x

Chapter 13:

D-1

full of Light and Sayu moments
bear with it
xxx

.

.

.

Selasa sore, pukul 4.40 pm.

Sayu Yagami menyudahi adegan ber-shower lebih kilat dari biasa. Ia beruntung karena latihan cheers hari ini selesai lebih awal, jadi ia bisa pulang lebih cepat.

Usai berberes, Sayu berpamitan pada rekan-rekannya yang masih sibuk bergerombol. Mereka balas melambaikan tangan, namun Sayu tak menemukan sosok Misa di sana.

Begitu keluar dari ruang cheers, Sayu sedikit kaget saat menemukan Light yang sudah menunggunya. Kakaknya itu tengah bersandar pada tepian balkon lantai 2 sembari memegang ponselnya. Bukankah kakaknya sudah berjanji nggak akan naik kemari lagi?

"Aku sudah selesai," kata Sayu menghampiri Light.

Light mengangkat wajahnya dari ponsel. Ia segera menyimpan ponselnya ke dalam saku dan merangkul bahu adiknya. "Ok, let's go home."

"Omong-omong, kenapa Kakak naik lagi kemari?" tanya Sayu ingin tahu. Namun sebelum ia mendengar jawaban, suara lain keburu menginterupsi. "Sayu? Pulang sekarang?"

Sayu menoleh. Wajahnya terpercik raut bersalah. "Um... maaf aku pulang lebih dulu, Misa. Tadi aku mencarimu untuk berpamitan, tapi tidak menemukanmu."

Misa tersenyum cantik. "Tak apa, aku juga minta maaf karena sedang ada urusan dengan senior. Baiklah, sampai ketemu lagi."

Sayu balas tersenyum dan melambaikan tangan. Ia kembali melangkah, mengikuti tarikan tangan Light di bahu kirinya. Mereka sudah mengatur rencana untuk ulang tahun Sayu malam nanti. Sayu tak pernah cerita pada siapa pun tentang ulang tahunnya. Termasuk Misa. Sedari dulu, Sayu selalu merahasiakannya dan menyimpan untuk dirinya sendiri. Namun Sayu tak menyadari jika Light masih sempat menoleh sekali lagi ke belakang dan mengirim kode samar pada Misa dengan isyarat matanya.

Sesuai rencana.

-xXx-

Pukul 5.15 pm.

Sayu sudah selesai berkemas. Ia bercermin sekali lagi, memastikan Myrtle Tee putih yang dikenakannya sudah pas dengan Patchwork Jeans andalannya. Setelah menguncir rambut sebahunya menjadi ekor kuda, Sayu turun ke bawah. Ia bertemu Ibu yang sedang menyiapkan teh.

Ibu bertanya, "Berangkat sekarang?"

Sayu tersenyum dan mengangguk.

"Have fun, Sayang." Ibu mencium pipi kiri dan kanannya. "Hati-hati di keramaian dan jangan terpisah dari kakakmu," pesannya.

Sekali lagi Sayu mengangguk. Ia dan kakaknya akan menghabiskan malam di luar. Ini pertama kalinya Sayu boleh tidur di luar selain di malam hari libur. Tentu saja situasi ini tak akan terjadi dalam kondisi normal, tapi semuanya menjadi mudah jika Light yang memintakan izin. Ibu selalu percaya penuh pada putra sulungnya. Apalagi Ayah. Sayu sering diuntungkan soal itu.

Sayu melintas ke ruang tengah. Ia menemukan Light yang sudah mengganti seragam sekolahnya dengan sweatshirt Kenzo dan tengah duduk bermain ponsel. Light menyadari kehadirannya. Kakaknya itu mengangkat wajah dari ponsel dengan alis naik sebelah.

"Oh, sudah siap? Mana seragammu?"

Sayu memamerkan bawaannya. Light sudah berpesan sebelumnya agar membawa perlengkapan sekolah untuk besok supaya mereka nggak perlu balik lagi ke rumah pagi-pagi mengambil seragam.

"Good then," kata Light seraya bangkit berdiri dan meraih jaketnya. "C'mon," ujarnya sambil tersenyum.

Mereka masuk ke dalam mobil Light dan siap pergi untuk bersenang-senang. Di tengah deru Mustang yang membelah jalanan, Sayu tersenyum riang. Ia membuka ponselnya dan membaca kembali daftar hal-hal yang akan mereka lakukan malam ini.

