HAPPY READING~
Hari ini rumput-rumput di halaman belakang rumah sakit mulai meninggi, sepertinya sebentar lagi Pak Kimㅡtukang kebun di rumah sakitㅡakan segera datang untuk memotong mereka.
"Hidup kalian akan segera berakhir oleh gunting besar Pak Kim hari ini, kasihan sekali!" Lelaki berparas cantik dengan piyama rumah sakitnya itu meratapi nasib yang akan diterima oleh rumput-rumput tersebut.
"Lalu bagaimana dengan dirimu?" Lelaki itu terdiam, lalu menaikkan wajahnya perlahan agar bisa melihat siapa yang mengajaknya berbicara. Namun, saat matanya menangkap pemandangan kaki yang penuh darah dan luka saja membuat dia tahu bahwa orang di depannya bukan benar-benar orang.
Lelaki itu pun memberanikan diri untuk melihat 'orang' itu dengan kedua matanya, dan tersenyum melihat siapa yang berada di depannya sekarang.
"Aku akan bertahan lebih lama lagi dari rumput-rumput ini, Kyungsoo."
Dia adalah Kyungsoo, hantu yang sudah ada di rumah sakit ini sejak pertama kali lelaki cantik itu di rawat di sini.
"Benarkah? Aku ragu akan hal itu!" Kyungsoo menatap lelaki cantik tersebut dengan penuh tanya, sepertinya hantu itu senang sekali melihatnya menangisi takdir.
"Berhentilah bercanda! Pertama, tolong ubah tampilanmu! Sangat tidak enak untuk dipandang oleh mata indahku!" ujar lelaki cantik itu sedikit berlebihan, tetapi bila kalian melihat penampilan Kyungsoo sekarang ini, mungkin kalian tidak akan berhenti mengucapkan kata astaga.
Bagaimana tidak? Baju yang sebagian besar terkoyak serta hampir seluruhnya dihiasi oleh bercak darah, bahkan luka yang membuat tulang pipi bagian kanan pemuda itu terlihat sangat jelas. Sangat mengertikan, bukan? Meskipun Baekhyun sering kali melihat sosok yang mungkin lebih parah dari keadaan itu, tetapi tetap saja dirinya tidak terbiasa.
"Ah, begitukah? Tunggu sebentar, Oke?!" Tidak sampai satu menit, penampilan Kyungsoo berubah seperti tidak terjadi apa-apaㅡmaksudnya, wajahnya sekarang bahkan terlihat sangat mulusㅡmembuat lelaki itu kembali takjub, padahal dia sudah berkali-kali melihat Kyungsoo bertransformasi seperti ini.
"Bagaimana?" Kyungsoo mengerjapkan matanya sembari tersenyum menggemaskan, membuat lelaki cantik tersebut ikut gemas dengan si pentol itu.
"Sudah lebih imut!"
"Baekhyun!" protesnya dengan alis tebal yang bertaut kesal. Lelaki itu hanya bisa tertawa saja melihatnya, kemudian menyadari bahwa dia sedang menjadi pusat perhatian karena sedang berbicara sendirian.
Ya, kalian tahu bukan makhluk apa di depannya ini?
Lelaki cantik itu pun bergegas pergi dari sana untuk mencari tempat yang lebih aman untuk bersantai di sore hari yang cerah ini, dia juga melihat Kyungsoo yang mengikuti dari belakang. Setelah mendapatkan tempat yang nyaman, dia segera menempati kursi panjang yang kosong itu.
Kyungsoo ikut duduk di samping lelaki tersebut seraya menatap wajah cantik dan manisnya.
"Bagaimana keadaanmu?"
Kyungsoo membuka pembicaraan membuat senyumannya sedikit meredup. Tidak harusnya si pentol itu bertanya tentang hal tersebut sekarang.
"Tidak terlalu buruk dan juga tidak terlalu bagus," jawabnya sembari memberikan senyuman manis.
"Baek..."
"Kata ayahku, meski kau sedang sakit, hal yang harus kau lakukan adalah percaya diri dan tersenyum, maka sedikit demi sedikit penyakit itu akan segera menyingkir darimu, begitulah kata beliau, jadi akan aku lakukan!"
"Kau membuatku ingin menangis, tapi hantu sepertiku tidak memiliki air mata, bagaimana ini?" tanya Kyungsoo yang menangis seperti anak kecil yang tidak dibelikan balon oleh ibunya.
"Aku tidak akan mati semudah itu, Kyung! Sudah, jangan menangis lagi!" Kyungsoo menatapnya dengan tatapan kasihan.
Hhh, dia lelah sekali berkata ke Kyungsoo kalau dia sangat membenci tatapan seperti ini.
Tatapan kasihan...
Bukannya mereda, tangisan Kyungsoo makin menjadi-jadi, malah dia seperti sudah kesetanan saja. Orang-orang di sekitarnya tidak akan mendengar, tetapi dia? Kupingnya terasa ingin pecah saja. Dan, yang bisa dilakukan hanya mengelus punggung Kyungsoo tanpa bersuara.
Nama lelaki itu adalah Byun Baekhyun. Sudah berada hampir dua tahun di rumah sakit, karena penyakit yang dideritanya sejak lahir. Penyakit yang membuat jantungnya tidak berfungsi dengan baik atau bahkan sudah bisa dikatakan sangat buruk dikarenakan kesakitan tiada henti yang sellau dideritanya tanpa ada tanda-tanda kesembuhan.
Namun, Baekhyun rindu teman-teman sekolahnya, rindu kamarnya, dan rindu masakan ibunya yang paling enak sedunia itu.
Jadi, dia harus bisa sembuh!
Dia harus ceria dan berpikiran positif agar bisa sembuh dari penyakit ini!
Dia bisa!
Harus bisa!
-o0o-
"Chanyeol, bagaimana tugasmu? Apa sudah selesai?" Lelaki yang dipanggil Chanyeol itu melirik sedikit orang yang mengajaknya berbicara.
"Tentu saja sudah! Dan aku berharap aku kembali mendapatkan orang yang mati karena kecelakaan bukan yang mati karena penyakitnya."
"Mengapa?"
"Aku tidak ingin berlama-lama dengan manusia lemah itu! Lagipula, jika aku mendapat tugas mengambil nyawa manusia yang mati karena kecelakaan, aku hanya perlu menunggu lima menit sebelum kecelakaan dimulai." Lelaki itu mengangguk, seakan-akan mengerti apa yang sedang dikatakan oleh Chanyeol.
"Lalu jika tugasmu mengambil nyawa manusia yang mati karena penyakit?"
Chanyeol terdiam sebentar, matanya menatap datar dan kosong.
"Aku harus memantaunya tujuh hari sebelum dia meninggal, Sehun." Chanyeol menoleh ke arah lelaki yang sedari tadi mengajaknya bicara.
"Kau masih baru di sini, jadi hanya info itulah yang bisa kuberitahu kepadamu!"
Chanyeol berjalan mendekati sebuah pohon besar di antara taman itu, di sana terdapat sebuah pohon besar yang di batangnya menjuntai akar-akar dan di ujungnya terdapat bunga yang cahayanya berpendar, jika dipegang oleh para malaikat maut bunga-bunga itu akan secara otomatis terbuka.
Ya, bunga dari pohon kematian itulah yang akan menjadi tugas-tugas dari para malaikat maut seperti Chanyeol.
Chanyeol memetik bunga itu dari akarnya, kemudian benar saja, kelopak-kelopak bunga itu terbuka dan memperlihatkan sebuah nama, foto, tanggal kematian, dan penyebab kematian.
"Byun Baekhyun, enam mei dua ribu sembilan belas, serangan jantung. Hm, malang sekali!" gumam Chanyeol seraya memperhatikan potret lelaki cantik yang tengah tersenyum di kelopak bunga kematian itu.
Chanyeol pun menaruh bunga itu di saku jas hitamnya, namun saat dia benar-benar ingin pergi, malaikat maut yang masih menjadi pendatang baru itu menghalangi jalannya.
"Chanyeol, apakah aku boleh melihat bunganya?"
"Tidak! Dan, hei! Aku lebih senior darimu, Sehun! Jaga bicaramu!"
