Layang-Layang Putus
Disclaimer: Koyoharu Gotoge.
Warning: kemungkinan OOC sangat tinggi, typo, dll.
Author tidak mengambil keuntungan apa pun dari fanfic ini, dan semata-mata dibuat demi kesenangan pribadi.
Special birthday present for my student (09/03/2020)
Hope all of you like it, especially ButterPeanut.
"..."
Suara itu siapa? Sedangkan di sini dengan mata terpejamnya, dia adalah Tokito Muichiro yang perlahan-lahan membuka pandang. Hitam pekat menyambut netra hijau min miliknya yang terbelalak tanpa sebab. Muichiro tidak dapat menutupnya, maupun menggerakkan tubuh seolah-olah lumpuh. Ketenangan masih nyalang di dadanya. Pada posisi telentang Muichiro dalam-dalam menghirup napas, berusaha mengumpulkan fragmen ingatannya yang terasa retak.
"... Chiro."
Ingat ... ingatlah apa yang sebenarnya terjadi, dan bukan kegelapan ini yang menjadi asal musalnya. Terakhir kali adalah Muichiro diajak Kanroji Mitsuri menginap di dojo-nya yang ia pikir-pikir dahulu, tetapi Iguro Obanai cerewet sehingga Muichiro langsung setuju saja. Masakan Kanroji dan Shinobu Kochou ternyata enak. Mereka bertujuh pun bersenda gurau menghabiskan hari, memainkan beberapa gim ... lalu ...
"... Chiro!"
"Berisik, dasar ngeselin!"batin Muichiro yang konsentrasinya mendadak ambruk. Ia harus lebih cepat lagi. Hari bersama rekan-rekan pillar-nya sangat mengebut, dan bagaimana jika tahu-tahu esok datang tetapi terlambat membangunkan Muichiro?
Lalu ... mereka juga makan malam bersama yang kali itu dimasak oleh para pria. Rasanya benar-benar kacau dengan bentuk yang ajaib. Muichiro ingat dia membantu memasukkan bumbu, namun antara garam dan gula tertukar yang ditertawakan Shinazugawa Sanemi. Hanya saja mereka bahagia walau campur aduk sekali. Bahkan ada sesi cerita horor yang tantangannya, yaitu membuat Muichiro ketakutan.
"Muichiro!"
Tentu saja Muichiro tidak ketakutan, membuatnya tersenyum bangga kala mengingat menyaksikan rekan-rekannya gemas sendiri. Usai Muzan dikalahkan Muichiro ingin lagi–berkumpul bersama-sama di dojo Kanroji atau yang lain, memasak, berceloteh, Muichiro juga berjanji pasti gula dan garam tak tertukar, akan mempelajari aneka bumbu, jadi ...
"Aku harus bangun apa pun yang terjadi!"
BANGUN! BANGUN! BANGUN! BA–
"MUICHIRO!"
DEG!
Kegelapan yang melingkupinya menyerpih digantikan kamar mungil berperabot minim, dan serba terbuat dari kayu yang lumayan kukuh. Napas Muichiro naik-turun tidak beraturan. Sepasang matanya masih terbelalak, tetapi bisa ia kendalikan membuat Muichiro tampak lebih stabil. Kedua tangannya menyentuh sesuatu yang bukan sekadar seolah-olah–hangat, lembut, nostalgia–melelehkan air mata yang sekejap berhamburan hendak memeluk rumahnya.
"Barusan kau mimpi buruk atau apa? Jangan tiba-tiba memegang wajah orang, dong!"
"Kakak?" Buru-buru Muichiro menarik tangannya dari pipi Tokito Yuichiro yang mendengkus. Di mana dojo Kanroji? Para pillar lain? Himejima Gyomei yang tidur di sebelahnya? Kenapa Muichiro kembali pada rumah mungil di tengah hutan ini padahal ia sudah mengingatnya sebagai kenangan?
"Cepat bangun. Hari ini kita punya banyak pekerjaan."
