x
Chapter 2:
— Best Friend —
.
.
.
"Jangan ke mana-mana, Sayu," pesan Light.
Saat ini, dia dan adiknya sedang berada di dekat aula sekolah. Sebagai permintaan maaf karena telah menyusahkan Sayu yang harus mencarinya ke ruang klub basket, Light bermaksud membelikan Sayu smoothies di booth minuman yang tak jauh dari sana.
Light menyuruh Sayu duduk saja di kursi dekat tanaman, biar Light yang mengantri minuman. Sayu mengangguk patuh dan tersenyum. "Mango smoothies tanpa gula, ya."
Light mengacak rambut adiknya. "Beres."
Usai mengantri beberapa saat dan mendapatkan minumannya, Light berbalik dan bermaksud kembali ke tempat Sayu yang berjarak beberapa meter darinya.
"Sayu!"
Astaga, Light hampir menjatuhkan botol smoothies-nya berkat suara heboh barusan. Ia menoleh dan mendapati sosok cewek berambut pirang berlari-lari kecil ke arah kursi adiknya. Sosok itu berseru lagi tak kalah heboh, "Ternyata kamu juga masuk sekolah ini ya?!"
Sayu tampak kaget. Namun sesaat kemudian, ekspresinya berganti tawa senang yang nggak kalah ceria. "Hei, aku nggak nyangka bakalan ketemu Si Pirang Berisik di tempat ini."
Melihat tawa adiknya yang seperti itu dari kejauhan, tanpa sadar Light tersenyum. Dia selalu senang setiap kali Sayu mendapatkan teman. Light tahu, meski tak pernah diceritakan, bahwa Sayu seringkali diabaikan dalam pergaulan. Light berharap cewek berambut pirang yang menghampiri Sayu ini adalah teman baik adiknya. Kelihatannya, mereka memang berteman baik? Buktinya, dia bisa membuat Sayu tertawa semudah ini.
Light menghampiri mereka. "Hai," sapanya.
Sayu menoleh. "Oh, Light. Terima kasih minumannya." Tangannya segera terulur menerima botol smoothies dari Light.
Light balas berdehem. Ia melirik cewek pirang di samping Sayu. "Temanmu?"
"Ah, iya. Biar kukenalkan kalian satu sama lain. Light, ini Misa, temanku latihan dance di tempat kursus dulu sewaktu SMP. Misa, ini kakakku, Light. Sebelum kamu berpikiran macam-macam atau terheran-heran, biar kuberi tahu kalau dia kakak kandungku."
"Haah?! Kakak kandungmu?!" Mata biru Misa membeliak. Sesaat Light berpikir kalau ekspresi itu begitu lucu.
"Nggak percaya, kan? Aku juga nggak percaya kalau kami berdua ini kakak-beradik. Sama sekali nggak mirip," Sayu berkata tanpa beban.
"Well," Light segera menyela, "kami mirip dengan orang tua kami masing-masing kok. Sayu mirip dengan Ibu, sedangkan aku lebih mirip Ayah," jelas Light sambil tersenyum.
Misa masih mengerjap-ngerjap memandangi Sayu dan Light bergantian hingga beberapa saat. Tiba-tiba cewek itu tersenyum seakan tahu sesuatu seraya melirik-lirik Sayu. "Jangan membohongiku, Sayu. Sejak kapan kamu punya kakak laki-laki? Apa dia bukan gebetanmu?"
Sayu menginjak kaki Misa. "Adaw!" jerit Misa.
"Hentikan jeritanmu yang dibuat-buat itu, Misa. Taruhan, kamu datang kemari karena mau mendaftar klub cheerleaders, kan? Bagaimana kalau kita mendaftar bersama?"