"Pelit sekali!" cibir Sehun sembari melirik Chanyeol dengan ekor matanya.
"Maka dari itu, kau lebih baik jadi asisten yang baik untuk Jongin, baru kau bisa memetik bunga ini dari pohon kematian!" Jongin yang sedari tadi menghela nafas di kursi taman pun memandang ke arah mereka.
"Kalian membicarakanku?" Jongin mendekati dua lelaki yang profesinya sama dengannya itu.
"Ah, kau terlihat menghela napas dari tadi, ada apa?"
"Aku telah mendapatkan bunga ini dua bulan yang lalu," kata Jongin sedikit merengek. "Tapi dia tidak pernah mau ikut denganku!"
"Tidak kau paksa?" tanya Chanyeol yang mengernyitkan dahinya heran.
"Terakhir kami mengunjunginya, dia memukuli kami!" Chanyeol membelalakkan matanya, bagaimana bisa malaikat maut dipukuli arwah manusia? Sudah tidak ada takut-takutnya manusia jaman sekarang.
"Bagaimana bisa kau dipukuli oleh arwah manusia? Jika kalian melebihi waktu maksimal untuk membawa arwah penasaran dalam kurun waktu tiga bulan, kalian tahu apa konsekuensinya, kan?" pertanyaan Chanyeol tersebut membuat Jongin kembali merengek sambl mencebikkan bibirnya.
"Dia berkata, arwah yang akan dia bawa begitu imut, jadi Jongin tidak mampu membawanya ke peristirahatannya yang terakhir." Chanyeol makin menatap Jongin dengan tatapan tak percaya.
"Yang benar saja, Jongin?" Jongin langsung saja menoyor kepala Sehun dan menyuruh lelaki itu pergi darinya.
"Bagaimana bisa ketua memberikan teman kerja sepertimu, Bodoh?!" tuding Jongin rasanya ingin membunuh Sehun sekarang juga.
"Jongin, jangan katakan kalau kau..." Chanyeol menggantungkan kalimatnya karena dia sendiri tidak mampu mengucapkan kata-kata itu. Tetapi, Jongin mengerti ke mana arah pembicaraan mereka.
"Apa yang kau pikirkan? Tentu saja tidak! Lihat saja dalam waktu satu bulan ini, aku akan membawanya ke tempat peristirahatan terakhirnya!" potong Jongin berbicara dengan nafas yang mengebu-ngebu.
"Kuharap begitu! Kau tahukan konsekuensinya?"
"Menghilang selamanya dan tidak akan pernah dilahirkan kembali." Jongin tertunduk, dia tahu betul apa konsekuensi dari tindakannya itu.
"Bukan hanya itu, bahkan arwah manusia itu juga tidak akan pernah dilahirkan lagi, kalian berdua hilang selamanya dan tidak akan ada yang menolong kalian!" tambah Chanyeol yang sudah tidak sadar meninggikan suara bicaranya.
"Ah, kenapa kau berbicara dengan nada seperti itu? Aku sudah tahu! Aku tidak mungkin jatuh hati pada dia, lagipula dia seorang lelaki, Chanyeol! Ayo, Sehun! Lebih baik kita pergi dan membujuknya lagi daripada mendengarkan omong kosong malaikat maut yang satu ini." Jongin langsung menarik pergi Sehun dari sana dan meninggalkan Chanyeol yang menatapnya dengan tatapan tak percaya.
"Ingat, Jongin! Kau tidak boleh jatuh cinta pada arwah!"
"Aku tahu, Bodoh!" sahut Jongin samar-samar karena jarak mereka yang sudah jauh.
Chanyeol menghela nafasnya beberapa kali sampai Jongin dan Sehun menghilang dari pandangannya. Dia kembali merogoh bunga kematian yang disimpannya di dalam saku jasnya.
"Byun Baekhyun, mari kita lihat sudah seberapa putus asanya dirimu karena penyakitmu itu!"
-o0o-
"Baekhyun, sudah dokter katakan jangan kemana-mana bila orang tuamu sedang tidak ada, jika mau keluar pun, kau bisa membawa penjagamu, kan?" Dokter dengan marga Choi itu memperingati Baekhyun yang kini sudah berada di atas brankarnya lagi dengan infus yang baru.
"Hehehe, aku hanya ingin butuh berjalan-jalan sendiri, Dokter Choi! Jadi kusuruh mereka untuk tidak ikut denganku." Tetapi Baekhyun tentu saja tahu kalau penjaganya itu diam-diam mengikutinya.
Baekhyun sangat ingin berjalan-jalan sendiri tanpa ada orang yang mengawasinya, karena itu sangat tidak nyaman. Namun, tentu saja kedua orang tuanya tidak akan mengizinkannya.
"Kau harus cukup istirahat dahulu, Baekhyun!" peringat Dokter Choi sembari menghela nafasnya.
Baekhyun tertawa pelan, "Baiklah, Dokter Choi! Jangan marah lagi, heum? Aku juga yakin kalau aku akan sembuh."
Dokter Choi menatap sedih ke arah Baekhyun yang sudah menutup sebagian tubuhnya dengan selimut, bersiap untuk istirahat.
"Dokter Choi, mengapa kau menatapku seperti itu, kau tenang saja, mungkin dalam beberapa bulan, aku akan segera sehat lagi dan penyakit ini tidak akan pernah lagi menghantuiku dengan kematian!" Dokter Choi tidak mengatakan apalagi, pria berjas putih itu langsung saja keluar dari sana tanpa mengucapkan apapun lagi.
Baekhyun menggenggam selimutnya dan membiarkan air matanya membasahi pipinya untuk kesekian kalinya.
"Aku tidak boleh menangis!" Baekhyun mengusap air mata yang kian berjatuhan dengan punggung tangannya. "Aku bisa melewati ini, aku bisa sembuh total, harus bisa!"
Baekhyun menidurkan dirinya, kemudian menutup matanya rapat-rapat agar air matanya tidak berjatuhan lagi. Tidak lama kemudian, sesosok lelaki dengan pakaian dan topi serba hitam masuk ke dalam ruang rawatnya, menatap wajahnya yang masih basah karena air mata.
"Jadi ini Byun Baekhyun..." Chanyeol bergumam sendiri sembari menempati kursi yang berada di samping brankar Baekhyun.
Baekhyun mengerutkan dahinya dalam tidur, dia juga melenguh pelan, tidak lupa pula keringat yang memenuhi pelipisnya. Bocah itu mengubah posisinya menjadi berhadapan dengan Chanyeol.
"Mimpi buruk?"
Lenguhan Baekhyun semakin mengeras dan entah mengapa terdengar begitu menyakitkan di telinga Chanyeol. Tanpa disadari Chanyeol, tangannya lebih dulu terulur untuk mengelus pipi Baekhyun, setelah melakukannya, raut wajah cantik bocah itu pun kembali tenang.
Mengetahui apa yang sedang dia lakukan, Chanyeol segera menarik tangannya lagi dan berdiri dari kursinya. Dia menoleh sebentar ke arah Baekhyun yang sudah tenang.
"Ini mengapa aku tidak suka pohon sialan itu memberikanku nama manusia yang akan mati karena penyakit!"
Chanyeol membuka topinya dan mengacak rambut yang sudah ditatanya dengan rapi.
"Akhhh! Mengapa kau bodoh sekali, Park Chanyeol!"
Baekhyun yang merasa terganggu dengan jeritan itu pun membuka matanya kembali, padahal baru saja dia memejamkan matanya, tetapi seseorang sudah mengganggunya saja.
Lelaki cantik itu perlu beberapa kali mengerjapkan matanya saat retinanya menangkap sebuah punggung yang mengenakan jas hitam, namun Baekhyun masih asing dengan sosok itu.
"Siapa kau?"
Chanyeol yang sedari tadi merengek pun berbalik dan menemukan Baekhyun yang sudah sadar lagi dan yang dibingungkannya adalah dengan siapa sekarang Baekhyun berbicara.
Chanyeol menoleh ke belakang dan tidak menemukan siapapun di sana.
"Aku bertanya padamu, Tuan serba hitam!" Chanyeol terkejut saat Baekhyun menjawab pertanyaan di kepalanya. Mulutnya bahkan tidak mengatup sedari tadi. Sebentar, jadi Baekhyun bisa melihat dia?
