x

Chapter 7:

— Street Basketball —

warning: chapter ini agak lebih panjang dan mungkin bakalan cheesy

.

.

.

"Lebih bagus dibanding kemarin. Plot dan adegannya mengesankan meski durasinya lebih pendek," ujar Light tentang film horor 90 menit yang mereka tonton barusan.

"Tapi antusiasme penonton di film kemarin jauh lebih besar," dalih Misa membela film pilihannya yang mereka tonton sebelumnya.

Light tersenyum. Mereka berdua tengah berjalan bersisian, keluar dari studio pemutaran film. "Masih ada tempat yang ingin kamu datangi?"

"Jam berapa sekarang?" Misa balik bertanya.

Light melirik G-Timeless watch-nya. "Jam 9 malam. Mau langsung pulang?"

Misa akan menjawab, namun sebersit ide tiba-tiba muncul di kepalanya. Ia tersenyum lebar dan berdehem. "Ehm, sebenarnya... aku penasaran dengan streetball yang biasa kamu ikuti."

Light menaikkan alis, tak menyangka sama sekali jika Misa menyinggung topik itu.

"Aku dengar dari Sayu. Dia bilang, kakaknya sering main streetball malam-malam. Gimana pendapatmu tentang itu?" tanya Misa antusias.

Light tampak menyesali cerita Sayu. Namun kemudian, ia menjawab pertanyaan Misa apa adanya.

Di saat sedang nggak ada jadwal belajar atau latihan, Light memang terkadang main street basketball—atau lebih sering disingkat streetball. Nggak ada alasan khusus mengapa Light main streetball. Light menyukai tantangan. Baginya, menambah pengalaman dan mempelajari hal baru dengan bertemu banyak orang dari lingkungan yang berbeda-beda—termasuk streetball—itu mengasyikkan. Seringkali Light menjumpai para pemain streetball dengan kemampuan unik dan teknik mengagumkan yang nggak akan ditemui Light di lapangan resmi.

Misa tertarik, sejujurnya dia ingin sekali pergi ke sana. Namun Misa mengerti jika Light ingin merahasiakan tentang mereka berdua dari Sayu. Itu berarti, Light juga tidak ingin teman-teman mereka tahu. Tapi bukankah sekarang nggak ada Sayu dan teman-teman Light? Hanya ada mereka berdua?

"Kamu yakin?" tanya Light heran saat Misa mengungkapkan keinginannya menonton streetball yang biasa diikuti Light meski sudah diberitahu kalau yang diikuti Light adalah streetball ilegal. Light nggak bisa membayangkan bakal membawa cewek cantik seperti Misa ke arena streetball tak resmi.

Misa mengangguk kuat-kuat. "Boleh kan?" pintanya dengan nada yang sulit ditolak.

"Well, tempat seperti itu agak...," Light mencari-cari kata yang tepat untuk mendeskripsikannya, "...berantakan dan mungkin membuatmu nggak nyaman."

"Kenapa? Ramai orang? Asap rokok? Drugs? Alkohol?" tanya Misa menyebutkan hal-hal yang sekiranya tidak pantas untuk seseorang yang belum berusia 17 tahun.

"Semacam itu. Atau mungkin bisa lebih buruk lagi."

"Nggak masalah kan? Kamu juga pergi ke sana."

Light menatap Misa. Ia tahu kalau Misa pemberani dan suka menantang bahaya. Tapi apa cewek itu nggak sadar kalau wajah cantik dan sikap inosennya ini bisa memanggil masalah? Tentu saja mereka tak bisa menyamakan situasi 'Light pergi ke sana' dengan 'Misa pergi ke sana'.

"Uh, ayolah," Misa mulai merajuk. Ia menurunkan intonasinya dengan nada merayu, "Ini permintaanku yang waktu itu..."

Permintaan.

Light teringat percakapan mereka saat dirinya mengantar Misa kembali ke apartemennya kemarin. Ketika itu, Light yang masih merasa utang budi pada Misa tentang kado ulang tahun Sayu berkata seperti ini padanya.

