"Hmm...aku mengerti.aku pikir Kau OSIS yang hebat."

Misaki memberi senyum bermasalah.

"Aku sudah biasa seperti itu,tidak ada yang hebat kau tahu."

Berbincangan ini akhirnya selesai. Misaki cukup merasa lega, setelah ia menjelaskan kepada Souma,alasan ia bekerja sebagai Maid. Dan Souma juga sudah berjanji untuk merahasiakan pekerjaan Misaki.

Misaki menjelaskan persis seperti ia memberitahu kepada Usui dulu. Tidak hanya penjelasan nya saja yang hampir sama, namun saat Souma tahu kalau Misaki bekerja sebagai Maid, semua kejadian itu tampak serasi dengan Usui waktu itu.

Ini semua bisa dikatakan Déjà vu.

Untuk menyudahi suasana pembicaraan serius ini,Misaki melihat jam di tangan kirinya, yang selalu setia melingkar ditangan nya selama 1 tahun ini. Itu adalah hasil dari pemberian Usui padanya.

Kemudian ia berujar,"Souma,aku harus pulang sekarang,hari sudah semakin malam."

Souma mengangguk paham. Ia turun dari tiang besi yang ia duduki tadi.

"Akan aku antarkan sampai kerumah." Tawar Souma, bermaksud ingin mengantarkan Misaki pulang.

"Tidak perlu,aku sudah terbiasa pulang sendirian." Tolak Misaki,dengan halus.

Souma menganggukan kepala. Ia tidak ingin memaksa Misaki untuk menerima tawaran nya, lagi pula ia merasa gadis berjabatan ketua OSIS itu, terlihat memiliki fisik yang kuat.

Berbeda dengan gadis teman masa kecilnya dulu, yang tampak lemah,baik dari fisik maupun kesehatannya. Tadokoro Megumi.

"Baiklah, kalau begitu aku pergi duluan." Ucap Souma, setelah itu ia berjalan menjauh dari taman dan meninggalkan Misaki sendirian disana.

Setiba Souma di rumahnya yang ber-model klasik tersebut, ia segera masuk kedalam.

Sebelum Souma melanjutkan langkah kaki nya menuju ruang tamu, tak lupa ia berkata Tadaima, kepada foto mendiang Ibunya yang berdiri di samping kiri, terletak diatas meja.

Semenjak kecil,Souma tidak terlalu dekat dengan ibunya, ia lebih sering menghabiskan waktu bersama sang ayah,belajar memasak dan sebagainya. Saat Souma berusia 7 tahun sang Ibu meninggal dunia akibat terkena penyakit jantung, Souma cukup menyesal dulu ketika Ibunya masih sehat ia tidak pernah menemaninya.

Sekarang semua itu sudah berlalu lama,Seandainya Souma tidak memiliki foto almarhum ibunya dirumah, ia tidak yakin bisa mengingat wajah Ibu dengan baik.

"Yosh, waktunya mengisi perut." Ujar Souma, kini ia sudah duduk di kursi menatap lapar kearah makanan yang tersedia dimeja.

Malam ini Souma memasak makanan penuh gizi, yaitu, Kaiseki.

Kaiseki adalah salah satu masakan khas Jepang, makanan ini biasa nya di makan pada malam hari. Makanan ini sudah ada sejak berabad-abad lalu dan makanan ini biasanya menjadi pendamping dalam upacara minum teh di Kyoto. Dibuat dari bahan-bahan segar yang lezat dan bergizi, setiap hidangan dirancang untuk membangkitkan cita rasa makanan agar tidak ada yang terlupakan.

"Ittadakimasu." Ucap Souma, setelah itu ia mulai menyumpit satu persatu makanan nya dengan nikmat.

Didalam suasana yang hening ini,Souma menjadi penasaran dan bertanya-tanya, bagaimana rasanya makan malam bersama keluarga? Seingat Souma, terakhir kali ia makan bersama keluarganya pada saat merayakan keberangkatan ayahnya ke Amerika, itupun sudah lama dan hanya Souma bersama ayah saja, tidak ada sang Ibu yang ikut merayakan.

Sejak Joichirou menetap di Amerika, ia terkadang mengirim sebuah surat kepada Souma,hanya sekadar bertanya kabar ataupun memberikan resep baru pada Souma. Di zaman modern seperti ini ayah masih saja menggunakan Surat. Padahal uang nya cukup banyak tapi tidak pernah sekalipun Joichirou berniat untuk membeli handphone. Otak orang tua itu hanya dipenuhi dengan barang-barang dapur, seperti panci,teflon,dan semacam nya.