"Bagaimana bisa kau melewati penjagaku yang ada di depan ruang rawat?" tanya Baekhyun sambil mengerjap lucu, sedetik kemudian dia akhirnya sadar.
"Kau hantu juga?!" tanya Baekhyun dengan nada yang cukup tinggi membuat seorang penjaganya di luar pun masuk ke dalam ruang rawat.
"Tuan, ada yang salah?" Pria itu bertanya kepada Baekhyun yang tampak begitu terkejut.
"Jongdae, apa ada orang lain di ruang rawatku ini?" Penjaga yang dipanggil Jongdae itu mengedarkan pandangannya ke sekitar, lalu pergi ke kamar mandi dan dia tidak menemukan apapun.
"Tidak ada, Tuan! Apa perlu aku panggilkan orang?" Baekhyun menggeleng dan tersenyum.
"Tidak perlu, kau bisa keluar sekarang." Jongdae pun akhirnya keluar dari sana dan kini hanya tersisa mereka berdua.
"Jadi kau hantu sungguhan?" tanya Baekhyun memilih untuk turun dari ranjangnya seraya membawa tiang infusnya untuk bisa berhadapan dengan sosok hantu tinggi itu.
"Aku bukan hantu!" protes Chanyeol yang entah mengapa tidak dapat bergerak saat bocah itu mendekatinya.
"Tentu saja, tidak ada hantu setampan dirimu." Chanyeol terdiam mendengar pernyataan Baekhyun. Bagaimana bisa bocah itu terlihat begitu tenang sekarang.
"Apakah kau malaikat penjagaku?"
Chanyeol sudah mengangkat bibirnya, berusaha untuk memberikan bocah itu pengertian, akan tetapi si cantik itu memotong dialog yang harus disampaikan olehnya.
"Sudah kuduga Tuhan memang ingin menjagaku! Aku tahu kau akan datang dan melindungiku, bukankah begitu?" Baekhyun tersenyum lebar, dia belum pernah merasa sebahagia itu bertemu 'makhluk halus' seperti Chanyeol ini, bahkan ketika dia bersahabatan dengan Kyungsoo, Baekhyun tidak pernah merasa sesenang ini.
Sepertinya, Baekhyun bisa berharap lebih kepada Tuhan.
-o0o-
Rasanya Chanyeol ingin sekali membuang bunga kematian di sakunya, atau paling tidak dia bisa menukarkan bunganya kepada orang lain. Namun, tidak bisa, dia sendiri yang harus mengantarkan bocah itu ke peristirahatannya yang terakhir.
Akan tetapi, lihatlah apa yang dilakukan lelaki cantik itu sekarang.
"Park Chanyeol!" panggilnya yang entah sudah keberapa kalinya untuk hari ini.
"Park Chanyeol!"
Dan, lagi...
"Ada apa? Berhenti merangkul lenganku seperti itu? Untuk manusia lainnya, mereka mungkin menganggap kau gila." Chanyeol berusaha melepaskan rangkulan tangan Baekhyun dari lengannya, akan tetapi lelaki cantik itu tetap menahan Chanyeol dan tersenyum sembari menata wajah tampannya.
"Tidak apa, aku hanya ingin memastikan malaikat penjagaku terus di sampingku." Chanyeol bisa sangat jelas melihat sorot mata penuh harapan itu. Terlihat sekal bahwa lelaki cantik itu berjuang untuk sembuh dari penyakit yang sedang dideritanya.
Ingin sekali Chanyeol memberitahukan bahwa kedatangannya itu untuk mengawasi Baekhyun sebelum hari kematian Baekhyun kurang dari tujuh hari lagi. Tapi, suaranya seakan tidak ingin keluar. Ada apa ini? Bukannya dia malaikat maut yang harusnya tidak memiliki belas kasih? Mengapa ini bisa terjadi?
Apalagi sekarang mereka menyusuri lorong rumah sakit seakan-akan mereka adalah teman baik. Astaga, bila ketua tahu apa yang sedang Chanyeol lakukan sekarang, pasti dia akan sangat murka.
"Baekhyun, dengarkan aku!" Chanyeol pun membebaskan dirinya dari rangkulan Baekhyun. Lalu, tiba-tiba berdiri berdiri di depan Baekhyun.
"Aku bukan malaikat penjagamu! Tidak ada malaikat penjaga di dunia ini!" Selepas itu Chanyeol langsung pergi meninggalkan Baekhyun dan tubuhnya perlahan hilang dari penampakkan Baekhyun.
Lelaki cantik itu menatap jam di pergelangan tangan kirinya, angka yang berguna untuk mendeteksi denyut jantungnya semakin bertambah hingga dia meremas dada kirinya karena rasa sesak itu. Baekhyun menghela nafasnya tatkala air matanya kembali turun.
"Air mata sialan ini tidak tahu kapan harus berhenti, huh?" Baekhyun menghapus kasar bulir bening itu dari pipinya.
"Kau pikir tanpamu aku tidak bisa bertahan?! Kau lihat saja, Park Chanyeol! Aku tidak membutuhkan malaikat penjaga sepertimu!" Baekhyun berteriak hingga membuat beberapa perawat dan pasien lain memperhatikannya.
Baekhyun memilih untuk pergi dari sana, tidak lupa dari belakang, penjaga-penjaga itu mengikutinya.
Chanyeol sebenarnya tidak benar-benar pergi, dia ada di sana, memperhatikan gerak-gerik Baekhyun setiap detiknya, bahkan ketika lelaki cantik itu menangis di bangku panjang yang kosong yang biasa menjadi tempatnya melimpahkan semua kegundahan hati.
Namun, belum ada lima menit lelaki itu berada di sana, tiba-tiba jam tangan Baekhyun berbunyi semakin cepat dan disaat bersamaan pula, tubuh rapuh itu terjatuh ke tanah yang membuat seluruh penjaga Baekhyun yang bersembunyi segera berdatangan, kemudian membawanya pergi dari sana.
"Baekhyun!"
-o0o-
Baekhyun membuka matanya perlahan dan mendapatkan langit-langit kamar rumah sakit sebagai hal pertama yang dilihatnya ketika bangun.
Kemudian, lelaki cantik itu menoleh ke samping di mana kedua orang tua dan Dokter Choi tengah berbincang-bincang.
"Ibu, ayah?" panggil Baekhyun dengan suara seraknya. Entah dia sudah berapa lama tidur hingga membuat tenggorokannya begitu kering saat ini.
"Baekhyun!"
Sang ibu langsung saja menghampiri Baekhyun dan menggenggam tangannya yang tidak ada infusnya.
"Haus..." Mendengar itu, langsung saja Ibu Byun mengambil air dari meja nakas dan membantu anaknya minum dengan sedotan.
"Lebih baik, terima kasih, Bu!" Baekhyun tersenyum manis dan ditanggapi pula dengan senyuman ibunya.
"Berapa lama aku tertidur, Bu?"
Ibunya terdiam, namun air mata beliau yang berbicara. Baekhyun tersenyum pedih, pasti dia tidur lebih lama kali ini.
"Aku akan sembuh, Bu! Jangan menangis, hm?"
Baekhyun menatap wajah ayah dan Dokter Choi yang sama sedihnya dengan sang ibu. Apa yang sebenarnya mereka bahas? Apa yang sebenarnya terjadi?
"Aku akan sembuh, kan, Dokter Choi?" Dokter Choi mencoba tersenyum, kemudian mengacak rambut Baekhyun.
"Kau harus berjuang, Oke?" kata Dokter Choi sambil mengepalkan tangannya ke udara.
Baekhyun dan tiga orang lainnya di sana tidak menyadari ada sosok lain di antara mereka yang sedang memperhatikan mereka sembari melihat ke dalam kelopak bunga kematian yang terus dia bawa.
"Empat hari lagi! Ayolah waktu, cepatlah berjalan agar aku tidak berlama-lama dengannya," bisiknya entah pada siapa.