"Misa, kalau masih ada yang kamu inginkan, katakan saja."

"Mm... kusimpan dulu saja bagaimana?"

"Oke, nanti beritahukan padaku."

"Aku boleh minta apa saja kan?"

"Ya, apapun," jawab Light yakin.

Lalu sekarang, Misa minta ini padanya. Sungguh permintaan yang sulit.

"Tidak bisa," tolak Light pada akhirnya.

"Haaah? Kenapa?"

"Apa saja boleh, tapi selain ini."

"Aku mau yang ini," Misa bersikeras. Ia menatap Light dengan sorot mata yang tak bisa dibantah, seakan-akan menyatakan bahwa ia tidak akan bergeser dari tempatnya sebelum Light mengabulkan permintaannya.

Light baru tahu kalau selain pemberani, ternyata Misa juga keras kepala. Mendebat Misa adalah tindakan yang amat sangat percuma. Misa bahkan menolak dengan tegas saat Light bermaksud membawanya ke arena streetball resmi, atau menundanya lain kali. Misa ingin arena yang sama dengan yang biasa didatangi Light, dan pergi ke sana saat ini juga.

Light menghela napas.

Ia berpikir beberapa saat. Sejurus kemudian, ia melepas jaketnya dan memakaikannya pada Misa. Kemudian ia menarik Misa menuju mobilnya di parkiran, lalu mendudukkannya di kursi depan. Setelah itu, Light memutari mobilnya. Ia membuka pintu dan menggeser kursinya sendiri di belakang kemudi agar dapat menyelinap ke kursi belakang untuk mengambil topi serta kacamata. Kemudian Light memakaikan barang-barang itu pada Misa.

Misa sekarang sudah seperti alien. Namun Light justru semakin pusing. Padahal sudah disamarkan seperti itu, tapi Misa masih tetap terlihat cantik.

"Kamu mau membuatku menyamar?" tanya Misa heran sambil menunjuk topi baseball dan kacamata hitam yang dipakaikan Light. Itu semua barang-barang milik Light yang selalu ditinggal di mobil. Nggak heran kalau ukurannya kebesaran di tubuh Misa.

Light mengangguk.

Misa tersenyum. "Kenapa harus bersusah payah seperti ini kalau kita punya kekuatan magic?"

Light mengernyit. Dipandanginya Misa yang dengan tenang mengeluarkan sesuatu dari dalam tas Celiné hitamnya.

Ah, makeup kit.

"Berapa lama perjalanan dari sini ke lokasinya?" tanya Misa sembari menata satu per satu senjatanya di atas dashboard. Dia sedang berusaha menyembunyikan kegirangannya karena akhirnya Light luluh dan memperbolehkannya pergi ke arena streetball.

"Sekitar 15-20 menit."

"Okay, let's go."

-xXx-

Ketika mereka tiba di lokasi, Misa telah menjelma menjadi sosok yang benar-benar berbeda.

Light hampir tak mengenalinya. Bagaimana mungkin hanya kurang dari setengah jam, Misa bisa mengubah wajahnya yang sempurna menjadi seperti ini? Pipinya yang semula tirus jadi tampak berlemak, hidungnya yang mancung dan ramping jadi terlihat bulat dan besar. Bentuk mata Misa apalagi, jadi sangat berubah dengan kelopak mata yang terlalu ke dalam. Kulitnya juga kini terlihat kusam dan tak merata. Mungkin secara keseluruhan, hanya bibir Misa saja yang nggak terlalu berbeda.

"Wow," Light berdesis takjub.

"Ini kekuatan makeup," ujar Misa bangga.

Light menggelengkan kepala kagum. Misa menguncir rambut pirangnya dan menyembunyikannya di balik topi baseball yang dipinjamkan Light. Ia juga membetulkan jaket Burberry milik Light yang membungkus tubuhnya sampai melewati paha. Dalam hati, Misa bersyukur dirinya memakai sneaker Balenciaga triple S-nya, alih-alih Valentino heels kesayangannya, dan membuat penyamaran ini jadi lebih mudah. Setelah itu, Misa tersenyum pada Light pertanda bahwa dirinya sudah selesai dengan persiapan menyamarnya.

