Summary: Halilintar cegukan tak mau berhenti. Keenam adik kembarnya berusaha membantu menyembuhkan walau berakhir naas. [No pairings. Collab Authors]
.
.
.
BoBoiBoy milik Animonsta Studios
Kami tidak mengambil keuntungan materi apapun dari sini
.
Participating Author(s)
Murasaki Dokugi - Anstian - Sylvia Limmanto - Wafferroll Deka - Sopiatul Umah - Amelia Kartika - Mustofiah Q Art - Dee Carmine
.
- Oneshot Series -
- "Cegukan" -
.
.
.
Hari Kamis ketika UTS sudah rampung, tujuh kembar BoBoiBoy makan siang bersama di rumah sebelum istirahat dan belajar lagi. Walhasil siang menjelang Zuhur tersebut tampak tujuh kembar remaja umur 16 tahun duduk bersesak-sesakan di ruang tengah rumah itu.
Mereka santai lesehan di lantai ditemani tujuh mangkuk bakso tersaji atas meja—masih mengepul panas dan mengeluarkan aroma yang menerbitkan air liur. Beberapa gelas es teh, air es, susu cokelat dingin dan jus berdenting ribut ketika beradu dengan mangkuk dan sendok. Botol-botol kecap, merica, saus dan cuka berderet rapi, diiringi satu wadah sambal dan perkakas menjepit makanan.
Setelah membaca doa makan yang menenggelamkan bunyi perut, mereka mulai menyantap panganan lezat sejuta umat itu.
Sayangnya suasana khidmat menikmati tiba-tiba dipecah oleh suara terkejut Taufan yang menunjuk ke arah mangkuk Halilintar.
"Idih, Kak, istighfar!"
Enam pasang mata memandang si sulung, tampak Halilintar dengan santai membuka wadah sambal dan menuang hampir semua isinya ke mangkuk bakso miliknya—praktis membuat keenam adiknya ngeri campur mulas imajiner. Terang saja sebab sambalnya terbuat dari cabai rawit merah yang dihaluskan, tanpa bahan lain. Tak aneh kuah bakso Halilintar langsung berubah merah kejinggaan.
Melihatnya saja sudah membuat perut mendadak minta dikuras, apalagi memakannya?
"Umm, Kak Hali yakin mau makan itu?" tanya Taufan.
"Jangan Kak, kata Kak Gem nanti diare lho," protes Thorn.
"Masokis," celetuk Solar.
"Makan itu auto sakti dah," seru Blaze dengan wajah ngeri. Memang dia paling tak tahan pedas, terkena satu irisan cabai saja langsung menangis.
"Untung sambalnya punya sendiri," komentar Gempa. "Kalau sambalnya punya restoran, kita gak boleh ambil seenaknya karena bisa curi hak orang lain."
"Iya lah, aku juga bakalan bawa sambal sendiri," kata Halilintar sambil menyendokkan kuah merah itu ke mulut. Semua yang hadir langsung mengerut seram menyaksikan Halilintar mencicipi api cair itu—namun raut wajah Halilintar tampak biasa saja dan berkata.
"Perlu cabe lagi."
"Keturunan naga," kata Taufan sambil nyengir.
"Udah level ksatria gitu masih gak pedes," ujar Blaze tiba-tiba kepanasan.
"Sruuuut," Ice langsung menyedot air esnya karena tiba-tiba ia merasa lidahnya terbakar.
"Woah, Kak Hali keren! Nanti Thorn mau kayak gitu juga!"
"Jangan," cegah Solar. "Meleleh otakmu nanti."
"Hahaha," tawa garing Gempa yang sudah lelah hati menasihati Halilintar jangan makan pedas. "Tenang aja, makanan pedas akan netral dan tidak membuat diare kalau minum susu murni."
Gempa lalu merogoh tas ranselnya dan mengeluarkan sekotak susu cair murni tanpa perisa. Ia lalu menaruhnya di sebelah mangkuk Halilintar.
"Nah, Kak."
"Makasih," gumam Halilintar di sesela menghirup kuah kawahnya.
Entah karena terlalu bersemangat makan atau terlalu lapar, Halilintar menelan sesendok demi sesendok terlalu cepat hingga ia tersedak.
