x

Chapter 6:

— Ex Girlfriend —

.

.

.

"Tumben, hari Minggu kemarin sosmedmu nggak aktif sama sekali."

Misa yang sedang berlatih keseimbangan hampir terjatuh mendengar kata-kata Sayu.

"Kenapa?" tanya Sayu heran melihat reaksi Misa yang menurutnya sedikit berlebihan, sementara Sayu tak merasa ada yang aneh dengan kata-katanya.

"Kamu mengagetkanku. Muncul tiba-tiba di belakangku dan bicara di telingaku," Misa pura-pura cemberut.

"Hehe." Sayu menyengir. "Habisnya aneh banget sih. The Queen of social media, Misa Amane, tiba-tiba nggak aktif di akhir pekan. Padahal di hari biasa saja, snapgram-mu bisa sampai titik-titik saking banyaknya."

Misa ganti menyengir tak berdosa. Ia mencoba merespons senormal mungkin sambil menetralkan debar kecil di dadanya. "Kemarin aku sibuk seharian penuh."

Sayu mencibir. "Kamu mulai kedengaran seperti kakakku, tahu nggak?" ledeknya. "Kemarin dia juga pergi seharian dan aku cuma bisa main game di rumah plus mengerjakan PR."

Misa tertawa. "Wah, lihat nih, siapa anak ayam yang habis kehilangan induknya dan curhat di sini," Misa ganti meledek Sayu dan langsung dibalas Sayu dengan cubitan. Misa pura-pura mengaduh kesakitan.

"Aku nggak kehilangan kok," sahut Sayu cemberut. "Aku tahu, Light pasti habis streetball dengan teman-temannya. Makanya baru pulang malam-malam dan bau keringat."

"Huh, Streetball? Kakakmu main streetball?" Misa tiba-tiba tertarik. Seingat Misa, ia dan Light kemarin tidak pergi sampai malam. Misa bahkan sudah diantar Light sampai ke apartemennya sebelum jam 5 sore. Dan tentu saja, Light berpakaian rapi dan wangi. Apa mungkin setelah itu Light bermain streetball dengan teman-temannya?

"Iya, dia main kalau lagi nggak ada jadwal belajar atau bimbel," kata Sayu. Ia mengambil posisi di sebelah Misa dan memulai pemanasan.

"Kamu pernah ikut nonton?"

Sayu menggeleng.

"Nggak penasaran? Bukannya kamu cheerleader pribadinya?" canda Misa.

Sayu memeletkan lidah. "Light yang melarangku." Ia terdiam sebentar, lalu berbisik dengan nada konspirasi. "Jangan katakan pada siapa pun, tapi dia main yang non legal."

Bibir Misa membentuk huruf O dengan ekspresi takjub. "Wow, kata-katamu justru makin bikin penasaran. Aku belum pernah nonton streetball yang nggak resmi."

Sayu akan menjawab, namun percakapan mereka terpaksa berhenti karena Takada sudah mengintruksikan mereka untuk segera mulai latihan.

-xXx-

Awal musim semi seperti ini, kegiatan belajar di SMA Wammy's selesai antara pukul 2 hingga pukul 3. Setelah itu diisi dengan kegiatan ekstrakurikuler sampai pukul 5 atau pukul 6 (meski ada pula yang melakukannya sampai pukul 7 dan 8 malam).

Hal yang sama berlaku pula untuk ekskul basket maupun cheers. Jam selesainya kegiatan mereka pun relatif sama, yaitu antara pukul 5 hingga pukul 6. Bedanya adalah, cewek-cewek biasanya membutuhkan waktu lebih lama untuk berbenah dibanding para cowok. Jadi, meskipun ekskul cheers selesai lebih dulu, tetap saja para anggotanya keluar lebih akhir dibanding anggota tim basket. Ini menjelaskan mengapa Light selalu selesai lebih dulu dibanding Sayu. Sekarang pun Light sudah naik ke lantai atas, dan duduk di deretan kursi balkon lantai dua untuk membaca buku sambil menunggu Sayu.

"Uh, mulai sekarang, sepertinya aku bakal keberatan kalau Light menungguiku di depan," kata Sayu setelah mengintip keluar dari sela-sela kaca pintu ruang latihan cheers.

"Hah? Kenapa?" tanggap Misa. Ia melipat pakaian latihannya yang berkeringat dan memasukkannya ke dalam tas olahraga mini miliknya. Mereka baru saja selesai ber-shower usai latihan.

"Kamu nggak tahu ya?" Sayu berbalik menatap Misa. "Kursi balkon di depan situ sekarang jadi ramai karena cowok-cowok fansmu tahu," ujar Sayu, mulai meledek Misa.

Misa cemberut. "Uuh, atas dasar apa kamu menyebut mereka fansku?"

"Kemarin kan belum ada cowok-cowok itu. Pasti mereka nongkrong di situ setelah tahu kamu resmi jadi anggota cheers—aawh!" Sayu pura-pura kesakitan saat Misa mencubit lengannya.

