x
Chapter 4:
— Asking For Help —
.
.
.
Ini hari pertama latihan cheers bagi para anggota baru. Misa dan Sayu mengikutinya dengan antusias. Untuk pertemuan pertama, mereka tidak terlalu berlatih hal teknis. Lebih banyak diisi dengan perkenalan, penyesuaian, latihan dasar, dan me-review ulang gerakan yang pernah dipelajari.
Saat sesi latihan tinggal beberapa menit lagi jelang berakhir, tiba-tiba terdengar bunyi ponsel yang cukup lama dan nyaring. Seorang senior yang merasa terganggu pun bertanya, "Ponsel milik siapa itu yang berbunyi?"
Tak ada yang menjawab. Para anggota cheers hanya saling pandang dan menggelengkan kepala. Mendapati hal demikian, senior itu memutuskan untuk mencari sendiri asal suara tersebut.
Sayu yang sadar lebih dulu pun segera menyikut Misa yang masih asyik mengulang gerakan dance. "Misa, bukannya itu bunyi ringtone ponselmu?"
"Hah?" Misa tersadar. Ia menoleh dan mendapati seorang senior telah memegang tasnya. Misa buru-buru berlari mendekat dan meminta maaf.
Takada, ketua tim cheerleaders, mengingatkan untuk tidak lupa men-silent ponsel. Peringatan itu berlaku untuk seluruh anggota cheers, terutama yang baru saja bergabung seperti Sayu dan Misa. Takada juga menjelaskan alasannya. Bunyi ponsel yang tiba-tiba dapat memecah konsentrasi latihan, apalagi jika mereka sedang latihan keseimbangan.
Para anggota cheers mengangguk-angguk mengerti. Kini semua mata tertuju pada Misa yang tengah membuka tasnya dan mencari ponselnya yang masih berdering. Ketika Misa berhasil menemukannya dan bermaksud mematikannya, matanya melebar saat melihat layar. Buru-buru ia menoleh pada Takada dengan tatapan bersalah. "Maaf, apa boleh kuangkat? Ternyata ayahku yang menelepon."
Takada mengangguk. "Ya, kamu bisa bicara dengannya di balkon."
Misa mengangguk. Setelah berterima kasih dan meminta maaf sekali lagi dengan manis, ia keluar ruangan.
Ruang latihan cheers berada di dalam gedung yang menjadi satu dengan lapangan indoor basket. Persisnya, terletak satu lantai tepat di atas ruang markas klub basket. Begitu keluar dari pintu ruang latihan, akan langsung terhubung dengan balkon indoor di sisi kiri atas lapangan. Ada kursi panjang bertingkat di salah satu sudut balkon yang menghadap lapangan. Beberapa anggota cheers kadang menonton latihan para anggota klub basket dari situ. Namun Misa tidak berhenti di sana, ia terus melangkah hingga ke sudut balkon, lalu berbelok ke lorong menuju beranda luar. Ia menerima teleponnya di sana.
Setelah teleponnya selesai, Misa membetulkan kunciran ekor kudanya dan menata ulang poninya. Kemudian ia berbalik menuju ruang latihan. Namun langkahnya terhenti saat menemukan sosok berpunggung tegap yang tengah duduk di kursi balkon seakan-akan sedang menunggu seseorang. Misa belum melihatnya ketika keluar ruangan tadi.
Pelan-pelan, Misa meneruskan langkahnya. Saat sudah semakin dekat dengan pintu ruang latihan—dan tempat orang itu duduk—ia berhenti dan menyapa. "Hai."
Sosok berpunggung tegap itu menoleh. Ekspresinya tak tampak terkejut ketika melihat Misa. "Hai," balasnya.
"Mmm, menunggu Sayu?"
"Ya."
"Sayu masih di dalam. Kami sudah hampir selesai latihan kok. Mungkin sebentar lagi dia akan keluar," kata Misa.
Light, sosok berpunggung tegap itu mengangguk. "Oke, thanks."
Misa tersenyum. Ia berjalan melewati Light, hendak masuk ke ruang latihan.
"Sebenarnya aku mencarimu."
Langkah Misa terhenti. Ia berbalik perlahan-lahan menghadap Light, memastikan jika pendengarannya barusan tidak salah. Light tengah berdiri tegak ke arahnya.
"Mencariku?" ulang Misa.
Light mengangguk. Kali ini ia memberi senyum tipis. "Kamu ada waktu? Ada yang ingin kubicarakan berdua. Tentu saja kalau kamu nggak keberatan."
