x

Chapter 12:

— Expectation —

genre: slice of life

i write it only for my personal amusement.
this chapter contains long conversation.

.

.

.

Misa menyandarkan kepalanya pada punggung sofa. Kedua tangannya tak henti menepuk-nepuk pipinya yang panas. Diliriknya keranjang mungil berhiaskan pita merah muda di atas meja. Butiran-butiran stroberi merah dan ceri segar tampak tersusun cantik di dalamnya.

"Untuk Nona Cheers yang sedang bersedih," kata Light ketika mengantar Misa pulang ke apartemennya. "Kandungan vitaminnya bagus untuk meningkatkan mood," tambah Light saat memberikan buah-buahan cantik itu pada Misa—plus bonus senyum karismatik—dan tentu saja membuat pipi Misa merah seperti ceri dan stroberi yang diterimanya.

Misa mendesah pelan setiap kali teringat kata-kata Light tadi. Ia tidak mengerti, apakah Light sedang dalam kesadaran penuh saat melakukan ini padanya? Tentu saja Misa bukan cewek yang tidak punya hati atau perasaan. Sadarkah Light jika perlakuannnya bisa membuat Misa berharap?

Uh, stop.

Tak perlu menceramahi Misa panjang lebar. Misa paham kalau Light berbuat baik begini karena Misa berteman dekat dengan Sayu. Sejak pertemuan pertama, Misa tahu kalau Light adalah tipe kakak yang akan melakukan apa pun untuk adiknya, termasuk berbuat baik pada Misa selaku sahabat Sayu.

Misa mengerti soal itu.

Tapi apa sikap baik Light nggak kelewatan? Apa Light nggak berpikir kalau cewek mana pun bisa luluh dengan mudah jika diperlakukan seperti ini? Tidak mungkin cowok sepeka dan secerdas Light tidak menyadari hal ini. Lantas kenapa Light tidak juga berhenti? Mengajaknya menonton film, meminta bertemu, olahraga bersama, makan bersama, mendengarkan curhatan dan sambatannya, memberinya pelukan, juga menghadiahinya sekotak ceri dan stroberi cantik. Apa-apan itu semua? She never asks him to do that!

Jika sudah begini, tidak adil kan bila hanya Misa yang tidak boleh berharap?

—xXx—

Beberapa jam sebelumnya.

Wajah Misa bersemu merah. Antara sembab sehabis menangis, atau karena hal yang dilakukan pria di sebelahnya barusan.

C'mon, Misa sudah pernah melihat tubuh topless Light, tapi itu di malam hari dengan pencahayaan lampu seadanya. Sedangkan kali ini, Light tepat di sebelahnya dengan pakaian olahraga yang melekat ketat di tubuh proporsionalnya, bahkan beberapa detik yang lalu tubuh atletis itu memeluknya. Pipi Misa panas jika membayangkan apa yang pernah dilihatnya di balik fabrik tersebut.

"Feel better?"

Misa masih menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Ia mengumpulkan keberanian untuk menurunkan tangannya dan menunjukkan wajahnya pada Light.

"Kelihatannya sudah membaik," komentar Light saat melihat mata, hidung, dan pipi Misa yang masih merah, namun bibirnya sudah bisa tersenyum.

Well, sejujurnya Misa ingin sembunyi jika mengingat hal-hal memalukan yang sudah dilakukannya sedari tadi. Namun dicobanya bersikap sedikit lebih rileks.

"Terima kasih, Senior Yagami. Juniormu ini sungguh berutang budi padamu."

Light tertawa kecil. "Seingatku, kamu memanggilku dengan nama depan."

Wajah Misa makin merah. Dia tahu kalau Light menyinggung kejadian beberapa waktu lalu di arena streetball saat mereka berpura-pura pacaran dan Misa memanggil nama depan seniornya.

"Uhh maaf, waktu itu ... aku hanya menyesuaikan skenariomu." Skenario berpura-pura jadi pacarmu.

Light memamerkan senyum sejuta dolar miliknya. "Nggak masalah. Tetap seperti itu saja," ujarnya.

Light kemudian bangkit dan keluar dari mobilnya. Ia memutari mobil ke sisi sebelah kiri, lalu membukakan pintu mobil di samping Misa, dan tersenyum sambil mengulurkan tangan.

"Mau jalan-jalan sebentar?"

Misa mengerjap sesaat, namun ia menerima uluran tangan tersebut. Light menarik Misa keluar. Sejenak kemudian, mereka telah berjalan bersisian dengan langkah-langkah kecil menyusuri tepian sungai Meguro yang tenang dan sejuk, sementara Misa masih terpekur memikirkan kata-kata Light di mobil tadi.

Nggak masalah. Tetap seperti itu saja.