Pintu kamar dibanting kasar usai Yuichiro menyuruh adiknya. Lamat-lamat mata hijau min itu memandangi dinding kayu yang sedikit berlubang, menjelaskan mengenai sebuah kejanggalan yang tidak mengenakkan. Seragam Kisatsutai-nya tak di mana pun. Muichiro mengenakan yukata lamanya yang bermodel tanpa lengan, motif kabut, bahkan merasa seakan-akan belum pernah menggenggam nichirin saat menatap tangannya.
"Ini terlalu nyata buat disebut mimpi."
Muichiro bergumam demikian yang entah bagaimana ia pun merasa; semua tentang Kisatsutai, pillar, pertarungan akhir, dan ajakan Kanroji hanyalah seperti mimpi walau Muichiro tahu, itulah kenyataan serta tempatnya berada.
Menuju hutan untuk mengumpulkan kayu bakar adalah salah satu kenangan yang kembali menjadi kenyataan, pada kehidupan Muichiro.
Pertama-tama mereka sarapan bubur–keheningan khas milik Yuichiro menemani Muichiro menikmatinya bersama rindu tak terkatakan. Memanggul kayu bakar selalu merupakan hal yang biasa Muichiro lakukan, akan tetapi apa yang menjadi tidak biasa ialah ketika ia menangkap punggung kakaknya, sewaktu mengekori seperti ini. Aroma Yuichiro dibawa oleh angin musim panas yang terik–keringatnya masam yang untuk Muichiro justru menyerupai bau matahari.
"Hari ini kita akan menjual kayu ke kota."
Eh? Merespons perintah yang terdengar seperti mengajaknya itu Muichiro mengerjap-ngerjap. Yuichiro menengok ke belakang, dan langsung menatap ke depan lagi saat Muichiro mengangguk. Mereka tidak pernah ke kota bersama-sama, karena Muichiro bertugas menjaga rumah yang jelas sekali kesempatan tersebut menyenangkannya–mimpi atau bukan, memang Yuichiro atau seseorang yang meniru-niru Yuichiro, sekarang ini Muichiro masa bodoh.
"Jangan lihat-lihat yang lain saat kita di kota, paham? Melihat barang yang tidak bisa dibeli itu membuang-buang waktu." Anggukan dengan senyum tipis Muichiro kali ini Yuichiro saksikan. Bukan hanya Muichiro, sebenarnya pun Yuichiro merasai sesuatu yang tak biasa walau kurang dipedulikannya.
"Ke sungai dulu sekarang."
"Ke mana pun Kakak pergi, aku pasti ikut. Jadi tenang saja."
Perkataan aneh macam apa itu? Mendengarnya Yuichiro sempat merinding, meski hanya sekejap yang sejurus kemudian digantikan perasaan janggal itu lagi. Kenapa ia memikirkan senyuman Muichiro yang tidak selebar kurva meteor? Lalu dari terheran-heran seketika berubah sendu, gara-gara Muichiro mengatakan pasti mengikuti Yuichiro ke mana pun yang seolah-olah ... Muichiro tak boleh melakukannya.
"Di sungai kita mau ngapain memangnya?" tanya Muichiro memecah lamunannya, diikuti riak air yang menari syahdu. Kayu bakar milik Yuichiro ditaruh di bawah pohon. Muichiro sekadar mengikuti saja, termasuk ketika Yuichiro mulai memasukkan kakinya ke dalam air.
"Sudah jelas kita akan mencari ikan."
"Makan siangnya ikan? Tidak seperti biasanya Kakak mengajakku berburu di sungai." Sayur lobak pun pasti cukup bagi Yuichiro, asal dapat dipetik dari kebun mereka daripada mencari lagi. Hari ini pasti sangat spesial. Saking gembiranya Muichiro jadi terus tersenyum ke arah Yuichiro.
"Kau keberatan?"
"Mana mungkin. Ayo kita cari."
Ikan yang melompat-lompat tentu menyulitkan mereka menangkapnya. Dengan latihan pemburu iblis yang telah dijalani harusnya Muichiro bisa mendapatkannya semudah berkedip. Namun, di musim panas ini Muichiro hanya selayaknya anak-anak berusia sepuluh tahun yang bukan siapa-siapa. Ia menikmati kesusahannya memburu ikan bersama Yuichiro. Sesekali terpeleset akibat licin. Juga Muichiro mengajaknya bermain air walau Yuichiro terus menolak.