Pertama: main sepuasnya di Game Arena.

-xXx-

Pukul 5.40 pm.

Kalau ini adalah game online, Sayu tidak akan memilih jenis FPS (First Person Shooters). Sayu lebih suka game RPG seperti di serial-serial Final Fantasy. Tentu saja karena di sana ada Squall dan Noct, karakter kesukaan Sayu. Selain seri Final Fantasy, Sayu juga cukup menggemari Persona 5, The Legend of Zelda, Fallout: New Vegas, dan game-game RPG lainnya.

Tetapi coba lihat sekarang. Sayu justru sedang menggenggam senapan Air Rifle Match dan fokus membidik sasaran di seberang. Tak jauh di sebelah Sayu, Light juga sedang dalam pose yang sama dengan pistol handgun di tangannya.

Yap, game pertama mereka ini bukan main-main. This is the real shooting game!

Sebenarnya Sayu sudah lama penasaran dengan olahraga menembak. Ia ingin mencoba menggenggam senapan secara langsung. Uh, tapi ternyata sulit. Nggak semudah di game online. Sayu sudah menghabiskan belasan peluru, tetapi skor terbaiknya hanya mencapai poin 8. Ketika dia mengganti senapan rifle-nya dengan pistol handgun, hasilnya jadi jauh lebih buruk lagi.

Sayu melirik Light yang sudah lebih dulu selesai dan kini bermain dengan ponselnya.

Uh, padahal ini sama-sama pengalaman pertama mereka, tetapi Light berhasil menembakkan 20 peluru dengan skor nyaris sempurna. Hanya 2 peluru saja yang ber-skor 9, sisanya perfect. Benar-benar mengagumkan! Tapi Sayu tidak terlalu terkejut. Sejak awal, Light punya bakat fisik layaknya atlet. Jangan lupakan bahwa kakaknya ini pernah juara nasional tenis junior sebelum pindah haluan ke olahraga basket.

"Total skorku nggak sampai setengahnya skormu," berkata Sayu ketika melepas earmuff-nya dan mengembalikan pada instruktur.

Light tersenyum. Ia menyimpan ponselnya di saku dan mengacak rambut Sayu. "Jangan khawatir. Di arena perang, aku akan menembak semua penjahat yang berani mengusik adikku."

Sayu tertawa.

Selesai menembak, mereka berpindah ke permainan lain. Masih seputar bidik-membidik. Kini mereka akan bermain bowling.

Sayu sudah beberapa kali bermain bowling, dan semuanya dilakukan bersama Light. Kali ini Sayu penasaran, apakah skornya bisa meningkat dibanding sebelum-sebelumnya. Kalau tentang Light sih, Sayu nggak penasaran. Kakaknya itu bahkan pernah 9 kali strike berturut-turut.

"Apa nggak ada olahraga yang nggak butuh ketelitian bidik?" tanya Sayu usai bermain. Skor Sayu kali ini lebih bagus dari sebelumnya. Sayu juga berhasil mencetak 3 strike. Light bertepuk tangan meriah ketika hasil akhir milik Sayu muncul di layar frame, tapi Sayu masih belum puas.

"Ada banyak," kata Light.

"Apa? Renang? Catur? Lari?" bertanya Sayu.

"Cheers."

Sayu cemberut manyun.

Light tertawa sementara matanya tertuju pada layar ponsel. Light masih memainkan ponsel sembari menunggui Sayu yang sedang mengganti sepatu bowling dengan Adidas Grand Court miliknya. Begitu Sayu selesai, mereka berdua mengembalikan sepatu bowling yang mereka pakai pada petugas.

"Ready for the next game?"

Sayu mengangguk antusias. "Yes!"

Sayu jarang bermain di luar sebebas ini jika bukan dengan Light. Karena itu, ia tak bisa menyembunyikan sorot matanya yang berkilat-kilat ketika mereka memasuki arena ice skating.

Yep, permainan ketiga mereka adalah ice skating.