"Uhuk! Uhuk! Uhuk!"
Taufan yang di seberang Halilintar menyodorkan air mineral, Gempa hanya memerhatikan lamat-lamat—mereka tahu orang tersedak tak boleh dipukul punggungnya atau dipaksa berhenti batuknya agar objek yang hendak masuk ke saluran pernafasan bisa keluar dengan sempurna.
Setelah beberapa detik berlalu, akhirnya batuknya berhenti dan Halilintar bisa bernafas lega. Namun tanpa disangka-sangka, tiba-tiba.
"Hik!"
Sontak Halilintar langsung mengatupkan mulutnya. Semua yang melihat bengong sebentar—sedetik kemudian pecahlah tawa mereka.
"Iih, Kak Hali, sok imut!" ledek Blaze.
Halilintar mau balas namun yang keluar justru—
"Hik!"
"Pppfffft..." Thorn, Solar dan Ice berusaha menahan tawa.
"Hik!"
"Heee, Halilintar yang kece banyak fans-nya itu bisa juga cegukan?" kata Taufan seraya tersenyum manis.
"Kau ini—HIK!"
"Idiiiih, enggak banget deh..." seru Taufan dan Blaze bersamaan. Halilintar bersiap membalas dua adik tengilnya itu namun ditahan Gempa.
Ganti Gempa yang melotot ke arah semua saudaranya yang dengan tega tertawa di atas penderitaan kakak mereka sendiri.
"Cegukan itu manusiawi. Siapapun yang memiliki otot diafragma bisa mengalaminya," ujar Gempa. "Biasanya akibat makan dan minum terlalu cepat atau banyak makan berminyak dan pedas."
"Hik!"
"Tadi Kak Hali makannya pedes sama cepet," tunjuk Thorn pada fakta yang sudah terlihat jelas dan gamblang.
"Hik!"
"Tapi Kak Gem, ada banyak penyebab lain cegukan," kata Solar dengan senyum manis. "Stroke dan tumor otak salah satunya."
Mata Halilintar terbelalak, ia hendak tak percaya fakta itu namun sayangnya ia terlanjur termakan ucapan adiknya. Ice lantas menoyor pundak Solar dengan alis berkerut.
"Meskipun benar yang kamu katakan, jangan hobi nakutin orang."
"Bener itu, sekarang fokus sembuhin Kak Hali gimana," kata Taufan, mendadak serius.
"Hik!"
"Aku tahu, aku pernah baca cara-cara menyembuhkan cegukan di buku. Gimana kita coba aja?" usul Solar.
"Heee, apa itu?" tanya Thorn dengan mata membulat. Solar menjentikkan jarinya.
"Katanya harus dikagetin!"
"Hik?"
Sontak wajah Blaze dan Taufan berbinar usil, mereka memandang Halilintar dengan penuh arti. Dilirik begitu membuat Halilintar merasa terancam, ia melotot jengkel ke arah Solar.
"Jangan ngawur deh—hik!—inget gak terakhir kamu—hik!—bereksperimen gimana hasil—hik!—nya?"
Solar tampak salah tingkah, ia mengedikkan bahu.
"Mana ada, yang penting 'kan semuanya selamat..."
Halilintar mau menjawab tapi cegukannya tiba-tiba memotong perkataannya.
"Hik!"
"Pffffttt," Thorn, Taufan dan Blaze tampak menahan tawa, membuat wajah Halilintar memerah menahan marah. Gempa berusaha menengahi sebelum semuanya berlanjut ke arah perkelahian.
"Boleh juga ide Solar, kita coba dulu ya?"
"Hik!"
"Tapi gimana kagetin Kak Hali?" tanya Ice bingung.
"Ehehe," tawa Blaze sambil merogoh sakunya. Firasat Halilintar tidak enak dan kecemasannya terbukti saat melihat sekantung balon warna-warni belum ditiup dalam plastik jumbo.
"Blaze! Hik!" bentak Halilintar marah bercampur takut. Gempa menarik lengan adik terjahilnya itu.
"Blaze, dosa lho nakut-nakutin orang," tegur Gempa. Blaze tampak cemberut dan mencibir, sikap kekanakannya mulai kumat.