"Hentikan, Mui. Kita ke sini untuk makan siang. Bukan bermain a–"
BYURRR!
"Hahaha ... aku terpeleset. Maaf soal itu." Dada Muichiro didorong kasar oleh Yuichiro yang mendecih. Yukata mereka basah sekarang. Keisengan adiknya yang menyebalkan itu jadi memperlama keduanya di pinggir sungai ini.
"Buatlah api unggun. Jangan bertindak aneh-aneh lagi, paham?"
Rupa-rupanya mungkin Muichiro agak berlebihan. Namun, dia yang langsung terpikirkan ide kekanak-kanakan itu, dan mengeksekusinya begitu saja tidaklah membuat Muichiro menyesal–emosi yang baik adalah yang spontan dikeluarkan, dibandingkan pernah ditahan baru ditumpahkan. Sewaktu menciptakan api unggun pun Muichiro tak melupakan Kamado Tanjiro yang menasihatinya demikian. Lagi-lagi Yuichiro terganggu oleh wajah Muichiro yang ...
"Bahkan Kakak juga membawa garam? Berarti sudah direncanakan dari awal, dong."
"Berisik. Lebih baik kau diam karena gara-garamu kepergian kita ke kota ditunda."
"Cuacanya terik, kok. Pasti yukata kita cepat kering." Sedang dijemur yang kadang kala bergoyang ditiup angin. Masih jengkel pun Yuichiro memilih diam. Berpura-pura sibuk membalik ikan daripada harus melihat Muichiro.
Terganggu karena wajah Muichiro yang seperti membayangkan orang lain, ataukah masih seputar adiknya itu yang tiba-tiba memegang pipinya dengan mata terbelalak, sehingga Yuichiro kacau begini (kemudian berinisiatif mengajak ke kota sekalian membakar ikan)? Padahal Muichiro masih Muichiro. Pokoknya dia ini Muichiro, dan Yuichiro tak mau tahu lagi dibandingkan pusing sendiri.
"Siapa juga yang peduli mau dia berubah atau apa?" batin Yuichiro yang tidak sengaja terlihat mengoyak ikannya dengan ganas. Dalam hati Muichiro bertanya-tanya. Mungkin kakaknya sangat kelaparan, ya?
"Mau makan bagianku juga?" Masing-masing menangkap dua ikan untuk diri sendiri. Tanpa menunggu persetujuan Yuichiro porsi miliknya diberikan. Mata yang benar-benar senada dengan Muichiro itu mengilatkan amarah. Ketidaksukaannya terhadap kebaikan sang adik yang jelas-jelas konyol.
"Pikirkan saja perutmu sendiri, dasar bodoh! Meski aku ini kakakmu, kau tidak perlu bertindak baik seolah-olah tak membenciku."
PLAKKK!
Tangan Muichiro yang menyodorkan ikan ditampar kencang oleh Yuichiro. Tidak sampai jatuh, tetapi pasti pedih membuat Yuichiro berpikir Muichiro akan diam. Perlakuannya ini jahat. Skeptis. Bermulut pedas, dan mana mungkin Muichiro masih suka? Lagi pula Yuichiro mengajak ke sana kemari agar Muichiro malas aneh-aneh. Jangan sampai adik naifnya berpikir, bahwa Yuichiro berinisiatif demikian karena menyayangi Muichiro.
"Tapi aku memang tidak membenci Kakak, dan Kakak juga tak melakukannya padaku. Memang omonganmu kasar. Namun, itu karena Kakak enggak menemukan kata-kata yang pas, 'kan?"
"Cepat habiskan makananmu. Yukata kita sudah kering."
Tetapi gagal, Yuichiro yang ingin membungkam Muichiro itu. Mereka harus melewati hutan untuk menuju kota. Sering kali Yuichiro sengaja berjalan cepat berharap Muichiro tertinggal. Namun, ujung-ujungnya justru Yuichiro yang ditolong karena ia pun melulu nyaris terjatuh, kadang tersandung, atau diselingi menabrak batang pohon membuat Muichiro khawatir.