Light mengulurkan tangannya pada Misa. "Ready to go?"

Misa menyambut uluran tangan Light. "Yes!"

Mereka menuju arena streetball dan langsung disambut dengan desak-desakan dari banyak orang. Aroma rokok dan alkohol menyengat di mana-mana. Light menggenggam erat tangan Misa dan melindunginya selama mereka berjalan. Light khawatir tubuh Misa tergencet, tapi tampaknya Misa selalu bisa menempatkan diri. Mereka berhasil menerobos kerumunan tak beraturan itu dan sampai di area paling depan. Light membawa Misa menuju meja panjang yang sepertinya merupakan tempat untuk mendaftar pertandingan.

"Hei, Yagami. Malam ini kau datang lagi?" sapa seorang pria tinggi berjanggut lebat. Dari sikapnya yang akrab pada Light, Misa bisa menyimpulkan jika Light memang sering datang kemari.

"Wah, nggak ada PR atau bimbel nih?" sambung lelaki kekar di sebelahnya dengan nada meledek.

Light tertawa kecil. "Aku mau ikut main."

"Berapa set?"

"Satu saja."

"Oke. Kamu bisa pakai Arena 3. Jangan lupa letakkan taruhanmu di kotak paling ujung itu. Biar Henry yang mencatatnya."

"Aku nggak bawa tim. Bisakah aku main one-on-one?"

Pria itu menatap Light takjub. "Kamu datang sendiri? Tumben."

Light mengedik.

"Baiklah. Kalau begitu pakai Arena 1. Tapi kamu harus menunggu empat set setelah ini."

"Beres." Light merogoh saku dan mengeluarkan dompetnya. Ia mengambil beberapa lembar berwarna biru dan meletakkannya di dalam kotak yang dimaksud sambil memberi isyarat.

Misa memperhatikan semuanya dengan takjub. Light, si siswa-teladan-putra-kepala-kepolisian, ternyata ikut membuat taruhan?

-xXx-

Usai mendapatkan nomor tanding, mereka berdua segera menuju Arena 1 yang dimaksud. Situasi di sana tak jauh beda dengan situasi tempat itu secara keseluruhan—hiruk pikuk tak beraturan dengan berbagai macam aroma yang saling bercampur baur. Pelan-pelan, Misa mulai terbiasa.

Arena yang mereka datangi ini sepertinya memang dikhususkan untuk penantang one-on-one. Sambil menunggu giliran, mereka menonton set pertandingan yang sedang berlangsung. Misa sudah sering menonton pertandingan basket, terlebih dia seorang anggota cheerleaders. Namun pertandingan liar jalanan seperti ini baru pertama kali baginya.

Rasanya mendebarkan, tapi juga... mengasyikkan. Terlebih ketika giliran Light akhirnya tiba.

Sebelum memasuki arena lapangan, Light tahu-tahu melepas T-shirt Off-white-nya dan memberikannya pada Misa. "Aku nggak bawa baju ganti. Tolong jaga pakaianku."

Misa seakan terhipnotis. Ia mengangguk dan menerima T-shirt dari Light. Detik berikutnya—ketika Light sudah memasuki arena dengan bertelanjang dada—Misa baru tersadar. Ia menjerit sekencang-kencangnya tanpa suara.

OH. MY. GOD.

Misa baru saja melihat surga!

Mata Misa kini terpaku sepenuhnya pada abs Light. Sepanjang pertandingan, ia terus-terusan menikmati pemandangan menggiurkan itu sepuas-puasnya.

Sebenarnya Misa sangat ingin berseru heboh sebagaimana sekelilingnya dan melakukan gerakan cheers untuk mendukung Light. Tapi Misa ingat pesan Light untuk nggak bersikap mencolok. Misa paham jika perannya saat ini bukan seperti itu. Misa harus menahan diri. Ia hanya bisa menyimpan jeritan histerisnya di dalam hati meski Light sudah membuatnya gila dengan permainannya.