"Tapi sekali aja kak-"
"Tetap gak boleh," Gempa menjawab tegas. Blaze tampak kesal dan mulai melirik Taufan yang sejak tadi diam.
Taufan menatap balik sang adik, mencoba memahami arti dari tatapan tersebut. Sementara Halilintar mulai cemas dengan telepati mereka berdua.
Dua anak nakal itu pun mulai menunjukkan senyuman mencurigakan.
"Taufan, kamu itu kakak mereka. Tolong beri contoh baik bukannya ikutan," omel Gempa gemas.
"Alah... tenang aja. Balonnya gak terlalu besar," kata Blaze kelewat santai.
"Tapi bisa 'kan gunakan cara lain kecuali memanfaatkan fobia orang? Kalau fobiamu dimanfaatkan, bagaimana perasaanmu?" ceramah Gempa seraya berkacak pinggang. Tidak lupa ia menampilkan senyum manis meski beraura gelap.
Blaze hanya terkekeh garing dan tampak berkeringat.
"Kamu dengar dan paham ucapanku?" tanya Gempa masih dalam ekspresi sama.
"Iya Kak, ampun," kata Blaze sambil mengkerut di belakang Taufan.
"Kak Gempa, Thorn ada ide yang lebih aman dari ide kak Blaze," usul Thorn dengan ekspresi polos dan cerianya—ia menarik-narik baju Gempa.
"Hik!"
"Oh iya? Gimana idenya?" tanya Taufan yang kaget Thorn yang polos tiba-tiba ada ide.
"Bukan ide Thorn sih, tapi Solar ehehe," kata si hijau sambil menunjuk si putih. Halilintar tampak tak puas.
"Belum puas—hik!—kamu muntahin—hik!—ide brilianmu, Solar?" labrak Halilintar sambil melotot.
"Lho, katanya gak mau dikagetin? Ya udah. Nih, aku ada ide lain," ujar Solar santai. "Aku ingat, aku pernah membaca buku tentang cara menghilangkan cegukan. Caranya mudah sih, tinggal campurkan potongan lemon, air, dan es, setelah itu diminum."
"Itu beneran solusi apa cuma mau bikinin Kak Hali jus?" celetuk Blaze.
"Harusnya sih gigit lemon, tapi ntar mukanya makin asem," jawab Solar seenaknya. Halilintar semakin jengkel.
"Kalian ini—HIK!"
"Sudah cukup!" Gempa mengurut pelipisnya. Ia tahu sebenarnya Solar itu baik hati, hanya saja usilnya lebih canggih daripada trio makar Taufan-Blaze-Thorn. Untung pula bagi Gempa kalau ia tahu kapan Solar serius dan kapan si jenius bercanda—dan kali ini Solar tampak mencoba memberikan solusi sungguhan.
Gempa mengusap dagu sambil menatap ke atas merenungi ide Solar barusan.
"Boleh juga idenya..."
"Hik!"
"Ah, tapi... kita cari lemon di mana? Di kulkas nggak ada lemon," Taufan berucap sayang.
"Gampang sih," Solar berkata dengan santai. "Petik saja lemon yang ada di kebunnya Thorn."
"Heee... kenapa harus lemon di kebun?" Thorn merasa kurang terima, kedua matanya yang sewarna permata zamrud membulat dan berkaca-kaca. Ia sekarang seperti terlihat ingin menangis. "Tapi gak apa-apa sih kalau cuma satu atau beberapa."
"Hik!"
Namun, sedetik kemudian riak muka Thorn berubah. Ia tersenyum manis.
"Soalnya itu buat hilangin cegukannya, Kak Hali!" tambahnya.
Keenam saudaranya yang lain sudah cemas Thorn tidak akan mengizinkan mereka mengambil lemon di kebunnya, tetapi pernyataan tersebut ditepis dengan begitu mudah.
"Uhm... baiklah. Thorn petik lemonnya deh, nanti biar aku yang siapin air dan esnya," pinta Solar.
"Oke!" Dengan sigap Thorn memberi hormat sebelum beranjak keluar untuk memetik buah lemon.
"Kenapa—hik!—harus kamu yang bikin—hik!—airnya?" tanya Halilintar curiga.
"Aku tau takarannya," kata Solar sambil menaikkan kacamata jingganya.
"Semoga cara ini berhasil," Gempa menghela napas gusar.
