x

Chapter 5:

— One on One —

.

.

.

Kadonya harus berupa sesuatu yang diinginkan Sayu tapi nggak bisa ia beli sendiri.

Selama ini, Light juga selalu berpikir begitu. Tapi Sayu tak terlalu tampak antusias setiap kali Light memberinya kado baju, tas, jaket, sepatu, ataupun jam tangan mahal (tentunya di samping mengajak Sayu jalan atau mentraktirnya makan berhubung uang saku Light berkali lipat uang saku Sayu). Padahal semua barang-barang itu adalah yang diincar cewek-cewek kebanyakan.

Benar bahwa Sayu senang dengan kado dari Light dan berterima kasih padanya. Tapi hanya sebatas itu. Light tahu bedanya, sebab ia juga sering memberikan kado semacam itu pada gadis-gadis yang menjadi pacarnya dahulu, dan terlihat jelas bagaimana mereka menyukainya. Cewek memang biasanya antusias, tapi Sayu tidak. Seakan-akan bukan itu hal yang paling diinginkan Sayu.

Ternyata mencari kado untuk Sayu tak semudah mencari kado untuk pacar. Apa mungkin karena adik Light ini bukan cewek yang terlalu feminin? Tapi bukankah para mantan Light juga bukan cewek yang sangat feminin? Lantas, apa yang sebenarnya diinginkan Sayu?

Kata Misa, barang-barang berbau fashion seperti baju, tas, atau sepatu, bisa dibeli Sayu sendiri. Atau setidaknya, ayah ibunya masih mau membelikan untuknya. Jadi, barang-barang seperti itu sebaiknya ditaruh di luar daftar.

Lalu?

"Ada hal-hal khusus yang Sayu nggak bisa membelinya. Sebenarnya bukan nggak bisa, tapi nggak boleh."

"Seperti?"

"Video game, misalnya."

Seketika Light langsung paham. Ayah dan Ibu memang tak pernah mengizinkan Sayu memiliki video game sendiri. Mereka khawatir akan mempengaruhi nilai sekolah Sayu.

Jika dibandingkan dengan Light, nilai mereka berdua memang jauh berbeda. Padahal nilai Sayu juga tidak buruk, alias sedikit di atas rata-rata. Tapi ayah dan ibu tetap saja mengkhawatirkannya.

Selama ini jika ingin main game, Sayu selalu meminjam video game milik Light dan hanya bisa main di kamar Light. Light punya beberapa koleksi video game. Light juga punya PS4, tapi hanya sesekali memainkannya (Light lebih suka belajar, latihan, atau aktivitas outdoor). Yang paling sering main game memang cuma Sayu.

"Jadi, apa kita akan mencari video game untuk kado Sayu?"

Lagi-lagi Misa menggeleng. "Video game itu ide bagus, tapi kurasa dia bisa memakai punyamu kalau ingin main."

Light membenarkan. "Jadi?" tanya Light sekali lagi.

"Sayu penggemar berat Final Fantasy," kata Misa.

Itu benar. Light tahu kalau Sayu sudah tergila-gila pada Final Fantasy sejak pertama kali kenal istilah video game. Itu pula video game yang paling sering dimainkan Sayu.

Misa melanjutkan, "Karakter kesukaannya adalah Squall Leonhart."

"Ah, action figure," desis Light.

Misa tersenyum. Tebakan Light tepat. Sewaktu di tempat kursus dance dulu, Misa ingat kalau ia pernah beberapa kali mendengar kata-kata Sayu bahwa dia ingin sekali punya action figure karakter sebuah game dan memajangnya di kamarnya, tapi orang tuanya nggak bakalan mengizinkan.

Light mendesah mendengar cerita Misa. Dia nggak pernah kepikiran soal itu. Tapi kata-kata Misa memang sangat masuk akal.