Dulu, Sayu pernah tergila-gila dengan ice skating dan sempat ingin bergabung dengan Klub Ice Skating di sekolahnya, tapi Ibu hanya mengizinkannya mengikuti 1 jenis ekskul. Pada akhirnya, Sayu memilih tetap bertahan di cheers yang sudah mendarah daging baginya. Sayu hanya bermain ice skating pada kesempatan tertentu seperti ini. Setiap kali Sayu main es seluncur, ia selalu memainkan peran Tinkerbell. Dan setiap kali itu pula, Light selalu mengganggunya.

"Jangan nakal, Peter Pan," ancam Sayu.

"I'm not," tukas Light inosen seraya meluncur dengan santainya ke tengah-tengah arena.

Sebal dengan keusilan kakaknya, Sayu kemudian menabrakkan diri pada punggung Light. "Ups, sori, Tinkerbell kehilangan keseimbangan sayapnya."

Light balas menarik adiknya dengan sengaja dan mengakibatkan keduanya jatuh bersama. Sayu menertawakan Light yang terinjak olehnya, namun ia cemberut ketika Light menyebut sejak kapan Tinkerbell tidak bisa terbang dengan benar.

Mereka tidak berlama-lama main es seluncur. Satu jam kemudian, Sayu mulai menepi. Light mengikuti adiknya menepi.

"Sudah capek main? Mau makan?"

Sayu mengangguk. Dia lapar.

-xXx-

Pukul 8.15 pm.

"Apa tempatnya nggak kebagusan?" bisik Sayu.

Yang ditanya hanya tersenyum tanpa berkata sepatah pun. Justru menarik tangan Sayu agar berpegangan pada lengannya yang kini berbalut kemeja putih Scritto Stripe dari Berluti. Mau tak mau, Sayu hanya bisa menurut.

Sembari mengikuti langkah Light, Sayu mengedarkan pandang sekilas. Ia baru menyadari bahwa tamu di sini tak ada yang mengenakan baju santai seperti T-shirt Blanc & Eclare yang ia kenakan sebelumnya.

Tadinya, Sayu bertanya-tanya mengapa Light menyodorkan sebuah paperbag dan menyuruhnya berganti baju dengan dress. Uh, Sayu nggak suka pakai dress. Dan dari mana pula Light dapat dress Self-Portrait ashgrey untuk ukuran Sayu semanis ini? Bahkan di dalam paperbag itu, tersedia pula sepatu cantik Schutz dan sekotak peralatan makeup.

"Aku nggak bisa pakai semua makeup-nya," kata Sayu. Ia sudah berusaha mengaplikasikan makeup di wajahnya, meski hanya cushion, bedak, dan lipcream tipis.

"You are gorgeous as always, Sayu."

Sayu tersenyum malu dengan tanggapan kakaknya. Ia tahu kalau Light tulus memuji. Light selalu bilang bahwa rambut lurus Sayu bagus dan menyerupai Ibu—sebagaimana Light yang berbangga dengan rambut cokelatnya yang menyerupai Ayah. Malam ini pun Sayu membiarkan rambutnya tergerai lurus karena Light mengambil kuncirnya dan sengaja menyimpan di saku kemeja mahalnya.

Mereka diantar oleh seorang waiter pria bersetelan rapi menuju table set cantik di sebelah jendela. Tempat makan malam mereka ini sejajar dengan rooftop gedung berlantai 30. Dari balik kaca jendela, tampak pemandangan kota yang disinari kerlap-kerlip cahaya. Seakan mengajak berlomba dengan gemerlapnya bintang di langit malam.

"Aku ingin tahu, apakah benar di sini semenyenangkan review orang-orang," bisik Light usai waiter menarikkan kursi dan menyilakan mereka duduk.

"Hah, ini pertama kalinya Kakak ke sini?" balas Sayu berbisik.

"Yep."

Sayu memandang sekeliling, kemudian tersenyum. "Bagus. Suasananya privat. Tempat yang romantis untuk kencan," katanya. "Atau Kakak memang sedang cari referensi kencan?"

Light hanya tertawa.

Sayu ikut tertawa kecil. Tidak biasanya mereka makan di tempat seformal ini. Atau malah tidak pernah jika tidak dalam acara keluarga atau pesta kolega orang tua.