-o0o-
Di tempat lain, Kyungsoo terduduk di kursi yang sama saat dia duduk bersama Baekhyun beberapa hari yang lalu. Wajah manisnya tertunduk dalam hingga akhirnya dua pasang sepatu berada di depannya. Lelaki manis itu mendongakkan kepalanya dan mendapatkan dua lelaki tampan yang parasnya sudah tidak asing lagi bagi Kyungsoo.
"Do Kyungsoo, mari kita pergi! Kau sudah tidak diharuskan tinggal di dunia ini lagi," ucap pria itu dengan wajah datarnya.
"Tidak mau! Aku akan menunggu sampai orang yang menabrakku ditangkap!"
"Batas waktumu sampai bulan depan!" Kyungsoo yang sedari tadi murung pun tersenyum lebar.
"Terima kasih, Jongin!"
Jongin langsung saja melangkahkan kakinya pergi, meninggalkan Sehun yang masih berada di depan Kyungsoo seraya menatapnya datar dan dingin.
"Mengapa kau melihatku seperti itu?" tanya Kyungsoo sedikit takut melihat tatapan itu.
"Kau terlalu dimanja oleh dia!"
Kyungsoo mengernyitkan dahinya kebingungan, "Maksudmu?"
"Jika kau tidak secepatnya ikut kami, maka kalian berdua akan hilang selamanya, tidak akan dilahirkan kembali ke dunia ini!"
"Aku tidak mengerti!"
"Aku hanya bisa menjelaskan sampai di situ saja, kupikir kau bisa mengartikannya sendiri." Sehabis mengatakan hal itu, Sehun ikut menghilang dari hadapannya, meninggalkan Kyungsoo yang kebingungan sendiri mengartikan kalimat Sehun.
-o0o-
Baekhyun baru saja usai memakan sarapannya hari ini, lagi-lagi hanya kekosongan di ruang rawatnya ini, hanya ada dia sendiri dan mangkuk kosong di depannya. Kedua orang tuanya? Tentu saja mereka sibuk sendiri daripada harus memperhatikan anaknya yang sedang sekarat ini.
"Park Chanyeol, tidak bisakah kau menemaniku sebentar saja? Aku bahkan tidak diperbolehkan lagi keluar dari ruang rawatku yang menyesakkan ini." Baekhyun mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan yang tampak sunyi.
"Aku tahu kau selama ini memperhatikanku, kan?" Baekhyun tertawa, dia ingin membuat malaikat penjaga itu menyela ucapannya.
"Apa kau penggemar rahasiaku?" tanya Baekhyun lagi, tetapi masih tidak ada jawaban dari sosok itu.
"Sial sekali, tadi pagi aku dimandikan di atas ranjang oleh perawat-perawat itu, pasti kau melihatnya, kan?"
"TENTU SAJA TIDAK!"
Dan benar saja apa yang dipikirkan Baekhyun, sosok tampan itu langsung menampakkan dirinya. Hal itu langsung saja mengundang gelak tawa dari si cantik.
"Ah, jadi kau benar-benar memperhatikan tubuhku, ya?" tuduh Baekhyun yang membuat Chanyeol tidak terima.
"Aku tidak memperhatikan tubuhmu!"
Baekhyun meringis sendiri. "Dasar pembohong! Apa malaikat penjaga juga diajarkan untuk berbohong?"
Chanyeol melebarkan kedua matanya, "Tentu saja tidak! Lagipula aku bukan malaikat penjaga!"
"Lalu apa?"
Chanyeol persis ingin mengatakannya saat itu juga, tetapi mengapa rasanya sangat berat ketika melihat senyuman di wajah si mochi itu. Dia hanya perlu bilang kalau dia itu malaikat maut yang akan membawa pergi Baekhyun ke peristirahatannya yang terakhir, tetapi mengapa itu sangat sulit?
"Aku hanya malaikat..." Chanyeol bergumam sendiri, sementara itu arah matanya tak terlepas dari Baekhyun.
"Tentu saja! Maka dari itu kau ada di sini untuk menjagaku, kan?" Chanyeol benci ini, seharusnya Tuhan menciptakannya tanpa harus ada perasaan berbelas kasih seperti ini.
Baekhyun melambaikan tangannya, menyuruh Chanyeol untuk segera mendekat ke arahnya dan entah dorongan dari mana, Chanyeol pun mendekati lelaki cantik itu.
Chanyeol memposisikan dirinya di kursi jenguk yang berada tepat di sebelah ranjang Baekhyun, duduk di sana dalam keadaan mulut terkunci dan membiarkan sosok cantik itu berceloteh panjang lebar sampai akhirnya lelaki itu memilih untuk berbaring dan ikut diam sambil menatap wajah tampan Chanyeol.
"Mengapa kau tiba-tiba diam seperti itu?" tanya Chanyeol tak mengerti akan sikap Baekhyun.
"Aku lelah," sahutnya dengan suara yang sengau.
Baekhyun memegang dada kirinya seraya meremasnya, "Kau tidak tahu? Aku lahir dengan jantung yang cacat." Ringis Baekhyun kembali.
Chanyeol mengernyit atas kalimat yang tiba-tiba itu. Yang lelaki itu tahu hanyalah tentang kematian yang disebabkan oleh serangan jantung. Kenapa makhluk cantik seperti Baekhyun di lahirkan dengan jantung yang cacat seperti itu?
Lama dalam lamunan itu, Chanyeol tidak menyadari bahwa Baekhyun terlelap saat tak kunjung mendapatkan jawaban dari dirinya.
Chanyeol menghela nafasnya, kenapa ia tidak terus terang saja pada Baekhyun?
Lantas, Chanyeol menghilang dari ruangan tersebut membiarkan Baekhyun untuk beristirahat.
-o0o-
Baekhyun bingung, ia mendapati dirinya berada di ruang serba putih. Sama sekali tidak ada warna lain selain putih yang mendominasi. Tangannya menggapai sisi tembok sebagai tumpuan dirinya saat ia melangkah.
"Sebenarnya sekarang dia sedang berada?" Batinnya bertanya seorang diri.
Ia ketakutan. Tidak ada siapa-siapa selain dirinya. Cahaya yang menerangi itu sedikit demi sedikit memudar. Kakinya terurai untuk mencari jalan keluar.
Sayang, usahanya belum bisa di katakan berhasil. Baekhyun terkejut ketika ruangan tersebut berubah menjadi lorong yang sangat panjang.
Mengikuti instingnya, ia mulai berlari menjauh menuju ujung lorong tersebut yang semakin lama semakin menyempit di ikuti oleh kegelapan.
Ia berteriak minta tolong, berharap ada seseorang yang akan mendengar teriakannya.
Derap kakinya mulai memelan begitu ia terpojok. Ia mencoba memukul dinding, berharap aksinya bisa merobohkan kerasnya dinding tersebut. Matanya mulai tak bisa berfungsi, semua yang tertangkap oleh indera tersebut hanyalah kegelapan.
Baekhyun terbangun dari mimpi buruknya. Peluh itu menghampiri tubuhnya yang sedikit lebih basah. Nafasnya sedikit memburu. Matanya melirik kesana kemari.
Kenapa gelap sekali?
Ia terbangun dari atas ranjang itu. Tapi anehnya, ia merasa tubuhnya lebih ringan dari biasanya. Seperti semua beban terangkat jauh.
Sebenarnya berapa lama ia tertidur?
Lalu ia di kagetkan oleh Dokter Choi dan beberapa tenaga medis yang mengelilinginya.
"Aku tidak apa-apa! HEI-!"
Baekhyun beringsut menjauh saat tangan Dokter Choi menembus tubuhnya. Ia terpekik kaget, ada apa dengannya?
Kenapa ia bisa melihat tubuhnya terbaring sedikit kaku disana? Suara monitor jantungnya berdecit nyaring serta menampilkan garis lurus.
Seluruh tubuh di periksa oleh Dokter Choi. Hingga tubuhnya kejang saat alat kejut itu menyentuh tubuh Baekhyun. Dokter Choi tidak putus asa, ia terus melakukan itu.
"Kau bisa, Baekhyun! Ayo!"
Setelah kalimat itu keluar dari Dokter Choi, alat monitor itu menampilkan sedikit demi sedikit detak jantungnya. Dokter tampan itu mengucapkan banyak syukur dan berterimakasih kepada Baekhyun yang masih memiliki kekuatan untuk bertahan hidup meski sekarang lelaki mungil itu harus menjalani masa-masa kritis.