"Apa Kakak baik-baik saja? Mau beristirahat se–", "BERHENTI PERHATIAN PADAKU! Sebentar lagi kita tiba di kota. Jangan cerewet," potong Yuichiro yang serius membentak Muichiro. Ternyata benar adiknya aneh. Biasanya pun Muichiro mudah tersinggung, usai mendengar suara ketus Yuichiro yang melukai hati.
Samar-samar penyesalan agak membayangi langkah Yuichiro. Tahu begitu ia tinggalkan Muichiro untuk menjaga rumah. Seorang diri berkeliling menjual kayu bakar seperti biasa, daripada seolah-olah berjalan-jalan dengan Muichiro yang lama-lama membuat sakit. Keramaian kota semakin sepi bagi Yuichiro, meski hari yang sendirian itu tidak mendatanginya. Tetapi ini bukanlah semacam akibat kehadiran Muichiro, melainkan lebih besar lagi.
"Ini pertama kalinya kau mengajak adikmu, bukan? Kalian benar-benar mirip, ya, hahaha ..."
"Kakakku lagi sakit. Jangan ganggu dia." Tanpa basa-basi lanjut Muichiro menyerahkan kayu bakar yang mereka pungut. Pemilik penginapan tertawa renyah. Adiknya benar-benar menyayangi Yuichiro yang justru memalingkan wajah, seakan-akan menolak perhatian tersebut.
"Bagus, Bagus. Saudara kembar harus akur. Ini bayaran kalian."
Usai menerimanya mereka tinggal menjual kayu yang tersisa sedikit sekali. Adiknya betul-betul bekerja keras. Kondisi Yuichiro yang aneh semenjak tiba di kota tidak Muichiro biarkan orang-orang menanyainya, dan perasaan janggal itu kian menjadi-jadi sekarang. Saat hasil pencarian mereka habis tiba-tiba saja Yuichiro berhenti melangkah. Muichiro yang berjalan di belakangnya jadi menabrak, membikin ia bertanya-tanya apa yang terjadi.
"Kakak?"
"Apa Adik tertarik membeli layang-layang? Kualitasnya lumayan bagus, lho. Harganya juga murah." Pedagang ternyata. Warna-warni yang dirangkai sedemikian rupa itu jelas pandai menarik hati anak-anak. Namun, Muichiro juga tahu mereka mustahil membelinya–lagi pula bisa dibuat, kok, bersama-sama.
"Buat apa kau menawarkan layang-layang sama anak kecil yang enggak punya apa-apa, hah?!" Yuichiro membentak sang pedagang, sekaligus melampiaskan ketidakjelasan perasaannya yang menggebu-gebu. Muichiro menarik tangan Yuichiro. Kabur duluan sebelum kena sembur.
"Jangan sembarangan memimpin jalan! Memangnya kau ingat ke mana arah pulang?"
"Aku sudah menghafalkannya. Jadi, Kakak bisa tenang."
Lebar. Sesaat Yuichiro kembali menyaksikan kurva meteor yang menggambarkan senyum Muichiro. Di sepanjang perjalanan mereka hanya berlari, berlari, terbang, tanpa kata berhenti yang mematahkan sayap keduanya. Yuichiro melewati jalan yang belum pernah dilihatnya–gang sempit penuh kardus, jalanan berona jingga di mana senja paling tampak, jalinan kabel-kabel listrik yang mengabur ketika seolah-olah menjadi angin, Yuichiro takjub walau asing.
Takjub, dan itu belum semuanya Yuichiro jelaskan karena lebih banyak kata-kata yang tidak ia ketahui.
Terkadang pun ia tak mengerti, mengapa kota kecil ini dapat mengangkat runyam perasaannya yang meletihkan. Tetapi Yuichiro paling suka ketika berlari di tengah-tengah sepeda yang sesekali membunyikan belnya, sementara di seberang sana laut seperti tenggelam dalam sunyi keperak-perakan. Tahu-tahu keduanya tiba di lapangan luas. Bocah-bocah seumuran mereka bermain layang-layang terlihat bersukaria.