Pada akhirnya, Sayu tahu kenapa Light membawanya kemari. Tempat ini tak hanya menyajikan pemandangan indah dan suasana privat. Alasan utamanya adalah karena koki di sini punya signature dish Wild King Salmon dengan dressing saus yang luar biasa. Menu dessert-nya pun juga juara. Buttermilk waffle dengan cherry torte dan gelato. Sayu suka sekali. Ini semua adalah makanan favoritnya. Dalam hati, Sayu berjanji akan memberi bintang lima di aplikasi review nanti.

"Suka?"

Sayu mendongak. Kakaknya tengah tersenyum menyaksikan Sayu begitu menikmati makan malamnya. Sayu tersipu. "Banget!" angguknya kuat-kuat. Sungguh, ia senang sekali.

Kemudian mereka asyik mengobrol. Tentang Ayah dan Ibu, tentang sekolah, kegiatan cheers dan basket, teman-teman Sayu, guru-guru, juga video game terbaru.

Ketika menu dessert terakhir muncul dan dibawakan oleh waitress, Sayu memerlukan ke toilet sebentar. Sekembalinya dari toilet, ia menemukan kakaknya sedang sibuk bermain ponsel, alih-alih menyantap plain dessert-nya.

"Kak, kamu punya pacar?"

Light mengangkat wajah dari ponsel. Sejurus kemudian ia tersenyum. "Bukannya kamu tahu aku sudah putus?"

Sayu mengangguk-angguk. Ia menyuap sendok kecil Lemon Snow Pudding-nya perlahan-lahan. Light memang tidak pernah bohong padanya. Meski Sayu tidak pernah bertemu secara langsung dengan pacar Light (kecuali saat sudah jadi mantan seperti Takada), Sayu tahu kapan kakaknya sedang punya pacar dan kapan kakaknya sedang sendiri.

"Terus? Apa ponsel sudah jadi barang favoritmu sekarang?"

"Huh?"

Sayu meletakkan sendok pudingnya dan menatap kakak lelaki satu-satunya itu dengan sorot mata persuasif. "Come on, Light. Aku mengenal kakakku. Hari ini kamu bermain dengan ponselmu lebih sering dari biasanya. Kamu nggak biasa begini, apalagi di saat sedang merayakan malam ulang tahun adikmu. Oh, apa ada yang menarik di ponselmu? Dan apakah itu adalah sesuatu—ah, orang—yang spesial bagimu?" terdengar jelas nada keingintahuan di sana.

Di luar dugaan, Light justru tertawa.

"Apa yang lucu?" tanya Sayu heran.

Light meredakan tawanya. "Your words are cute," katanya. "Baiklah, aku minta maaf karena sudah mengabaikan adikku di malam ulang tahunnya. Aku akan menyimpan ponselku di sisa malam ini. Maafkan aku."

Sayu mengerjap, sedikit kecewa. Dari respons Light, ia tahu kalau kakaknya belum ingin cerita apa pun padanya. Tapi baiklah, Sayu akan mencoba mengerti.

-xXx-

Pukul 10.15 pm.

"Sayu, mau dansa denganku?"

Sayu surprise.

Ini... nggak biasa. Betul-betul berbeda dari biasanya. Walaupun tentu saja, ini bukan pertama kalinya Sayu berdansa dengan kakaknya. Mereka sudah melakukannya berkali-kali, baik karena iseng, ataupun dalam pertunjukan dan pesta menemani orang tuanya.

Tapi bukan itu yang dimaksud Sayu. Sebelum ini, mereka nggak pernah merayakan detik-detik menjelang ulang tahunnya seperti ini. Biasanya mereka hanya bermain sepuas-puasnya, makan sebebas-bebasnya, kemudian nonton, dan pulang ke rumah. Tapi kali ini tidak.

Setelah makan malam, Light menyeretnya ke ball arena yang mengambil tempat di outdoor restoran. Di sana menyajikan lantai dansa di bawah langit malam yang temaram. Alunan musik lembut dari piringan hitam terdengar mengiringi gerak kaki para tamu yang lebih dulu berdansa.

"Berlebihan nggak sih ini?" bisik Sayu ragu-ragu. Tapi Light terus menariknya. "Show me your skill," tantangnya.

Sayu mengernyit tipis. Tanpa pikir panjang, ia langsung menyambut uluran tangan Light dan menggerakkan tubuhnya seirama dengan nada. Sayu selalu percaya diri untuk urusan dance, termasuk berdansa. Mungkin hanya ini satu-satunya keahlian Sayu yang tak akan bisa dilampaui kakaknya.