Ayah dan Ibu Baekhyun yang menunggu di luar segara melangkah kakinya dan menanyakan apa yang terjadi pada anaknya sambil tersedu-sedu.
"Dia dalam keadaan koma sekarang. Kami tidak tahu kapan dia akan siuman. Kami memohon maaf. Selama itu, kami akan menambah cairan infus untuk Baekhyun agar dia tidak kekurangan nutrisi." Ucap Dokter Choi itu sembari membungkuk hormat.
Baekhyun yang sedari tadi memperhatikan sekitar itu bersedih melihat kedua orangtua yang menangis.
"Ibu... Ayah... Aku disini, jangan menangis lagi!" Ucapa Baekhyun lirih.
Karena percuma berteriak sekeras apapun tidak akan membuat kedua orang tuanya mendengar. Ia mengikuti langkah keduanya yang berada di samping tubuhnya. Kedua orangtua nya itu berdoa dan mengucapkan banyak kalimat menyentuh tak lupa dengan ciuman pada wajahnya.
"Kau harus bisa bangun, Byun Baekhyun!" Tukas nya pada diri sendiri.
-o0o-
Baekhyun sedang merenungi kesedihannya ketika ia tidak bisa kembali ke tubuhnya. Ia sekarang berada di taman belakang rumah sakit.
Suasana fajar yang masih sedikit gelap ini hanya ditemani oleh cahaya temaram menjadi tempat yang paling menyeramkan jika ia masih menjadi sosok manusia.
Tapi menjadi arwah seperti ini pun sama saja seram. Lelaki mungil itu bahkan bisa terbang.
Ia akan kembali bersedih sebelum aroma yang paling dikenalnya masuk ke rongga hidungnya.
Chanyeol berdiri di hadapannya membawa satu anak kucing dan menyerahkannya pada Baekhyun dan mengundang satu senyum lebar bibir Baekhyun.
"Jadi? Kenapa kau menangis?" Sebenarnya Chanyeol tahu apa yang terjadi pada Baekhyun. Tapi, ia hanya sedang mencairkan suasana. Ia tidak pandai membuat makhluk sebangsa manusia tersenyum.
Jelas, tugasnya sebagai malaikat pencabut nyawa bukan untuk membuat mereka tersenyum.
"Aku tidak! Heum... hanya sedang bingung." Baekhyun menjawab tapi matanya jauh menerawang melihat hamparan langit yang sedikit menampilkan cahaya dari sang mentari.
"Lalu bagaimana keadaanmu?" Chanyeol mengernyit mendengar kalimat yang keluar dari bibirnya sendiri.
"Lebih baik? Aku tidak lagi merasakan denyutan sakit pada bagian dada ku. Apakah aku sudah sembuh? Tapi, kenapa aku tidak bisa masuk ke tubuh ku lagi, Chanyeol? Apa Tuhan memiliki jalan lain untuk ku?" Tanyanya sudah tidak memperdulikan lelehan kristal bening yang berjatuhan.
Chanyeol diam seribu bahasa, inikah rasanya karma karena mengolok Jongin yang lemah oleh seorang arwah?
"Kau akan sembuh, Baekhyun." Ujar Chanyeol tidak yakin.
Baekhyun terkikik melihat raut wajah Chanyeol yang sedikit bimbang itu. Tak ingin menghabiskan waktu dengan bersedih, lelaki mungil itu menghapus air matanya dan melompat sambil menggendong kucing berbulu hitam itu.
"Chanyeol! Chanyeol! Bagaimana jika kita bermain?" Celetuk Baekhyun yang menghasilkan kening si tampan itu berkerut.
Tanpa menunggu Chanyeol menjawab, tangan si kekar itu sudah di tarik oleh Baekhyun menuju tempat yang akan menemani mereka.
Dulu, Baekhyun selalu bermimpi untuk bisa bermain di Lotte World. Tempat surganya para remaja. Tapi, lagi-lagi penyakitnya memaksanya menahan semua keinginan itu. Nah, sekarang ia ingin menghabiskan waktunya untuk menikmati semua permainan yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya.
Chanyeol sedikit terhuyung sebelum mereka berdua terbang bersama.
Baiklah, tiga hari kedepan ia akan menemani Baekhyun untuk bersenang-senang.
Anak kucing itu sudah di tinggalkan oleh Baekhyun di hamparan rumput rumah sakit. Katanya, kucing itu perlu hidup dengan bebas. Itulah jawaban yang di terima oleh Chanyeol ketika lelaki itu bertanya.
Baekhyun tidak pernah menyangka bahwa terbang itu sangatlah menyenangkan. Ia tidak perlu menggerakan kakinya untuk melangkah lagi. Tapi, menempuh waktu ke tempat wisata itu pun tetap saja membuatnya sedikit lelah.
Ia ingin merengek namun urung.
"Kau lelah?"
Baekhyun menggeleng dengan senyum sedikit melengkung. Hanya sesaat, sebelum pekikan itu mengagetkan Chanyeol.
"Masih tutup! Menjengkelkan sekali!" Geram Baekhyun ketika kakinya sudah berdiri di atas permukaan tanah.
"Sabarlah sebentar, Baekhyun. Astaga, lagipula kita ini tidak terlihat kau bisa menaiki semuanya tanpa perlu membayar!" Chanyeol ikut memekik begitu sadar mereka hanya perlu duduk dan menikmati semua wahana tanpa perlu menggunakan alat tukar yang selalu di gunakan oleh manusia.
Baekhyun terkesiap, benar juga.
"Tapi tetap saja! Kita perlu menunggu teknisi itu menjalankan wahananya, Chanyeol!" Tutur Baekhyun berteriak.
Chanyeol mengelus dadanya sabar. Baru kali ini ia menghadapi makhluk yang lumayan menguji titik kesabarannya.
Langkah mereka berdua berhenti di sebuah wahana horror. Mata Baekhyun berkilat penuh semangat. Ia ingin mencoba wahana ini.
Chanyeol mengikutinya dari arah belakang dengan wajah datarnya. Dalam perjalannya memasuki wahana tersebut, Chanyeol di kagetkan oleh teriakan Baekhyun lagi.
Anak itu benar-benar!
Suasana wahana tersebut penuh dengan warna gelap yang memang benar-benar untuk menakuti para pengunjung. Chanyeol menghampiri si mungil itu dan menariknya untuk terbang.
"Jika kau lelah berjalan, kau bisa terbang, Baekhyun." Gemas Chanyeol.
Selama mereka terbang memasuki wahana inti dari dunia horror itu, ternyata semua listrik untuk menjalankan wahana itu nyala. Dan, beberapa gemuruh dari suara kaki memenuhi ruangan itu demi berbodong-bondong menaiki kereta.
Pas sekali dengan mereka yang baru saja akan memulai melihat dunia horror ini.
Lucunya, Baekhyun berteriak sedikit kegirangan melihat para pengunjung itu ketakutan melihat berbagai macam bentukan hantu itu. Ia mengejek mereka semua.
"Ish! Dasar badan saja besar tapi kalian penakut! Huu!" Ejek nya terus menerus.
Chanyeol mendengus begitu Baekhyun merapatkan tubuhnya ke dada Chanyeol saat beberapa bentuk hantu itu mengagetkannya.
Jangan tanya Chanyeol, lelaki itu sungguh biasa saja. Ia sudah biasa melihat seperti itu. Iblis dan sebangsanya.
"Hantu jelek! Menjauh dariku! Uh! Chanyeol!"
Ada yang memutar bola matanya jengkel mendengar setiap teriakan Baekhyun.
Akhirnya, mereka berdua keluar dari tempat tersebut bersamaan dengan para pengunjung. Keadaan tempat wisata itu sudah semakin penuh.
Chanyeol di dorong untuk menuruti semua keinginan si mungil.
"Chanyeol! Aku ingin naik rollercoaster, kora-kora, jungle adventure, flumeride-" Cakap Baekhyun tak ada hentinya.
Chanyeol menahan diri untuk tidak membenturkan kepalanya. Lalu menangguk dengan terpaksa kita pancaran mata Baekhyun terlihat menuntut kepadanya.
