x

Chapter 8:

— Homework —

Note: setting di cerita ini campur aduk antara gaya barat dan gaya jepang.

.

.

.

"Pulangmu malam sekali, Light. Lebih malam dari kemarin," sambut Sayu begitu Light kembali ke rumah dan muncul di ruang tengah. "Wah, streetball lagi nih?" ujarnya sambil mengendus-endus aroma kakaknya.

Light tak menjawab. Ia hanya mengacak rambut Sayu dan terus berjalan menuju tangga kamarnya.

Sayu cemberut. "Uh, padahal aku mau minta diajarin PR."

Light berhenti di anak tangga pertama. Ia memutar tubuh. "Matematika?" tanyanya.

Sayu mengangguk. "Kalau bukan pelajaran yang satu itu, aku nggak akan minta bantuanmu."

Light melirik jam tangannya. Ia menghela napas dan berkata dengan nada memberi nasihat. "Ini sudah hampir jam 12 malam, Sayu. Kamu nggak takut mengantuk di sekolah esok harinya?"

"Aku lebih takut kena detensi karena nggak mengerjakan PR."

Light menarik napas lagi. Ia mengesampingkan pertanyaan-pertanyaan di kepalanya tentang mengapa Sayu tidak segera mengerjakan PR-nya dari kemarin-kemarin. Adiknya itu bisa makin down kalau dimarahi begitu. Lagi pula Light sedikit merasa bersalah karena sudah bersenang-senang di luar bersama Misa, tanpa tahu kalau Sayu sedang menunggu dan membutuhkannya di rumah.

"Baiklah," ujar Light luluh. "Come to your brother."

Wajah Sayu berubah cerah. Ia melompat ke arah Light dan memeluknya senang. "Asyiik."

Light membalas pelukan adiknya dan mengusap pucuk kepala Sayu. "Mana PR-mu? Kita diburu waktu."

Sayu segera melepas pelukannya dan berlari menaiki tangga menuju kamarnya. Light menyusulnya dari belakang. Mereka berbelok ke kamar Sayu. Sayu membuka pintu dan masuk ke kamarnya hendak mengambil buku-buku. Light ikut masuk. Ia langsung mengambil posisi di sofa belajar milik Sayu.

"Lho? Kita belajar di kamarku?" tanya Sayu mendapati kakaknya sudah dalam pose siap belajar.

"Ya, kenapa?" tanya Light. Jika mereka belajar di kamar Light seperti biasa, Light khawatir Sayu akan menemukan box action figure-nya meski Light sudah menaruhnya di tempat yang aman.

"Aku lebih suka belajar di kamarmu," kata Sayu. Nada bicaranya terdengar kecewa.

"Bukannya kamarmu juga luas?"

"Tapi kan nggak serapi kamarmu."

"Makanya, rapikan."

Sayu cemberut.

Mereka mengerjakan PR-nya sampai jam satu dini hari. Tentu bakal butuh waktu yang jauh lebih lama jika Sayu mengerjakannya seorang diri. Sebenarnya, Sayu cukup pandai di mata pelajaran Fisika, Ekonomi, dan Bahasa Inggris. Untuk subjek lainnya pun Sayu masih bisa menguasainya. Khusus Matematika saja Sayu menyerah dan selalu butuh bantuan.

Pada dasarnya, peringkat Sayu di sekolah juga nggak buruk. Sayu selalu masuk dalam kategori setengah terbaik di kelasnya. Memang sih, kalau dibandingkan dengan Light yang langganan juara umum, peringkat seperti itu bukan apa-apa. Tapi Light hanya ingin Sayu menikmati masa sekolahnya sebagaimana cewek-cewek sebaya lainnya pada umumnya. Sayu nggak harus terbebani atau memaksakan diri melakukan sesuatu yang memberatkannya. Makanya Light mendukung Sayu untuk mengikuti cheers atau apa pun yang disukai Sayu.

Berbeda dengan Sayu, Light sendiri memang sedari kecil sangat menyukai belajar. Ia hobi mengulang pelajaran, gemar mengutak-atik soal, dan terbiasa memecahkan suatu masalah dari berbagai macam tinjauan. Kebalikan dari Sayu, aktivitas olahraga atau semacamnya yang rutin dilakukan Light adalah bonus sampingan baginya.

"Setelah ini, segeralah beristirahat, Sayu. Kita masih harus bangun pagi dan berangkat ke sekolah," pesan Light menyudahi sesi belajar mereka.

Sayu mengangguk sambil membereskan buku-bukunya. Tiba-tiba ia teringat sesuatu. "Oh, ya, Light. Kuis ekonomi kemarin aku dapat nilai tertinggi kedua di kelasku."

"Keren," puji Light.

Sayu tersipu. "Besok boleh nggak aku main video game di kamarmu? Aku bosan main game lewat laptopku."