"Kalau gak berhasil, kita akan gunakan cara ini!" Blaze mengangkat tinggi-tinggi bungkusan plastik berisi balon yang belum ditiup di tangannya.
"Yep, benar sekali!" Taufan tertawa jemawa, semakin memanas-manasi situasi tersebut.
"Hik!"
Halilintar sudah ngeri membayangkan balon-balon tersebut akan meledak. Dalam hati ia berdoa agar cara Solar bisa berhasil—atau cara apapun itu kecuali meledakkan balon! Batin Halilintar berteriak dan menangis di saat bersamaan.
Sementara itu, dengan riang Thorn berjalan di dalam kebun dan menghampiri pohon lemon kesayangannya. Tampak buah-buah lemon bergerombol warna kekuningan menyenangkan pandangan. Ia memetik beberapa lemon yang matang walaupun tak banyak. Sesudahnya, ia menangkup beberapa lemon sebesar kepalan tangan dalam lipatan lengannya dan berjalan masuk ke rumah.
"Thorn sudah bawa lemon!" ujar Thorn bersemangat. Ia lalu meletakkan beberapa lemon di atas meja.
"Oke. Tolong ambilkan pisau dan segelas air," ujar Solar, nadanya sudah seperti dokter yang hendak bersiap operasi besar. Thorn yang penurut lantas ke dapur dan mengambilkan barang yang diminta—semenit kemudian si hijau kembali dengan berlari-lari kecil, air di gelas yang ia bawa agak tumpah akibat guncangan.
Thorn menaruh pisau dan gelas air itu di depan Solar. Dengan cekatan, Solar dan Gempa memotong tiga lemon dan memerahnya ke dalam air—Halilintar sampai dapat merasai asamnya air jus itu.
Usai rampung semua lemon diperas, airnya sudah tampak berwarna putih cerah penuh bulir jeruk. Solar lantas menaruhnya di depan Halilintar.
"Nih, minum."
Menahan rasa kecut luar wajar, Halilintar segera meneguk minuman tersebut sampai habis. Lidahnya terasa mati rasa, tapi ia tahan dan tetap meminumnya. Mata Halilintar sampai terpejam-pejam menahan cita rasa ekstrim itu dan beberapa detik terasa seperti satu jam rasanya—namun akhirnya selesai juga.
Halilintar menghantam gelasnya di meja bak jagoan, dengan efek mendramatisir ia mengusap bibirnya yang basah dengan tangan. Suasana di ruangan itu hening sesaat, keenam saudaranya menunggu dengan penasaran. Beberapa detik terlewat tanpa suara cegukan.
Halilintar pun tersenyum penuh kemenangan.
"Kayaknya ide Solar berhasil," ucapnya puas seraya menatap Blaze yang sejak tadi sudah siap dengan satu plastik berisi balon.
Tiba-tiba.
"Hik!"
Ternyata cegukan itu masih ada!
Sontak Taufan dan Blaze tertawa lepas.
"Ngoahahahaha!"
"Sssh! Jangan suka tertawai kesusahan orang!" tegur Gempa. "Kena batunya nanti lho."
Dua pembuat makar itu langsung terdiam meski masih senyum-senyum.
"Aha! Aku ada ide. Katanya orang cegukan itu ada seseorang yang sedang rindu dan penawarnya adalah Kak Hali harus jungkir balik sambil minum dulu," ujar Thorn.
"Kamu—hik!—kamu yakin?" tanya Halilintar yang mulai lelah cegukan hingga hampir percaya pada ide aneh Thorn.
"Ishhh, coba dulu, apa salahnya?" kata Blaze yang usil.
"Lebih baik jangan. Nanti malah tersedak lagi," kata Gempa. Blaze yang ingin melihat Halilintar bertingkah konyol hanya bisa menahan kecewa dan memanyunkan bibirnya.
Di saat genting seperti itu dengan orkestra cegukan Halilintar yang agak imut, tiba-tiba terdengar bunyi pintu depan dibuka dengan keras. Sontak ketujuh elemental bersaudara menoleh dan terperangah melihat siapa yang datang.
"Surprise! Ayah pulaaang!"
