x

Chapter 11:

— Conversation —

warning: it may not meet your expectations

.

.

.

"Di sini?" tanya Light pada Misa yang duduk di sebelahnya.

Misa mengangguk. "Boleh."

Light mematikan mesin mobil. Sejenak kemudian, keduanya turun dari Mustang merah Light yang diparkir di salah satu sudut area stadion, lalu berjalan bersisian menuju halaman utama.

Ini hari Minggu. Banyak orang yang datang ke stadion olahraga di pusat kota ini. Sebagian besar dari mereka datang untuk berolahraga, sementara sebagian lainnya sekadar untuk menikmati udara segar pukul enam pagi. Light dan Misa adalah bagian dari kedua-duanya.

Sebenarnya Light sudah menantikan saat-saat untuk bicara dengan Misa seperti ini sejak beberapa hari lalu. Namun setelah mencocokkan jadwal masing-masing di akhir pekan, ternyata mereka hanya bisa bertemu pagi ini. Light ada jadwal latihan basket siang nanti berhubung pertandingannya tinggal dua minggu lagi, sedangkan malamnya ia ada jadwal les belajar.

Misa tidak keberatan untuk bertemu pagi hari dan Light mengusulkan untuk sekalian lari pagi. Misa setuju. Jadi, di sinilah mereka, di depan stadion olahraga dengan sinar matahari yang masih mengintip malu-malu.

Light melepas jaket varsity-nya. Misa juga turut melepas sweaternya. Saat akan bersiap untuk pemanasan, keduanya baru tersadar tentang sesuatu dan saling melirik outfit satu sama lain.

Rupanya mereka sama-sama memakai running shirt dan celana olahraga dari Nike padahal tidak sedang janjian. Bahkan sepatunya pun juga sama-sama Nike. Mereka jadi seperti pasangan duta merek yang dikontrak Nike khusus untuk olahraga lari.

Light berdehem. "Sepatunya bagus," ujarnya memuji Nike Lunarepic milik Misa.

Misa balas menunjuk Nike air zoom Pegasus milik Light dan ikut memuji. "Yang itu juga bagus."

Keduanya saling melempar pandang. Detik berikutnya, mereka sama-sama tertawa.

-xXx-

"Well, Misa," kata Light membuka percakapan, "Apa menurutmu waktunya masih cukup untuk menyiapkan kejutan ulang tahun Sayu?"

Misa mengusap peluh di dahinya. Di depan Light, dia berusaha nggak menunjukkan kelelahannya meskipun rasanya sangat menyebalkan melihat Light seakan tidak berkurang sama sekali tenaganya. Light masih terlalu bugar meski sudah mengitari stadion raksasa ini sebanyak tiga putaran.

Sebenarnya Misa bukan cewek lemah, tapi Light jelas bukan lawannya. Misa sadar kalau sedari tadi Light sengaja menyamakan kecepatan lari dan ritme istirahatnya dengan Misa. Setiap kali napas Misa mulai terdengar berat, Light selalu berhenti dan mengajaknya istirahat seperti ini.

"Mmm, ulang tahun Sayu masih hari Rabu kan?" tanya Misa seraya meluruskan kakinya.

Light mengangguk. Ia duduk di sebelah Misa dan mengulurkan botol minum berisi air mineral padanya. "Tiga hari lagi," ujarnya seraya menyibakkan ujung rambut cokelatnya yang sedikit basah.

Misa menerima botol minum tersebut dan berterima kasih. Saking hausnya, Misa meneguk isinya hingga tersisa seperempat. Ketika Misa menutup botol, ia baru tersadar kalau Light sedari tadi memandanginya—atau mungkin memandangi botolnya.

"Ah, kamu juga mau minum?" tanya Misa, mendadak merasa bersalah.

Light hanya tersenyum. Tahu-tahu ia bangkit dan mengulurkan tangan. "Sebaiknya kita sarapan dulu."

Ugh, seketika Misa jadi malu dan tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Light sepertinya kelewat peka kalau Misa bukan hanya kehausan, tapi juga lapar dan kecapekan. Sedari tadi, kakak temannya ini selalu bersikap begitu. Mengajak istirahat duluan, dan kini mengajak makan duluan. Ini menyebalkan bagi Misa, tapi sejujurnya dia juga senang.