"Kenapa ... kenapa kita berlari-lari tidak jelas begini coba?!"
"Habis kelihatannya Kakak banyak pikiran. Saat berlari, kan, kita tak memikirkan apa pun." Seluruh yang mendekam diloloskan melalui napas yang menderu, juga dari keringat yang tak tanggung-tanggung berlari-lari. Yuichiro hanya enggan mengakui ia lebih baik-baik saja. Genggaman Muichiro nyata. Mereka telah berbagi sengatan listrik kecil, debaran dada, dan sentuhan erat yang menikmati lelahnya penghujung hari.
"Sekarang apa tujuanmu membawaku ke lapangan?"
Telunjuk Muichiro menjawab dengan mengarah pada layang-layang yang melanglang berpetulang memahami awan. Tanpa apa pun lagi Muichiro langsung duduk di belakang anak-anak yang bersorak-sorai. Pikirannya mengawang. Yuichiro langsung tahu sekali mustahil mengganggunya, sehingga benci atau sangat benci ia terpaksa ikut diam.
"Aku ingin melihat layangan putus." Lalu keinginan itu berarti apa, selain menelantarkan waktu yang nantinya membodohi diri sendiri? Haruskah Yuichiro bertanya? Bertindak saja daripada menanti-nanti yang terlalu kabur?
"Dasar aneh." Tetapi sebatas ini saja yang Yuichiro perbuat, yaitu dengan semakin memisahkan jarak duduk. Senja perlahan-lahan meninggalkan lembayung sebagai warna terakhir untuk dirasai. Kehangatan mulai pamit. Sebentar lagi malam yang seharusnya Muichiro paham, mereka harus pulang atau Oni berkeliaran.
"Dari layangan putus itu aku ingin memastikan sesuatu."
"Layangan putus bukan hal seru. Putus, ya, putus. Buat apa orang-orang mengejarnya lagi? Bego banget. Buang-buang tenaga aja."
Baru saja dibicarakan, layangan putus yang Muichiro maksud terjadi di depan mata. Semua mengejarnya sampai keluar lapangan. Bahkan dengan sifat kekanak-kanakan Muichiro yang di sungai tadi mengajak Yuichiro bermain air, sang adik tak sekali pun mengikuti mereka yang heboh sendiri. Semua sudah usai. Selesai dengan segala-galanya yang entah bagaimana, menggetarkan tangan Yuichiro tanpa arti.
"Kupikir kau akan ikut mengejarnya setelah berkata ingin melihat layangan putus." Sindiran Yuichiro dibalas dengan Muichiro yang beranjak berdiri. Tangan kanannya masih bergetar yang langsung Yuichiro sembunyikan. Itu adalah tempat di mana mereka berbagi selama berlari-lari. Yuichiro mendadak takut hingga mengepalkan jari-jarinya.
"Layangan putusnya sudah kutangkap, kok."
"Kita saja tidak punya layangan putus di rumah. Otakmu mengalami gangguan, ya?"
"Kakak adalah layangan putus. Aku semakin yakin saat melihat layangan putus sesungguhnya."
Selalu Muichiro kejar. Yuichiro yang terus dibawa pergi oleh angin kelabu, dan akhirnya Muichiro dapat menggenggam Yuichiro yang tidak akan terlepas lagi. Kini pemahaman Yuichiro utuh. Ruang kosong pada hatinya sudah ditambal oleh perkataan Muichiro yang tidak dikatakan secara acak, melainkan memang mengandung makna tertentu.
"Jadi benar, ya? Meski aku tahu kau benar-benar seperti Muichiro yang akan mengajakku bermain air, berlari-lari tidak jelas, tertawa dan tersenyum riang, menggenggam tanganku, tapi tetap saja itu malah terasa bukan dirimu."
