikut lengan Seokjin untuk menarik perhatiannya. Dia memberikan seringaian lebar ketika Seokjin menengok.
"Tunjukkan programmu."
"Apakah kau tidak menonton pertandinganku di Kanada?" Seokjin mengintrogasi dengan mata menyipit.
Hoseok cepat-cepat menggelengkan kepalanya, dia mengangkat tangannya ke depan dada. "Tentu saja aku menontonnya! Aku hanya ingin melihat programmu secara langsung kok!"
Seokjin menatap tajam Hoseok beberapa saat sebelum mengangguk dan berseluncur ke tempat yang sepi. Hoseok menghembuskan napas, dia dapat merasakan jantungnya yang berdetak kencang.
"Oi, Seokjin! Tunggu sebentar!" perintahnya pada Seokjin yang sudah siap. Seokjin semakin bingung ketika Hoseok berbicara pada salah satu staf. Beberapa saat kemudian, dia melihat Hoseok tersenyum dan berterimakasih pada staf itu.
Seokjin pun mengambil pose awalnya ketika Hoseok mengacungkan jempolnya. Dan detik selanjutnya, suara musik yang sangat dia hafal mengalun di sekitar rink. Dia melirik sekilas ke Hoseok yang hanya tersenyum sebelum fokus melakukan programnya.
Hoseok sama seperti ayahnya mereka. Dia mengerti apa yang harus dilakukan ketika pikirannya Seokjin kembali berulah. Apalagi kalau bukan skating. Seokjin sangat bersyukur memiliki kakak dan ayah yang mengertinya luar dan dalam.
Tiba-tiba Seokjin kepikiran suatu hal. Short programnya bukan hanya tentang skating, melainkan tentang orang-orang yang dicintainya juga.
Karena agape merupakan cinta tertinggi, di mana tidak ada syarat dan hany ada belas kasih serta empati tanpa batas. Ini merupakan bentuk cinta termurni yang bebas dari harapan dan kekurangan seseorang. Agape adalah cinta yang menerima, mengampuni, dan meyakini kebaikan kita yang lebih besar.
Dan Seokjin bisa merasakan agape dari ayah dan kakaknya. Sebagaimana dia merasakan agape ketika berskating.
.
.
.
To be continue