"Mau makan apa?" tanya Light ketika mereka menyeberang ke area food court di sebelah stadion dan melewati berbagai macam stan makanan. Kebanyakan orang yang selesai berolahraga juga mampir kemari untuk makan atau mengobrol.

Saat mereka melewati stand donat dan cake, Misa secara refleks berhenti. Pandangannya terfokus pada aneka donat di balik kaca. Misa selalu lemah dengan kue manis yang cantik-cantik.

"You want them?" tanya Light yang tahu-tahu sudah ada di sebelahnya. Misa tersadar dan cepat-cepat menggeleng. "Nope."

"Benar?" Light memastikan. "Kelihatannya kamu ingin sekali makan itu."

Misa tak menjawab. Ia cepat-cepat melangkahkan kaki dan pergi dari sana.

"Ada sesuatu?" tanya Light heran yang menyusulnya.

"Umm, bukan apa-apa," jawab Misa manis seraya menggelengkan kepala. "Kamu juga nggak akan makan makanan dengan kadar gula tinggi kan?" tanyanya pada Light.

Light sudah akan menyahut namun Misa mendahuluinya, "Aku sedang diet. Beratku harus turun setidaknya 3 pon minggu ini."

Light tak berkomentar lagi. Dia tahu kalau cewek biasanya sensitif soal berat badan dan sangat tidak suka dikomentari apa pun atau dicampuri urusannya tentang hal itu.

Misa juga tak bicara lagi. Dia ingat jelas berapa berat badannya, dan apa hubungannya dengan urutan peringkat cheers-nya. Misa tentu tidak bisa bertambah tinggi 4 senti hanya dalam seminggu. Yang bisa ia lakukan adalah menurunkan berat badannya sebanyak 1 atau 2 kilo sebelum hari pengukuran minggu depan. Jadi, dia harus diet dan menghindari gula kalau tidak mau olahraga paginya ini sia-sia.

Ketika mereka melewati stan snack vegetarian, ganti Light yang berhenti. Misa mengerutkan kening membaca tulisan "less calorie high protein" yang tercetak besar-besar di slogannya.

Light membeli dua cup snack sehat. Usai membayar pesanan, Light memberikan satu cup pada Misa. "Try this."

"What is it?" tanya Misa ingin tahu.

Light tak menjawab. Ia menyendok kecil snack-nya dan memakannya. "Hmm nice," sahutnya.

"Is it?"

Light mengangguk, terlihat menikmati.

Misa terprovokasi. Ia mencoba mencicipi snack-nya dengan sendokan kecil. Campuran oat, almond, quinoa, dan biji labu di dalam satu cup mini.

"Gimana?" tanya Light.

Misa mengernyit. Rasa hambar seperti ini sama sekali bukan favoritnya. Dia tak bisa berkata-kata.

"Enak, 'kan?"

Misa tak menjawab. Ia hanya memandangi Light yang masih terus memakan snack-nya. Misa beralih menatap snack-nya sendiri. Sayang juga jika tak dihabiskan. Padahal Light sudah sengaja membelikannya.

Misa bermaksud meniru Light menghabiskan makanannya. Ia kembali menyendok snack-nya, lalu memasukkannya ke mulut dan mengunyahnya pelan sembari memandang ke arah Light. Entah bagaimana, rasa hambarnya perlahan-lahan hilang.

-xXx-

Usai menghabiskan snack—dengan rasanya yang sulit dideskripsikan bagi Misa—mereka berdua memesan sarapan. Light masih ingin makan (tentu saja, satu cup snack ukuran mini tidak cukup baginya).

Kata Light, sehabis berolahraga, mereka perlu asupan protein untuk memberi makan otot yang telah bekerja keras. Misa menurut dan ikut memesan setengah porsi dari menu yang sama dengan Light; dada ayam rebus dan brokoli.

Beruntung, masih ada meja kosong di pinggir kolam. Mereka bisa menyantap makan pagi dan memulai topik penting mereka di sana.