Sejak awal, Misa tahu kalau kemampuan shoot Light mengagumkan. Misa pernah beberapa kali menyaksikan Light bermain basket dengan teman-temannya. Tapi di sini, di arena ini, Misa baru pertama kalinya menyaksikan bahwa Light adalah ballhandler yang keren. Light sukses memperdaya lawan dengan teknik boomerang-nya yang mulus. Light juga mampu melakukan dunk dengan airtime yang memukau.

Misa nggak heran kalau kemudian Light memenangkan satu set pertandingan itu. Tapi Misa masih belum puas. Baginya, satu set itu terlalu cepat. Misa masih ingin menonton Light berlaga.

"No. 12! Kau ditantang No. 3!" teriak announcer.

Misa bersorak dalam hati. Ia berterima kasih pada siapa pun itu dengan nomor tanding 3 yang barusan telah menantang Light. Namun Misa harus berseru kecewa ketika melihat Light mengangkat tangan kanannya, pertanda bahwa dia hanya main satu set sebagaimana yang telah dikatakannya di awal.

Sorakan kecewa terdengar dari seluruh penjuru arena. Bersahut-sahutan dengan pendukung nomor pertandingan perikutnya yang tak sabar akan berlaga. Teriakan itu makin riuh kala seorang pria tinggi tiba-tiba muncul dan mendatangi Light dengan wajah gusar. Kelihatannya, ia tak terima Light mengabaikan tantangannya.

Pertandingan terhenti sejenak.

Light tampak tak terlalu menanggapi umpatan pria itu. Ia tetap berwajah tenang dengan sikap tertata. Ketika pria itu sengaja menubrukkan bahunya pada Light, Light hanya mengangkat sebelah tangannya dan menunjuk announcer dengan dagunya.

Announcer dan seorang rekannya mulai turun tangan. Mereka berbicara dengan cukup alot dan sepertinya berakhir tak terlalu baik. Pria yang menantang Light masih mengumpat-ngumpat saat keluar dari lapangan, sedangkan Light tetap tak peduli.

Misa segera beranjak dari tempatnya. Ia tak sabar untuk segera menghampiri Light. Namun seketika, darahnya berhenti.

Light yang telah kembali ke tepi lapangan langsung disambut seorang wanita cantik berpakaian seksi. Ia memeluk tubuh topless Light dan menciumnya.

Misa tahu, itu hanya ritual biasa yang selalu dilakukan pada setiap pemenang dari set pertandingan one-on-one. Misa juga sadar, Light bukan siapa-siapanya. Tapi melihat Light balas mencium pipi wanita itu dan tersenyum padanya, telah membuat Misa sangat-sangat tak rela.

Ini adalah ... sisi lain dari seorang Light Yagami yang baru diketahuinya.

Tapi aneh. Bukannya merasa kecewa, Misa justru semakin tertantang dan penasaran.

-xXx-

"Kenapa kamu nggak menerima tantangannya?" tanya Misa ketika bertemu Light di dekat meja announcer usai Light menerima uang taruhannya.

"Orang itu terkenal suka main kasar. Aku masih sayang tubuhku untuk pergi sekolah besok."

Misa tak bisa menahan tawa. Kata-kata Light bisa saja menimbulkan salah tafsir bagi orang lain yang tak sengaja mendengarnya. Tapi Misa mengerti. Saat ini Light tidak membawa timnya. Sedangkan besok, mereka juga masih harus masuk sekolah. Siswa teladan seperti Light ternyata masih tetap menomorsatukan sekolah.

Tiba-tiba tawa Misa terhenti. Sepasang lengan besar dan berbulu tahu-tahu saja sudah melingkari lehernya. Disusul colekan jemari kasar yang merabai dagunya dari belakang. "Hello, Sweetie. Wanna play with me?"

Misa menegang. Sesaat, tubuhnya terasa kaku tak bisa bergerak. Light yang juga berdiri di sebelah Misa pun menegang sesaat. Refleks kemudian, ia bereaksi. Dicengkeramnya lengan pria itu kuat dan bicara dengan penekanan yang sangat tertata. "Lepaskan dia."