Light mengangguk sambil memberi tanda oke dengan tangannya. Sejenak, ia teringat pada lokasi box action figure di kamarnya dan sempat berpikir akan menitipkan box action figure itu di apartemen Misa. Namun buru-buru dienyahkannya pikiran tersebut. Ia lebih percaya untuk menyimpannya sendiri.

-xXx-

"Misa, kamu sudah mengerjakan PR Matematika?"

Misa yang baru muncul di pintu kelas pagi ini langsung terkaget. "Memangnya ada PR?"

"Ada, kan? Bab Geometri, 30 nomor, dan ditulis tangan. Serius kamu nggak tahu?"

Misa panik setengah mati. Namun ia masih berusaha bersikap tenang sambil menuju bangkunya. "Um, sepertinya begitu," jawabnya.

"Oh, God, gimana bisa?" seru temannya panik.

Misa menggigit bibir. Sebenarnya ia ingat kalau punya banyak PR. Sampai jam 6 sore kemarin pun Misa masih ingat fakta itu dengan baik. Tetapi, jalan semalaman dengan Light telah membuat Misa melupakan PR-PR-nya. Sepulang ke apartemen pun Misa masih terbawa suasana dan tak ingat sama sekali akan tugas sekolahnya.

"Amane, kamu bisa pakai punyaku." Seorang siswa laki-laki tiba-tiba mendekati meja Misa dan menyodorkan lembar tugas miliknya.

"Ah, punyaku juga bisa. Kurasa tulisanku lebih mirip denganmu dibandingkan tulisannya," sela yang lain sambil meletakkan tugasnya di atas tugas milik siswa pertama yang lebih dulu datang.

"Hei, tulisan yang mirip itu tak akan menjamin isinya benar. Lebih baik kamu pakai punyaku, Misa. Matematika adalah keahlian utamaku." Satu lagi siswa yang mendekati Misa dan memberikan tugasnya.

Misa hanya memandangi lembar-lembar tugas yang disodorkan di atas mejanya dengan datar. Ia mendongak menatap ketiga siswa yang berebut menarik perhatiannya itu satu per satu, lalu tersenyum dan menggeleng. "Terima kasih."

Baru saja Misa berniat mengeluarkan lembaran kertas dari tasnya, guru Matematika mereka telah muncul di pintu kelas. "Selamat pagi."

Serentak, seisi kelas kembali ke kursi mereka masing-masing—termasuk siswa-siswa yang berkerumun di depan meja Misa—sambil menjawab sapaan guru mereka dengan kompak, "Selamat pagi."

Mr. William berdiri di depan kelas dengan wajah ramah, kontras dengan materi yang diajarkannya. Ia memberi perintah, "Kumpulkan tugas kalian ke ketua kelas."

Misa meneguk ludah ketika ketua kelas bangkit dan mulai mengumpulkan tugas. Ia harus siap jika riwayat Matematikanya tercoreng mulai hari ini.

Mr. William berdehem. "Ada yang tidak mengerjakan?" tanyanya berbasa-basi.

Misa mengangkat tangannya pelan-pelan. Ia pasrah karena sampai detik ini masih belum menemukan alasan ampuh walau sudah memikirkannya sejak tadi. Namun Misa terkejut. Ternyata bukan hanya dia seorang yang mengangkat tangannya. Seperlima isi kelas itu juga mengangkat tangan. Misa terheran-heran.

Mr. William pun juga tampaknya terheran. "Kalian semua tidak mengerjakan PR?"

Semua siswa yang mengangkat tangannya kompak menggeleng.

"Wah, wah," komentar Mr. William takjub sekaligus kesal. "Baiklah. Sebagai peringatan pertama, silakan keluar kelas dan berdiri di lorong sampai jam pelajaran berakhir."

Ultimatum telah dibuat. Para siswa yang semula mengangkat tangan pun berdiri satu per satu dari kursi mereka dan berjalan patuh keluar ruangan.

Mr William menggeleng-gelengkan kepala. "Anak-anak muda zaman sekarang kenapa pemalas sekali?" keluhnya. "Hei, Nak! Jangan lupa angkat kaki kanannya dan letakkan tangan di atas kepala!" serunya lagi dan langsung disahut dengan gumaman protes dari para muridnya. Itu hukuman yang sangat kuno dan ketinggalan zaman.

Misa menarik napasnya diam-diam. Ia sedikit lega karena setidaknya dia nggak dihukum sendirian. Misa menoleh pada siswa laki-laki di sebelahnya—yang tadi menawarkan tugasnya—dan berbisik, "Bukannya kamu mengerjakan PR?"

Siswa itu kaget ditanya Misa tiba-tiba. "Uh, itu...," ia tampak salah tingkah, lalu menunjuk temannya secara spontan. "Dia juga sebenarnya mengerjakan PR."

