x

Chapter 9:

— Human —

.

.

.

Ada keuntungan tersendiri bagi klub cheerleaders yang memiliki ruang latihan sendiri. Sebagai catatan, mereka hanya kadang-kadang saja berlatih di lapangan, seperti pada saat rehearsal. Terkadang ada satu/dua siswa yang tak canggung untuk ikut masuk dan menonton latihan. Ruang latihan ini memang pada dasarnya bebas diakses oleh siapa pun. Berbeda dengan ruang sekretariat dan ruang ganti atau shower yang hanya bisa diakses oleh para anggota cheers.

Ruang latihan klub cheerleaders didesain cukup luas dan nyaman, juga dilengkapi dengan kaca raksasa setinggi 4 meter untuk memudahkan para anggotanya menyaksikan secara langsung formasi dan gerakan mereka. Bagian terpentingnya adalah ruang tersebut bernuansa sejuk, wangi, dan memiliki pengatur suhu sendiri. Para anggota cheers akan tetap bisa berlatih di segala musim tanpa perlu khawatir bakal kepanasan atau kedinginan. Nggak heran jika mereka juga betah menongkrong di sana sebelum ataupun sesudah sesi latihan.

Persis sebagaimana yang dilakukan Sayu dan Misa saat ini. Mereka sedang asyik mengobrol dan berkenalan dengan dua anggota cheers lainnya—yang juga seangkatan dengan mereka—sambil menunggu latihan dimulai.

"Jadi namamu Linda? Aku Sayu Yagami," kata Sayu memperkenalkan diri.

"Ah, aku ingat," sahut Misa. "Kamu sekelas denganku kan di kelas Matematika? Tadi pagi kita berdua dihukum bareng."

"Dihukum? Kok bisa?" Sayu heran.

"Itu... karena kami nggak mengumpulkan PR." Linda menyengir.

"Haah?!" Sayu terbelalak. Ia menoleh cepat ke arah Misa dengan tatapan 'serius nih?'

"Aku lupa, sumpah," jawab Misa dengan raut wajah menyesal. Ia masih ingat jelas saat dirinya kena ceramah Mr. William dan malah dipergoki pula oleh kakaknya Sayu.

"Aku sudah mengerjakan, tapi bukuku ketinggalan di meja belajar," cerita Linda.

"Ugh, so bad," keluh Misa dan Sayu bersamaan dengan nada prihatin. Kejadian menyebalkan seperti itu memang hanya terjadi di saat-saat genting.

"Kelasku juga ada tugas Matematika," giliran Sayu yang bercerita. "Aku lembur sampai jam satu pagi untuk mengerjakannya. Untung saja setelah itu aku nggak lupa membawa buku PR-ku."

"Wah, kamu tahan belajar Matematika sampai jam satu pagi?" Linda takjub. Yang lain mengangguk setuju.

Sayu cemberut. "Aku minta bantuan kakakku untuk mengerjakan PR-ku."

Misa mengernyit mendengarnya. Berarti sepulang dari main streetball kemarin, Light masih lanjut mengajari Sayu PR Matematika sampai jam satu pagi? Oh my...

"Asyik sekali ya punya kakak yang bisa diandalkan," Wedy berdesis kagum. Dia cewek yang paling terakhir memperkenalkan diri.

Sayu hanya tersenyum. "Sebenarnya aku nggak ingin terus-terusan merepotkannya. Kapan-kapan aku ingin mendaftar les saja."

"Ide bagus. Daftar les bareng yuk," sambut Linda.

"Boleh," sahut Sayu antusias, lalu beralih pada Misa. "Kamu juga berminat, Misa?"

Misa menggeleng. "Nggak. Aku berharap punya tutor pribadi seperti Sayu."

Linda dan Wedy terbahak, sementara Sayu manyun sambil berdesis, "In your dream."

"Omong-omong, kami sebenarnya sudah lama memperhatikan kalian berdua," Wedy mengembalikan topik. "Tapi baru sekarang berani mengajak ngobrol," sambung Linda.

"Oh ya? Pasti kalian memperhatikan Misa," ujar Sayu sambil melirik Misa, dan dijawab Misa dengan gerakan bibir 'apa'.

"Sejujurnya sih iya," Linda menyengir.

"Uuh, tentu karena insiden hari pertamaku yang memalukan," Misa cemberut mengungkit insiden tentang ponselnya.