Pada dasarnya, orang tua Light adalah tipe yang sangat loyal pada anak mereka. Mereka selalu mengusahakan yang terbaik untuk Light maupun Sayu. Pendidikan, fasilitas, pakaian, kendaraan, apa pun, Light dan Sayu selalu diberi yang terbaik. Tapi seloyal-loyalnya orang tua, mereka tetap tak akan mengizinkan Sayu memakai uang sakunya untuk membeli hal-hal semacam itu.

Lain cerita kalau Light yang membelikannya.

Ayah dan Ibu tak punya alasan untuk melarang Sayu. Mereka juga tak akan pernah punya alasan untuk berbuat demikian pada Light.

"Oke. Kita akan mencari action figure."

Light menyalakan mesin mobilnya.

-xXx-

"Jadinya kamu belikan dua?" tanya Misa sambil menahan senyum. Matanya tertuju pada box Squall Leonhart dan Noctis Lucis Caelum yang masih mengkilap dan ditinggalkan Light dengan hati-hati di dalam mobil.

Light mengangguk sambil menutup pintu mobilnya. "Satunya untuk permintaan maaf karena aku sudah memberinya kado yang payah tahun lalu." Light jarang merasa payah, tapi khusus kali ini ia benar-benar merasa bodoh dan tak peka pada adiknya sendiri.

"Itu nggak benar," kata Misa. Light sudah bercerita saat di mobil tadi kalau tahun lalu dirinya memberi Sayu kado jaket padding Moncler yang sangat ngetren di kalangan cewek-cewek. "Aku yakin, Sayu pasti senang menerima kado darimu. Bukankah dia memakainya?"

Light terdiam sesaat. Kemudian ia tersenyum tipis. "Ya, selama musim dingin, Sayu selalu memakainya."

Mereka berjalan bersisian menuju area dalam restoran. Ini sudah jam makan siang dan Light berniat mentraktir Misa.

"Aku sungguh berterima kasih," kata Light setelah mereka selesai memesan menu. "Sesuai kata-kataku, ini nggak gratis. Kamu boleh minta apa pun untuk kompensasinya."

Misa tersenyum. "Kalau kuminta sekarang gimana?" tanyanya dengan intonasi lambat.

"Nggak masalah. Katakan saja."

"Benar ya?"

Light mengangguk. "Ya."

Misa meletakkan kedua tangannya di atas meja. Wajahnya tampak cerah dengan mata biru yang bersinar-sinar. "Aku... ingin nonton film horor populer yang sedang tayang itu..."

Huh?

Light merasa salah dengar.

"...tapi aku nggak ada teman nonton karena semua temanku nggak suka horor, apalagi Sayu. Padahal aku canggung kalau nonton film sendirian."

Oh, Light mengerti permasalahannya.

"Jadi, apakah kita bisa menonton film itu?" Misa menyebutkan satu judul film horor yang belum lama keluar di bioskop.

Light tersenyum sendiri. Ia tidak menyangka Misa akan minta kompensasi seperti itu padanya. Dipikirnya Misa akan meminta kompensasi berupa benda-benda yang berwujud, atau apa pun yang bisa dilihat secara nyata, bukannya meminta Light memberikan waktunya untuk menemaninya nonton film seperti ini.

"Tentu," jawab Light, "Itu sama sekali bukan permintaan yang sulit. Tapi apa kamu yakin nggak menginginkan yang lain?"

Misa menggeleng mantap. "Aku cuma ingin itu."

"Oke. Setelah dari sini, kita ke bioskop."

-xXx-

Light sebenarnya sudah menonton film yang dimaksud Misa bersama teman-teman klubnya di hari pertama tayang. Tapi dia nggak mengatakan apa pun dan mengiyakan permintaan Misa. Sebelumnya, Light nggak pernah menonton film horor dengan cewek. Sayu amat sangat penakut dan fobia hantu. Mantan-mantan Light dulu pun lebih suka nonton film romantis, drama, action, atau komedi. Ini pertama kalinya Light menonton horor selain dengan teman-teman basketnya.

"Mau pesan makanan atau minuman?" tanya Light ketika mereka menunggu jam tayang film.

"Boleh, cola-nya saja, ukuran sedang."