Terasa seperti Muichiro, kadang-kadang asing, lebih jarangnya lagi hilang yang paling mengganggu Yuichiro, dan semakin Yuichiro menyangkal perasaannya perpisahan itu kian menampakkan diri–sekarang adalah eksistensi asli dari "selamat tinggal" itu, ketika Muichiro sudah memutuskan beranjak sedangkan Yuichiro hanya mendekam, walau ia juga berdiri mengikuti Muichiro.
(Yuichiro memang berdiri, tetapi bagi mata. Sedangkan menurut waktu, ia sudah tercecer hingga terlelap di sudut ingatan)
"Sejak awal aku sadar ini cuma mimpi. Karenanya aku ingin kembali pada diriku di umur sepuluh tahun. Banyak yang berlalu seperti aku hilang ingatan, kemudian menjadi seperti dirimu."
"Seperti diriku?" Adiknya yang baik hati menjadi jahat macam Yuichiro? Ia berpikir "apa-apaan itu?" lantas menggertakkan gigi. Dunia mereka kejam. Kenapa semakin kejam saja membuat Yuichiro semakin jengkel pada diri sendiri?
"Tapi setelah mendapatkan ingatanku kembali, aku ingat bahwa diriku yang hilang ingatan itu ternyata adalah dirimu. Selama ini aku mengejar Kakak, dan baru benar-benar mendapatkanmu sekarang walau hanya bermimpi."
"Bukan saat kau mendapatkan ingatanmu kau telah meraihku?"
"Tapi aku ingin meraihmu dengan melakukan hal-hal menyenangkan seperti tadi."
"Walau hanya mimpi?" Ya. Yuichiro sudah sadar sepenuhnya, dan wajar jika ia merasa Muichiro hilang. Eksistensinya telah tiada sejak lama, sedangkan Muichiro masih hidup di sana. Tetapi syukurlah. Terima kasih sekali Yuichiro yang jahat mati, dan adiknya kembali tumbuh bersama kebaikan.
"Di kenyataan kita pasti melakukannya, sehingga ini bukan sekadar mimpi. Kalau kita masih bersama umurku dan Kakak sama-sama empat belas. Main air dan berlari-lari di kota bukan masalah, makanya aku akan kembali pada diriku yang lama supaya kita melakukannya nanti."
Mereka sama-sama terbang. Terbang untuk pergi, sementara yang lainnya pamit–melebur dan menjelma kenangan. Yuichiro dan Muichiro adalah jarak yang ditertawakan oleh waktu, karena ingin bersatu walau telah saling meninggalkan. Lalu Muichiro ingin mereka berjanji, bahwa Muichiro akan riang, penuh ekspresi, selalu tahu bahwa kakaknya begitu baik, tetapi di depan Muichiro ia justru membisu sambil menggigit bibir; menahan tangis.
"Jangan menemuiku lagi. Nanti kau jadi menyedihkan."
"Yang mati duluan dibandingkan aku lebih menyedihkan sayangnya." Tak terbayang oleh Yuichiro kalau Muichiro akan berkata sarkas. Inilah dirinya yang sekarang akibat hilang ingatan. Bahkan ... bahkan jikalau Muichiro tidak kembali pada Muichiro yang lama, Yuichiro–
"Tidak apa-apa. Mau kau berubah atau bagaimanapun, adiku tetap saja hanya satu yaitu kau." Benar. Teruslah melangkah walaupun tanpa kaki. Yuichiro akan tertinggal di masa kini maupun depan, yaitu rumah di mana Muichiro hidup. Namun, Muichiro tak pernah meninggalkan Yuichiro dalam kenangan mereka. Walaupun sekadar Muichiro di usia sepuluh tahun, Muichiro yang naif, sering dicerca olehnya …. Yuichiro pasti berbahagia meski sangat terbatas.
"Juga satu hal lagi. Jangan sekali pun berpikir untuk kembali pada dirimu lama. Bukan berarti aku membencinya, hanya saja …. kau yang berubah juga merupakan bagian dari dirimu, adikku yang sangat berharga."
