Grief and Love Destiny first published at AO3, October 28 2019
DISCLAIMER: Isayama-sensei, DELUHI, VOCALOID
I was beside you too much and couldn't reveal these thoughts.
"Satu orang saja jika aku bisa menghidupkan dia lagi!"
Hanya satu orang.
"Sudah kuputuskan aku akan menyuntikkan serum ini pada Erwin!"
Satu serum untuk satu orang.
"Yang membuat keputusan terakhir adalah aku."
Yang sepatutnya orang itu adalah Erwin Smith.
Akan tetapi—
"Karena perasaan pribadiku aku putuskan tempat ini menjadi tempat terakhir bagi Erwin."
—Kenyataan semata-mata tidak seindah harapan. Sering tidak semanis khayalan.
Sesuatu yang dikhawatirkan kelak terjadi. Datang tanpa terduga.
Setelah yang seharusnya diinjeksi menolak dengan keras. Meninggalkan pilu, sesak di dada, pahit di lidah sang penentu.
Kapten Levi terdorong dibulatkan hatinya dengan keputusan Armin Arlert sebagai orang yang tepat untuk diinjeksi.
Menghapus lantunan cerita Komandan ke-13 Pasukan Pengintai, Erwin Smith, dari kehidupannya adalah keputusan terakhirnya. Biarlah orang itu beristirahat di dunia mimpi. Biarlah terluput dari neraka dunia yang senantiasa menjajahnya. Biarlah tempat ini menjadi tempat terakhir kakinya berpijak. Tempat terakhirnya berdiri.
Sungguhpun banyak impian yang ingin ia ukir, di ambang pintu, waktu tidak pernah mengizinkam.
Ada dua benda yang tidak ingin dia lenyapkan. Peninggalan Erwin Smith. Dasi bolo dan sebuah kotak surat berisi surat-surat yang masih tersegel rapi. Ribuan surat hampir usang yang tersembunyi di dalam laci meja komandannya.
Levi,
Surat ini adalah bukti perasaanku padamu.
Aku tidak pandai merangkai kata-kata tapi kuharap lembaran kertas ini bisa menyampaikannya. Kumohon jangan sampai dihilangkan.
Aku pastikan akan mengatakannya saat waktunya tiba.
Selain dirimu aku tak butuh apapun lagi!
Terima kasih sudah berdiri di sisiku!
Terima kasih sudah menerimaku saat aku menginginkanmu!
Terima kasih untuk semuanya!
Yang terpenting, terima kasih sudah memakaikan dasi bolo ini padaku!
Maaf, aku sudah tidak bisa memelilitkan cravatmu!
Maaf, tidak lagi memelukmu dengan kedua tangan!
Maaf selalu menyeretmu bersama keinginan kekanak-kanakanku!
Maaf aku belum bisa jujur.
Aku menginginkanmu bukan untuk kepentingan umat manusia! Tidak pernah terlintas di pikiranku untuk memanfaatkanmu!
Aku menginginkanmu untuk diriku sendiri!
Kaulah takdirku! Kaulah bagian diriku yang hilang!
Nyatanya, aku terlalu takut mengungkapkan perasaanku.
Aku sadari itu.
Kau yang selalu berwajah begitu dengan kata-kata hinaanmu membuatku tidak punya keberanian.
Aku tidak berdaya!
Namun…
Pernahkah kau sadar ada saat dimana aku bengong menatapmu?
Pernahkan terlintas di pikiranmu bahwa aku sungguh teramat sangat mencintaimu saat aku menyentuhmu?
Sepertinya tidak. Cukup seperti itu saja. Biar waktu yang memberitahu.
Rasanya aku adalah pria paling beruntung saat kau memanggil namaku tanpa henti.
Aku seperti terlahir kembali setiap kali tubuh kita bersatu.
Jika kita bisa menang dan pulang, aku ingin tinggal bersamamu. Di sebuah desa yang jauh dari keramaian.
Hanya kita berdua. Terus bersama. Sampai akhirat.
Itu janji seumur hidupku!
Aku tahu aku egois dan aku tak inginkan penolakan!
Dan kata-kata hinaanmulah yang membuatku bertahan.
Kau pernah bertanya apa yang akan kulakukan saat harapanku terkabul.
Jawabanku ada pada surat ini.
Beribu suratpun akan kutulis asalkan perasaanku tersampaikan. Tapi waktuku tidak banyak lagi.
Karena itu ketahuilah perasaanku yang sesungguhnya.
Aku selalu mencintaimu, Levi.
Jiwaku bersamamu. Jiwa kita selalu terhubung.
Salam penuh cinta, Erwin Smith.
Kobaran api yang menjalar tinggi memecah kegelapan langit malam. Menampakkan bayangan sang komandan yang tersenyum lembut bersama para prajurit yang telah gugur.
Wajah Levi menerang diterpa cahaya benderang itu. Matanya menangkap siluet orang tercinta.
Wajah rupawan tanpa emosi kini berduka.
"Erwin… Kau bajingan!"
Seketika pria mungil itu jatuh dengan lututnya. Menahan tangis yang mulai pecah tanpa suara.
"Kau selalu seenaknya dan aku selalu mengikuti keinginanmu! Untuk kali ini… Kali ini saja… kembalilah… kembali padaku…"
Kehangatan dan kekokohan tangan Erwin Smith tidak akan lagi memeluknya. Suara dan perintah absolut tidak akan terngiang lagi. Levi akan terbangun tidak lagi bersama orang itu di sisinya.
Tidak ada lagi Erwin Smith.
Segala yang nyata berlalu seperti mimpi. Mimpi akan dilupakan. Bagai untaian embun yang jatuh menghilang tanpa jejak. Meninggalkan memori. Meninggalkan janji buta yang mereka ikrarkan.
Namun tidak rasa cintanya.
Sang penentu tidak akan pergi sebelum janjinya ditepati.
Kenangan nestapa akan orang tercinta, tikaman nasib atas keputusannya akan ia bawa pergi bersama lembaran surat dan dasi bolo Erwin dalam tidur abadinya.
Perasaan yang tak pernah terucap akan turut ia bawa.
Biarlah takdir yang melampaui waktu.
These feelings I didn't speak of. These feelings I can't speak of. I'll cross through time and convey them to you.
March 16 2020, Reuploaded
Grief and Love Destiny – G.A.L.D by DELUHI
Eyes that lost their light still remember your smiling face – Living Dead by DELUHI
I was beside you too much and couldn't reveal these thoughts – Dear Lover by GUMI
These feelings I didn't speak of. These feelings I can't speak of. I'll cross through time and convey them to you – Dear Lover by GUMI