Misa menertawakan Sayu. Sejurus kemudian, dia ikut mengintip dari sela kaca pintu untuk membuktikan kata-kata Sayu. Ternyata benar, di balkon depan, ramai berkerumun para cowok yang entah sedang melakukan apa. Misa bersyukur dalam hatinya. Saat ia bertemu Light kemarin, masih tak ada orang yang berkeliaran di sana.

"Tuh, kan? Aku nggak bohong. Banyak cowok di situ," kata Sayu yang tahu-tahu sudah ikut mengintip di sebelah Misa.

"Kakakmu juga ada di sana."

Sayu mendesah. Ia berbalik mengemasi barang-barangnya dan berkata, "Aku akan bilang supaya besok-besok dia nggak perlu naik kemari."

"Omong-omong, kemarin aku dengar kalau kapten cheers kita bilang bahwa kakakmu sudah lama nggak naik ke lantai ini," kata Misa mengembalikan topik.

"Oh, tentu saja," jawab Sayu. "Semenjak mereka putus, Light nggak ada alasan untuk naik ke atas sini."

Misa terperangah. Matanya mengerjap menatap Sayu tak percaya. "A-apa katamu?"

Sayu tak terlalu memperhatikan kalau Misa sedang amat-sangat terkejut dengan hal yang didengarnya barusan. Sayu tetap mengemasi barang-barangnya sambil menjawab, "Yang kudengar, Light sudah nggak pernah ke lantai ini sejak mereka putus. Sekarang dia kembali naik kemari karena mau menjemputku."

Misa mengabaikan kalimat terakhir Sayu dan hanya fokus pada kalimat pertamanya. Ia berdiri tegak menghadap Sayu dan bertanya dengan nada tak beraturan, "M-mereka? Maksudmu, dulu kakakmu pacaran dengan...?"

"Takada, kapten cheers kita. Dia mantan kakakku. Mereka putus akhir tahun lalu."

-xXx-

Sudah lewat pukul 6 sore di apartemen Misa.

Namun penghuninya masih saja berbaring menelungkup di atas spring bed. Ponsel di tangannya hanya dimainkan tanpa minat. Puluhan chat masuk belum ada yang ia baca. Notifikasi dari berbagai aplikasi pun tak ada yang ia buka. Di sebelah tempat tidurnya, menumpuk pula PR-PR dan tugas sekolah yang sama sekali belum disentuh.

Sedari tadi, Misa hanya menyekrol layar ponselnya tak bergairah. Kata-kata Sayu tadi sore masih terngiang-ngiang di telinganya.

Takada, kapten cheers kita. Dia mantan kakakku. Mereka putus akhir tahun lalu.

Misa teringat pada pertemuan tak sengaja mereka bertiga di balkon, tepat di depan ruangan cheers kemarin. Misa tak menyangka jika leader tim cheers-nya adalah mantan Light. Terbayang-bayang di kepala Misa bagaimana di hari pertama latihan cheers, dirinya sudah mendapat peringatan dari Takada di depan seluruh anggota gara-gara lupa mengubah setting senyap ponselnya. Misa yakin, saat itu dirinya pasti terlihat memalukan.

"Uh...," desah Misa. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya.

Ponselnya berbunyi lagi. Entah kali ini pesan dari siapa. Padahal Misa belum lama mengganti nomornya. Kesal, Misa merenggut ponselnya dan memeriksa layarnya. Tiba-tiba matanya membulat kaget.

Dari Light!

Ia langsung terduduk gembira. Namun seketika, tubuhnya melemas kala teringat bahwa Light pasti hanya menghubunginya untuk membahas tentang Sayu.

Sembari menetralkan perasaannya, Misa membuka pesan tersebut dan membacanya.


[06:29 pm]

Another horror movie is out today. Wdyt?

Picture sent.


Misa mengerjap-ngerjap. Dibacanya sekali lagi isi pesan Light dengan cara saksama, dan berusaha memahaminya dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Bukan! Kali ini bukan tentang Sayu! Oh my god! Misa ingin menangis terharu rasanya. Maafkan Misa, Sayu, tapi Misa sungguh bahagia banget!

Cepat-cepat ia mengetikkan balasan dan baru menekan tombol send tiga menit kemudian.


[06:33 pm]

Omg! Definitely must watch it asap!


[06:35 pm]
Let's watch it


[06:36 pm]
Tonight?


[06:36 pm]
Why not?


[06:36 pm]
Oh, okay :D


[06:38 pm]
I'll pick you up at 7


OMG OMG!

Dada Misa mau meledak saking senangnya. Ia menoleh ke arah jam. Masih ada waktu sekitar 20 menitan dari sekarang. Secepat kilat, Misa meloncat dari tempat tidurnya.

.

.

.


Author's note:

Jadi... ini adalah hal yang kumaksud dengan perubahan kecil pada chapter-chapter sebelumnya. Aku memutuskan untuk menyimpan fakta tentang mantan Light dan baru membocorkannya satu per satu.