Tak lama kemudian, Light kembali dengan segelas cola dan sebotol air mineral.

"Lho, cola-nya hanya untukku?" tanya Misa heran sambil menerima uluran gelas cola dari tangan Light.

"Ya, aku nggak minum cola," jawab Light. Ia membuka tutup botol mineralnya dan meneguk isinya sampai tersisa setengah.

"Kenapa?" tanya Light yang menyadari Misa masih terpaku sedari tadi memandanginya.

Misa tersadar. "Oh, nggak apa-apa," jawabnya kikuk. Ia menggoyangkan sedotan dan menyesap cola-nya dengan canggung.

"Aku hanya minum air mineral, dan hampir nggak pernah minum yang lainnya," kata Light seolah mengerti apa yang ada di kepala Misa.

Misa mengangguk-angguk. Dalam hati, ia mengagumi gaya hidup Light yang amat sangat sehat dan tertata. Saat di restoran tadi, Light juga tidak menyentuh makanan manis ataupun berlemak dan tidak memesan minuman selain air putih.

Kalau dipikir-pikir, semua sisi Light Yagami memang mengagumkan. Selain sebagai siswa yang cemerlang di sekolah, Light juga figur kakak yang sempurna. Sayu beruntung sekali punya saudara seperti Light, yang sangat peduli dan begitu memikirkannya. Benar-benar tipe kakak idaman yang didambakan setiap orang.

Tapi Misa sama sekali tak ingin menjadi adiknya.

-xXx-

"That's crazy," komentar Misa sambil tertawa. Ia mengingat beberapa insiden yang sempat terjadi sepanjang pemutaran film. Studio tempat mereka menonton tadi masih tetap relatif penuh meski ini sudah hari kelima penayangan film. Sepanjang pemutaran film, ada-ada saja insiden yang dibuat oleh penonton. Mulai dari teriakan kaget seisi studio, tangisan histeris para cewek-cewek, hingga sumpah serapah latah dari ibu-ibu. Bahkan ada penonton laki-laki yang tak henti menjerit-jerit seperti kerasukan sesuatu hingga akhirnya diamankan petugas.

Light hanya tersenyum kecil.

Menonton horor bersama Misa ternyata menyenangkan. Tadinya Light pikir Misa akan bereaksi seperti Sayu. Jika mereka sedang menonton film dengan adegan sadis, Sayu akan menjerit dan memeluk lengan Light. Tapi Misa tidak begitu. Cewek ini super pemberani dan seperti nggak kenal takut. Come on, saat Light nonton dengan teman-teman klubnya saja, Near tak henti berteriak-teriak sementara Mello mendadak religius dengan komat-kamit membaca doa.

Mungkin ini salah satu sisi menarik Misa di balik wajah dan kepribadiannya yang super sweet.

"Yeah, kadang reaksi penonton memang lebih seru dibanding filmnya," kata Light. Mereka sudah tiba di parkiran basement dan hampir dekat dengan Mustang merah Light.

"Tapi filmnya juga seru," sahut Misa.

Light setuju.

"Seharusnya aku sering-sering menontonnya," kata Misa lagi.

Light tak menjawab. Ia membukakan pintu mobil untuk Misa. "Misa, setelah ini aku akan mengantarmu pulang."

-xXx-

Tak sampai dua puluh menit, Mustang Light sudah tiba di lobi depan apartemen Misa. Jam hampir menunjukkan pukul 5 sore.

"Biar aku turun sendiri saja," kata Misa mencegah Light yang sudah akan melepas seatbelt untuk membukakan pintu mobil.

"Oke."

"Semoga Sayu suka hadiahnya."

"She will," kata Light.

Misa melepas seatbelt-nya. Ia meraih tas mungilnya dan membetulkan roknya sejenak, lalu membuka pintu mobil perlahan-lahan.

"Misa."

Misa menoleh. "Ya?"

"Thanks for today."

.

.

.


Author's note:

Ada yang kuubah dari keempat chapter sebelumnya. Hanya sedikit, untuk memperbaiki arah cerita.