"Biasanya, bagaimana Sayu merayakan ulang tahunnya?" tanya Misa sambil mengiris potongan dada ayam dengan pisau dan garpunya.

Light menghabiskan makanan di mulutnya terlebih dahulu baru menjawab, "Orang tua kami selalu mengajak dinner di luar. Tapi di malam sebelumnya, aku biasa membawa Sayu jalan-jalan semalaman—kami makan, nonton film, main, atau apa pun—sebelum aku memberinya kado saat hari berganti."

Misa mengangguk mengerti. Ia dapat membayangkannya. Sebenarnya, Light termasuk kategori kakak yang cukup niat untuk merayakan ulang tahun adiknya.

"Baiklah, kalau begitu tetap seperti itu saja," putus Misa.

Light mengernyit. "Lalu di mana sisi kejutannya?"

Misa tersenyum. Ia mengunyah brokolinya perlahan. "Justru itu bagian pentingnya. Biasanya kalian cuma merayakannya berdua, dan kamu juga nggak pernah sekalipun mengerjainya. Benar kan? Gimana kalau kali ini kita kerjai Sayu sedikit?"

Sorot mata Light berubah. "Tolong jangan aneh-aneh. Sayu itu penakut dan cepat panik. Aku nggak ingin dia kenapa-kenapa."

Misa tertawa geli. "Nggak kok, nggak bakalan kenapa-kenapa. Aku janji. Lagi pula, ini pertama kalinya Sayu akan merayakan ulang tahunnya dengan kakaknya dan juga teman-temannya."

Teman-temannya?

Misa mengangguk kuat-kuat. "Memang nggak banyak. Tapi kurasa tiga orang teman sudah cukup seru untuk mengejutkan Sayu."

"Tiga orang itu siapa saja? Kamu?"

"Aku, Linda, dan Wedy. Mereka juga anggota cheerleaders seperti Sayu. Sebenarnya aku ingin mengajak lebih banyak orang, tapi aku kurang mengenal teman-teman Sayu lainnya karena kami hanya sekelas di subjek Bahasa Inggris. Untuk saat ini, hanya Linda dan Wedy saja teman Sayu yang bisa kupercaya."

"Mereka sungguhan dapat dipercaya?" tanya Light penuh selidik. Sebenarnya ia punya sesuatu yang ingin dibahas, tapi Light ragu apakah ini saat yang tepat untuk membahasnya.

Misa tersenyum manis. "Aku yang akan menjaminnya."

Light masih menatap Misa beberapa saat sebelum akhirnya memutuskan untuk percaya padanya. Kemarin, Sayu hanya menyebutkan tentang sikap aneh para seniornya, bukan teman-teman yang satu angkatan dengannya.

"Baiklah," ujar Light setuju.

Senyum Misa melebar. "Nah, sekarang kita akan membicarakan skenarionya."

Light mencondongkan tubuhnya tertarik.

-xXx-

Pada akhirnya, mereka sudah dalam perjalanan pulang sementara Light masih menyimpan sesuatu yang belum diutarakan. Ini masih seputar soal Sayu. Terus terang, Light baru tahu dari mulut Sayu sendiri kalau adiknya itu sering mendapat perlakuan baik dari banyak orang. Mungkin memang kedengarannya bagus. Akan tetapi saat Sayu satu sekolah dengan Light di SD ataupun SMP dulu, perhatian orang-orang pada adiknya tidak sebegininya.

Sebetulnya Light juga tidak masalah jika orang-orang ingin mendekati adiknya. Namun yang memuakkan adalah sikap mereka itu sangat mencolok. Bahkan Sayu sendiri sampai menyadari jika mereka tidak berbaik hati padanya dengan niat tulus.

Light menginjak rem perlahan saat mobilnya terpaksa harus berhenti di lampu merah. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi kemudi dan menunggu dengan sabar sembari mengamati situasi lalu lintas di sekitarnya. Saat menoleh ke samping, didapatinya sosok yang sedari tadi tak bersuara tersebut hanya diam memandang keluar jendela. Helaan napasnya terdengar samar berkali-kali.