Tampak pria dewasa dengan kemeja putih dan rompi hitam berdiri di depan mereka bertujuh sambil membuka tangannya lebar-lebar. Di dekatnya ada koper besar dan di bahunya tersampir dua setel jaket khusus negara empat musim.
Amato—nama pria itu—tampak gembira sekali meski ada kantung mata hitam dan tubuhnya berbau AC pesawat. Ia masih merentangkan tangannya lebar-lebar berharap mendapat pelukan tujuh warna namun sunyi tak ada sambutan meriah. Senyum Amato memudar sedikit dan menatap wajah ketujuh anaknya.
"...oke...? Kalian... gak mau peluk Ayah?"
Mereka masih tidak respons, menganggap sosok di depan mereka hanya mimpi belaka. Terang saja sebab tak ada kabarnya Amato akan pulang dari dinasnya di Turki. Gempa, Halilintar, Taufan dan Ice masih ternganga. Blaze melotot kaget. Thorn menutup mulutnya tak percaya sedang Solar langsung membuka kacamatanya. Otak mereka masih memroses lamban siapa sesungguhnya pria dewasa ceria menerobos masuk ke rumah ini.
Amato rasa kejutan ini terlalu mengejutkan.
Untungnya tiga detik kemudian, si kembar paling impulsif yang paling dulu tersadar dan menubruk tubuh Amato.
"Huaaaa Ayaaaaahhh!" teriak Blaze.
Thorn dan Taufan segera tersadar lalu ikut berlari ke arah Amato.
"Ayaaaahhh!" seru keduanya berbarengan dan memeluk Amato kencang-kencang. Amato sampai agak sesak nafas namun ia tetap balas merangkul erat-erat trio pembuat onar itu.
"Ahahahaha aduh, ya ampun, kenapa kalian makin tinggi aja!" tawa Amato. "Padahal lebih imut kalau kalian pendek selamanya..."
"Ayah!" seru Gempa tiba-tiba tersadar. "Ini sudah susah-payah kami meninggikan badan! Udah dapat tiga senti!"
"Ah iya, maaf, namanya orang tua maunya anaknya kecil melulu," kata Amato terkekeh. "Ayo semuanya, sini peluk Ayah kalian!"
Gempa, Solar dan Halilintar segera berlari menghambur ke pelukan ayah mereka. Biarpun mereka bertiga ini termasuk kategori dewasa, tapi pasti masih mau bermanja-manja dengan orang tua mereka bukan?
Amato lalu bergantian memeluk Gempa, Solar dan Halilintar. Dengan gemas, sang ayah bergantian mengacak rambut ketiganya—tentu saja tak terlalu keras sampai rontok rambut mereka. Gempa hanya tertawa renyah karena geli kepalanya diusap, Solar hanya tersenyum kecil dan pipi Halilintar sedikit merona malu.
"A-Ayah kenapa tiba-tiba pulang? Kenapa gak ada kabarnya?" tanya Halilintar. "Kita semua 'kan bisa jemput Ayah di bandara."
Belum sempat Amato menjawab "protes" kecil Halilintar, Taufan tiba-tiba memotong dan menunjuk ke arah kakaknya.
"Heee, cegukan Kak Hali ilang!"
Serempak yang lain memandang Halilintar sementara si sulung tampak meraba-raba perutnya. Ia menunggu beberapa saat agar cegukannya keluar namun benar juga, cegukannya sembuh total. Sama sekali tak muncul.
"Lho? Kok bisa?" tanya Blaze agak kecewa.
"Mungkin karena Ayah datang ngagetin?" terka Solar.
"Iya juga ya," gumam Halilintar senang.
"Alhamdulillah Kak Hali sembuh," kata Gempa dan Thorn bersamaan. Amato tertawa kecil.
"Yaahh padahal Ayah mau liat Hali cegukan," kata Amato agak usil. "Pasti lucu deh. Kayak pas bayi ahahaha..."
"Pffft-" Taufan dan Blaze menahan tawa membayangkan ada bayi montok bertopi merah dan berpopok sedang merajuk. Halilintar mendelik tajam ke arah mereka berdua, menjanjikan urusan yang akan mereka selesaikan nanti.
"Ayah, nanti kita jalan-jalan ya?" usul Thorn dengan mata membulat memohon, ia menarik-narik rompi Amato. Ayahnya langsung mengusap gemas kepala si hijau.