Souma sempat berpikir, sebenarnya siapa yang menduduki tugas sebagai seorang Ibu di keluarga ini? Mungkin karena sang Ibu sudah meninggal sejak Souma kecil, Joichirou terpaksa mengambil dua peran di keluarga ini, dan semakin lama dia menjadi nyaman dengan perannya sebagai seorang Ibu. Setidaknya begitulah jawaban yang Souma dapat sekarang.

Benar-benar keluarga yang aneh.

Sekarang ini, Souma sudah selesai menghabiskan makan malam nya. Setelah itu ia mencuci piring,kemudian ia berjalan masuk kedalam kamarnya yang tampak berantakan itu.

Souma merebahkan tubuhnya diatas kasur. Ia jadi teringat dengan Misaki yang bekerja di Maid Latte. Baru kali ini ia melihat seorang OSIS memilih bekerja ditempat seperti itu. Ia pikir Misaki bekerja ditempat yang memiliki hubungan dengan kedudukan nya sebagai OSIS, tapi ternyata justru tidak ada hubungan nya sama sekali.

"Aku yakin Kelinci kuning itu juga sudah tahu soal Misaki."

Kelinci kuning yang Souma maksud adalah, Usui Takumi. Mengingat bagaimana Takumi yang selalu disamping Misaki, membuat Souma bisa menebak dengan sangat yakin kalau,Usui adalah orang pertama yang tahu soal ketua OSIS itu bekerja di Maid Latte.

Souma menoleh kearah jam dinding yang menunjukan pukul 21:05 malam.

"Waktunya tidur." Kata Souma, setelah itu perlahan-lahan matanya pun tertutup dan tertidur nyenyak.

Keesokan Harinya.

SMA Seika

"Kaichou...maafkan aku,semua tugas ini belum aku selesaikan, dan banyak yang harus diperbaiki lagi..." Keluh Yukimura,menangis keras sambil menggendong setumpuk kertas yang berisi laporan.

Misaki yang sudah duduk di bangku OSIS itu, hanya bisa menghela nafas lelah melihat kecerobohan Yukimura. Ia memijit keningnya ketika menatap dua tumpuk kertas laporan di meja.

"Tidak masalah, aku akan mengerjakan nya semua hari ini. Taruh saja laporan itu di meja ini." Ujar Misaki, menunjuk kearah meja didepannya yang masih memiliki sedikit ruang untuk setumpuk kertas lagi.

"Terima kasih Kaichou."

Yukimura menaruh seluruh kertas yang ia gendong di atas meja. Ia merasa lega memiliki ketua OSIS yang baik dan peduli, walaupun terkadang sering marah seperti Oni (Setan).

"Oh-ya, Yukimura, bagaimana kabar anak baru itu? Apa dia membuat keributan seperti kemarin?" Tanya Misaki. Ia baru ingat soal Souma, entah kenapa setiap kali ia mengingat anak itu, ia menjadi penasaran dengan segala yang dia lakukan.

"Ah, Yukihira-kun, dia seperti nya sudah mendapatkan teman di kelas,dan hari ini dia juga membawa sekotak makanan."

"Sekotak makanan? Maksudmu bayi gurita?"

"Aku tidak tahu Kaichou, tapi kuharap tidak ada korban lagi seperti kemarin."

Misaki menghela nafas panjang. "Aku juga berharap begitu," ia menjadi sedikit trauma, setelah memakan makanan aneh yang Souma berikan padanya kemarin. Atau mungkin bisa dibilang makanan itu lebih layak dipanggil racun yang mematikan.

"Kalau begitu aku keluar dulu Kaichou."

"Baiklah."

Yukimura sedikit menundukkan badan saat meminta izin keluar, kemudian ia berbalik arah dan berjalan pergi dari ruangan.

"Kau sangat peduli dengan anak baru itu ya Ayuzawa."

Mendengar suara yang sangat Misaki kenal itu, ia segera menoleh.

"Usui,semenjak kapan kau disana?" Tanya Misaki sedikit terkejut, melihat Usui sudah berdiri sambil menyenderkan tubuhnya dibalik pintu, dengan tangan bersedekap.

"Semenjak awal aku sudah disini."

Misaki mendengus kesal, "Kalau dari tadi disitu kenapa diam saja?" Protesnya,lalu ia kembali mengalihkan perhatian nya kearah kertas laporan yang berada dimeja.