Tetap seperti itu bagaimana? Apa maksudnya tetap memanggil Light dengan nama depan? Tentu saja, Misa masih cukup waras untuk nggak memanggil seniornya itu dengan nama depannya di hadapan publik. Misa tidak seperti Light yang memanggil nama depan Misa dengan santainya sejak perkenalan pertama mereka.

"Dari sini, pemandangannya terlihat bagus."

Uh, oh? Misa baru tersadar kalau Light membawanya ke bangku kayu yang dekat sekali dengan tepi sungai. Angin musim semi bertiup lembut, menggoyangkan dedaunan dan tangkai-tangkai bunga di pinggiran. Goyangannya senada dengan aliran air sungai yang memberi kesan tenang dan menenangkan.

Misa mengangguk setuju. "Ya, bagus. Aku baru tahu ada tempat seperti ini di kota kita."

"Tanyakan padaku, ada banyak daftar tempat bagus yang bisa kamu kunjungi di kota ini."

"Termasuk arena streetball?"

"Sst, itu rahasia."

Misa tersenyum tertahan. Senang dengan fakta bahwa Light berbagi rahasia kecil dengannya. Ia kemudian mendudukkan dirinya di sebelah Light. "Ajak aku ke sana lagi, aku ingin jadi pemandu sorak permainanmu."

Light tersenyum. Ia tidak menjawab kata-kata Misa dan justru menanyakan hal lain. "Ngomong-ngomong soal pemandu sorak, bagaimana dengan teman-teman di klub cheers? Apa kalian berteman baik?"

Misa mengangguk. "Semuanya menyenangkan. Sekarang ini aku dan Sayu sedang akrab dengan Linda dan Wedy." Misa menoleh pada Light. "Mereka yang kuceritakan tadi saat kita membahas kejutan ulang tahun Sayu, kalau kamu ingat."

Light mengangguk mengerti. Ia sungguh lega, adiknya berteman dengan sosok sesupel Misa. Sepertinya, Misa memang tidak punya masalah dalam hal pergaulan. (Menurut Misa, masalah Misa di cheers terletak pada tinggi dan berat badannya).

"Lalu bagaimana dengan seniornya?" Light bertanya lagi, dan membuat Misa terdiam sesaat. "Kuharap, mereka juga baik-baik saja pada para juniornya," sambung Light.

Misa memasang senyum meski hatinya sedikit cemberut. Senior mereka di cheers? Apa maksudnya, Light sedang membahas mantan pacarnya yang notabene kapten tim cheers?

"Secara umum, mereka baik pada kami. Oh ya, khususnya Sayu, mereka semua peduli pada Sayu. Beberapa kali mereka juga rajin menghadiahkan kotak makan atau minuman padanya. Jadi jangan khawatir, adikmu baik-baik saja." Misa tersenyum seraya menepuk punggung tangan Light.

"Well, sejujurnya itu justru membuatku khawatir."

Huh? Senyuman Misa memudar. Ia menatap Light tak paham.

"Aku tidak tahu harus senang atau gusar. Mereka bersikap baik pada Sayu dengan maksud tertentu."

Misa mencerna kata-kata Light, lalu memahaminya dengan cepat. Entah bagaimana, tapi sepertinya Light tahu soal perlakuan baik yang diterima Sayu dari para seniornya. Mungkin Sayu sendiri yang bercerita atau Light mengetahuinya dari sumber lain. Tapi yang pasti, Light curiga. Makanya Light bertanya bagaimana sikap para senior cheers pada juniornya karena ingin mengonfirmasi apakah mereka betul-betul baik dari sananya, atau hanya mengistimewakan Sayu. Kalau mereka hanya mengistimewakan Sayu, maka motifnya bisa ditebak. Dan ini membuat Misa turut terbebani. Bagaimana pandangan Light pada dirinya? Apa Light juga menganggap Misa baik pada Sayu dengan maksud tertentu?

"Aku ... nggak berpikir begitu. Kita memang tidak pernah bisa mengetahui isi hati orang lain. Tapi kurasa, tidak semuanya seperti itu. Sayu anak yang manis. Dia pantas diperlakukan dengan baik."

Light memandangi Misa dengan tatapan serius. "Misa, kamu sudah berteman lama dengan Sayu, benar? Bolehkah aku mendengarkan, bagaimana adikku itu di matamu?"

Ada saat-saat ketika Misa merasa seakan terhempas setiap kali dirinya diingatkan bahwa sikap baik Light padanya adalah semata-mata karena Misa teman baik Sayu, tapi Misa juga tidak bisa memungkiri bahwa kepedulian Light pada adiknya ini adalah salah satu pesona Light yang telah memukaunya.

"Tentu." Misa menjawab manis.

Misa mulai bercerita, ia dan Sayu bertemu pertama kali di tempat kursus dance saat masih sama-sama murid baru SMP. Secara kebetulan, nomor urut mereka bersebelahan dan sering berpasangan saat latihan.