Pria itu mendongak. Sepertinya ia merasa tersinggung. "Berani melarangku, huh?" sahutnya tak terima.

Light mengatupkan rahangnya saat melihat lebih jelas wajah pria yang menggoda Misa. Ia mengenal pria itu. Pelanggan tetap dari bar sebelah yang rutin memberi taruhan besar dan gemar menggoda cewek-cewek. "Don't touch her. She's coming with me," desis Light.

Pria itu melirik Light dengan tatapan menilai. "Dia apamu?"

Light berpikir cepat. Mengatakan cewek itu adalah temannya tak akan menyelesaikan masalah. Light membutuhkan relasi yang lebih dekat dari seorang teman. "My girl," ujarnya.

"Pacarmu? Ouch, anak ingusan sepertimu berani membawa pacarnya kemari? Pasti bukan cewek baik-baik," cemooh pria itu. Sepertinya ia cukup mengenal Light yang sering mondar-mandir di arena meski mereka tak pernah berkenalan langsung secara resmi.

Light berdehem. "Aku baru kali ini membawanya kemari." Ia merendahkan nada bicaranya dengan tatapan serius, "Lepaskan dia."

Pria itu sudah akan membalas kata-kata Light, namun tiba-tiba Misa bersin di antara mereka dengan suara yang amat sangat tidak elit.

"Ukh, kenapa kamu melarangnya, Light? Apa kamu sengaja supaya pacarmu ini tidak bisa bersenang-senang dengan orang lain?" tanya Misa dengan suara sengau. Ia menggaruki telinganya dengan muka bloon dan mendengus-dengus seperti orang hilang ingatan.

Kalau tidak ingat sedang menyamar, Light bisa saja terperangah melihat kelakuan Misa.

Hal yang sama ternyata dirasakan pula oleh pria yang mengganggu Misa. Terlebih ketika pria itu mengamati wajah Misa—dengan samaran makeup—lebih seksama. Ekspresi terhina tampak jelas di mukanya. "Sialan, dia bukan tipeku! Aku menyesal sudah menggodanya tadi," Lelaki itu mengumpat dan mengutuk Light, lalu bergegas pergi.

Light lega sekaligus tak menyangka, ternyata Misa mampu menyesuaikan diri dengan cepat dan punya keahlian akting yang mengagumkan. Selain penampilan luarnya yang berubah, Misa juga berhasil memerankan karakter seseorang yang sangat tidak menarik.

Light mendekat pada Misa dan berbisik di telinganya, "Yang tadi itu mengagumkan."

Misa menyengir di balik bahu Light. "Apa bukan menjijikkan?"

Light menyejajarkan wajahnya dengan Misa dan menatapnya tepat di matanya. "Tidak, aku serius. Itu mengagumkan."

Misa tersenyum. "Permainan basketmu lebih mengagumkan," balasnya memuji Light.

"Maaf tiba-tiba menyebutmu sebagai pacarku," kata Light sembari menegakkan tubuh. Ia tak ingin Misa tersinggung.

"Nggak masalah." Misa mengulurkan pakaian Light yang tadi dititipkan padanya. Selamanya begitu juga nggak akan masalah.

"Oh ya, terima kasih sudah membawakan bajuku." Light menerima uluran tersebut. Ia tidak menyadari tatapan Misa yang masih melekat pada abs-nya. "Kamu nggak kapok pergi ke tempat seperti ini?"

Misa menggeleng. Ia memandangi Light yang tengah memakai T-shirtnya. "Kembali lagi kemari sepertinya menyenangkan," desis Misa setengah bergumam. Bersamamu, tentu saja, tambahnya dalam hati sambil tersenyum.

Light sudah selesai memakai T-shirt-nya. Ia masih sedikit berkeringat, namun udara malam akan cepat membuat keringatnya menguap.

"Baiklah, setelah ini aku akan mengantarmu pulang," ujar Light. Mereka berjalan menuju parkiran.

"Apa kamu nggak terlalu kemalaman nanti?" tanya Misa ketika Light membukakan pintu mobil untuknya.