Baiklah. Rupanya tak hanya Light saja yang sibuk tenggelam dalam pikirannya. Misa juga demikian. Seingat Light, Misa sudah tak banyak bicara sejak mereka mengakhiri obrolan soal kejutan ulang tahun Sayu di food court tadi.

Lampu hijau menyala. Light kembali menjalankan mobilnya. Ia melirik Misa sekali lagi dan berdehem. "Misa, mungkin ini agak tidak sopan, tapi apa akhir-akhir ini ada yang mengganggu pikiranmu?"

Misa terkejut. Ia menoleh pada Light dengan alis terangkat. Belum juga sempat berkilah, Light sudah mendahuluinya. "Terlihat jelas di wajahmu."

Misa menelan ludah. Satu hal yang semakin diyakininya bahwa Light kelewat peka. "Bukan apa-apa kok," senyumnya manis.

Senyap sebentar.

Misa tahu-tahu berkata lagi. "Omong-omong, kenapa saat itu kamu ada di kelasku?" ia terkaget sendiri saat menyadari bahwa dirinya sudah dengan tiba-tiba menanyakan hal di luar topik. Ekor matanya melirik ke arah Light.

Tampaknya Light tidak mempermasalahkannya. Kakak temannya itu tetap merespons dengan baik seperti biasa. "Hm? Yang waktu itu? Mr. William memintaku untuk masuk ke kelasmu di sepuluh menit terakhir."

Oh, Misa mengerti. Ia pernah mendengar bahwa hal semacam ini lazim dilakukan oleh siswa-siswa berpredikat khusus untuk memotivasi para junior mereka dari angkatan bawah. "Tapi kenapa hari itu harus masuk di kelasku? Bukan kelas yang lain atau kelas siapa pun?" gumamnya.

Light ganti menatap Misa sejenak. Tiba-tiba ia mengubah tatapan dan nada bicaranya menjadi lebih simpatik. "Apa masalahnya, Misa?"

Sekali lagi Misa harus menyadari bahwa Light memang kelewat peka. Dia menggigit bibir. "Umm... sungguh bukan apa-apa kok. Hanya saja... akhir-akhir ini aku merasa selalu membuat masalah yang memalukan," desisnya. Ia mengabsen satu per satu kenangan buruknya, "Lupa mengubah setting senyap di ponsel, juga lupa mengerjakan PR..."

"Kurasa kamu nggak perlu merisaukannya."

Misa memiringkan kepalanya. "Maaf?"

"Maksudku, siapa pun bisa saja tidak mengerjakan PR dan lupa mengubah setting ponsel. Itu manusiawi."

"Benarkah? Apa kamu juga pernah melakukan hal-hal semacam itu?"

Light diam sebentar. "Memang nggak, tapi—"

"Tuh kan. Hanya aku yang memalukan di sini," sahut Misa. "Bisa-bisanya aku lupa PR-ku."

"Apa itu gara-gara malam sebelumnya aku mengajakmu keluar hingga larut? Jika benar, aku sungguh-sungguh minta maaf."

"Oh, nggak, tentu saja nggak," sahut Misa buru-buru. "Tentu saja itu semua karena keteledoranku sendiri."

Light tersenyum menghibur. "Kalau begitu syukurlah. Setidaknya kamu hanya lupa mengerjakan, bukannya kesulitan dengan PR-mu. Sebenarnya kamu bisa saja mengerjakannya kan?"

Sesaat, Misa hanya bisa terpaku. Ia tidak tahu harus berkata jujur atau mengiyakan kata-kata Light. Dicobanya mengalihkan pandang ke luar jendela. Saat itulah ia baru tersadar dan menegakkan punggung. "Ini di mana?" tanyanya heran. Tepian sungai yang teduh seperti ini bukan jalan menuju apartemennya.

Light tidak menjawab. Ia justru memutar setir mobilnya ke kiri dan berhenti. Misa menoleh cepat ke arah Light dengan tatapan tanya yang sangat jelas.

Light balas menatapnya, lalu tersenyum simpatik dan bertanya dengan nada khas seorang kakak.

"Jadi, mau cerita sesuatu?"