Anehnya, selalu tersedia setiap kursi kosong di setiap wahana tersebut. Seperti memang sudah di takdir untuk mereka berdua.
Baekhyun berteriak sangat nyaring ketika tubuhnya menaiki rollercoaster itu. Hampir terhempas angin jika Chanyeol tidak memeluk pinggangnya.
"Tuhan! Ini seru sekali! Lagi!" Teriakan itu hanya bisa terdengar oleh Chanyeol.
Sudah dikatakan sebelumnya bukan? Bahwa kedua makhluk ini tak kasat mata?
Sekuat tenaga pun teriakan itu tidak akan mampu terdengar oleh yang lain.
"Apa kau tidak lelah, Baek?" Tanya Chanyeol cukup bingung melihat Baekhyun yang sepertinya tidak akan kehilangan semangat.
"Ini menyenangkan! Aku tidak pernah melakukan ini sebelumnya!" Tukas si mungil.
Benda panjang itu kembali berfungsi untuk membuat para pengunjung dan Baekhyun teriak.
Panas terik matahari itu seakan tidak sedikit pun mengurangi gurat senang di wajah Baekhyun. Seolah semua beban hidup tidak memupuk di bahunya. Mau tak mau membuat seulas senyum tercipta di bibir Chanyeol.
Selama beberapa menit terlewati di wahana tersebut. Baekhyun lagi-lagi menyeret Chanyeol menuju wahana lainnya. Kora-kora menjadi pilihan si mungil.
Setelah pinggangnya di peluk oleh Chanyeol, benda perahu tersebut mulai menjalankan tugasnya. Hanya kekehan yang keluar dari mulut Baekhyun sebelum teriakan paling keras itu hampir menghancurkan fungsi gendang telinga Chanyeol.
Terpaan angin itu mengenai wajah keduanya yang ikut memejamkan mata demi menghindar dari debu yang menusuk mata.
"Aku sangat bahagia! Ahhh!"
"Berhenti berteriak, Baekhyun!"
"Aku tidak peduli! Wle!" Ia menjulurkan lidahnya seolah mencemooh Chanyeol. Lalu kembali tertawa terbahak-bahak hingga permainan itu berakhir.
Matanya mengerjap melihat satu kedai yang menjual eskrim itu. Tangan mungil itu akan mengambil secara diam-diam stock eskrim berwarna pink itu sebelum tangannya di hempaskan dan di tarik menjauh.
"Apa yang kau lakukan?" Chanyeol mengernyit melihat aksi yang di lakukan oleh Baekhyun.
"Aku ingin eskrim!" Bibir itu melengkung.
"Tidak! Kau tidak boleh makan eksrim! Mari kita selesaikan acara bermain ini, Baekhyun. Ayo!" Chanyeol tidak ingin mendengar lagi rengekan dari Baekhyun sehingga lelaki itu membopong Baekhyun, mengabaikan pukulan-pukulan pada dadanya.
Pilihan Chanyeol jatuh pada Drunken Basket (keranjang berputar). Ia ingin mendengar sekencang apa teriakan Baekhyun saat menaiki itu.
Baekhyun duduk dengan wajah tertekuk, hidungnya juga berkerut serta bibirnya yang semakin melengkung.
"Ayolah, Baekhyun. Katanya kau ingin menikmati semua wahana disini. Kenapa wajahmu seperti itu?" Chanyeol mencoba menggodanya dengan memberikan gelitikan pada tubuh Baekhyun.
"Uh! Aku ingin eskrim! Hanya itu!" Rengek Baekhyun dengan suara khas bocah lima tahun.
"Tidak, Baekhyun!" Chanyeol kembali dalam mode datarnya.
"Kenapa aku tid-! HAAAAA!" Baekhyun kaget setengah mati saat keranjang yang menjadi tempatnya dengan Chanyeol berputar sangat kencang.
Teriakan itu semakin kencang seirama dengan putaran wahana tersebut. Dan gelak tawa Chanyeol pun ikut bersahutan.
Baekhyun yakin mungkin suaranya akan habis setelah permainan ini berakhir. Dan, ternyata benar tentang dugaan nya tersebut. Suaranya menjadi lebih serak dan ia mengutuk Chanyeol akan hal tersebut.
"Aku... Ukh! Membencimu!" Katanya pada Chanyeol yang masih tertawa itu.
"Oke. Oke. Aku tahu. Maafkan aku." Tutur Chanyeol masih terselip tawa disana lalu mengusak rambut Baekhyun dan kembali menaiki wahan lain sampai tempat wisata tersebut tutup.
-o0o-
Jongin dan Sehun kembali lagi untuk menjemput arwah yang tak seharusnya berdiam lagi di dunia ini. Dilihat nya Kyungsoo sedang berdiam diri di sebuah kamar rawat Baekhyun. Wajahnya sedih luar biasa melihat tubuh Baekhyun yang terbaring lemah.
"Baekhyun, aku merindukanmu." Isak Kyungsoo.
Kedua pria itu pun lantas diam menunggu Kyungsoo selesai berbicara sendiri. Mereka berdua menyandarkan punggungnya di tembok dan sesekali bersidekap.
Kyungsoo terperangah melihat dua malaikat yang sangat ia kenal betul.
"Do Kyungsoo, kau harus pergi." Jongin berbicara lebih dulu tanpa mempersilahkan lelaki mungil itu mengutarakan ucapannya.
Kyungsoo meringis ke arah Sehun yang memperlihatkan raut datarnya.
"Baiklah, tapi sebelum itu aku ingin kau ikut denganku terlebih dahulu." Kata Kyungsoo lantas memimpin langkahnya yang di ikuti oleh kedua malaikat itu.
Ruangan tersebut berada di lantai paling atas gedung rumah sakit. Hanya terdapat ruangan miliknya dengan ukiran nama pada pintu itu. 'Do Kyungsoo.'
Kernyitan itu hadir di dahi Jongin dan Sehun, sebelum mengatakan keingintahuannya, mata mereka berdua melihat tubuh ringkih Kyungsoo yang di penuhi oleh alat-alat medis.
Disana terlihat kedua orangtua lelaki itu baru saja datang dan merapalkan doa untuk anaknya.
Ya, Kyungsoo adalah anak dari pemilik rumah sakit ini. Wajar ruangannya berbeda dari pasien lain.
Kyungsoo memperhatikan kedua orang tuanya tak pernah lelah datang menemuni dan berdoa untuknya. Bahkan, menghabiskan waktunya untuk menunggu dirinya yang akan kembali bangun.
"Inilah alasan kenapa aku sering menunda ikut dengan kalian. Aku ketakutan meninggalkan mereka dan tak bisa melihat mereka kembali. Meski dalam keadaan seperti ini pun aku tidak bisa menyentuh bahkan berbicara dengan mereka, tapi setidaknya aku bisa melihat mereka. Aku tahu aku sudah tidak bisa kembali bangun kan? Baiklah, aku akan ikut dengan kalian. Aku menyayangi orangtua ku, tapi inilah takdirku, iya kan?" Suara Kyungsoo sedikit tergagap.
"Ketimbang memberikan harapan tidak pasti kepada mereka dan menyakiti hati mereka secara perlahan, aku akan menjemput takdir ku. Terimakasih telah memberiku waktu yang cukup berharga ini, Jongin, Sehun. Bawa aku pergi ketempat peristirahatan terakhirku." Lanjut Kyungsoo berusaha mengurai senyum.
"Selamat tinggal, Ayah, Ibu, dan Baekhyun. Aku mencintai kalian semua."
Selepas mengatakan itu, mesin itu berdenyit keras dan menunjukan hasil detak jantungnya yang lurus. Ibu nya berteriak di susul oleh Ayahnya yang tergesa memencet tombol darurat.
Para tim medis berhamburan datang ke ruang tersebut. Mencoba berbagai cara untuk kembali membuat denyut jantung Kyungsoo bekerja. Tapi, kemudian berpasrah ketika tidak menunjukan hasil yang baik.
"Tolong tetapkan tanggal kematiannya." Ujar sang dokter diikuti oleh teriakan dari kedua orangtua Kyungsoo.
Sebelum benar-benar menghilang, Kyungsoo tersenyum sangat cantik.