Sayu adalah tipe pribadi yang sangat privat. Awal-awal pertemanan mereka, Misa selalu memulai inisiatif terlebih dahulu. Dari mengajak berkenalan, mengajak ngobrol, juga mengajak makan bersama. Selama itu, Sayu lebih sering diam. Katanya, dia lebih suka mendengarkan. Akan sangat sulit memancing Sayu bercerita. Misa akan merasa luar biasa jika Sayu mau duluan bicara.

Kini, setelah nyaris tiga tahun berlalu, Sayu sudah berubah dan menjadi lebih terbuka. Di awal perkenalan dengan teman-teman barunya di cheers saja, Sayu sudah bisa langsung bercerita tanpa beban tentang PR-nya pada Wedy dan Linda. Sayu bahkan berkata kalau dia tertarik untuk mendaftar les bersama mereka.

Mungkin ini hanyalah masalah kecil untuk ukuran orang lain, tapi bagi Misa, ini sangat signifikan untuk seseorang seperti Sayu.

Pun semenjak mereka secara tidak sengaja masuk SMA yang sama, Sayu jadi lebih aktif bercerita dan rajin menelepon Misa duluan atau mengirim chat duluan. Sayu bercerita banyak dan bicara banyak di sana. Meski tetap saja, Sayu lebih suka menceritakan tentang orang lain ketimbang dirinya sendiri. Kalaupun Sayu cerita tentang dirinya, yang dibicarakan hanyalah tentang permukaan atau hal-hal kecil, tidak pernah sampai betul-betul menyentuh ke dalam.

Misa mengerti bahwa dalam suatu pertemanan sangatlah wajar jika ada hal-hal yang diceritakan dan ada hal-hal yang disimpan. Misa pun juga begitu. Tapi seandainya Light tidak membahas tentang ulang tahun Sayu, Misa tentu akan sangat sedih kalau sampai melewatkan ulang tahun temannya itu padahal mereka sudah jauh lebih dekat sekarang. Karena itu, Misa berterima kasih Light sudah memberitahunya, bahkan mengajaknya turut serta menyiapkan kejutan ulang tahun untuk Sayu.

Misa mengakhiri ceritanya dengan senyum.

Light turut tersenyum mendengarnya. Cerita Misa membuatnya ingin mendengar lebih banyak lagi.

"Aku sungguh bersyukur, Sayu memiliki sahabat sepertimu, Misa. Kamu membawa pengaruh baik untuknya. Aku berharap, ke depannya kalian terus berteman baik," tutur Light, namun buru-buru ia menambahkan. "Ah, tentu saja, ini hanya sekedar harapan yang spontan kuucapkan. Jangan sampai membuatmu merasa terbebani. Berteman tidak seharusnya menjadi beban, bukan?"

Misa mengangguk. Kata-kata Light yang penuh pengertian membuat sudut hati Misa seperti disiram air sejuk. Rasanya senang dan lega sekali. Seolah-olah tubuhnya menjadi lebih ringan dan keruwetan di kepalanya berkurang. Semuanya hanya dengan bicara panjang lebar seperti ini pada Light Yagami.

Namun kemudian, Misa teringat sesuatu dan spontan bangkit berdiri. "Ah! Kita harus segera kembali!"

Light turut bangkit dan mengikuti langkah-langkah Misa menuju mobil mereka yang terparkir di sisi jalan. "Ada apa?" tanyanya.

"Bukankah katamu, kamu ada jadwal latihan basket siang ini?"

"Hm? Ini belum siang."

"Tapi seharusnya kita sudah pulang sejak tadi kalau saja aku tidak mendadak cengeng di jalan."

Light tertawa kecil. "Percayalah, itu bukan masalah," lanjutnya dengan nada yang menenangkan, "Aku senang bisa menghiburmu dan mendengarkan ceritamu. Aku berterima kasih, kamu tidak menolak atau mengusirku."

Kata-kata Light membuat Misa tak bisa tidak tersenyum. "Bukankah aku yang seharusnya bilang begitu? Aku berterima kasih, kamu tidak mengusirku keluar dari mobilmu."

"Tentu tidak. Selama ini kamu selalu membantuku soal Sayu. Aku berharap aku juga bisa membantumu."

Misa tertawa. "Apa ini? Jadi kita sedang saling tolong-menolong? Apa dengan begitu, sekarang kita impas?" candanya.

Light tersenyum. "Tidak akan impas kurasa. Ini pertama kalinya aku bisa bicara sejauh ini tentang adikku pada orang lain selain orang tuaku." Light menghentikan langkahnya tiba-tiba. Ia menoleh pada Misa dan menatap matanya. Sama sekali tak tampak ekspresi bercanda di sana.

"Tidak hanya Sayu. Kurasa, aku juga beruntung bisa mengenalmu."

.

.

.


Author's note:

Aku baru menyadari kalau cerita ini lebih tepat dikatakan ber-genre slice of life. Maaf untuk kekurangannya. Terima kasih kunjungannya!