Yuichiro yang berbalik telah mengakhiri mimpi Muichiro membuatnya perlahan-lahan terbangun. Senja sudah tenggelam digantikan pagi yang berseri-seri. Muichiro membuka mata dan menemukan teman-teman pillar-nya mengelilingi dia–mereka tampak khawatir, bahkan Sanemi serta Iguro juga menyiratkan perasaan sejenis meski langsung memalingkan wajah, kala Muichiro siuman.
"Ada apa, Tokitou-kun? Kamu menangis." Di samping Shinobu yang bertanya Kanroji juga berkaca-kaca. Muichiro buru-buru menghapusnya. Meski ia berjanji pada Yuichiro mereka pasti bersenang-senang, tetap saja terasa sendu.
"Menangis dengan wajah datar membuatmu terlihat bodoh tahu." Komentar mengejek dari Sanemi mengakibatkan Kanroji terkena serangan panik. Bagaimana kalau mereka bertengkar? Padahal di hari kemarin semua berlangsung sangat akrab, dan itu membentuk ikatan yang solid.
"Kau yang diam-diam khawatir juga terlihat bodoh tahu. Memangnya aku enggak sadar apa? Dasar tsundere," balas Muichiro juga dengan nada mengejek yang tidak mau kalah. Urat kemarahan Sanemi meledak-ledak. Ia mulai menyingsingkan lengan yukata bersiap menghajar.
"Berani juga kau, cecunguk bangsat. Kata siapa aku khawatir, hah? Masa matamu katarak padahal kita mau melawan Muzan?"
"Otak udang emang gampang marah, ya. Padahal kau masih 21, tapi macam kakek-kakek. Cuma rambut putihmu mendukung banget, sih." Andaikata Uzui Tengen menginap bersama mereka–sayang sekali ia harus menjaga Nezuko Kamado yakni adik Tanjiro–pasti Uzui sudah bersorak mendukung Muichiro dan Sanemi bertengkar.
"Daripada kau mirip perempuan! Kanroji sama Kochou sampai kalah can–"
Belum mendapatkan tinju dari Muichiro, pipi Sanemi malah ditonjok duluan oleh Iguro yang dongkol setengah mampus. Kanroji adalah yang tercantik. Sembarangan sekali Sanemi mengatakan Muichiro mengalahkannya.
"ULER BA–", "Diam, kalian berdua. Lebih baik kita sarapan sekarang." Tak turun tangan pun Himejima tahu Shinobu pasti bisa menghentikannya. Melalui mata Iguro memberitahu Sanemi dia bakal mampus, dan tentu saja Sanemi membalas bahwa Iguro mustahil Sanemi lepaskan.
Selagi Muichiro mengikuti langkah teman-temannya, di luar sana layang-layang putus terbang kemudian menyangkut di antara rimbun dedaunan. Muichiro menyadarinya. Mengangguk sejenak lalu tersenyum tipis, karena ia tidak akan melupakan mimpi yang merupakan kenyataan tertunda itu.
(Yuichiro tinggal menyaksikan Muichiro dengan tenang di atas langit. Tetapi mereka tidak tahu ini adalah yang terakhir bagi Muichiro, sebelum ia tewas)
Tamat.
A/N: Ini pertama kalinya aku bikin fic Yui x Mui, dan sempet bingung banget sama karakterisasi mereka meski udah baca manga, wiki, bahkan liat doujin. kuharap ini ga terlalu OOC banget deh. ide awalnya sendiri tentang mui dan yui yang main2 di hutan, bakar ikan di sungai, seneng banget dah, tapi pas sadar ternyata itu semua cuma mimpi dan mui nangis. di sini aku emang sengaja ngasih beberapa penambahan kek analogi layang2 putus untuk yui, dan kuharap kamu ga keberatan student. entah gimana aku ngerasa terlalu aneh kalo mereka cuma seneng2 doang tanpa plot yang cukup jelas, hehe. di sisi lain juga aku pengen nambah hurt buat mereka, daripada cuma mui bangun terus tau itu cuma mimpi. kuharap ini ga fail, apalagi ini request dari murid tercinta juga orang yang kusayangi sebagai sahabat.
Thx buat yang udah baca, fav, follow, review, atau numpang lewat doang. aku menghargai apapun yang kalian berikan padaku~