"Iya Thornie, kita akan jalan-jalan sampai puas, oke? Bunda juga akan tiba esok nanti."
"Yeeey, Bunda juga datang!" sorak Taufan dan Blaze.
"Wah, Alhamdulillah," gumam Gempa dan Halilintar.
"Udah selesai S3 Bunda di Oman?" tanya Solar.
"Iya, Bunda sudah ambil penerbangan sekarang," kata Amato. Ia lalu mengusap dagu dan mengamati satu per satu anaknya.
"Omong-omong, kok kayak ada yang kurang ya?" tanya Amato sambil mengingat-ingat siapa yang absen. Serempak mereka saling toleh-menoleh melihat saudara masing-masing dan segera tersadar ada satu yang hilang.
"Lho? Ice mana?" tanya Blaze langsung tangkap sinyal.
"Lah iya? Daritadi gak hadir," komentar Taufan.
Mereka semua bersamaan menatap ke arah meja ruang tengah dan menemukan Ice sedang mengelus perut buncitnya, di sampingnya ada enam mangkuk bakso yang sudah kosong bertumpuk rapi—kecuali bakso milik Halilintar yang masih utuh akibat Ice tak tahan makan sepedas itu.
Rupanya selama keributan Halilintar cegukan dan kedatangan Amato, Ice hanya diam menyimak sambil mencaplok bakso-bakso para saudaranya bak predator.
Lantas ketika keenam saudaranya sadar dan memergoki "kejahatannya", Ice hanya bisa tersenyum malu-malu ke arah mereka. Matanya setengah terpejam karena mengantuk akibat kekenyangan. Ia melambai sedikit sambil bersandar di sofa bak maharaja.
"Maaf Ayah, Ice gak bisa bangun ini."
"Iceeeeee!" raung Blaze marah.
"Kok dihabiskan! Lapar ini!" protes Taufan.
"Pantesan daritadi anteng-anteng aja," gumam Solar.
"Iih Kak Ice tega!" teriak Thorn.
"Katanya kamu mau diet?" tanya Halilintar heran.
"Habis baksonya enak dan kalian semua menelantarkan makanan, jadi kupikir kalian gak selera..."
"Ice, makan terlalu banyak itu membuat hati bebal pada nasihat lho," tegur Gempa sambil mengurut keningnya.
Mendengar itu, Ice agak berjengit dan segera menyesal.
"Iya Kak, maaf nanti aku ganti baksonya dan aku puasa sunnah esok," janji Ice.
Namun tiba-tiba saja.
"Hik!"
Ice menutup mulutnya karena terkejut oleh cegukannya itu. Semua yang melihat bengong sebentar dan langsung tertawa lepas.
"Buahahaha!"
"Yah, nular!"
"Hehehe~"
"Mau bakso lagi gak biar sembuh?"
"Pfffft-"
Amato yang sejak tadi memerhatikan interaksi mereka semua hanya tersenyum kecil. Memang benar keputusannya untuk mendidik anaknya agar berdikari. Tentu saja itu bukan berarti Amato menelantarkan, ia masih dekat dan perhatian pada semua anaknya. Hanya saja tidak dalam ranah memanjakan dan terlalu bergantung pada kedua orang tuanya agar mereka tidak seperti ayam putus kepala jika suatu saat Amato atau Aliya—ibu mereka—meninggal tiba-tiba.
Singkatnya, agar mereka semua lebih mandiri dan dapat belajar manajemen hidup mereka serta berdiplomasi. Untungnya ada Gempa yang paling bijaksana sebagai agen kontrol agar mereka semua tak keluar dari jalur semestinya. Gempa jualah yang merekatkan semua kembarannya menjadi satu kesatuan utuh dan lebih sinergis dalam keluarga.
Meski begitu, secara generalisasi bila Amato tilik lagi, tujuh anaknya ini lebih baik daripada saat ia seusia mereka. Amato berdoa semoga Tok Aba tak pernah menceritakan masa kecilnya dulu yang penuh kekonyolan.
Untung "nakal"-nya Amato dahulu masih termasuk wajar.
.
.
.
Selesai.
.
.
A/N
Silahkan review bila ada saran, kritik atau tanggapannya!