"Nggak kok, nggak tepat begitu," sahut Linda cepat. "Sebelumnya, aku sudah kagum dengan kemampuanmu. Kamu pasti sudah sering latihan cheers ya sebelum ini? Tubuhmu lentur dan gerakanmu terlatih sekali. Lompatanmu juga sangat stabil."

Ah! Misa super terharu. Ia selalu senang jika kesan yang diingat oleh orang-orang tentang dirinya adalah seputar kemampuannya atau apa yang bisa ia lakukan, bukan hanya sekadar soal fisik semata.

"Itu sih jangan ditanya," Sayu berujar tiba-tiba. "Misa itu bisa mati kalau disuruh diam. Tidur saja dia bisa sambil atraksi."

Semuanya terkikik.

"Kalian berdua dekat banget ya?" komentar Wedy.

"Pernah tidur bareng?" seloroh Linda.

Misa dan Sayu saling pandang. Mereka memang sudah lumayan dekat saat di tempat kursus dance dahulu. Tapi semenjak satu sekolah di SMA Wammy's dan sama-sama bergabung di klub cheers, mereka jadi jauh lebih dekat meski belum pernah menginap bareng.

"Belum sih. Nanti secepatnya," kata Misa sambil merangkul Sayu.

"Ugh! Apaan tuh," Sayu cepat-cepat menghindar.

Wedy dan Linda tertawa lagi. Misa juga akan tertawa, namun ia membatalkannya tatkala melihat sosok Takada memasuki ruang latihan.

-xXx-

"Benar kan? Kalian juga lihat? Dia itu sudah seperti karakter anime yang keluar dari layar!"

"Wah, wah, aku sampai kehabisan kata untuk mendefinisikannya. Super cantik dan imut banget."

"Hahaha. Nggak heran kalau balkonnya jadi makin ramai sekarang. Lebih ramai dari sebelumnya."

"Cih, balkonnya jadi semakin ramai gara-gara anak klub baseball yang belakangan ini juga ngesok ikutan nongkrong di situ."

"Ah, klub baseball ya? Dengar-dengar, di antara mereka ada yang mengincar anak baru cheers juga."

"Sialan, pasti mengincar Misa!"

"Lucu sekali mereka ini. Menganggap kita sudah memonopoli cewek-cewek cheers hanya karena markas kita satu gedung dengan ruang latihan cheers. Padahal, siapa di sini yang gemar mancing duluan?"

"Nggak heran lagi. Dari dulu, hubungan kita nggak bisa dibilang baik dengan mereka."

"Tch, sejak kejadian setahun lalu itu kan?"

Light bergeming menutup bukunya. Telinganya sedikit terganggu dengan kasak-kusuk para teman basketnya yang tak jua berhenti dan malah semakin riuh. Jika ada yang menganggap para cowok tak suka bergosip, maka Light akan segera mengoreksinya bahwa itu kesalahan besar. Cowok-cowok juga gemar bergosip. Seperti yang dilakukan teman-teman basketnya barusan.

Sebenarnya, latihan basket sudah selesai sejak beberapa saat lalu. Namun hanya sedikit dari cowok-cowok ini yang memanfaatkan waktu mereka untuk ber-shower. Kebanyakan hanya beres-beres sebentar (sambil berkasak-kusuk dengan ributnya), lalu cepat-cepat berebut naik ke atas dan nongkrong di balkon depan ruang latihan cheers.

Light juga biasanya segera naik ke atas meski alasannya berbeda. Light nggak ingin terlambat menjemput Sayu dan membuat adiknya itu harus turun ke bawah mencarinya.

"Light? Nggak naik ke atas? Biasanya kau yang paling pertama," ujar Mello terheran. Ia baru sadar kalau kaptennya itu masih duduk di bangku panjang dengan buku di tangan—dan sekarang justru sedang memasang earphone.

Light menggeleng. "Nope, kalian saja," sahutnya. Ia sudah selesai memasang earphone dan kini membuka kembali bukunya.

"Wah, nggak jemput adikmu?" tanya Matt yang tiba-tiba tertarik dan nimbrung. Pasalnya, Light hampir nggak pernah terlewat untuk menomorsatukan adiknya.

"Aku menunggunya di sini," jawab Light singkat. Ia ingat pesan Sayu untuk nggak naik ke atas. Sayu telah meminta Light menunggu saja di bawah.

"Bagus dong."