Misa sulit menolak.
Mereka berdua menuju beranda luar, tempat Misa menerima telepon tadi. Misa baru tahu kalau di salah satu sudutnya ada satu set meja bundar dengan 3 buah kursi yang melingkarinya.
"Maaf kalau terlalu tiba-tiba." Light menarik salah satu kursi dan mempersilakan Misa duduk. Misa berterima kasih. Ia berkata kalau ini sama sekali bukan masalah. Sejujurnya, ia sangat penasaran, apa yang ingin dibicarakan Light dengannya.
"Aku bermaksud minta bantuanmu," kata Light setelah duduk di kursinya sendiri. "Akhir pekan besok apa kamu ada waktu?"
Huh?
Misa terkejut. Sekali lagi Misa tak percaya dengan pendengarannya. Light benar bahwa dia terlalu tiba-tiba bertanya seperti itu pada Misa. "Umm, bantuan apa yang bisa kuberikan?" tanya Misa berdebar-debar.
Light menaruh kedua tangannya di atas meja. Ia mulai berbicara dengan kalimat yang sangat tertata. "Sebenarnya, sebentar lagi ulang tahun Sayu. Aku kesulitan memikirkan hadiah yang cocok untuknya. Terakhir kali aku memberinya kado, sepertinya dia masih kurang puas."
Debar di dada Misa menguap. Ia mulai bisa menebak alasan kakak temannya itu mengajaknya bicara.
"Sejauh yang kulihat, kamu adalah teman Sayu yang paling dekat. Kalau nggak keberatan, aku bermaksud minta bantuanmu untuk bersama-sama mencari kado ulang tahun Sayu. Tentu saja, ini nggak gratis. Kamu boleh minta apa pun sebagai kompensasinya," kata Light mengakhirinya dengan senyum. "Dan tolong, rahasiakan dari Sayu."
Misa menautkan jemarinya di bawah meja. Dia mengerti. Tentu saja, semua ini adalah soal Sayu.
"Apa kamu mau membantuku, Misa?"
Misa menatap mata cokelat Light sejenak. Ia mengangguk dan tersenyum manis. "Aku nggak keberatan," jawabnya ramah.
Light tersenyum, senang dan lega. "Thank you," ujarnya berterima kasih. Ia mengeluarkan ponselnya dan mengangsurkannya ke arah Misa. "Boleh kusimpan nomor teleponmu?"
Misa mengangguk lagi. Senyum karismatik Light telah menghipnotis Misa untuk menerima uluran ponsel tersebut dan mengetikkan nomor pribadinya.
"Thanks. I'll text you tonight," Light menyimpan ponselnya kembali di saku.
Mereka berdiri dan kembali ke balkon. Ketika tiba di depan ruang latihan cheers, tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka. Takada keluar dari sana dan terkejut melihat Light di samping Misa.
"Light?"
Light mengangkat tangannya. "Hai."
"Sudah lama nggak lihat kamu naik ke atas sini," kata Takada. Sebagai pemain basket, Light memang lebih banyak berada di lapangan atau di markas klubnya yang sama-sama terletak di lantai bawah.
Light tersenyum. Senyuman sopan kalau menurut Misa. "Aku menjemput adikku."
"Oh, Sayu Yagami? Dia sedang beres-beres. Tunggulah sebentar lagi," kata Takada, lalu beralih pada Misa. "Bukannya kamu menerima telepon dari ayahmu?"
"Ya, aku baru saja selesai," jawab Misa. Ia tak sepenuhnya berbohong. Maksud Misa adalah ia telah menerima telepon ayahnya dan baru saja selesai bicara dengan Light.
Takada tak berbicara lagi. Mungkin ia menganggap Light dan Misa secara kebetulan berpapasan. Ia melanjutkan langkahnya ke arah tangga dan turun ke lapangan basket.
Setelah sosok Takada pergi, Misa hendak masuk ke ruang latihan. Namun lagi-lagi ia keduluan sosok berambut cokelat gelap sepundak yang lebih dulu keluar dari sana.
"Sayu."
"Oh, Light! Kamu menungguku?" tanya Sayu senang mendapati kakaknya sengaja menungguinya seperti ini.
"Gimana latihanmu?"
"Menyenangkan, hehe." Sayu menyengir. Light mengacak rambut adiknya. Sayu protes. Saat itu, ia menyadari penampilan Light dan berseru, "Wah! Aku baru lihat style-mu yang seperti ini, Light. Kamu seperti bukan anak sekolah."