-xXx-

Ini aneh.

Betul-betul aneh.

Misa tidak pernah menceritakannya pada siapa pun, tidak pula pada Sayu. Ia selalu melarang dirinya untuk menunjukkan sisi lemahnya pada siapa pun. Tapi sekarang, ia justru bercerita tentang masalahnya dengan lancar di depan Light Yagami. Aneh.

Ia bicara tentang kesukaannya pada cheers, tentang keinginan kuatnya untuk bergabung dengan tim pemandu sorak agar bisa menyemangati setiap tim olahraga sekolahnya yang tampil, tentang kekecewaannya pada dirinya sendiri yang ternyata tidak bisa memenuhi kriteria tinggi dan berat badan hingga harus tersingkir ke nomor cadangan terakhir, pun tentang keputusan kapten cheers yang sangat berat diterimanya. Ia bercerita tentang semuanya.

Misa bahkan tidak tahu sejak kapan matanya jadi panas.

"Aku harus diet ketat. Aku harus lebih kurus lagi kalau benar-benar ingin bisa tampil di cheers," Misa memalingkan wajah ke luar jendela mobil lalu menutupinya dengan punggung tangan. Ia tahu kalau kata-katanya dan semua yang dilakukannya ini sudah sangat memalukan. Bisa-bisanya dia jadi cengeng hanya karena hal-hal yang mungkin dianggap sepele bagi kebanyakan orang. Tapi cheers benar-benar seberharga itu bagi Misa.

Misa sungguh berterima kasih karena sedari tadi Light hanya mendengarkannya dengan serius. Light tidak mengucapkan kata-kata hiburan seperti: "Kamu sudah kurus dan nggak perlu diet lagi" atau "Peduli apa tentang berat badan, yang penting adalah kesehatan" karena kalimat semacam itu bukanlah yang ingin didengar Misa saat ini.

Light memang tidak berkomentar apa pun. Dia mengerti kalau bukan kapasitasnya untuk menilai keputusan tim cheers. Dirinya tidak berkecimpung di dunia itu. Namun yang ia tahu sepanjang mendengarkan cerita Misa adalah bahwa teman adiknya ini persis seperti Sayu.

Light paham betul seberapa besar kesukaan adiknya pada cheers. Dan ternyata, kesukaan Misa terhadap cheers masih lebih besar lagi. Bisa dibilang, cheers adalah alasan utama Misa datang ke sekolah setiap hari. Misa sangat ingin ikut tampil dalam setiap event atau pertandingan. Persis seperti Sayu. Dulu saat masih SMP, Sayu pernah menangis karena tidak ikut tampil cheers di saat Light sedang bertanding. Light sampai harus membujuk adiknya berhari-hari. Mengingat kejadian itu membuat Light tanpa sadar jadi tersenyum sendiri.

"Kenapa senyum-senyum? Apa ada yang lucu?"

Light tersadar. Ia menoleh pada Misa yang sedang meliriknya dengan wajah sembab dan cemberut.

Nah, tipikal ngambek keduanya pun mirip.

Light segera menggeleng, lalu mengubah senyumnya dengan senyum simpatik. "Ini hanya... sedikit nggak biasa."

"Nggak biasa gimana maksudmu?"

"Misa," ujar Light memulai kalimatnya. "Biasanya, para tim cheerleaders-lah yang selalu menyemangati kami di setiap pertandingan. Bersorak paling kencang saat kami menang, dan menghibur bila tim kami belum beruntung."

"Uh... ya," Misa mengusap sudut matanya dengan ujung jari. "Aku paham tugasku. Sebagai anggota cheers, aku nggak seharusnya bersedih."

"Siapa yang bilang begitu?" ujar Light lagi. Diraihnya bahu Misa. Light tahu apa yang pertama kali Sayu butuhkan saat sedang sedih seperti ini. "Gimana kalau kali ini ganti aku yang mencoba menghiburmu?"

.

.

.


Author's note:

Selamat ulang tahun untuk Misa di tanggal 25 Desember kemarin (insert heart and love emoticon here)

Anyway, thank you for the feedback! Mohon maaf untuk kekurangannya