Itu suara Kyosuke Higuchi. Center andalan di tim basket ini tiba-tiba ikut bersiul. "Tetaplah seperti itu, Light. Aku senang kalau kau menunggu adikmu di bawah."

Semua yang ada di situ secara spontan menyorakinya. Dari dulu, Higuchi memang selalu paling antusias soal klub cheerleaders. Dia pula orang yang paling rajin nongkrong di balkon depan ruang latihan cheers. Dan tentu sudah bukan rahasia lagi kalau Light adalah saingan berat bagi siapa pun dalam hal menarik perhatian cewek, termasuk cewek-cewek cheers.

"Baiklah kalau begitu. Aku harus cepat-cepat mumpung Light sedang rehat," Higuchi bersiul lagi.

Semua tertawa keras sementara Light hanya menarik sudut atas bibirnya. Gurauan mereka tak sepenuhnya bercanda. Fakta itu memang benar. 'Rehat' yang dimaksud Higuchi adalah bahwa Light sedang nggak ingin cari pacar. Dia belum tertarik pacaran lagi dan masih ingin sendiri.

Beberapa kali Light menjawab seperti itu setiap kali ditanya kenapa dia masih saja menjomblo setelah putus dari Takada sejak akhir tahun lalu. Padahal mantan pacar Light itu sudah beberapa kali jalan dengan cowok lain—di antaranya malah teman-teman basket Light. Apa jangan-jangan Light masih belum move on dari Takada?

"Nggak ada hubungannya," tegas Light saat dikonfirmasi. "Aku hanya sedang nggak ingin pacaran. Itu saja."

Jawaban Light tersebut jelas membuat Higuchi—dan juga teman-teman Light lainnya dengan misi yang sama—jadi super duper senang mendengarnya.

-xXx-

Light masih serius dengan bacaannya ketika sudut matanya menangkap bayangan orang-orang yang mulai menuruni tangga. Ia memeriksa G-shock-nya. Ternyata memang sudah waktunya klub cheerleaders selesai dengan kegiatan mereka. Light menutup buku lalu mengembalikannya ke dalam backpack Everlane-nya. Saat itu, ekor matanya kembali menangkap bayangan sosok tak asing yang juga menuruni tangga.

Light kenal sosok itu. Pandangannya segera beralih ke atas. Di sana, di deretan kursi balkon lantai dua, tampak sekumpulan pria-pria yang sedang terpukau. Light teringat kata-kata para rekannya di ruang klub tadi tentang siswi kelas satu anggota baru cheers yang super cantik dan membuat mereka rela nongkrong di balkon setiap hari. Sudah jelas jika mereka sedang membicarakan Misa, sosok yang saat ini sedang menuruni tangga.

Light sebenarnya tidak begitu setuju dengan gagasan semacam itu; menongkrong dan memperhatikan seorang cewek dari kejauhan. Bagaimana pun, Light paham bahwa tidak nyaman untuk jadi bahan tatapan dari sekumpulan orang. Tapi kali ini, ada hal lain yang membuat Light turut memperhatikan Misa. Bukan semata-mata karena Misa punya kekuatan magnet khusus yang membuat siapa pun sulit mengalihkan pandang darinya.

Light baru bertemu Misa dua kali hari ini, dan ekspresi yang dilihatnya selalu sama. Misa tidak tampak seperti biasanya. Dia berjalan sendiri dengan wajah yang tak terdefinisi—ekspresi serupa dengan yang dilihat Light tadi pagi saat Misa dihukum karena nggak mengerjakan tugasnya. Sama persis hingga Light terusik.

Ada apa dengan Misa? Apa dia sedang ada masalah? Kenapa pula dia tidak mengerjakan tugas sekolahnya? Light tentu tidak menutup mata bahwa tepat di malam sebelumnya ia sudah mengajak Misa keluar hingga larut malam—dan mungkin melewatkan jam belajarnya. Meski itu bukan urusan Light, tapi fakta ini cukup mengganggunya.

Misa telah sampai di anak tangga terakhir dan kini berjalan ke arahnya. Light berniat berdiri untuk menyapa. Namun sebelum Light betul-betul melakukannya, ia berhenti. Pandangannya beralih dan tertuju kembali pada bacaannya.

Misa melintas sementara Light tak menolehkan sedikit pun kepalanya.

.

.

.


Author's note:

Wedy muncul di manga chapter 40, sedangkan Linda di chapter 59.

Thank you very much untuk review dan kunjungannya! Semoga terhibur :)