"Hah? Maksudmu—"

"Well, Misa, apa kamu kesulitan dengan PR-nya?" sela siswa lain yang tiba-tiba telah berdiri di dekat Misa. "Kamu bisa bertanya padaku. Aku peringkat pertama di SMP-ku dulu."

"Kamu tahu? Kita bisa belajar bersama," siswa lainnya ganti menyela. "Aku tahu tempat-tempat yang bagus untuk itu. Melakukannya setiap hari juga bukan masalah."

"Nggak hanya Matematika, kamu bisa mengandalkanku untuk pelajaran apa pun," sahut lainnya lagi.

Misa segera berubah pikiran. Sepertinya ia lebih senang jika hanya dirinya saja yang tidak mengerjakan PR dan dihukum seorang diri. "Terima kasih," jawabnya manis.

-xXx-

Mereka sudah berdiri lebih dari satu jam. Hukuman yang membosankan itu baru akan berakhir setengah jam lagi, tapi kaki Misa sudah mulai pegal. Jika ini adalah latihan dance atau cheers, Misa sanggup berjam-jam melakukannya. Tapi berdiri diam dengan satu kaki seperti ini sungguh membosankan dan membuatnya cepat lelah. Sebaliknya, teman-teman Misa lainnya yang sama-sama dihukum tak tampak begitu. Sedari tadi, mereka sibuk membicarakan siapa siswa tahun pertama yang akan menjadi favorit Mr. William.

Sudah bukan rahasia jika Mr. William selalu punya siswa favorit di setiap tahunnya. Ini langsung menjadi topik hangat di kalangan para murid yang gemar mengejar eksistensi di mata guru. Persis seperti cowok-cowok ini. Mereka saling menyombong menyebut prestasi mereka dan membuat paparan panjang tentang mengapa mereka layak untuk posisi itu.

Misa heran mengapa hal-hal seperti itu menjadi begitu prestisius bagi mereka. Jika itu memang benar-benar penting, lantas mengapa sekarang ini mereka justru berada di sini? Alih-alih mengumpulkan tugas (yang sebenarnya sudah dikerjakan) supaya mendapat poin dan mengikuti pelajaran di dalam kelas?

Aneh. Misa nggak mengerti jalan pikiran cowok-cowok ini. Ah, tapi ternyata nggak semuanya laki-laki. Misa baru menyadari, ada satu siswi perempuan yang juga dihukum tidak mengerjakan tugas.

"Kiyomi Takada, kan?"

Huh? Kuping Misa menegak mendengar nama kapten cheers-nya disebut-sebut. Ia batal menyapa siswi tadi dan ganti fokus mendengarkan obrolan teman-temannya.

"Kau benar. Murid favorit Mr. William tahun lalu adalah senior Takada," jawab siswa lainnya, lalu disambung dengan desas-desus kekaguman.

Sejak masa orientasi, tak ada satu pun siswa yang tak mengenal Kiyomi Takada; Kapten tim cheers yang tak hanya cantik dan jago dance, tapi juga murid yang cerdas di kelas. Mr. William memujinya sebagai murid favorit beliau tahun lalu, bersanding dengan nama Light Yagami dari tahun sebelumnya.

Misa yang mendengarnya serasa ingin mematahkan jendela.

"Misa, sepertinya kamu lelah. Kamu bisa bersandar padaku," berkata seorang siswa saat mendengar Misa kelepasan menghela napas panjang.

Misa menggeleng dan berterima kasih. "Aku nggak apa-apa—"

"Ehm!"

Deheman tegas Mr. William mengejutkan kerumunan siswa tersebut. Buru-buru mereka memperbaiki posisi hukumannya dengan kepala tunduk.

"Sebaiknya kalian renungkan perbuatan kalian, dan ingat-ingat jika satu kali lagi tidak mengerjakan tugas maka detensi akan menanti kalian," tandas Mr. William yang dijawab para murid dengan anggukan patuh.

"Nah, Yagami, silakan beri anak-anak ini pencerahan. Belum ada satu bulan, mereka sudah berani melupakan tugas mereka dan nggak mengumpulkannya."

Misa melongo. Yagami?

"Baik, Mr. William."

Jantung Misa berhenti berdetak. Ia mengenal suara itu. Misa mengangkat kepalanya dan memberanikan diri mengintip dari sudut matanya. Detik itu, tatapannya bertemu.

Sungguh, Misa ingin lenyap.

.

.

.


Author's note:

Aku heran kenapa jadi detail begini.

Tadinya, aku ingin menulis cerita romance yang hanya fokus pada adegan-adegan yang aku mau saja (aku tidak berniat menjabarkan plotnya karena malas). Tapi kemudian kuubah karena ternyata aku cukup menikmati prosesnya. Kuharap kalian juga demikian.

Terima kasih untuk review dan kunjungannya!