"Terimakasih, Jongin dan Sehun, telah sabar menungguku."
-o0o-
Sisa dua hari lagi, Chanyeol benar-benar tidak siap.
Astaga ini bukan seperti dirinya yang seorang malaikat pencabut nyawa.
Hari ini lagi-lagi ia menemani Baekhyun yang ingin bermain di Game Center yang terletak di pusat kota. Untungnya, mall ini sedang sepi atau bisa di bilang sangat sepi.
Karena mereka memilih untuk mendatangi tempat tersebut di dini hari. Anehnya, hanya game center yang semua listriknya menyala. Itu pertanda bagus bagi Baekhyun yang menyukai semua permainan.
Bayangkan, jika Baekhyun bermain di tempat tersebut berdampingan dengan kalian yang tak bisa melihatnya?
Bisa saja, kalian akan menemukan bola basket yang memantul sendiri atau permainan pistol yang menyala sendiri.
Sungguh seram bukan?
Maka dari itu Chanyeol menyuruh Baekhyun untuk datang ke tempat itu pada dini hari.
Sepertinya, hanya Baekhyun yang sibuk dengan dunia nya sendiri. Chanyeol hanya memantau dari tempatnya berada.
Lelaki mungil itu sedang sibuk memainkan satu game mobil yang membuatnya berteriak kegirangan ketika ternyata ia menjadi nomor satu dalam balapan tersebut.
Kemudian berpindah untuk memainkan basket.
"Chanyeol! Bermainlah denganku! Aku bosan tidak memiliki lawan!" Seru Baekhyun sangat antusias.
Chanyeol menghampirinya. Tanpa mengangguk lelaki itu menekan tombol hijau dan membuat beberapa bola itu berjatuhan.
Jangan tanya mengapa mereka bisa dengan mudah menggunakan tempat tersebut tanpa satu pun slide card. Karena Baekhyun menekan salah satu tombol yang berada di bagian belakang khusus teknisi yang membuat seluruh permainan ini bisa dengan mudah ia gunakan.
Mereka berdua berebut untuk menggapai posisi pertama. Chanyeol melempar bola basket itu dengan santai namun teratur sehingga ia lebih unggul dari Baekhyun.
Lelaki mungil melakukannya dengan sangat bringas karena tidak terima bahwa skor miliknya berada jauh.
"Aku akan mengalahkan mu!" Katanya dan ia melakukan hal yang membuat mata Chanyeol membola.
Bagaimana tidak, lelaki mungil itu bermain curang dengan menaiki tempat basket itu dan memasukan bola basket nya ke ring dengan sangat mudah.
"Jangan curang, Baekhyun!" Pekik Chanyeol masih tidak percaya bahwa skornya berada di bawah Baekhyun.
"Tidak! Tentu saja tidak! Aku hanya menggunakan trik saja!" Ujarnya berdalih. Tidak ingin dituduh jika dirinya memang bermain curang.
Waktu sudah tinggal beberapa detik. Raut wajah Chanyeol sungguh sangat datar. Ia sudah tidak peduli lagi dan membiarkan Baekhyun dengan kecurangannya itu yang menang.
"Aku menang! Aku menang! Kau harus menuruti permintaan ku!" Pekik Baekhyun bahagia.
Chanyeol merotasikan bola matanya, "Tidak!" Katanya lalu meninggalkan Baekhyun sendirian.
"Chanyeol! Hei! Jangan marah! Aku hanya bercanda!" Seru Baekhyun ikut mengejar Chanyeol yang mulai menjauh dari tempat itu.
Lelaki tinggi itu menulikan pendengarannya. Sesekali bersenandung untuk menghilangkan suara Baekhyun dari telinganya.
Tapi, punggungnya di tubruk oleh Baekhyun dengan kasar. Tangan si mungil itu memeluk pinggangnya.
"Aku minta maaf, Chanyeol. Aku tidak pernah melakukan hal tersebut. Semasa hidupku, aku selalu dilarang melakukan apapun. Termasuk bertindak jahil. Aku hanya ingin merasakan bagaimana menjahili seseorang. Itu saja, tidak lebih. Tapi, aku tidak pernah tahu bahwa memang menjahili seseorang itu akan menyakiti hati mereka. Pantas saja, ayah dan ibu selalu melarangku. Sekarang aku sadar akan hal itu. Aku berjanji jika aku kembali terbangun dari tidurku, aku tidak akan mejahili orang lain. Maafkan aku, ya?"
Suara lembut itu mau tak mau membuat senyum Chanyeol terlukis. Niatnya, lelaki tinggi itu hanya ingin menjahili Baekhyun juga dengan bertingkah pura-pura merajuk. Tapi dilain sisi, ia juga sedih mendengar penuturan Baekhyun.
"Chanyeol? Apakah nanti setelah aku terbangun lagi, kau akan tetap menjadi malaikat penjagaku?" Tuntut Baekhyun setelah memutar tubuh Chanyeol.
"Aku bukan malai-"
"Ya! Aku tahu! Kau akan selalu ada di sampingku kan? Karena aku orang yang menyenangkan! Terimakasih, Chanyeolie!" Baekhyun terkikik.
Lagi-lagi ucapan Chanyeol di potong oleh Baekhyun. Baiklah, tidak masalah mungkin esok sebelum tanggal enam hadir. Ia akan memberitahu Baekhyun bahwa ia bukanlah seorang malaikat penjangga yang selalu lelaki mungil itu anggap.
-o0o-
Sore menuju malam, kenapa Chanyeol merasakan gusar?
Ia tak henti-hentinya mengatakan kalimat penenang bagi hatinya. Apapun yang sudah di perintahkan harus di laksanakan.
"Ada apa, Chanyeol?" Si mungil itu bertanya setelah cukup muak melihat wajah Chanyeol yang di penuhi cemas itu.
"Uh? Tidak. Bagaimana harimu?" Ujar Chanyeol menghindari pertanyaan dari Baekhyun.
"Aku sedih. Aku tidak menemukan Kyungsoo dimana pun." Ucap Baekhyun.
Bibirnya melengkung karena merindukan Kyungsoo yang selalu menemaninya.
Sebenarnya Chanyeol tahu dimana Kyungsoo yang Baekhyun maksud. Jongin bercerita panjang lebar padanya. Tapi, Chanyeol tidak mengatakan hal itu kepada Baekhyun dan membuat lelaki mungil itu bersedih terus-menerus.
"Baekhyun, kenapa kau tidak berdiam diri ruangan mu? Apa kau tidak ingin melihat Ayah dan Ibu mu?" Karena bisa saja itu kesempatan terakhirmu bertemu dengan orang tua mu.
"Aku akan kesana, tapi setelah bosan memandangi taman ini, Chanyeol. Kau harus menemaniku, ya?"
Tanpa disuruh pun lelaki tinggi itu memang akan selalu menemani Baekhyun sampai tugasnya selesai.
"Chanyeol? Kira-kira apakah setelah aku bangun nanti, aku masih memiliki penyakit itu?" Mata Baekhyun menerawang jauh dan tak ingin bersitatap dengan Chanyeol. Karena tak ingin lelaki tinggi itu tahu kesedihannya.
"Sebenarnya aku sangat lelah dengan kelemahanku, Chanyeol. Aku tidak bisa menikmati hidupku seperti remaja lainnya. Hidupku penuh dengan asupan obat dan bau rumah sakit. Sangat menjengkelkan, bukan? Entah kenapa aku tidak percaya pada diriku sendiri bahwa aku akan bangun, Chanyeol. Aku merasa sesuatu akan menjemputku entah kapan. Tapi yang jelas aku merasakan bahwa dunia ini sudah tidak akan menerima diriku. Apakah itu terdengar bagus atau buruk?" Baekhyun masih setia berbicara dan sama sekali tidak memperbolehkan Chanyeol untuk menjawab.
"Tentu saja bagus, iya kan? Aku tidak perlu lagi merasakan rasa sesak dan sakit lagi di dada ku. Aku akan berdamai dengan alam semesta dan hidup lebih baik di tempat terakhirku. Ohya, Chanyeol? Kau kan malaikat penjagaku, apa kah kau pernah mengunjungi surga? Ceritakan pada ku seperti apa surga itu? Aku ingin tinggal disana!" Celoteh Baekhyun tak melihat raut wajah Chanyeol yang sudah sangat kusut. Terlalu bingung merespon.