Usui tersenyum tipis, menatap Misaki yang kini sedang menggerutu sambil terus menulis. Sesekali gadis itu menggumam tak jelas,sembari mengacak-acak rambutnya akibat terlalu banyak laporan yang dia kerjakan.

Mulai dari awal,Usui hanya suka pada Misaki. Menurutnya gadis itu memiliki sesuatu yang sangat Spesial. Dan cuma Usui lah yang mengetahuinya.

"Ayuzawa, hari ini kau mengenakan celana dalam warna apa?" Celetuk Usui, mengusap-usap dagunya seolah-olah ia benar-benar memikirkan hal itu.

Seketika Misaki langsung terdiam, dengan wajah yang sudah memanas akibat ucapan Usui yang tidak senonoh itu, tak sadar pensil yang ada ditangan nya sudah patah menjadi dua bagian karena digenggam sangat erat.

Misaki menoleh cepat,kemudian ia bangkit berdiri dan melangkah mendekati Usui, sambil diselimuti oleh aura amarah yang membuncah. Suara langkah nya pun seakan-akan mengguncang ruangan ini.

"USUI...! KAU CARI MATI YAA?!" Seru Misaki, yang kini sudah menggenggam erat kerah baju Usui.

"Kaichou, bukannya disekolah ini dilarang melakukan kekerasan?" Ujar Usui, menyeringai menang.

Misaki terbungkam. Ia segera melepas genggamannya dari kerah baju Usui, lalu ia pun menundukkan kepalanya dalam-dalam, menyembunyikan wajahnya yang memerah.

"Aku tahu bodoh! I–itu karena kau bertanya sesuatu yang tidak sopan!"

Usui tersenyum kecil, setelah itu ia berjalan dua langkah mendekati Misaki,memajukan kepalanya kesamping kuping Misaki, yang sudah memanas.

"Jangan salahkan aku, ini semua karena Kaichou, terlalu menarik untuk digoda." Bisik Usui, dengan suara yang terdengar lembut.

"Be–berisik!" Dengan wajah yang sudah memerah serupa kepiting rebus,Misaki mendorong Usui kedepan cukup kuat,sehingga laki-laki berambut kuning itupun mundur sampai menabrak tembok belakangnya.

Misaki segera berlari melewati Usui,lalu menggeser pintu dengan keras sampai hampir rusak. Sebelum Misaki pergi dari ruangan,ia menoleh kebelakang. "Ja-jangan menggodaku!" Ucapnya,Selanjutnya, ia sudah menghilang dari pandangan Usui.

'Mahluk Alien itu tidak berubah sama sekali.' Batin Misaki,yang kini berjalan santai di koridor sekolah.

Alien yang Misaki maksud adalah, Usui Takumi.

Terkadang sebagai lelucon,Misaki bertanya-tanya apakah Usui bahkan manusia ketika dia keluar relatif tanpa cedera dari kejatuhan yang secara fatal akan melukai seseorang di tempat. Dan bagaimana cara dia dilahirkan, apakah dia jatuh dari piring terbang yang berada di atas langit? Sampai sekarang hal ini masih menjadi misteri.

"Misaki,kau sudah mau pergi?"

Mendengar seseorang memanggil namanya,Misaki pun menghentikan langkahnya,kemudian ia berbalik arah mengikuti suara tersebut.

"Souma?"

"Yo,tidak seperti biasanya kau berjalan sendiri Misaki." Kata Souma,sambil berjalan mendekati Misaki.

"Aku sedang ingin menenangkan diri saja. Jadi bagaimana kelasmu,apa kau sudah mendapatkan teman?"

Souma menggaruk rambut belakangnya.

"mereka baik,hanya saja terkadang mereka menjaga jarak padaku di saat tertentu."

Misaki mengangguk paham. Ia sangat mengerti kenapa murid lain menjauhi Souma, semua ini pasti karena mereka tidak mau menjadi korban percobaan anak muda berambut merah ini. Jangankan mereka,Misaki juga merasa trauma akibat makanan yang Souma berikan kemarin. Terkadang dia lebih memilih memakan nasi plastik dari pada bayi gurita yang dia telan waktu itu.

"Baiklah,kalau begitu aku pergi dulu." Ujar Souma.

"ah, tunggu dulu."

Sebelum Souma hendak pergi,Misaki menahan tangan Souma dengan cepat,sampai membuat anak muda berambut merah itupun menghentikan langkahnya.

"Kenapa?" Tanya Souma.