Light berdesis kagum. "As expected. Bintang cheerleaders memang beda."

"Aku nggak suka dipuji."

"Ya, aku tahu kamu menyukainya."

Sayu tersenyum malu. Jauh di dalam lubuk hatinya, ia juga ingin diakui sebagaimana orang-orang mengakui kakaknya. Dan Sayu bersyukur bahwa kakaknya adalah orang pertama yang selalu mengakuinya.

"Sayu, you are going to be 15. Jangan sembarang percaya cowok. Percaya pada kakakmu saja," kata Light tiba-tiba dengan sorot mata serius.

Sayu mengangguk. "Iya, iya," jawabnya manis. "Lagi pula, memangnya ada cowok yang tertarik padaku?"

Sayu belum pernah pacaran dan belum pernah terlihat dekat dengan cowok manapun. Tetapi Light ingat kata-kata Misa, dan teringat pula gurauan teman-temannya yang pernah berniat mengincar adiknya.

"Tentu," kata Light. "That's why I have to protect you. The one and only sister of mine."

Sayu hanya mengangguk manis untuk kedua kalinya. Sejujurnya Sayu tidak begitu berharap ada seseorang yang menyukainya atau ingin jadi pacarnya. Tapi ia paham mengapa Light melakukan ini semua. Kakaknya hanya sedang khawatir karena adik kecilnya kini telah menjadi gadis remaja sepenuhnya.

"Thank you," desis Sayu lirih ketika nada musik pengiringnya mulai merendah, "It's such a perfect date."

"It is."

"Gonna be my perfect birthday."

"Must be."

-xXx-

Pukul 10.50 pm.

Setelah dansa, Sayu kini jadi penasaran dengan rencana-rencana Light. Sebelumnya, Sayu hanya menuliskan "makan malam", tapi Light justru membawanya dinner dan bahkan menyeretnya ke lantai dansa. Mereka juga menikmati pertunjukan musik yang menyenangkan.

Setelah ini, seharusnya agenda terakhir mereka adalah "menonton film tengah malam". Tapi Light masih melarang Sayu menukar dress yang dipakainya. Rupanya, mereka tidak menonton film di bioskop teater sebagaimana biasa. Light sudah memesankan private cinema room di kawasan gedung apartemen elit, khusus untuk pengalaman menonton yang nyaman dan eksklusif.

"Waaah bagus banget! Ada ya tempat seperti ini? Aku baru mengetahuinya!" Sayu berdecak kagum.

Ruangan mereka ini cukup luas. Lebih tampak seperti didesain untuk keluarga, alih-alih pasangan atau dua orang seperti mereka. Seperangkat sofa cantik dengan bantal-bantal yang nyaman seolah memanggil Sayu untuk mendekat.

"Omygosh, popcorn!" seru Sayu saat mendapati cup-cup popcorn dan cola yang tersaji di meja.

Light hanya tersenyum dengan tingkah adiknya. Pelayan sudah memberikannya petunjuk untuk mengoperasikan teater privat mereka. Kini Sayu sedang asyik memilih film box office yang akan mereka tonton. Menyenangkan sekali bisa memilih seperti ini.

"Ah, Sayu, maaf aku melupakan kado ulang tahunmu. Sepertinya masih tertinggal di mobil. Tunggu sebentar ya."

Sayu menoleh, "Eh? Apa nggak diambil nanti saja sekalian?"

"Sebentar lagi, hari akan berganti jadi ulang tahunmu. Aku tidak lama kok, tetap di sini. Atau kamu menonton saja duluan, oke?"

Sayu tak bisa mencegah kakaknya lagi. Ia memandangi punggung Light yang menghilang di balik pintu. Tumben Light melupakan sesuatu, apalagi barang sepenting kado ulang tahun, pikir Sayu. Atau ini gara-gara kakaknya sedang nggak fokus karena sibuk dengan ponselnya?

Sayu tersenyum sendiri.

Oke, dia akan berusaha menikmati semua fasilitas ini sendiri. Sayu tak tahu kalau Light sengaja membuatnya menunggu.

.

.

.


Author's Note:

I dont know, but I do kinda these stuffs with my siblings.

Anyway, please stay safe, everyone. Semoga kita selamat dan tangguh melawan corona.