"Tapi aku yakin itu tempat yang baik. Buktinya kau sangat baik padaku. Terimakasih, Chanyeol. Terimakasih telah menemaniku akhir-akhir ini dan aku sangat bahagia, setidaknya aku bisa merasakan bagaimana hidup seperti teman-temanku. Bermain dan melakukan hal-hal konyol denganmu itu sangat menyenangkan. Berjanjilah padaku untuk selalu berada di sampingku ya, Chanyeol? Baik dalam keadaan aku hidup atau pun tidak." Baekhyun berdeham menghilangkan suara seraknya.
"Settidaknya aku sudah berjuang untuk selalu hidup dan membahagiakan kedua orangtua ku. Tapi jika memang Tuhan berkehendak lain aku sudah ikhlas meninggalkan semua kehidupan ini. Aku tidak mau lagi menyusahkan kedua orangtua ku untuk membayar semua perawatan demi melihatku sembuh. Aku tidak ingin membuat mereka mengeluarkan banyak tenaga menunggu diriku yang tak kunjung-kunjung memberikan kepastian akan kesehatan ku. Bolehkan aku egois, Chanyeol?"
Chanyeol hanya tersenyum. "Kau anak yang baik, Baekhyun."
Kemudian tubuh Baekhyun di bopong menuju ruangannya berada. Lelaki mungil itu sudah berlinang air mata. Wajahnya yang sudah pucat itu semakin pucat.
Begitu menginjakkan kakinya di ruang tersebut terlihat kedua orangtuanya yang masih setia mendoakan sembari memegang kedua tangannya.
"Ayah, Ibu. Aku menyanyangi kalian dengan sangat. Aku ingin berjuang melawan penyakit ini tapi aku menyerah. Maafkan aku. Aku tak kuat melawan penyakit ini hiks! P-pada akhirnya a-aku memang anak yang lemah dan penyakit itu semakin membuatku lemah. A-aku menyerah hiks! A-aku ti-tidak ingin kalian menyesal memiliki anak yang lemah sepertiku. A-aku juga tidak ingin hiks kalian mengeluarkan banyak uang t-tapi pada akhirnya aku hiks a-aku akan pergi meninggalkan kalian. C-cukup sampai disini hiks, a-aku akan pergi meninggalkan kalian. Hiduplah dengan baik ya?" Tutur Baekhyun yang tidak bisa di dengar oleh kedua orang tuanya.
Chanyeol yang tadinya ingin bersandar pada tembok seketika langsung menegakann tubuhnya terlalu kaget dengan kalimat yang keluar dari mulut Baekhyun.
"Selamat tinggal semuanya. Aku mencintai kalian semua."
Lantas mencium tubuh miliknya.
Chanyeol melirik jam dinding yang hampir menunjukan angka 12. Sebentar lagi menuju tanggal enam, sudah waktunya Baekhyun pulang.
Chanyeol berjalan mendekati Baekhyun dan merengkuh tubuh mungil itu memberikan kekuatan yang diterima dengan baik oleh Baekhyun. Tanpa Baekhyun ketahui, sebuah cahaya menyoroti mereka berdua tepat di jam dua belas dini hari.
Baekhyun terperangah melihat mesin detak jantungnya berhenti dan memperlihatkan garis lurus. Ia tahu arti itu. Sangat tahu. Ia memang tidak pernah bisa sembuh.
Lalu mengernyit merasakan seakan dirinya ditarik menjauh yang masih dalam rengkuhan Chanyeol.
Para medis memenuhi ruangan itu dan mengatakan kalimat yang sangat Baekhyun tunggu. Setidaknya ia tahu, bahwa dirinya memang sudah tidak ada di dunia ini. Kemudian semua beban yang masih tertinggal itu menghilang. Senyum manis terukir.
"Terimakasih masih menemaniku, Chanyeol."
Chanyeol tersenyum. Tiba-tiba sebuah gerbang yang tak pernah Baekhyun lihat menyapa atensinya. Baekhyun tidak paham, tapi langkahnya berjalan menuju sana dimana Chanyeol masih menuntunnya di sampingnya.
"Byun Baekhyun. Aku akan mengantarmu ke peristirahatan terakhirmu." Ucap Chanyeol kemudian gerbang itu tertutup.
EPILOG
Kerusakan yang terjadi di sekolah menangah itu menjadi perbincangan yang sangat hangat di lingkungan tersebut.
Usut di usut sekolah itu hancur karena salah satu dari ketua tersebut terlibat memiliki dendam dengan ketua kelompok lain.
Kenakalan remaja menjadi hal yang sudah biasa di negara maju seperti ini. Hukum dan norma pun yang sudah di tetapkan secara keras tetap saja tidak bisa membuat mereka jera.
Terpaksa beberapa penghuni kelas harus pindah dan menjadi bagian dari kelas lain. Bayangkan bagaimana penuhnya tempat tersebut?
Lagipula kenapa kepala sekolah mereka yang botak itu tidak meliburkan sekolahnya saja?
Katanya, mereka disuruh tetap masuk karena kepala sekolah itu akan menghukum dalang di balik kerusakan yang di terima sekolahnya. Ya, mereka semua harus menyaksikan itu. Padahal mereka sudah terbiasa dengan kerusuhan yang terjadi oleh Park Chanyeol itu.
"Bajingan! Ini semua tidak akan terjadi jika kau tidak menumpahkan minuman mu pada pakianku. Hei bocah!" Maki Chanyeol pada lelaki mungil yang dari hanya sibuk mengorek telinga nya dengan gaya bajingan.
"Oh! Maaf! Haha! Aku memang sengaja!" Katanya tertawa sarkas. "Dan juga seharusnya kau tidak memasuki wilayahku!" Maki si mungil yang matanya berhias eyeliner.
Ya, sekolah elite itu memiliki dua kelompok besar yang saling ingin menguasai.
Pertama, kelompok Park Chanyeol - Monster - itu memiliki kuasa di bagian timur dan selatan wilayah sekolah itu. Anggotanya pun terkenal dengan kesangaran luar biasa.
Kedua, kelompok Byun Baekhyun - Exodus - memiliki kuasa di bagian barat dan utara wilayah sekolah itu. Anggotanya di kenal dengan perilaku yang freak.
"Aku berada di perbatasan dan itu bukan milik mu, brengsek!" Umpat Chanyeol lalu menonjok pipi Baekhyun yang tadi tersenyum lebar.
Pukulan itu di terima Baekhyun. Darah menuruni bibirnya.
"Keparat! Berhenti menyentuh kulitku dengan tangan biadabmu!" Baekhyun membalas dengan menendang tulang kering serta penis Chanyeol dan mulai menghajar tubuh Chanyeol brutal.
Aksi keduanya di tonton oleh banyak pasang mata. Banyak yang menyoraki masing-masing ketua.
Tubuh kedua berguling, mengundang banyak teriakan. Hingga pada saat Baekhyun berada di atas tubuh Chanyeol. Lelaki mungil itu berbisik yang membuat Chanyeol menyeringai seram.
"Kecuali jika penismu mampu membuat lubangku puas, Park." Bisik Baekhyun seraya menggesakan pantatnya di atas selangkangan Chanyeol.
Sudah dikatakan bukan kalo Exodus itu freak?
Lalu bibir mungil itu mencium Chanyeol kasar. Kemudian sorakan itu terdengar lebih keras.
END
FF COLLABS BERSAMA STROBAEQY DI WATTPAD.
OH YA, DI SINI MAU AKU JELASIN DULU...
Bagi yang masih bingung, jadi di sini, aku pake prinsip malaikat maut kayak di drama Black, jika dia bisa ngerjain tugasnya sebagai malaikat pencabut nyawa sampai dengan waktu yang udah ditentukan, maksudnya ada batas 'pensiun', maka dari itu dia bakal bisa dilahirkan kembali, tapi kalo ngelakuin hal yang dilarang dalam prinsip pas lagi nugas, maka dia bisa menghilang selamanya tanpa ngerasain gimana terlahir kembali.