Misaki sedikit menundukan kepalanya,tampak rona merah muncul di kedua pipinya.Kemudian ia berkata, "ka-kalau kau mau, kau bisa datang ke Maid Latte lagi hari ini."

Souma sempat terkejut dengan ucapan Misaki. Meskipun ia tidak kenal Misaki,tapi ia pikir ketua OSIS ini tidak mungkin akan mengajaknya seperti sekarang ini.Namun ternyata salah.

Souma tersenyum ramah,lalu menjawab, "Tentu, aku akan datang nanti. Terima kasih Misaki."

MAID LATTE

"Arrrgggghh...!" Jerit Misaki frustasi. Kini ia sudah berada di caffe Maid Latte, mengenakan seragam Maid. Ia duduk di ruang istirahat dengan rambut yang sudah berantakan.

Ini benar-benar tidak masuk akal, kenapa Misaki tiba-tiba bisa mengucapkan hal seperti tadi kepada Souma?!

Beberapa waktu lalu sebelum ia bertemu Souma,ia memang sempat memikirkan anak itu. Tapi bukan berarti dia ingin mengucapkan kata-kata seperti itu.

Kenapa Misaki menjadi bertingkah aneh sekarang! Kalau sampai Usui tahu dia yang mengajak Souma datang kesini, apa yang harus ia katakan!

Misaki mengacak-acak rambutnya kasar, sembari mengutuk dirinya sendiri dalam hati.

Misaki bangkit berdiri,setelah itu dia pun melangkah,mengintip dari balik gorden. Matanya melebar ketika melihat sosok laki-laki muda berambut merah memakai baju putih polos

digabung celana jeans sedang duduk di kursi pelanggan dengan tenang.

Namun, Misaki menghembuskan nafas lega setelah tahu Usui tak datang hari ini. Setidaknya dia tidak perlu mencari alasan untuk menjelaskan semua situasi ini.

"Ara... Apa sekarang misa-chan sudah berganti profesi menjadi pengintip,dan bukan bekerja?"

Misaki menoleh kebelakang, ia terkejut Honoka sudah berdiri dibelakangnya sambil berkacak pinggang layaknya putri bangsawan yang siap memarahi sang pelayan.

"Ho-honoka-chan? Maafkan aku. Aku hanya lagi melihat situasi saja." Ujar Misaki sambil menggaruk rambut belakangnya.

"Aahh.. aku tahu kok, tapi kalau kau terus mengintip seperti itu,kau merepotkan orang lain dan bisa saja kau dipecat lho." ketus Honoka.

Mendengar ucapan tajam Honoka membuat Misaki pun terdiam. Sudah menjadi kebiasaan Honoka yang memiliki mulut pedas. Apalagi kalau sudah berhubungan dengan Misaki, pasti dialah yang sering memarahi dan menegur Misaki.

"Maaf." Hanya itu yang bisa Misaki katakan saat kepalanya menunduk ke-bawah.

"Moo...Honoka-chan jangan berkata jahat seperti itu. Sekarang yang lebih penting adalah, siapa sebenarnya anak muda berambut merah itu?." Sahut Satsuki yang berjalan menghampiri mereka berdua.

"Eh?" Misaki segera mengangkat kepalanya kembali setelah dia mendengar Managernya menyinggung anak itu. "Maksud Manager adalah Souma?" Tanya nya memastikan.

"Ahh..jadi namanya Souma yaa. Aku tidak mengira Misa-chan akan membawa laki-laki lain kesini." Kata Satsuki jail.

"Tapi,dia lumayan tampan." Balas Erika yang tiba-tiba sudah hadir di lingkungan mereka bertiga.

"Tunggu,bagaimana kalian bisa tahu kalau aku mempunyai hubungan dengan Souma?"

Satsuki pun tersenyum cerah sembari menepuk kedua tangannya. "Sudah menjadi kewajiban sang manager mengetahui segala hubungan rekan kerja nya kan."

Misaki tertawa garing, dia pikir meskipun seorang Manager tidak perlu sampai tahu semuanya.

"Ka-kalau begitu aku kembali bekerja." Kata Misaki,bergegas keluar dari lingkungan para gadis yang mengerikan itu.

Misaki menarik nafas, kemudian membuangnya perlahan-lahan. Setelah itu ia pun melangkahkan kaki mendekati Souma, yang masih duduk di kursi pelanggan.

"Selamat datang tuan,silahkan pilih yang ingin anda pesan." Ucap Misaki,berusaha keras tersenyum manis didepan Souma.