Light memakai T-shirt Guess hitam dengan celana panjang seragam sekolah mereka yang berwarna cokelat keabuan. Kemeja sekolahnya sudah ia lepas dan terlipat di kantung yang sama dengan seragam latihan basketnya.
Light menggeleng-gelengkan kepala. Sayu kadang suka mengomentari hal yang tak perlu. "Ayo pulang," ujarnya.
Sayu tak menjawab. Ia hanya cengengesan mengikuti langkah Light. Baru dua langkah berjalan, Sayu berhenti begitu melihat sosok Misa yang masih dengan pakaian latihan cheers-nya.
"Misa, mau pulang bareng?" ajaknya.
Misa tersenyum. "Aku masih ada keperluan. Kamu duluan saja, Sayu. Terima kasih banyak untuk tawarannya," tolaknya halus.
"Oh oke, mungkin lain kali ya."
"Sip."
Sayu melambaikan tangan pada Misa. Misa balas melambai. Ia sempat melirik Light sejenak. Tak disangka, Light juga tengah menatapnya. Pandangan mata keduanya bertemu.
-xXx-
Malam harinya, Misa teleponan dengan Sayu. Mereka membahas hari pertama latihan cheers tadi sore dan saling meledek. Misa meledek Sayu yang sempat lupa gerakan dasar, sementara Sayu menertawakan wajah pias Misa saat diceramahi Takada di depan semua orang karena lupa mengubah mode ponsel menjadi senyap.
"Uh, aku pasti terlihat konyol saat itu," keluh Misa cemberut.
Sayu terkikik. "Nggak kok. Mau gimana pun ekspresimu, kamu tetap cantik."
"Aw, aku dapat pujian dari Tuan Putri Sayu."
Sayu tertawa. "Hei, omong-omong kamu dapat pesan baru ya?" tanyanya ketika mendengar bunyi notifikasi dari ponsel Misa.
"Palingan iklan dari operator," tukas Misa.
"Ah, apa bukan dari para penggemarmu?" goda Sayu. "Kapan sih ponselmu pernah sepi?"
Mereka berdua tertawa. Entah menertawakan apa.
"Kalau kumatikan hapenya, pasti sepi," kata Misa menjawab ledekan Sayu. Ia memeriksa layar ponselnya. Keningnya berkerut heran ketika mendapati nomor asing yang tertera di sana. Misa belum lama mengganti nomor dan belum menyebarkannya ke banyak orang. Lalu yang barusan ini—?
Ah! Mata Misa melebar.
"Jadi? Gimana nih? Siapa yang mengirimkanmu pesan?" ledekan Sayu di seberang menyadarkan Misa.
"Uh, sudah kubilang iklan kok," sahut Misa pura-pura terkekeh. "Padahal sudah aku blok, tapi kenapa masih sering muncul sih," kata Misa lagi. Ia belum membalas pesan dari nomor asing tadi dan tetap melanjutkan obrolannya dengan Sayu.
"Itu sih memang karena kamu laris," ledek Sayu lagi.
Mereka berdua terus saling meledek hingga setengah jam kemudian. Setelah Sayu menutup teleponnya, Misa baru membaca ulang pesan dari nomor asing tadi, lalu menyimpan nomornya, dan mulai mengetik balasannya.
[08:21 pm]
Misa, ini Light Yagami. Akhir pekan besok bagaimana kalau kita pergi jam 10?
[08:58 pm]
Selamat malam, Senior Yagami.
Kebetulan akhir pekan besok aku nggak ada jadwal khusus, jadi aku bisa kapan saja.
[08:59 pm]
Oke, thanks.
Keberatan kalau aku menjemputmu?
[09:02 pm]
Kalau itu nggak membuatmu repot, aku akan sangat berterima kasih hehe.
[09:08 pm]
Sama sekali tidak.
Baiklah, kujemput jam 10.00. Bisa kirimkan alamat rumahmu? Atau kamu mau kujemput di tempat tertentu?
[09:32 pm]
Location sent.
[09:34 pm]
Saved. See you.
[09:45 pm]
See you too.
[09:56 pm]
Oh ya, jangan sampai Sayu tahu.
[09:58 pm]
Percayakan padaku :D
.
.
.
Author's note:
Aku memutuskan untuk mengubah chapter-nya agar alurnya tidak terlalu tiba-tiba. Untuk ke depannya, mungkin aku akan sering melakukan ini, bergantung pada ide yang muncul.