"Seharusnya aku yang tanya begitu," Light terlihat agak menyesal. "Aku sudah membawamu keluar sampai selarut ini."

"Jangan khawatir," kata Misa. "Aku pegang kunci apartemenku sendiri."

Light beralih ke pintu mobil satunya. Ia masuk dan duduk di kursi kemudi.

"Kuharap aku tidak lebih terlambat mengantarmu pulang. Semakin malam, seharusnya lalu lintas sudah tak lagi padat. Kita hanya butuh kurang dari 15 menit ke apartemenmu," kata Light sembari menyalakan mesin.

Sejurus kemudian, Mustang merah itu meluncur dari sana. Selama beberapa saat, pengendara di dalamnya tak saling berkata-kata. Light berkonsentrasi dengan setirnya sementara Misa sibuk menghapus makeup penyamarannya.

"Misa, apa kamu suka kejutan?" tanya Light tiba-tiba saat mereka menjumpai lampu merah.

Misa mengerjap. Ia menoleh ke arah Light dengan tatapan tanya. Malam ini, ia merasa sudah mendapatkan banyak kejutan dari Light. Mulai dari Light yang tiba-tiba mengirimnya chat tanpa membahas Sayu, lalu Light bilang akan menjemputnya untuk menonton film horor (lagi) berdua, hingga barusan mereka pergi ke arena streetball ilegal. Semua sudah merupakan kejutan bagi Misa.

"Gimana, Misa?" tanya Light lagi.

Misa tersenyum, amat sangat manis. "Kalau itu kejutan yang menyenangkan, kurasa nggak ada cewek yang nggak menyukainya. Kenapa?" tanyanya antusias.

Light berdehem sejenak. Ia menjalankan mobilnya begitu lampu hijau menyala. "Aku berpikir untuk memberi sedikit kejutan untuk ulang tahun Sayu. Aku belum pernah melakukan ini sebelumnya. Apa kamu ada ide? Aku ingin bertemu denganmu untuk menanyakan soal itu."

Antusiasme Misa seketika menguap. Ia merasa seperti seekor anak burung yang tiba-tiba kehilangan sayapnya setelah dibawa terbang setinggi-tingginya, dan dihempaskan jatuh ke bumi sejatuh-jatuhnya. Misa menghela napas tak kentara. Ya, ya, ya. Misa harus mengerti. Tentu saja, semua—yang mereka lakukan semalaman ini—adalah soal Sayu.

"Kejutan seperti apa yang ada dalam bayanganmu? Kurasa, Sayu nggak suka hal yang mencolok dan dia pasti nggak mau diberi kejutan di tempat umum," desis Misa.

Light setuju. Dia juga nggak berniat membuat kejutan di depan banyak orang. Sama sekali bukan kepribadian Light untuk berbuat demikian.

"Mm, mungkin semacam mengagetkannya tiba-tiba atau mendekor kamarnya saat dia tidak ada?" sahut Light.

"Begitu juga bisa. Nanti akan kubantu."

"Ok, thanks."

"Mmm...," gumam Misa samar. Ia melemparkan pandangan keluar jendela. Misa sudah tak bisa lagi berpikir. Kepalanya terlalu ruwet dan hatinya butuh ditata untuk bisa berdiskusi. Lagi pula, menurut Misa, kado dari Light pasti sudah lebih dari cukup untuk mengejutkan Sayu.

Kini ganti Misa yang memikirkan kado untuk Sayu. Kado darinya harus se-spesial kado dari Light, tapi tentu nggak boleh lebih spesial dari milik Light.

.

.

.


Author's Note:

Akhirnya chapter 7!

Jika dibandingkan dengan versi sebelumnya, perbedaannya besar sekali. Di sini Misa masih pedekate dengan Light, sedangkan di versi sebelumnya, mereka sudah cukup lama jadian.

Aku tidak tahu ini memakai setting Jepang atau gaya barat. Kurasa, aku telah mencampur adukkan keduanya. Anggap saja ini universe yang kuciptakan sendiri dan hanya meminjam nama tempat.