Souma menoleh. Ia sedikit terkejut melihat penampilan Misaki. Ia pikir pakaian Maid lebih cocok untuk Ketua OSIS satu ini,dari pada seragam sekolahnya.

"Ah misa—hummpp.."

Sebelum menyelesaikan ucapannya Misaki segera membungkam mulut Souma erat. Dia lupa belum memberitahu anak ini kalau panggilan dia di sekolah dan di Maid Latte berbeda.

"Panggil aku Misa-chan disini." Bisik Misaki tepat di kuping Souma.

Sebagai jawaban,Souma menganggukan kepala yang artinya dia paham.

Misaki menghembuskan nafas lega,sesudah itu ia pun melepas tangannya yang membungkam mulu Souma tadi.

"Aku ingin memesan Parfate Misa-chan."

Eh? Perasaan apa ini? Kenapa jantung Misaki berdegup kencang hanya gara-gara Souma memanggilnya Misa-chan? Tidak, ini sangat aneh. Apa jangan-jangan dia...

Tidak, ini tidak mungkin. Misaki menggelengkan kepala menghilangkan pemikiran aneh nya. Tidak mungkin dia jatuh cinta dengan laki-laki yang sama sekali belum dia kenal. Jantung ini mungkin berdetak kencang karena hal lain. Ya, Misaki sangat yakin tentang hal itu.

Souma mengangkat satu alisnya menatap bingung Misaki, yang masih berdiri diam di sampingnya membuat ekpresi berubah-ubah.

"Kau baik-baik saja?"

Pertanyaan Souma berhasil menyadarkan Misaki dari lamunannya tersebut. Lalu ia pun kembali memancarkan senyuman manis kepada Souma, yang terlihat dipaksakan.

"Tentu saja, kalau begitu silahkan tunggu pesanan tuan datang." Ujar Misaki, kemudian melenggang pergi.

'Apa-apaan senyum tidak tulusnya tadi itu? Seingatku,aku tidak membuatnya marah kan?' Batin Souma.

Skip...

"Berhati-hatilah dijalan Misa-chan." Kata Satsuki, yang dibalas anggukan kepala dari Misaki.

"Kalau begitu aku pulang." Ucap Misaki,sudah kembali memakai pakaian biasa.Kemudian ia pun keluar dari caffe Maid Latte.

Sesudah Misaki keluar, ia terkejut melihat Souma berdiri tenang diluar Caffe,sambil memasukan satu tangannya di dalam saku celana. Sekilas Misaki berpikir kalau penampilan Souma tampak keren.

"Souma,kenapa kau masih disini?"

Souma tersenyum ramah. Ia melangkah mendekati Misaki,setelah itu ia menyodorkan satu kotak putih kepada Misaki.

"Ambilah ini. Anggap saja ini sebagai ucapan terima kasih dariku, sudah mengajakku ke Maid Latte hari ini."

"Ah, terima kasih Souma." Misaki mengambil kotak putih itu dari tangan Souma.

"Ya, aku pergi duluan." Ujar Souma,memutar balik badan nya dan berjalan.

Baru beberapa langkah Souma kembali berhenti. Ia memutar kepalanya kebelakang menatap Misaki yang sedang memandangnya.lalu ia berkata, "Oh-ya aku hampir lupa. Misa-chan,kau sangat cocok memakai pakaian Maid itu. Kau terlihat manis." Souma tersenyum kecil, kemudian,lanjut melangkahkan kaki pergi, sembari melambaikan tangan.

"Oh-ya aku hampir lupa. Misa-chan,kau sangat cocok memakai pakaian Maid itu. Kau terlihat manis."

Semenjak Souma mengatakan hal itu, wajah Misaki tidak berhenti-henti memanas menahan malu.Sampai-sampai jika ada orang yang hanya sekadar lewat, mungkin akan berpikir kalau dia sudah terkena demam tinggi.

Saat sudah tiba dirumah pun,ucapan itu terus terngiang-ngiang dikepalanya, membuat dirinya tidak bisa fokus mengerjakan PR nya malam ini.

Kini Misaki memilih merebahkan tubuhnya diatas kasur,mencoba menenangkan pikiran nya yang sudah teracuni oleh Souma.

Beberapa kali Misaki mencoba memejamkan matanya,namun tetap saja pada akhirnya ia tidak bisa tidur,akibat perkataan Souma tadi masih menghantuinya.

Misaki menutup wajahnya dengan kedua tangannya. "Sepertinya kehidupanku akan semakin rumit." Gumamnya.


To Be Continue...